x

Iklan

Griya Rizqi Ulandari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 April 2022

Jumat, 15 April 2022 06:01 WIB

Fungsi Sastra pada Drama Satu Babak Awal dan Mira, Karya Sastrawan Utuy Tatang Sontani

Setiap karya sastra pasti memiliki fungsi sastranya masing-masing, termasuk karya dari sastrawan Utuy Tatang Sontani yang cukup populer yaitu drama satu babak bertajuk Awal dan Mira, yang mana karya sastra ini menarik untuk dianalisa terkait fungsi sastranya

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sastra merupakan bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari). Menurut sastrawan Sapardi Djoko Damono, ada tiga pihak yang terlibat dalam proses sastra, yakni sastrawan, karya sastra, dan pembaca. Keterlibatan di antara ketiganya memiliki kaitan yang erat dan tidak bisa dipisahkan. Seorang sastrawan akan menghasilkan sebuah karya sastra yang berkualitas, yang mana karya sastrawan tersebut akan dilihat oleh pembaca. 

Salah satu sastrawan Indonesia yang cukup populer dan banyak menghasilkan karya sastra yang apik adalah Utuy Tatang Sontani. Utuy Tatang Sontani merupakan seorang sastrawan yang dikenal sebagai penulis drama, cerpen dan novel. Sastrawan ini telah menghasilkan berbagai karya sastra yang diminati dan dibaca banyak kalangan, serta sering dipentaskan di berbagai panggung teater drama. Hal tersebut tidak mengherankan, pasalnya karya sastra yang dihasilkan oleh Utuy menarik dan memiliki ciri khas tersendiri, serta terdapat makna tersurat maupun tersirat di setiap karya sastranya.

Karya sastra Utuy yang cukup menarik perhatian dan populer adalah drama satu babak bertajuk Awal dan Mira. Drama satu babak Awal dan Mira diterbitkan pertama kali pada tahun 1951 silam. Karya sastra Utuy ini telah meraih penghargaan pada tahun 1952 dari BMKN dalam kategori drama terbaik. Awal dan Mira memiliki alur yang cukup sederhana, yang mana berpusat pada tokoh pemuda bangsawan bernama Awal yang berusaha mendekati wanita rakyat jelata namun cantik bernama Mira. Sastrawan Utuy melalui karya sastra Awal dan Mira tampak sengaja memasukkan kritik suasana revolusi yang tidak terselesaikan dan berbagai masalah yang dialami dengan latar belakang pasca perang.

Pada drama satu babak ini terdapat fungsi sastra di dalam ceritanya, fungsi sastra menurut Amir (2013) terbagi menjadi lima fungsi, yakni hiburan (rekreatif), pendidikan (didaktif), keindahan (estetis), sejarah, dan sosial. Berikut analisis fungsi sastra pada drama satu babak Awal dan Mira, karya sastra dari sastrawan Utuy Tatang Sontani:

  • Fungsi Rekreatif Sastra pada Drama Satu Babak Awal dan Mira

Fungsi rekreatif sastra merupakan fungsi hiburan yang diberikan oleh sastra kepada penikmat sastra melalui prosa, puisi, cerita pendek, novel, maupun naskah drama. Dalam drama satu babak Awal dan Mira, sastrawan Utuy berhasil menampilkan kisah yang menarik, unik, dan sulit ditebak, sehingga membuat para pembaca karya sastra Utuy atau bukan merasa terhibur. 

  • Fungsi Didaktif Sastra pada Drama Satu Babak Awal dan Mira

Fungsi didaktif sastra merupakan fungsi sastra yang mengandung nilai-nilai pendidikan dalam karya sastra tertentu. Dalam karya sastra Utuy, Awal dan Mira ini terdapat fungsi didaktif pada kalimat-kalimat yang terasa asing namun dijelaskan kembali di catatan kaki, sehingga membuat pembaca menjadi mengerti dan mengerti alur cerita yang ditawarkan. 

  • Fungsi Estetis Sastra pada Drama Satu Babak Awal dan Mira

Semua karya sastra Utuy baik berupa prosa, naskah drama, cerita pendek, maupun novel memiliki nilai estetika dan keindahan yang kental. Pada Awal dan Mira, fungsi estetis sastra atau keindahan pada drama satu babak ini lebih tampak jelas. Di mana penulis sengaja memasukkan unsur estetis ke dalam alur cerita maupun kutipan di karya sastra Awal dan Mira.

  • Fungsi Sejarah Sastra pada Drama Satu Babak Awal dan Mira

Tentu saja, drama satu babak Awal dan Mira terdapat unsur-unsur fungsi sejarah dalam alur cerita maupun kutipan. Unsur sejarah dalam cerita Awal dan Mira tampak jelas memiliki latar belakang pasca perang. Fungsi sejarah tersebut sudah tergambarkan pada paragraf kedua dalam karya sastra Utuy ini. 

"Dan rumah Mira itu rumah bambu, kecil tapi masih baru, letaknya menghadap ke jalan, didirikan di atas bekas runtuhan rumah-batu yang hancur oleh peperangan, terpencil jauh dari keramaian." Dari kalimat paragraf kedua pada karya sastra Awal dan Mira di atas, sudah tergambar jelas bahwa latar belakang kisah antara Awal dan Mira adalah pasca perang dan masa revolusi. Selain itu, drama satu babak ini juga menjelaskan kondisi kedua tokoh utama pasca perang, serta segala kondisi sesudah perang.

  • Fungsi Sosial Sastra pada Drama Satu Babak Awal dan Mira

Meski drama satu babak Awal dan Mira berfokus pada kisah romansa antara kedua tokoh utama, Awal dan Mira. Namun sastrawan Utuy secara terang-terangan menjadikan karya sastra Awal dan Mira sebagai kritik terhadap sosial. Karya ini tampak jelas menggambarkan kondisi-kondisi masyarakat Indonesia pasca perang dan masih berhubungan dengan kolonialisme. 

Selain itu, fungsi Sosial Sastra pada Awal dan Mira terlihat lebih jelas saat drama satu babak ini menampilkan kisah romansa antara golongan bangsawan dengan rakyat jelata. Tentu saja Utuy berhasil menghidupkan tema kemanusiaan dan sosial dengan baik dan pantas diberikan apresiasi.

Ikuti tulisan menarik Griya Rizqi Ulandari lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB