Kamu, Suka Berbagi? - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Risiko

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 22 April 2022 19:44 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Kamu, Suka Berbagi?

    Jangankan menjadi sponsor, sekadar donasi sekadarnya untuk membantu kegiatan saja tak sudi. Jangankan menyumbang iuran sukarela, membayar iuran wajib saja sering terlambat, atau malah tak bayar dan terus hutang.

    Dibaca : 658 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mungkin, kita sering mendengar kisah seperti ini, ya?

    Orang kikir dan faktanya

    Jangankan menjadi sponsor, sekadar donasi sekadarnya untuk membantu kegiatan saja tak sudi.

    Jangankan menyumbang iuran sukarela, membayar iuran wajib saja sering terlambat, atau malah tak bayar dan terus hutang.

    Jangankan uang atau harta pribadi, uang atau harta orang lain yang diamanatkan saja, dimanfaatkan dulu, diendapakan dulu diambil untungnya, terlambat disampaikan, bahkan tak sampai pada yang dituju karena diambil untuk diri sendiri.

    Jangankan uang atau harta pribadi dibagi ke orang lain, uang atau harta orang lain saja malah dikorupsi.

    Jangankan ikut andil iuran atau menyumbang dalam suatu acara, saat acara malah hanya menikmati saja dan pulangnya mengangkut makanan.

    Jangankan membagi makanan untuk orang lain, makan untuk diri sendiri saja sangat berhitung, sampai badannya kurus kering, padahal uang dan hartanya banyak.

    Jangankan mendermakan uang kembalian saat membeli sesuatu, kembalian 500 rupiah saja ditungguin.

    Masih banyak, kisah tentang jangankan-jangankan yang lain, terkait kisah-kisah sejenis. Mengapa ada orang-orang seperti itu di dunia ini.

    Orang-orang seperti ini tersebar, mulai dari perorangan/pribadi, atau orang yang dapat amanah menjadi pejabat atau pemimpin mulai dari tingkat RT sampai pemimpin negeri. Dan, orang-orang dalam kisah tersebut, para aktor dan aktrisnya, ternyata tergolong dalam jenis manusia yang sama, KIKIR.

    Yah, kikir itu terlampau hemat memakai harta bendanya, pelit, lokek, kedekut.

    Mungkin karena memiliki sifat dan karakter kehidupan yang kikir, maka orang-orang seperti itu suka mengambil keuntungan dari uang atau harta dan lainnya, milik orang lain, mengendapkan, tak amanah, dan lainnya.

    Sejatinya, dari fakta kehidupan yang telah kita jalani, orang-orang kikir justru telah menjauhkan diri dari persaudaraan, kekeluargaan, pertemanan, persahabatan, hingga tanpa disadari, mereka malah anti sosial (sosial) yang tercipta dengan sendirinya, bukan karena orang lain.

    Bagi mereka, uang, harta benda, makanan, dan lain sebagainya, adalah segalanya. Sampai lupa, bahwa semua itu hanyalah titipan di dunia, dan tak akan ada yang akan ikut atau dibawa ke liang kubur.

    Berbagi itu indah

    Semoga saja, saya terus terhindar dari sifat dan karakter kikir. Terlebih, kini ibadah Ramadhan 1443 Hijriah sudah di penghujung 10 hari fase kedua, penuh ampunan.

    Dalam Al-Quran, Surat Al Baqarah Ayat 261 Allah berfirman:

    Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

    Dari ayat tersebut dapat kita pahami, bila saya/kita berbagi di jalan Allah dengan ikhlas, maka balasan pahalanya akan berlipat ganda.

    Karenanya, bagi umat muslim, bulan Ramadan merupakan bulan kebaikan yaitu bulan yang tepat untuk melaksanakan berbagai macam kebaikan. Sebab, segala bentuk kebaikan yang kita lakukan akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.

    Salah satu kebaikan yang dapat saya/kita lakukan adalah dengan berbagi. Berbagi itu artinya memberi sesuatu berupa barang, cerita, kisah, uang, makanan, dan sebagainya.

