Cerpen Si Rusa - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Cover cerita pendek dari ahmad yusuf atau usup penulis asal kalimantan timur

Tika

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 17 Agustus 2019

Rabu, 13 April 2022 06:09 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Cerpen Si Rusa

    Ketika telah menaiki bukit dengan nafas yang menggebu - gebu, ternyata dia memang tidak salah. Dia menemukan rusa itu lagi sedang menikmati rumput di tanah dan kembali pergi. Kakek terpesona akan bulu rusa yang nampak lembut sehingga dia mengatakan, ‘’ aku ingin punya tas dari kulitnya dan tanduknya menjadi hiasan dinding di istanaku. ‘’ Ya… dialah sang raja dari Kota Panikun. Sang raja yang selalu berambisi untuk mengejar sesuatu apabila dia menginginkan. Kota Panikun, berada di ujung Pulau Borneo paling tropis, memiliki kota yang damai dan paling banyak bangunan kayu ulin. Kesejahteraan ekonomi masyarakatnya di kota dihasilkan oleh menjual rempah - rempah ke kota lain serta bertani. Sang Raja itu bernama Pani, dia terpilih sejak usia 20 tahun setelah ayahnya meninggal di usia 60 tahun karena demam. Raja Pani, memang senang berjalan seorang diri ke dalam hutan untuk mendamaikan diri dari kebosanannya di dalam istana kayu ulin. Rusa itu tidak pernah ada di sana sebenarnya, namun entah bagaimana rusa menampakan diri di depan matanya.

    Dibaca : 913 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Miki

    cover cerpen dari ahmad yusuf

    Seorang kakek berjenggot putih dan berkumis tebal, bertubuh gemuk melihat rusa dewasa bertanduk mekar, bagaikan ranting pohon yang memiliki beberapa anak cabang kering di kepalanya di balik sebuah pohon jambu di tengah hutan yang ramai akan pohon kapas. Rusa itu tentu terkejut melihat kakek tersebut yang terdiam kaku dengan mata melototnya. Akhirnya rusa tersebut pergi berlari begitu lincah menuju sebuah bukit yang dipenuhi semak belukar. 

     

    " Rusa? Bagaimana bisa ada rusa di sini?! " Kakek itu bertanya pada diri sendiri dan terus memerhatikan bukit. Akhirnya dia melangkah cepat menuju arah bukit karena ingin mencari tahu, apakah dia tidak salah.

     

    Ketika telah menaiki bukit dengan nafas yang menggebu - gebu, ternyata dia memang tidak salah. Dia menemukan rusa itu lagi sedang menikmati rumput di tanah dan kembali pergi. Kakek terpesona akan bulu rusa yang nampak lembut sehingga dia mengatakan, ‘’ aku ingin punya tas dari kulitnya dan tanduknya menjadi hiasan dinding di istanaku. ‘’ 

     

    Ya… dialah sang raja dari Kota Panikun. Sang raja yang selalu berambisi untuk mengejar sesuatu apabila dia menginginkan. Kota Panikun, berada di ujung Pulau Borneo paling tropis, memiliki kota yang damai dan paling banyak bangunan kayu ulin. Kesejahteraan ekonomi masyarakatnya di kota dihasilkan oleh menjual rempah - rempah ke kota lain serta bertani. Sang Raja itu bernama Pani, dia terpilih sejak usia 20 tahun setelah ayahnya meninggal di usia 60 tahun karena demam. Raja Pani, memang senang berjalan seorang diri ke dalam hutan untuk mendamaikan diri dari kebosanannya di dalam istana kayu ulin. Rusa itu tidak pernah ada di sana sebenarnya, namun entah bagaimana rusa menampakan diri di depan matanya. 

     

    Sebagai kebiasaan dan opini masyarakat umum. Jika tidak lengkap seorang bangsawan atau keluarga istana tidak memiliki tas atau sepatu dari kulit walau cuma satu. Namun selain kulit sapi atau kerbau yang sudah umum, lebih dikagumi orang - orang jika kulit itu dari binatang langka atau liar, bahkan buas seperti ular maupun buaya putih.  Jadi… sang raja Pani berpikir untuk menaikan sensasinya, jadi dia lekas pergi dari hutan itu penuh semangat menuju kota. 

     

    —------

    Seorang pria berusia sembilan belas tahun, berpipi tirus bertubuh kurus, tingginya enam puluh senti meter adalah seorang pengrajin tas dari kulit kerbau maupun kulit lain tergantung permintaan. Pekerjaannya yang dia lakukan sangat di gemarinya. Dia bisa tinggal di rumahnya sendiri di tengah Kota Panikun menggiati menjahit tas. Untuk bekerja, dia hanya menggunakan dua buah jarum lima inci, benang berbagai macam jenis warna, duduk di kursi kayu jati dan di meja kayu jati juga setinggi dadanya, tepat di hadapan jendela kaca yang menghadap jalan raya  yang dipenuhi bebatuan krikil serta orang - orang yang berjalan kaki. Ialah seorang pria gembira dan murah senyum bernama Miki. 

     

    Ketika Raja Pani telah tiba di istananya, dia duduk di kursi kayu ulin yang sandarannya di ukir berbentuk batik. Seorang penasehatnya datang, pria berusia paruh baya. Merasa cukup aneh dengan wajah sang raja yang sedikit melamun, namun lirikan matanya hidup ketika menatap lantai. ‘’ Rajaku, ada apa? Ada masalah denganmu? Maukah raja berbagi masalah itu padaku? sehingga aku bisa mencarikan jalan keluarnya? ‘’

     

    ‘’ Tidak, ‘’ sang raja mendengarnya, matanya lalu beralih memerhatikan mata penasehatnya. ‘’ Hai penasehatku, ketika aku berjalan - jalan di hutan tadi, aku telah melihat seekor rusa! ‘’ 

     

    Tentu penasehatnya pun terkejut sembari memandang dalam mata merekah. ‘’ Rajaku, aku tahu rusa itu. Hewan itu satu - satunya ada di sini! ‘’

     

    ‘’ Bagaimana kamu bisa tahu? ‘’

     

    ‘’ Tentu saja, beberapa penebang kayu di hutan hampir sering melihat rusa itu, dan aku sekali, itupun sekilas saja. Rusa itu berlari begitu cepat, kakinya sangat lincah. Terkadang warna bulunya menyerupai salju, lalu bisa berubah kuning pucat seperti suasana musim semi, berubah lagi hitam ke abu - abuan bagaikan serbuk kayu. ‘’ 

     

    Raja Pani pun tersenyum bermaksud. Matanya sedikit tajam memandang wajah penasehatnya. ‘’ Aku ingin rusa itu! ‘’

     

    ‘’ Untuk apa rajaku? ‘’

     

    ‘’ Aku mau kulitnya sebagai tas tanganku yang baru. Sampaikan perintah ini, kepada pemuda Miki itu, jika rajanya menginginkan tas dari tangannya namun dari kulit rusa, tanduknya jadi hiasan dinding istanaku. ‘’ 

     

    ‘’ Rajaku, itu sungguh maksud yang terpuji. Tas kulit dari hewan langka akan sangat dinilai istimewa, bahkan harganya tidak dapat di tukar pada apapun. ‘’ 

     

    ‘’ Maka dari itu aku menginginkannya. Laksanakan sekarang. ‘’

     

    ‘’ Baik. ‘’ Penasehatnya menuruti akan perintah rajanya. Ia pun segera beranjak dengan sopan dari depan Raja Pani, menuju rumah Miki. 

     

    Miki yang sedang asik bekerja di depan mejanya, menjahit sebuah tas tangan wanita dari berbahan kain, tiba - tiba penasehat kerajaan datang dengan membuka pintu rumahnya secara tiba - tiba, ditemani dua orang ajudan pria kerajaan yang masing - masing menggenggam pedang bersarung kain tebal. Miki lekas berdiri dalam keadaan tegang. ‘’ Tuan? Apa hal yang membawa anda kesini? ‘’ Miki mulai tersenyum.

    ‘’ Miki, raja memerintahkan sesuatu. Kamu harus mengabulkannya. ‘’ Ujar si penasehat tersenyum.

     

    ‘’ Baik, jika saya mampu. ‘’ Angguk Miki sopan. 

     

    Penasehat itu pun mengambil sebuah surat yang di gulung dan di ikat dengan benang wol cokelat dari dalam saku jubah putihnya, lalu memberikan kepada Miki menggunakan tangan kanan. ‘’ ini. ‘’ Miki lekas mengambil dengan tangan kanan juga. Penasehat mulai berkata lagi, ‘’kamu harus menaati perintahnya yang ada di surat itu, saya permisi sekarang. ‘’ Ia pun pergi bersama dua ajudannya dari rumah Miki. 



    —----




    Ketika di malam hari, Miki yang masih duduk di depan meja kerjanya yang ditemani sebuah lilin berdiri tegak di atas piring kecil terletak di pinggir meja. Mulai membuka gulungan surat itu kemudian mulai membaca yang ditulis oleh penasehat raja menggunakan tinta hitam. 

     

    Miki si tangan yang terampil, dan salah seorang aset kota yang kami miliki. Maukah kamu melaksanakan kehendak rajamu untuk membuatkannya sebuah tas tangan dari kulit Rusa? Sungguh, rajamu sangat gembira melihat rusa itu di hutan ketika ia sedang menikmati kesendiriannya tadi siang. Rusa itu berkeliaran di hutan, kamu harus menangkap dan mengambil kulitnya untuk digunakan sebagai bahan membuat tas, selain itu tanduknya menjadi aset perhiasan dinding istana. Laksanakan tugas ini Miki. Kamu tahu bagaimana tas yang di maksud rajamu, kamu sudah berpengalaman. Miki, kamu akan menerima upah dari kerajaan setelah pekerjaanmu selesai. Namun jika kamu gagal atau tidak ingin melakukan perintah ini, maka dengan terpaksa, pihak kerajaan akan meng-ilegalkan usahamu. Sama saja, kamu tidak bisa lagi berkarya di Kota Panikun. 

     

    Salam Penasehat Kerajaan.

    Tentu Miki merasa tertantang dengan adanya perintah wajib itu. Miki pun berpikir keras sehingga jidatnya nampak berkerut. ‘’ Bagaimana aku bisa menangkap rusa itu, dengan apa? ‘’ Miki pun teringat bahwa dia memiliki sebuah senapan angin di dapur rumahnya. Ia lekas berdiri lalu beranjak ke dapur sambil membawa lilin. Di dapur yang gelap itu, sekarang perlahan menjadi terang setelah Miki datang membawa lilin. Miki berhenti di depan lemari kayu, ia membuka pintu lemari dengan tangan kiri, dan senapan tersebut sedang tergantung di lemari. Miki berniat untuk melakukan pekerjaannya malam itu. Jadi dia lekas beranjak ke kamarnya mengambil sebuah jaket kain cokelat menggunakan tangan kiri yang tergantung pada pak. Lilin di tangannya sementara ia taruh di atas meja kayu di samping tempat tidur. Mengenakan sejenak jaket itu di depan cermin. ‘’ Lebih cepat lebih baik. ‘’ Ujar Miki mengobrol sendiri. Miki mengambil lentera kaca di atas meja, menghidupkan menggunakan korek kayu, sementara lilin itu ia tiup, seketika mati. Lilin tidak akan mampu dibawa keluar rumah, ketika angin cukup berhembus dingin. Sementara lentera yang memiliki kaca pelindung akan bertahan. Sembari membawa lentera di tangan kanan, miki beranjak ke dapur kembali, kemudian mengambil senapan tersebut. Ia mulai keluar rumah dari pintu belakang rumahnya. Menuju hutan, melewati jalan setapak yang sedikit becek. 

     

    ‘’ Aku tidak pernah melihat rusa, ‘’ Miki berkata sedikit bernada mengejek. ‘’ Rusa itu seperti apa coba, apa dia bisa menggigit kayak anjing atau menyeruduk bagai kerbau? Raja ini ada - ada saja. Sekarang aku terpaksa berjalan malam - malam seperti ini, hanya mencari rusa. Menembaknya dan menyayat kulitnya. Huuuuh….. ‘’ Miki sadar akan ucapannya sebenarnya, bila ada yang mendengar itu bahaya. Untungnya saja selama perjalanannya tidak ada seseorang yang membuntutinya. 

