Pendekatan Ekspresif Terhadap Gambaran Ekspresi Sapardi Djoko Damono dalam Puisi: Pada Suatu Hari Nanti

Rabu, 13 April 2022 20:16 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Artikel ini akan menelaah secara mendalam perihal gambaran ekspresi yang diungkapkan oleh Sapardi Djoko Damono dalam puisinya tersebut melalui pendekatan ekspresif di dalamnya.

Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang dijadikan wadah oleh seorang pengarang untuk mengungkapkan ide dan perasaannya dengan menggunakan pilihan kata yang indah dalam penciptaannya. Melalui pilihan kata yang tersusun dalam tiap baitnya, pembaca dapat turut merasakan ekspresi yang digambarkan oleh pengarang dalam puisinya tersebut. 

Berbicara mengenai puisi, tentu kita mengenal sosok Sapardi Djoko Damono sebagai salah satu sastrawan tanah air yang telah banyak melahirkan karya sastra berbentuk puisi. Salah satunya ialah puisi yang dituliskan olehnya pada tahun 1991, yaitu yang bertajuk 'Pada Suatu Hari Nanti'. Sapardi selaku pengarang menyisipkan makna berwujud pesan yang ia persembahkan untuk khalayak umum, termasuk orang-orang tercintanya sebelum ia 'berpulang’ ke pangkuan Tuhan yang Maha Esa. Adapun teks dari judul puisi tersebut:

Pada Suatu Hari Nanti

(Sapardi Djoko Damono)

Pada suatu hari nanti,
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,

kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.

kau akan tetap kusiasati.

 

Pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari.

 

Berdasarkan puisi tersebut, penulis bermaksud untuk menelaah secara mendalam mengenai ekspresi yang digambarkan oleh Sapardi dalam tiap bait yang disusunnya melalui pendekatan ekspresif sebagai salah satu pendekatan dalam teori sastra. Luxemburg (1992:70) mengungkapkan bahwa suatu karya satra dapat tersampaikan maknanya bila pribadi dan emosi pengarang dapat diungkapkan dengan baik melalui untaian kata yang dituliskan oleh pengarang. Maka dari itu, dengan adanya pendekatan ekspresif, jiwa pengarang dalam suatu karya sastra dapat ditelaah secara mendalam.

Lebih lanjut, Abrams (1970: 37) berpendapat bahwa pendekatan ekspresif dianggap sebagai pendekatan yang menitikberatkan fokus penelaahan pada proses kreatif yang dilakukan oleh seorang pengarang dalam menciptakan suatu karya sastra. Dalam artian, pendekatan ekspresif bertujuan untuk menilai gambaran ekspresi pengarang dalam proses penciptaan karya sastra yang diciptakannya.

Dalam puisi 'Pada Suatu Hari Nanti' ditemukan dua ekspresi yang digambarkan oleh Sapardi Djoko Damono, yakni meliputi ekspresi kesedihan dan kecintaan. Adapun ekspresi kesedihan yang dituangkan oleh Sapardi pada larik yang berbunyi 'jasadku tak akan ada lagi'. Dalam larik tersebut, Sapardi menggambarkan dengan lugas akan kesedihan yang dirasakan perihal kenyataan bahwa kelak dirinya akan ‘berpulang’ ke pangkuan Sang Pencipta.

Tak hanya itu, ekspresi kesedihan pun digambarkan oleh Sapardi dalam larik yang berbunyi 'suaraku tak terdengar lagi' yakni berarti Sapardi merasakan kesedihan karena kesadaran atas kenyataan bahwa kelak kehadirannya tidak dapat dirasakan lagi secara lahiriah oleh sosok 'kau' karena kematian yang menghampirinya. Sosok 'kau' di sini dapat ditujukan kepada khalayak umum, yakni masyarakat Indonesia di dalamnya.

Ekspresi sedih juga digambarkan oleh Sapardi pada larik 'impianku pun tak dikenal lagi' yang berati Sapardi merasakan kesedihan perihal hasrat dan keinginannya yang kelak tidak dapat dikenal lagi oleh khalayak umum ketika ia telah 'berpulang'.

Namun, terdapat ekspresi kecintaan yang digambarkan oleh Sapardi dalam larik yang berbunyi 'tapi dalam bait-bait sajak ini, kau tak akan kurelakan sendiri' yakni Sapardi  menggambarkan kecintaannya, khususnya kepada para penikmat karyanya dengan berusaha menghidupkan jiwanya dalam tiap bait sajak yang ditulis olehnya. Sehingga kelak ketika ia telah 'berpulang', orang-orang masih dapat merasakan kehadirannya.

Pada larik yang berbunyi 'tapi di antara larik-larik sajak ini, kau akan tetap kusiasati' Sapardi juga menggambarkan kecintaan dengan berusaha untuk melakukan apapun demi orang-orang tercintanya. Dalam artian, ia akan terus berkaya agar kelak orang-orang dapat terus merasakan kehadirannya walaupun ia telah tiada. 

Terakhir, pada larik 'di sela-sela huruf sajak ini, kau tak akan letih-letihnya kucari' Sapardi menggambarkan kecintaannya yang berwujud ketulusan untuk terus meninggalkan jejak dalam tiap karyanya agar kelak orang-orang tidak melupakan dirinya. 

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa gambaran ekspresi yang diungkapkan oleh Sapardi dalam puisi 'Pada Suatu Hari Nanti' meliputi ekspresi kesedihan dan kecintaan. Dalam hal ini, Sapardi merasakan kesedihan karena dirinya sadar betul bahwa kelak ia akan meninggalkan orang-orang yang dicintainya, termasuk para penikmat karyanya. Maka dari itu, Sapardi berprinsip bahwa ia akan terus berusaha menghidupkan jiwanya dalam tiap karya yang ditulis olehnya agar kelak keberadaannya tetap dapat dirasakan.

Kini terhitung sudah dua tahun lamanya sejak Sapardi Djoko Damono 'berpulang' ke pangkuan Tuhan Yang Maha Esa. Namun, jiwanya masih tetap terasa hangat bagi kita semua. 

Referensi:

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Iskandar, I., Khairah, M., Nuruddin, dkk. Refleksi 50 Tahun Pengajaran Bahasa san Sastra di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta. Jakarta : Penerbit Beringin Mulia. 2015.

Luxemburg, J. V., Weststeij, W. G., Bal, M., dkk. Pengantar ilmu sastra: diIndonesiakan oleh Dick Hartoko. Jakarta: PT Gramedia. 1989.

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler