Pintu Bukit - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Albrecht Fietz dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Jumat, 15 April 2022 13:14 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Pintu Bukit

    Seorang yang telah mendaki semua gunung dan bukit di negara zamrud khatulistiwa ini, kecuali satu bukit kecil. Bukit yang kecil, namun menyimpan misteri yang besar. Masyarakat melarang mereka yang ingin mendaki bukit ini dengan alasan yang sengaja disembunyikan. Sebuah cerita di mana seseorang dikalahkan oleh rasa keingintahuannya.

    Dibaca : 870 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

              Aku sangat menyukai alam ciptaan Tuhan ini. Aku sudah hampir menjelajahi semua gunung dan bukit di Indonesia. Ada satu bukit kecil yang belum aku kunjungi keindahannya. Masyarakat di sekitar bukit itu sudah lama beraktivitas baik di bukitnya atau di kakinya, namun semua itu tiba-tiba berubah. Tidak ada yang tahu apa penyebabnya. Pihak berwajib hanya mengatakan bahwa bukit itu ditutup karena maraknya perbuatan asusila di tempat itu. Penutupan adalah jalan satu-satunya. Bukit itu bahkan tidak boleh disebut namanya. Syukurlah, temanku yang bermulutkan ember akhirnya memberitahukan nama bukitnya kepadaku. Hari ini aku akan melihat sendiri cerita tersebut. Aku tidak akan terima jika belum semua gunung dan bukit aku kunjungi.

              Aku sengaja pergi di jam tiga pagi untuk menghindari kesaksian dari masyarakat sekitar. “Bang, mau pergi ke mana bang?” Aku tiba-tiba dikejutkan oleh suara kakek tua. Dia terlihat memakai tongkat dan hanya memakai kaos dalam. Tangguh sekali. “T-tidak ada pak, saya hanya melihat-lihat di sekitar sini pak. Hehe,” ujarku sambil mengusap-ngusap belakang kepalaku. Kakek itu hanya tersenyum dan melihat ke arah bukit itu. “Kebetulan kami sudah tidak lama kedatangan pengunjung. Abang boleh naik ke atas, tapi tolong dijaga sikapnya ya. Di atas lagi sedikit peka terkait hal-hal yang tidak sopan. Kalau begitu bapak naik dulu,” ujar kakeknya. Aku hanya terdiam mendengar perkataan dari kakek itu. Aku juga melihat beliau yang lihai menaiki tanjakan itu. Aku tidak boleh kalah. Aku kemudian mengejar kakek itu.

              Setengah jam sudah berlalu, aku tetap tidak bisa mengejar kakek itu. Kakek itu bahkan tidak kelihatan lagi. Aku juga melihat jalan yang ditaburi sampah-sampah. Jiwaku sedikit terusik. Aku selalu membersihkan sampahku jika pergi mengunjungi alam. Aku kemudian membersihkan sampah-sampah di sekitar. Aku kemudian menaruhnya di karung dan berniat untuk membawanya pulang saat sudah turun nanti. Aku kemudian melewati gapura yang sudah rusak dan berlumut-lumut. Aku kemudian dikejutkan dengan suara gong yang keras melewati telinga kananku. Aku juga seperti melewati sesuatu. Aku hanya diam dan tetap menjaga sikapku sambil berdoa serta berdzikir. Aku kemudian melihat kakek itu lagi. Beliau mungkin sudah kelelahan, lagipula ke mana beliau akan pergi? “Bang, syukurlah,” ujar kakek itu yang tiba-tiba berada di sampingku. Kakek itu kemudian menunjuk ke sebuah desa yang sedikit diselimuti kabut. Hal itu masuk akal dikarenakan matahari yang masih belum terbit.

              “Bang, jangan lupa jaga sikap,” ujar kakek itu yang mengulang pernyataannya yang tadi. Kakek itu kemudian sudah berada di depan sebuah rumah. Bagaimana beliau bisa bergerak secepat itu? Teleportasi? “Ada apa bang? Sudah lama tidak datang pengunjung.”, ujar seorang pria tanpa memakai baju dan memegang sebuah tombak. Apakah aku baru saja memasuki kawasan primitif? “Apakah abang bangsa dari mereka?” Tatapan pria itu kemudian mendingin seakan ingin menancapkan tombak itu ke dadaku. “M-maaf pak, bangsa apa ya pak? Hehe,” ujarku sambil gemetaran. Pria itu kemudian melihat ke arah sekujur tubuhku. “Hmmm, abang memang berbeda dari mereka, tetapi! Itu hanya karena abang belum merasakannya. Bang, jangan lupa jaga sikap.”, ujar pria itu sambil memberikan jalan kepadaku. Aku tidak tahu apa yang belum aku rasakan, tetapi aku sedikit kesal dengan perkataan pria itu. Aku kemudian melanjutkan jalanku. Aku melihat desa yang damai dan asri, namun tumbuhan di sekitar mereka terlihat layu. Sungai desanya juga mengering. Bukannya ini sedang musim hujan ya? Hal yang paling anehnya lagi, pakaian mereka yang sangat kuno. Perempuan memakai rok seperti batik dan pakaian atas tanpa lengan. Prianya juga tidak memakai baju. Tangguh sekali, sama seperti kakek yang tadi.