    Harus selalu saya ingat, kehidupan yang kita jalani tidak pernah terlepas dari kehadiran orang-orang di sekitar kita. Di bulan yang penuh berkah ini, tidak ada yang lebih indah dari bisa memberikan suatu hal yang kita punya pada orang lain.

    Sekadar berbagi senyum, berbagi tegur sapa, sampai berbagi takjil kepada orang lain, maka orang lain pun juga akan ikut merasakan apa yang kita rasakan. Apalagi bila saya/kita punya banyak kelebihan, tentu berbaginya dapat lebih dari sekadar takjil.

    Yang pasti, kisah tentang berbagi, apalagi di bulan penuh berkah dan ampunan, bila saya lakukan dengan ikhlas, selain pasti dapat balasan pahala dari Allah, secara pribadi dan sosial akan sangat berpengaruh pada diri kita.

    Secara pribadi, pengaruh pada diri kita adalah:

     Pertama, dengan berbagi, hati lebih tenang dan membuat perasaan bahagia. Sesuai naluri manusia, di saat kita bisa bermanfaat bagi orang lain maka kita akan merasa puas dengan hidup kita. Meski sekecil apa pun yang baru mampu kita bagi kepada orang lain yang membutuhkan.

    Setiap kita melakukan kebaikan pada orang lain, pasti setelah itu perasaan kita akan menjadi lebih baik dan merasa lebih bahagia. Karena berbuat baik seperti berbagi,  dapat meningkatkan hormon bahagia dalam tubuh atau yang dikenal dengan hormon oksitosin.

    Kedua, berbagi itu meningkatkan rasa syukur. Meski hanya hal kecil atau sedikit yang kita beri atau bagi kepada orang lain, itu mungkin sangat bermanfaat bagi mereka yang sangat membutuhkan. Sehingga, kita akan lebih bersyukur dengan apa yang kita miliki.

    Ketiga, berbagi meningkatkan kepedulian. Saat ada orang yang membutuhkan bantuan kita, dan meski kita hanya dapat membantu sekadarnya sesuai kemampuan kita, maka ada rasa tanggung jawab dalam diri kita untuk menolong mereka. Inilah yang membuat orang yang suka berbagi memiliki empati yang tinggi.

    Keempat, berbagi itu menambah rezeki. Pada saat kita berbagi ada pemikiran uang/harta kita akan berkurang. Padahal dengan berbagi, justru rezeki akan berdatangan karena berbagi memberikan keberkahan untuk setiap manusia.

    Rezeki itu, selain pahala di AkhiratNya nanti, rezeki juga bisa berupa kecukupan dalam hidup, anak-anak yang saleh dan salihah, keluarga yang sehat, serta kemudahan dalam melakukan segala urusan.

    Berikutnya, secara sosial, berbagi dapat, menjaga silaturahmi. Sebab, dengan berbagi, kita akan membuat orang lain senang.  Saat orang lain senang karena kita, itu artinya kita ikut menjaga tali silaturahmi kita pada orang lain.

    Dengan begitu, kita membuka pintu diri untuk selalu menjaga hubungan baik antar tetangga, teman dekat, kerabat, dan sebagainya.

    Secara sosial, berbagi pun membuat hubungan lebih baik. Orang-orang yang baik hati dan suka berbagi, pasti pasti bukan hanya disenangi orang di sekitarnya, tetapi juga menciptakan lingkaran lingkungan yang baik. Menularkan kebaikan, sehingga orang lain jadi meneladani, turut ikut saling berbagi.

    Tentu, saat saya/kita suka membantu orang lain, pasti orang lain juga akan melakukan hal yang sama, meski dengan cara atau kadar yang berbeda. Yang pasti, dengan suka berbagi, hubungan kita dengan orang lain akan lebih baik dan selalu baik.

    Agar dalam berbagi kita mendapatkan dan memperoleh hati yang tenang, rasa bahagia, rasa syukur, maka paling utama, kita harus ikhlas.

    Semoga, saya selalu menjadi golongan orang-orang yang suka berbagi. Berbagi apa pun sesuai kadar kemampuan saya. Dan, saya terhindar menjadi orang yang kikir. Aamiin.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.