     

    Akhirnya tiba di dalam hutan yang cukup gelap. Penerangan hanya di siramkan oleh lentera yang dibawanya beserta cahaya bulan sabit bersama bintang - bintang di langit.  Miki terus - menerus berjalan mengelilingi hutan tanpa henti, namun tidak juga menemukan rusa. ‘’ Apa memang benar ada atau tidak rusa itu? ‘’ Miki mulai capek sendiri mencari sesuatu yang tidak juga nampak. ‘’ Jika aku berhenti sekarang, kemudian belum menemukannya bagaimana nasib pekerjaanku? Bagaimana mungkin dia menegaskan sesuatu yang sangat - sangat sulit untuk ditepati. ‘’ Sontak kakinya berhenti dan mata Miki merekah, saat ketika kabut malam mulai menyelimuti hutan seluruh kawasan hutan tersebut. Dingin suasana hutan beserta udara tersebut begitu menusuk ke kulit, hingga leher Miki terasa kram. ‘’ Aku kembali lagi besok, sekarang aku harus pergi. ‘’ Miki tentu berlari dalam rasa merinding. Padahal di hutan itu tidak ada apapun, hanya diramaikan oleh suara jangkrik di semak - semak setinggi lutut kaki. 



    —-----



    Keesokan harinya, Miki pergi ke rumah ayahnya yang berada di desa kecil, berjarak sepuluh kilo dari Kota Panikun. Miki berniat untuk menjenguk ayahnya yang sedang demam ringan, namun terbaring di atas katil di kamar. Miki duduk di kursi kayu di samping katil dan menceritakan tentang perintah raja kepadanya. ‘’ Ayah… aku tidak bisa menemukan rusa itu, apa memang benar dia tinggal di hutan atau itu cuma khayalannya saja. ‘’

     

    Ayahnya berkata sambil tersenyum tipis. ‘’ Raja tidak pernah berbohong atau asal bicara saja. Ayah mengenalnya. Dia orang yang jujur cuma keras kepala saja. Mungkin kamu tidak mungkin menangkap rusa itu, tapi kamu bisa mencari cara lain untuk menemukan solusi. Kamu bisa pergi ke istana, lalu bilang saja jika itu mustahil, pekerjaan yang mustahil. ‘’

     

    ‘’ Tidak mungkin ayah, raja sudah mengancam di surat itu, jika aku tidak dapat memenuhi kehendaknya, otomatis.. Aku di larang lagi membuat tas di kota. ‘’ 

     

    Kening ayahnya mulai mengerut. ‘’ Kamu harus tenang dulu, biarkan sejenak otakmu berpikir. Ke dapurlah, buat teh agar kamu bisa tenang. ‘’ 

     

    Miki pun sependapat dengan ayahnya lalu berdiri dan beranjak ke dapur rumah ayahnya. Di dapur ia mulai membuat teh dengan menyeduhnya menggunakan air panas dari dalam gelas seng ke cangkir keramik putih yang telah tersedia sarung berisi bubuk teh. Kemudian ia aduk sejenak menggunakan sendok, lalu mulai menyeruput sejenak. Saat itu juga tiba - tiba matanya memerhatikan sebuah serbet aneh yang menyerupai kulit berwarna cokelat gelap yang terletak di atas meja makan. Seketika Miki menaruh cangkirnya di meja kompor lalu mengambil serbet itu sembari mengerutkan kening dan mengendus baunya. ‘’ Apa ini, apa ini kulit asli?! ‘’ Tentu hal itu membuat ia penasaran, segera ia pergi ke kamar ayahnya kembali dalam langkah tergesa - gesa. ‘’ Ayah.. ‘’ sapanya saat telah sampai di samping ranjang ayahnya. 

     

    ‘’ Ya? ‘’ Jawab ayahnya yang menatap datar putranya.