              “Mba, apa sedang terjadi kemarau ya di sini?” Mba yang sedang menampi beras itu bersama anaknya terlihat keheranan. “Baju abang aneh ya. Hahaha,” ujar anaknya. Mba itu meletakkan tampi berasnya. “Iya bang. Pengunjung ke sini selalu tidak sopan bang. Dampaknya ke kami sampai seperti ini bang. Kami bahkan sulit mendapatkan air bersih,” ujar mbanya. Aku memang bukan aktivis lingkungan, tetapi persediaan airku juga terbatas. Aku kemudian pamitan dan melihat kondisi sungai yang mongering. “Sedih sekali bang. Kondisi sungai ini.”, ujar kakek yang tadi dan selalu tiba-tiba berada di sampingku. “Maaf pak, jika bapak melakukannya dua kali lagi, jantung saya tidak akan tahan pak,” ujarku. Kakek itu hanya menepuk pundakku. Badanku seperti tersadarkan. Mataku kemudian melihat pemandangan yang berbeda. Kabutnya sudah tidak ada lagi. Kakek dan desa itu sudah tidak kelihatan lagi. Apakah aku hanya berhalusinasi selama ini? Aku kemudian melihat kondisi sungai yang berbeda. Sungai yang tadinya terlihat kering sekarang malah terlihat kotor penuh dengan sampah. Hal yang lebih parah adalah sampah yang hampir semuanya sampah yang dihasilkan dari perbuatan asusila. Aku jijik melihatnya, bukan karena sampahnya melainkan perbuatan manusianya. Baunya juga sangat tidak sedap. Aku tidak tahu, tetapi sesuatu memberitahuku untuk membersihkan sungai ini. “Mengambil sampahnya tidak akan sulit.”, ujarku. Aku tidak mau menyentuh benda itu dengan tangan kosong. Aku menyiapkan sarung tangan dan kantong plastik besar.

              Aku melihat matahari yang sudah tepat berada di kepalaku. “Aku sudah mengambil semua sampahnya. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya pak?” Aku seakan mengandalkan kakek yang tadi. Tentu saja kakek itu tiba-tiba datang lagi di sampingku. “Jangan mengandalkanku bang.”, ujar si kakek. Beliau tiba-tiba hilang lagi. Aku kemudian melajutkan perjalananku ke bukit. Aku kemudian melewati banyak bangunan yang sudah setengah roboh dan bangkai-bangkai kendaraan. Apakah tempat ini memang ditutup karena perbuatan asusila yang sudah sering terjadi di tempat ini? “Betul bang. Kami terpaksa melakukan sesuatu untuk mengusir mereka dari tempat kami.”, ujar si kakek. Kami berdua hanya bercerita sambil menaiki bukit ini. Aku belum mengerti apa dan siapa yang diceritakan oleh kakek ini, tetapi aku menangkap satu hal. Bukan keinginan pihak berwajiblah yang menutup bukit ini dari masyarakat. Pihak kakek inilah yang melakukan sesuatu. Aku tenggelam dalam pikiranku. Kakek itu kembali menepuk pundakku. Aku kembali melihat desa yang tadi. Kabutnya sudah tidak ada lagi. Aku juga tiba-tiba dikerumuni oleh anak-anak. “Terima kasih bang, kami akhirnya bisa bermain lagi di sungai. Teman kami Bonara juga berterima kasih ke abang.”, ujar kerumunan anak-anak tersebut. Aku kemudian melihat ke sungai yang sudah deras dan jernih. Aku juga melihat ikan besar yang melambaikan siripnya ke arahku. Aku akan menganggap itulah teman mereka itu. Hatiku mengatakan jika aku membalas lambaian tangannya, aku tidak akan kembali lagi. Aku kemudian hanya menundukkan kepalaku dan melanjutkan perjalananku ke bukit. Semua orang bahkan pria tombak dan mba yang menampi beras itu melambai ke arahku. Mereka seperti berterima kasih atas perbuatanku. Aku bahkan tidak tahu apa. Kakek itu kembali menepuk pundakku. Aku kemudian tidak melihat lagi desa itu. “Terima kasih bang.”, ujar si kakek. Aku kemudian membuka mataku dan melihat matahari yang sedang terbenam. Aku tanpa sadar telah sampai di puncak bukit. Aku melihat di belakangku yang terdapat sebuah desa tua. Desa itu hanya bersisakan puing-puing kayu dan atap yang sudah rubuh. Apakah aku selama ini melihat kejadian di masa lalu? Aku kemudian memutuskan untuk turun di besok pagi. Aku bukannya tidak ingin melihat mereka lagi, tapi aku tidak ingin meelihat mereka yang tidak ramah. Tenda pun kuputuskan untuk kudirikan. Aku tidur sangat nyenyak di malam itu. Aku juga bahkan bermimpi aneh di malam itu. Aku berasa seperti tinggal di sebuah desa yang indah dan damai. Kakek itu bahkan menjadi ayah bagiku di mimpi itu. Besoknya aku hampir ketahuan Satpol PP setempat. Aku sempat melihat kembali bukit itu. Aku masih bisa melihat mereka di desa itu melambai ke arahku. Hatiku mengatakan jika aku tidak membalas lambaian itu, aku akan menyesalinya. Aku membalas lambaian itu dengan semangat. Saat aku sudah menginjak usia tua nanti, aku rasa datang ke bukit itu akan menyenangkan.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Harna Silwati

    Minggu, 1 Mei 2022 07:53 WIB

    Puisi : Hari Raya

    Dibaca : 609 kali

    Puisi : Hari Raya



    Oleh: Romi Assidiq

    Jumat, 29 April 2022 12:43 WIB

    Aku Adalah Bahu

    Dibaca : 533 kali


    Oleh: Romi Assidiq

    Jumat, 29 April 2022 12:43 WIB

    Inilah Cinta

    Dibaca : 510 kali