x

Ilustrasi membaca buku. Dok: Pexels.com

Iklan

Adella Diva Rahmadian

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 14 April 2022

Sabtu, 16 April 2022 17:05 WIB

Analisis Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata Melalui Pendekatan Objektif

Pada kesempatan kali ini, kita akan menelaah sebuah karya sastra melalui pendekatan objektif. Pendekatan objektif berfokus pada karya sastra itu sendiri sebagai sebuah struktur yang otonom, terlepas dari hubungannya dengan realitas maupun dengan pengarang dan pembaca. Pendekatan ini dapat diserupakan dengan gagasan yang disampaikan oleh Wellek dan Warren (1990), yakni sebagai pendekatan intrinsik.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dalam penelitian karya sastra terdapat beberapa pendekatan. Pendekatan tersebut hadir sebagai landasan berpikir atau cara pandang dalam mengkaji karya sastra secara luas. Pendekatan (approach) merupakan pandangan awal yang menjadi dasar para peneliti dalam mengkaji karya sastra, apakah karya sastra tersebut sebagai objek yang berkaitan dengan pengarang, atau karya sastra tersebut dapat berdiri sendiri terlepas dari kepentingan pengarang dan pembaca, apakah karya sastra tersebut berkaitan dengan kepentingan pembaca, serta bagaimanakah dampak karya sastra tersebut bagi kondisi sosial. Beberapa hal di atas tentunya dapat dikaji lebih lanjut melalui berbagai pendekatan.

Menurut M.H Abrams (1979:3-29), terdapat empat model pendekatan dalam pengkajian sastra. Empat pendekatan tersebut yaitu:

  • Pendekatan Ekspresif: Pendekatan karya sastra dengan melihat dunia batin pengarang sebagai pencipta karya sastra.
  • Pendekatan Mimetik: Pendekatan karya sastra dengan melihat pada aspek realitas atau tiruan, sesuai dengan yang disampaikan oleh Aristoteles dan Plato. Aristoteles berpendapat bahwa karya sastra merupakan hasil dari aktivitas manusia. Sedangkan Plato beranggapan bahwa karya sastra ialah hasil tiruan alam yang tidak memiliki realitas sosial.
  • Pendekatan Pragmatik: Pendekatan karya sastra dengan melihat peran pembaca dalam mempersepsikan karya sastra.
  • Pendekatan Objektif: Pendekatan karya sastra dengan melihat karya sastra itu sendiri sebagai satu kesatuan yang otonom.

Pada kesempatan kali ini, kita akan menelaah sebuah karya sastra melalui pendekatan objektif. Telah disebutkan di atas bahwa pendekatan objektif berfokus pada karya sastra itu sendiri sebagai sebuah struktur yang otonom, terlepas dari hubungannya dengan realitas maupun dengan pengarang dan pembaca. Pendekatan ini dapat diserupakan dengan gagasan yang disampaikan oleh Wellek dan Warren (1990), yakni sebagai pendekatan intrinsik. Oleh sebab itu, pendekatan objektif juga dikenal sebagai unsur intrinsik dalam karya sastra.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dalam prosesnya, pendekatan objektif dapat dilakukan dengan mengkaji struktur atau unsur-unsur dalam karya sastra, seperti: tema, tokoh dan penokohan, latar, alur cerita, sudut pandang, dan gaya bahasa (Stanton, 1967). Adapun karya sastra yang dapat dikaji melalui pendekatan objektif yaitu cerpen, puisi, drama, dan novel. Semua karya sastra tersebut memiliki unsur intrinsik di dalamnya. Seperti dalam novel karya Andrea Hirata yang berjudul “Sang Pemimpi”.

Novel kedua dari tetralogi Laskar Pelangi ini pertama kali terbit pada tahun 2006, di Yogyakarta. Sang Pemimpi kemudian menjadi novel yang sangat populer, hingga diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing. Dalam novel ini, Andrea Hirata mengisahkan kehidupannya di Belitong. Andrea secara kompleks menyajikan kisah persahabatan ketiga tokoh utama, yakni Ikal, Arai, dan Jimbrong.

