Lika-liku Perjalanan Gelanggang Seniman Merdeka - Analisis - www.indonesiana.id
x

Poster Chairil Anwar. Tempo/Adri Irianto

Assifa Atsna Hanifa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 April 2022

Kamis, 23 Juni 2022 11:33 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Lika-liku Perjalanan Gelanggang Seniman Merdeka

    Gelanggang Seniman Merdeka sebagai fondasi bagi Angkatan 45 dalam mengukir perjalanan kesusastraan Indonesia.

    Dibaca : 284 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kemerdekaan Indonesia telah membawa perubahan terhadap perjalanan kesusastraan Indonesia. Adanya perubahan tersebut sebenarnya tidak terjadi secara langsung, tetapi terjadi secara berangsur-angsur ketika masa pendudukan Jepang berlangsung. Sehingga ketika kemerdekaan Indonesia tiba, sejumlah sastrawan, budayawan, dan seniman menuntut adanya perubahan berupa kebebasan dalam berkarya yang tidak mereka peroleh ketika masa pendudukan Jepang.
     
    Kebebasan yang hadir pada masa tersebut menjadikan berbagai pemikiran tersalurkan ke dalam karya sastra. Hal ini ditandai dengan banyaknya penerbitan yang berdiri. Adapun Gelanggang Seniman Merdeka merupakan salah satu dari banyaknya penerbitan yang muncul atas dasar kebebasan pada masa tersebut.
     
    Gelanggang Seniman Merdeka didirikan oleh tiga serangkai tokoh Angkatan '45, yakni Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin. Tokoh-tokoh tersebut mendirikan Gelanggang Seniman Merdeka dengan tujuan untuk melepaskan Indonesia dari belenggu kemunafikan dalam menciptakan karya. Mereka ingin merealisasikan kemerdekaan melalui penciptaan karya-karya penting yang berbeda dengan angkatan-angkatan sebelumnya. Hal ini ditandai dengan keberhasilan Chairil Anwar dalam menciptakan suatu gagasan baru yang dituangkan dalam puisinya, yang mana cenderung bersifat invidual dan bercorak Barat.
     
    Berdirinya Gelanggang Seniman Merdeka yang melahirkan angkatan baru telah menarik perhatian Sutan Takdir Alisjahbana, yang mana ia menolak untuk mengakui bahwa terdapat perbedaan antara Angkatan’45 dengan angkatan-angkatan yang telah ada sebelumnya. Di samping itu, Sanusi Pane juga mengungkapkan hal yang sama. Ia merasa bahwa Angkatan’45 hanya melahirkan karya-karya sebagai lanjutan dari apa yang telah dilahirkan pada masa angkatan Pujangga Baru.
     
    Namun, kreativitas yang dilahirkan oleh angkatan’45 semakin menunjukkan kenyataan yang menjadikan banyak orang menganggap bahwa angkatan tersebut memang memiliki perbedaan dengan angkatan sebelumnya. Karya-karya yang diciptakan oleh Chairil Anwar meraih jumlah pengikut yang cukup banyak. Selain itu, penyair lainnya pada angkatan ini juga menggunakan gaya penulisan yang baru dan berbeda dalam menciptakan karya sastra. Penyair tersebut terdiri atas Asrul Sani, Rivai Apin, Dodong Djiwapradja, S. Rukiah, Waluyati, Harjadi S. Hartowardoyo, dan sebagainya.
     
    Hingga akhirnya, Angkatan’45 memproklamasikan "Surat Kepercayaan Gelanggang" sebagai bentuk puncak kekreativitasan mereka. Gelanggang Seniman Merdeka seolah menjadi fondasi yang ideal bagi Angkatan '45 untuk menciptakan suatu karya, termasuk karya sastra di dalamnya. 
     
    Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Gelanggang Seniman Merdeka telah memberikan kontribusi yang kuat terhadap perjalanan kesusastraan Indonesia dan melahirkan angkatan baru yakni Angkatan'45. Berkat kemunculan Gelanggang Seniman Merdeka, muncul gaya penulisan yang berbeda dengan angkatan-angkatan sebelumnya dalam hal penciptaan karya sastra. Dengan demikian, Gelanggang Seniman Merdeka layaknya fondasi yang memperkuat seniman, budayawan, dan sastrawan dalam melahirkan suatu karya yang baru. 
     
    Referensi:
    Erowati, R dan Bahtiar, A. Sejarah Sastra IndonesiaCiputat: Lemlit UIN Jakarta. 2011.

    Ikuti tulisan menarik Assifa Atsna Hanifa lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.