     

    Miki menunjukan serbet itu dengan kedua tangannya. ‘’ Ini kulit asli ayah? ‘’

     

    Ayahnya pun tersenyum lebar dan ingin tertawa. ‘’ Bukan, itu imitasi. Memang awalnya aku juga kira asli, tapi itu di buat dari kain biasa bercampur lilin, serta pewarna, sehingga tekstur dan warnanya sangat menyerupai aslinya. Ayah tidak tahu pasti, bagaimana cara membuatnya, namun itu ayah beli di pedagang pasar, dan itu serbet satu - satunya. ‘’

     

    Seketika mata Miki merekah dan sedikit tersenyum. ‘’ Ayah, aku punya ide… bagaimana jika aku pakai bahan ini untuk menggantikan kulit asli!  ‘’ 

     

    ‘’ Miki… ‘’ Seketika ayahnya kagum akan ucapan Miki. ‘’ Ayah dulu pernah bilang padamu, jika suatu saat orang baik akan membuat sesuatu yang baik juga. Dan ayah sempat berpikir jika kain yang kamu pegang itu, akan berguna, sebagai kulit penyelamat. ‘’

     

    ‘’ Ayah, jadi ayah setuju denganku? Untuk membuat tas itu dari kulit, ah.. Tidak, maksudku kain seperti ini? ‘’

     

    ‘’ Miki… itu kulit penyelamat, bukan kain biasa. Adanya bahan itu untuk melindungi kulit hewan yang tidak berdosa suatu saat.  ‘’

     

    Tiba - tiba wajah Miki berubah  lesu. ‘’ Oh astaga.. Tapi ini sama saja aku berbohong. ‘’

     

    ‘’ Kamu berbohong untuk melindungi, kamu berbohong demi rusa itu. Kasihan rusa itu, biarkan dia berkeliaran di hutan, mungkin hewan itu sedang tersesat, dia berhak untuk hidup. ‘’

     

    ‘’ Tapi bagaimana jika raja tahu, jika aku membohongi dia ayah?! ‘’ 

     

    ‘’ Miki, Panikun bukanlah tempat satu - satunya untuk kamu berkarya. Dunia ini luas, kamu bisa kemana saja. ‘’

     

    Pikiran Miki mulai terbuka, dan ia pun jadi tidak ragu lagi. Dia mulai tersenyum dan bersemangat. ‘’ Ayah berarti aku harus mencari kulit ini. ‘’

     

    ‘’ Kamu bisa pergi ke pedagang desa pinggir jalan di sini yang khusus menjual kain rajutan tangan. Tidak jauh dari rumah, cepat. ‘’

     

    Miki lekas beranjak dan membawa serbet tersebut sebagai contohnya. Miki merasa, jika ayahnya sangat benar berkata seperti itu. Hewan apapun itu, mereka berhak untuk hidup dan melindungi hewan juga salah satu cara terpuji. 



    —-----



    Miki tiba di tempat pedagang kain pinggir jalan desa. Miki bertanya kepada pemiliknya seorang bapak - bapak paruh baya akan kulit tersebut sambil menunjukan serbet di tangannya sebagai contoh. Bapak penjual kain tersebut pun bilang dengan raut wajah heran. ‘’ Oh ini adalah kain aneh yang sangat tidak laku sama sekali. Banyak orang bilang baunya kayak karet mentah. Buat apa kamu mencarinya? ‘’ 

     

    ‘’ Tidak apa - apa, tapi jika masih ada, saya akan membelinya. ‘’ Miki pun berkata penuh semangat.

    ‘’  Oh ya? Baiklah, tunggu sebentar. ‘’

     

    Miki pun mengangguk cukup senang. Bapak itu pun mengeluarkan segulung tipis kain kulit tersebut berwarna cokelat gelap dari bawah meja dagangannya lalu memberikan kepada Miki. ‘’ Ini. ‘’ Sembari menyebutkan harganya ‘’ 50 sen. ‘’

     

    Miki pun lekas membayarnya dengan uang logam sambil mengambil gulungan kain kulit dari tangan bapak itu. Miki mengatakan, ‘’ terima kasih. ‘’ Kemudian segera beranjak cepat menuju kota. ‘’ Aku tidak percaya, aku bisa menemukan kulit penggantinya. ‘’ Kata Miki pada dirinya sendiri. 



    Ketika ditengah perjalanan menuju kota, yang harus melewati kawasan hutan nan sepi, tidak sengaja Miki pun berhenti ketika sang rusa menunjukan dirinya di tengah jalan setelah keluar dari dalam semak belukar! Entah bagaimana perasaannya pada saat itu. Kain kulit pengganti telah di tangannya, dan sementara rusa asli yang diinginkan raja bersama tanduknya ada di depannya. Rusa itu tidak juga beranjak dari jalan, dia hanya diam memandang Miki dalam keadaan tegang serta panas dingin. Kuping kirinya seperti ada bisikan, ‘’ rusa asli sudah ada, kamu tidak perlu repot lagi, kejar dan bunuh. Jangan kamu sensarakan dirimu, jangan bawa kulit palsu ke hadapan raja, maka kamu bisa menangis darah. Jangan bodohi raja, bisa - bisa berakibat buruk. ‘’ 

    Sementara hatinya berusaha menyentuh, ‘’ sikap terpuji datangnya dari keyakinan yang baik. Kamu mungkin bisa menjadi terburuk karena berbohong di depan raja, namun apa kamu sadar, jika tindakanmu ini supaya bisa menyelamatkan rusa malang itu. Dia tersesat dan tidak memiliki kawanan, jangan bunuh dia demi reputasi manusia, itu yang dinamakan tamak dan egois. ‘’ 

     

    Jiwa Miki bergetar,  ada perdebatan antara hati kecil dan bisikan di kupingnya bersatu bersama logikanya. Kedua tangan Miki bergetar hampir ingin melepaskan gulungan kain itu ke tanah, namun ketika ia melihat mata si rusa. Seakan bersinar dan berkata, ‘’ aku ingin hidup, aku ingin menjadi temanmu. ‘’ Miki pun dengan rasa marah pada diri sendiri menegaskan jika dia tidak akan memburu rusa itu. ‘’ Segera kaki kanan Miki menendang sebuah batu sebesar genggaman telapak tangan ditanah begitu kuat hingga hampir mengenai rusa itu. Rusa itu pun lekas berlari pergi menuju semak - semak. Miki berhasil mengusirnya, ia bisa bernafas lega kemudian lekas beranjak pergi berlari. 



    —----------



    Pada tengah malam, Miki mulai mengerjakan sebuah tas tangan untuk sang raja di mejanya yang tepat menghadap jendela kaca rumahnya menggunakan kain kulit yang dinamakan sintetis. Miki mengukur menggunakan penggaris kayu, memotong sesuai ukuran memakai pisau. Menjahit pakai benang cokelat serta satu jarum untuk menyatukan pada sisi - sisi yang telah dia tentukan. Perlahan - lahan pekerjaannya hampir usai, Miki sangat berkonsentrasi sekali dan tidak lupa berhati - hati dalam membuat tas tersebut. Seekor rusa bertanduk mekar itu memerhatikan Miki dari luar rumah. Untungnya pada saat itu jalanan sepi, sehingga tidak ada yang tahu jika rusa itu ada di sana. Tanpa berlama - lama rusa itu pergi berlari menuju hutan dan memutuskan pergi sejauh mungkin demi menyelamatkan Miki. Seketika tanduknya dengan sendirinya mengeluarkan sinar yang menyala keemasan bagaikan api di dalam pipa transparan. Sehingga beberapa binatang, seperti babi hutan dan macan dahan pergi ketakutan saat melihat rusa itu berlari kencang bersama tanduknya yang bersinar. 

     

    Hujan mulai turun dan suara gemuruh terdengar menghentak langit. Miki akhirnya selesai dengan pekerjaannya yang memakan  waktu hampir empat jam. Sekarang tas tangan dari kulit sintetis untuk pria bisa di antarnya besok. Miki cukup mengantuk bahkan menguap, lekas ia mulai beranjak ke kamar sambil membawa lilin. 

     

    Si rusa telah sangat jauh meninggalkan hutan yang mendekati Kota Panikun, kini ia berada di bawah antara dua tebing yang seperti menyempit. Cahaya dari tanduk si rusa mulai memudar, dan si rusa memutuskan beristirahat di di dalam sebuah goa. Duduk di tanah dan diam tanpa bersuara. Rusa itu memang benar tersesat jauh, dia tidak tahu kemana harus pergi. Banyak sekali cobaan yang dia harus lewati dari beberapa tempat di singgahi. Para pemburu adalah musuh yang harus selalu diwaspadai. Para pemburu selalu mengincar dirinya, karena menganggap tanduk rusa sangatlah istimewa. Rusa tahu bahwa satu - satunya manusia yang telah menyelamatkannya adalah Miki dan dia tidak akan pernah melupakan wajahnya. Miki juga bermimpi dalam tidurnya ketika terbaring di atas tempat tidur. Berjalan santai bersama Rusa yang tanduknya mengeluarkan cahaya, menikmati suasana musim semi di tengah hutan pada sore hari. Dimana dedaunan keemasan dan kemerahan berguguran pada di setiap ranting pepohonan serta ilalang rerumputan yang berwarna serupa. Merasakan juga angin yang mendayu - dayu lembut, membawa sebagian daun - daun terbang tergulung oleh angin, kebanyakan jatuh di tanah maupun di danau.  Miki tersenyum saat sedang tertidur, kesan yang istimewa. 



    Keesokan siangnya, Miki datang bersama penasehat kerajaan di samping kanannya ke hadapan raja yang sedang duduk di bangku kayu ulin singgah sananya. Miki membawa tas itu dengan kedua tangannya yang beralas kain putih. ‘’ Raja ini tas yang ingin anda miliki, terbuat dari kulit rusa. ‘’ Dalam rasa percaya diri.

     

    ‘’ Sungguh? ‘’ Raja Pani cukup bahagia pada tas tersebut, namun tiba - tiba saja keningnya mengerut. ‘’ Lalu… dimana tanduknya? ‘’

     

    Miki pun menjawab, sebuah alasan yang sudah disiapkan. ‘’ Tanduknya tidak bisa kuberikan pada raja, karena ketika aku menangkap rusa tersebut, tanduknya telah patah, aku mencurigai jika rusa itu telah terlibat perkelahian dengan hewan buas. ‘’

     

    Angguk - angguk kepala raja, sambil memerhatikan wajah Miki. Dia bisa saja mengatakan berbohong namun itu sulit, sementara wajah Miki tidak menunjukan sedikitpun ekspresi kaku atau takut. 

     

    ‘’ Katakan, bagaimana kamu bisa menangkap rusa itu dan bagaimana dagingnya? ‘’

     

    ‘’ Sebelumnya maafkan saya rajaku, jika dagingnya aku jual ke pedagang desa dekat rumah ayahku. Aku memburu rusa menggunakan senapan angin di malam hari. ‘’ 

     

    ‘’ Baiklah… ‘’ Rajapun akhirnya menerima alasan Mika. ‘’ Miki terima kasih telah membuat, aku ingin tas ini. ‘’

     

    ‘’ Silakan rajaku, dengan bangga anda bisa memilikinya. ‘’

     

    Miki dan penasehat kerajaan menyaksikan jika raja berdiri dari duduk lalu datang dalam membawa rasa gembira sampai ke hadapan Miki. Dia mengambil tas tangan yang memiliki pegangan tangan di belakang tas, mengendus baunya sejenak yang seakan terasa alami bau dari kulit rusa, yang sebelumnya Miki telah mengelap tas itu menggunakan air dari daging kerbau. 

     

    Sebagai imbalan akhirnya raja memerintahkan kepada penasehatnya untuk memberikan emas batangan. Miki tentu terkejut akan imbalan tersebut, sempat menolak namun sang raja tidak bisa menerima penolakan itu, dia ingin Miki memilikinya, sebab dia tahu memburu itu tidak mudah, belum lagi harus membuat tas tangan yang penuh akan konsentrasi. Dari dalam diri Miki bahwa memang benar dia merasa tidak pantas menerima imbalan itu bukan karena apa, namun dia merasa berbohong, pekerjaan palsu demi menyelamatkan Si Rusa. 

     

    Selesai 



    Penulis cerpen by Ahmad Yusuf / Usup

    Diterbitkan media Tika



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Harna Silwati

    Minggu, 1 Mei 2022 07:53 WIB

    Puisi : Hari Raya

    Dibaca : 609 kali

    Puisi : Hari Raya



    Oleh: Romi Assidiq

    Jumat, 29 April 2022 12:43 WIB

    Aku Adalah Bahu

    Dibaca : 533 kali


    Oleh: Romi Assidiq

    Jumat, 29 April 2022 12:43 WIB

    Inilah Cinta

    Dibaca : 510 kali