Ikal tidak lain merupakan Andrea Hirata sendiri, lalu Arai Ichsanul Mahidin merupakan seorang yatim piatu sekaligus saudara jauhnya. Arai menjadi yatim piatu sejak kecil dan dijuluki sebagai “simpai keramat” karena ia merupakan orang terakhir yang masih hidup dalam keluarganya. Arai lalu diangkat menjadi anak oleh ayah Ikal. Selanjutnya Jimbrong, dalam novel ini Jimbrong diceritakan sebagai penggemar fanatik kuda, bahkan dapat dikatakan ia sangat terobsesi dengan hewan berkaki empat itu. Ketika sedang merasa antusias terhadap sesuatu ataupun sedang merasa gugup, Jimbron akan menjadi gagap seketika. Ketiga tokoh tersebut menjalani kisah persahabatan yang telah terjalin sejak kecil hingga mereka bersekolah di SMA Negeri Bukan Main, SMA pertama yang berdiri di Belitong Timur.

Langsung saja, mari kita telaah novel Sang Pemimpi ini dengan menggunakan pendekatan objektif berikut ini:

  1. Tema

Dalam novel ini, Andrea Hirata mengangkat tema perjuangan serta kegigihan dalam mengarungi kehidupan dan meraih impian, demi masa depan yang lebih baik.

  1. Tokoh dan Penokohan
  • Ikal: Seorang anak yang baik hati, cerdas, memiliki optimistis yang tinggi, pekerja keras, dan pantang menyerah.
  • Arai: Seorang yang sangat optimis, cerdas, mampu melihat suatu peristiwa dari sudut pandang yang positif, pekerja keras, dan pantang menyerah. Arai adalah sosok yang spontan dan jenaka, ia seolah percaya bahwa tidak ada yang dapat membuat semangatnya patah, ia sosok yang penuh inspirasi dan rajin.
  • Jimbron: Jimbron adalah sosok berhati tulus. Kepolosan dan ketulusannya menjadi sumber alasan mengapa Ikal dan Arai sangat simpati serta mengasihinya.
  • Seman Said Harun (ayah Ikal): Ialah sosok yang sangat pendiam namun penuh kasih sayang, sabar, dan bijaksana.
  • A Masturah (ibu Ikal): Sosok yang murah hati, penuh kasih sayang, rajin, dan cerewet.
  • Pak Mustar (Wakil Kepala Sekolah dan Pendiri SMA Negeri Bukan Main): Sosok yang penyayang namun terkenal keras dan galak ketika berhadapan dengan siswa yang melanggar aturan.
  • Pak Balia (Kepala Sekolah dan Pendiri SMA Negeri Bukan Main): Sosok tampan yang jujur, cerdas, kreatif, konsisten dalam menerapkan suatu aturan, dan selalu menghargai pendapat siswanya,
  • Nurmala (Gadis pujaan Arai): Sosok yang cantik, cerdas, acuh, serta memiliki harga diri yang tinggi.
  • Laksmi (Gadis pujaan Jimbron): Sosok yang rajin beribadah namun pemurung karena masa lalunya yang kelam.
  • Taikong Hamim: Tokoh agama yang sangat ditakuti, memiliki sifat yang keras dalam menerapkan aturan.
  • Bang Zaitun: Pimpinan orkes melayu yang ramah, humoris, dan pribadi yang menyenangkan.
  • Mak Cik Maryamah: Tetangga Ikal yang walaupun hidup dalam keadaan miskin, namun selalu tau cara berterima kasih kepada orang lain.
  • Nurmi: Anak Mak Cik Maryamah yang sangat patuh terhadap perintah ibunya.
  • Pendeta Geovanny: Seorang ayah angkat Jimbron, sosok yang baik hati dan lemah lembut.
  • Nyonya Lam Nyet Pho: Ketua preman pasar ikan yang terkenal bengis, sok berkuasa, tak kenal ampun, dan sosok yang tak mau kalah.
  • Mertua Nyonya Deborah Wong: Nenek berumur hampir 100 tahun yang terkenal mudah marah.
  • Mualim Kapal: Seorang yang baik hati dan sering menolong Ikal dan Arai.
  • Mei-Mei: Anak kecil yang belum lancar berbicara, cerewet, menggemaskan, ceria, aktif, pintar, dan tak mengenal rasa takut.
  • Profesor: Sosok yang cerdas, penuh humor, dan baik hati.
  • Capo: Sederhana, penuh semangat, dan pekerja keras.
  • Odji Darodji: Mandor Ikal saat bekerja di kantor pos, terkenal baik hati, penuh perhatian, dan peduli dengan orang lain.
  1. Alur

Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur campuran, namun didominasi oleh alur maju. Alur maju digunakan pengarang saat menceritakan kenakalan tiga orang tokoh utama dalam novel tersebut, yakni saat dikejar oleh Pak Mustar. Kemudian, untuk alur mundur digunakan saat pengarang menceritakan awal mula Ikal bertemu dengan Arai, saat pengarang menceritakan kisah hidup Jimbron dan Laksmi, penyebab gagapnya Jimbron, dan penyebab murungnya Laksmi.

  1. Latar Tempat: Di sekolah, gudang peti es, rumah Ikal, los kontrakan, pabrik cincau, gubuk arai, tengah lapangan dekat rumah Nurmala, rumah Bang Zaitun, Bogor, Terminal Tanjung Priok, UI Depok, Bioskop, Terminal Bus Bogor, dan di kapal
  2. Latar Waktu: Senin pagi, Hari Minggu, suatu pagi buta, sore hari, 15 Agustus 1988, usai sholat isya, pukul 12 malam, pagi yang indah, usai sholat maghrib, lewat tengah malam.
  3. Latar Suasana: Suasana tegang, panik, terharu, gugup, jengkel, ketakutan, penyesalan, gaduh, marah, lega, kaget, dan bahagia.
  4. Gaya Bahasa

Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini umumnya menggunakan metafora, majas hiperbola, personifikasi, repetisi (gaya bahasa pengulangan), perumpamaan, majas ironi, dan alegori.

  1. Sudut Pandang

Dalam novel Sang Pemimpi ini, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama, yang berarti bahwa pengarang juga mempunyai posisi sebagai pelaku cerita. Pelaku merupakan pencerita yang serba tahu, termasuk apapun yang hadir di benak atau perasaan para tokoh, baik tokoh utama maupun tokoh lainnya. Dapat dilihat dari setiap bagian novel bahwa tokoh “Aku” mendominasi cerita ini.

  1. Amanat

Adapun pesan yang ingin disampaikan pengarang dalam novel ini didominasi oleh nilai-nilai kehidupan yang kaya akan kebijaksanaan, nilai moral, perjuangan, kegigihan, dan semangat tanpa kenal menyerah. Andrea berusaha menyampaikan bahwa kesederhanaan, kekurangan, kesulitan yang dihadapi dalam hidup bukanlah alasan untuk kita berhenti bermimpi dan menyerah begitu saja. Keadaan yang serba kekurangan juga bukan alasan kita tak dapat bahagia, dalam kekurangan dan kesulitan itulah kita diajarkan untuk saling berbagi, saling mengasihi, dan saling membersamai. Ketika kita telah berdamai dengan kenyataan yang sulit, maka segala rasa pesimis akan sirna begitu saja, tekad akan semakin kuat, keyakinan semakin besar, dan usaha untuk menggapai impian pun semakin maksimal dilakukan. Ingatlah salah satu kutipan dari novel ini yang berbunyi, “Bermimpilah dalam hidup, jangan hidup dalam mimpi.”

 

 

Referensi:

Nunggrahani, F dan Ali Imron. Pengkajian Sastra Teori dan Aplikasi. Surakarta: CV. Djiwa Amarta Press, 2017.

Teeuw, A. Sastra dan Ilmu Sastra: Sebuah Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya, 1984.

Sang Pemimpi, Wikipedia Bahasa Indonesia (diakses pada 15/4/2022)

Parmin, J. Pendekatan dalam Penelitian Sastra. Blog of Drs. Parmin, M,Hum-Universitas Negeri Surabaya, 2019. (diakses pada 15/4/2022)

Wakti, H. Kritik Ekpresif dan Objektif Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata dan Relevansinya dengan Pembelajaran Sastra SMA.

Ariesandi, D. Analisis Unsur Penokohan dan Pesan Moral Dalam Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata Sebagai Upaya Pemilihan Bahan Ajar Apresiasi Sastra di SMA. Diglosia-Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia (vol. 1, no. 1). Universitas Majalengka, 2017.

Ikuti tulisan menarik Adella Diva Rahmadian lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan