x

Iklan

Aisyah Kimberly Maroe

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 April 2022

Selasa, 26 April 2022 05:51 WIB

Analisis Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik pada Drama Awal dan Mira

Karya sastra memiliki beberapa struktur yang bersistem, berkaitan, dan saling menentukan satu sama lain. Drama dikelompokkan sebagai karya sastra karena menggunakan media bahasa. Sebagai salah satu genre sastra, drama dibangun oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur-unsur tersebut adalah unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Untuk dapat menikmati suatu karya sastra secara sungguh-sungguh dan baik diperlukan pengetahuan akan karya tersebut. Tanpa pengetahuan yang cukup, penikmatan akan sebuah karya sastra hanya bersifat dangkal dan sepintas karena kurangnya pemahaman yang tepat. Selain itu, pengetahuan akan unsur-unsur yang membentuk karya sastra pun sangat diperlukan untuk memahami isi karya sastra secara menyeluruh. Tanpa pengetahuan akan unsur yang membangun karya sastra, pemahaman kita akan dangkal dan hanya terkaan saja sifatnya. Jika penikmatan karya sastra dengan cara demikian, maksud dan makna yang disampaikan oleh pengarangnya kemungkinan tidak akan tertangkap oleh pembaca. Unsur-unsur karya sastra tersebut adalah unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang ada dalam tubuh karya sastra itu sendiri yang meliputi alur, tema, penokohan, amanat, dialog, dan latar. Sedangkan unsur ekstrinsiknya adalah unsur yang berada di luar tubuh karya sastra, misalnya latar belakang pengarang, fungsi sosial, umumnya meliputi segala segi kehidupan.

Dalam hasil analisis struktural naskah drama Awal dan Mira karya Utuy Tatang Sontani ditemukan unsur intrinsik yang membangun naskah drama yang meliputi:

  1. Tokoh
  1. Karakter Awal dijelaskan pertama kali melalui adegan II. Awal digambarkan sebagai seorang laki-laki muda yang secara jasmani lemah. Badannya terlihat kurus dan rambutnya gondrong tidak terpelihara. Awal memiliki watak yang temperamen. Ia mudah marah dan tersinggung. Awal juga memiliki karakter yang keras kepala.
  2. Mira adalah seorang gadis cantik yang sederhana. Mira digambarkan sebagai gadis pekerja keras. Walaupun hanya sebagai tukang kopi, Mira adalah gadis yang pintar. Mira tidak mudah dibohongi dan dimanfaatkan orang lain. Watak Mira yang keras kepala dan tertutup lebih dipengaruhi oleh pikirannya yang realistis dalam memandang hidup. Mira tidak ingin melihat orang yang dicintainya kecewa dengan kenyataan fisiknya yang cacat.
  3. Si Baju Putih dan Si Baju Biru digambarkan sebagai laki-laki berusia 30 tahun. Si Baju putih badannya agak pendek, sedangkan Si Baju Biru berbadan besar dan tinggi. Keduanya digambarkan sebagai laki-laki berandalan. Karakter Si Baju Putih dan Si Baju Biru merupakan laki-laki yang memiliki mentalitas gadungan. Melalui dialog yang diucapkan Si Baju Putih dan Si Baju Biru di beberapa adegannya, tercermin watak mereka yang bermulut besar dan suka mencampuri urusan orang lain.
  4. Karakter Wartawan merupakan karakter laki-laki yang usianya sebaya dengan karakter Awal, memakai kacamata, dan tangannya memegang map tempat surat-surat. Karakter Juru Potret pun digambarkan sebaya dengan karakter Awal. Karakter Juru Potret memakai celana pendek dan menjinjing kodak. Karakter fisik mereka merupakan visualisasi dari profesi yang mereka jalani, seperti map surat dan kodak yang mereka bawa. Watak kedua karakter tersebut termasuk orang yang oportunis.
  5. Karakter Ibu Mira digambarkan sebagai perempuan yang sudah lanjut usia. Ia merupakan sosok ibu yang sangat pengertian pada anak perempuannya. Karakter Ibu pun digambarkan sebagai sosok orang tua yang pekerja keras. Pada usia yang sudah lanjut Ibu masih mau membanting tulang membantu anaknya bekerja di kedai kopi.
  6. Tokoh laki-laki tua dalam naskah drama “Awal dan Mira” memiliki sifat ramah.
  7. Tokoh Si Perempuan dalam naskah drama “Awal dan Mira” memiliki sifat pencemburu dan tidak tahu etika.
  8. Tokoh Anak Laki-laki dalam naskah drama “Awal dan Mira” sama halnya dengan tokoh-tokoh lain yang hanya berperan sebagai tokoh pendukung. Tokoh Anak Laki-laki memiliki sifat penurut, hal tersebut terbukti ketika Mira menyuruh Anak Laki-laki tersebut untuk menyampaikan perkataannya pada Awal.
  9. Tokoh Laki-laki Muda bahkan hanya muncul pada babak pertama. Tokoh laki-laki Muda memiliki sifat pasrah.
  1. Alur

Cerita dalam naskah drama Awal dan Mira ini disusun dengan menggunakan kombinasi alur lurus dan alur sorot balik secara bergantian. Maksudnya, sebagian ceritanya menggunakan alur lurus dan sebagian menggunakan alur sorot balik. Kedua alur tersebut dijalin dalam kesatuan yang padu sehingga tidak menimbulkan kesan adanya dua buah cerita atau peristiwa yang terpisah baik waktu maupun tempat kejadiannya.

  1. Tema
Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tema yang terdapat dalam naskah drama Awal dan Mira ini adalah tentang percintaan. Dimana kita harus selalu berjuang dan berusaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dan bagaimana kita untuk tetap selalu mensyukuri nikmat yang telah dimiliki. Mira mempunyai gagasan penting yang berupa pemikiran atau tema yang ingin disampaikan pengarang pada penikmatnya, yakni bahwa cinta tidak memandang perbedaan status sosial, melainkan membutuhkan kejujuran dan kepercayaan.

  1. Latar
  1. Latar tempat dalam naskah drama ini dijelaskan secara lengkap, seperti nama tempatnya. Pada dialog ibu Mira menjelaskan tempat yang ditempati oleh tokoh. “ (Dari dalam kedai) Kopi susu, Den.”
  2. Latar waktu peristiwa pada naskah drama ini banyak berlangsung pada malam hari. Salah satu peristiwa yang berlangsung pada malam hari, yaitu ketika Laki-laki tua datang ke kedai kopi Mira dan mengatakan bahwa malam ini sepi sekali. “Sepi sekali malam ini, Mira.”
  3. Latar suasana pada naskah drama ini yaitu sepi dan tegang. Suasana sepi terjadi ketika seorang laki-laki tua yang sedang berada di kedai kopi Mira merasakan bahwa pada malam ini suasana sepi sekali. “Sepi sekali malam ini, Mira.” Selain suasana sepi yang dirasakan ada suasana lain yang di hadirkan di dalam naskah ini, yaitu suasana tegang. Suasana tegang ini terjadi ketika Si Baju Biru dan Awal bertengkar mengenai Mira.
  1. Gaya Bahasa
  1. Majas Hiperbola: Karena di dalam kalimat tersebut ada kata “berjalan dimuka” kalimat itu terlalu berlebihan, karena pada hakikatnya berjalan tidak mungkin di muka. Kalimat ini bermajasa hiperbola yang melebih lebihkan.
  2. Majas Metafora: Karena pada kalimat ini terdapat objek yang bersifat sama dengan tujuan untuk menyampaikan dalam bentuk ungkapan “badut”.
  1. Amanat
  1. Bertekad kuat dan semangat tinggi.Pesan ini disampaikan melalui tokoh Awal yang senantiasa berusaha menaklukan hati Mira dan membujuk Mira untuk mau bersamanya walaupun banyak hal yang mengganggu usahanya untuk mendapatkan Mira. Awal tetap semangat dan bersikeras mendapatkan cintanya Mira dengan cara mendatanginya hingga mengirimkannya surat.
  2. Selektif untuk memiliki pasangan. Nilai ini disampaikan melalui tokoh Mira yang selektif memilih pasangan untuk dirinya kelak. Mira yang memiliki cacat fisik ingin mempunyai pasangan yang dapat menerima dirinya apa adanya.
  3. Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Nilai ini disampaikan melalui tokoh Mira dalam salah satu dialognya yang berbunyi “Tapi lantaran inilah, Mas, lantaran ke atas aku cantik dan ke bawah aku cacat, aku bagimu merupakan paduan dari keindahan surga yang kau impikan dan kepahitan dunia yang kau rasakan”. Dialog tersebut menjelaskan bahwa dalam setiap diri manusia tidak mungkin memiliki kesempurnaan utuh.
  4. Tidak adanya kesenjangan sosial. Nilai moral keempat dalam drama Awal dan Miraini diambil dari tokoh Awal yang merupakan pemuda bangsawan dan Mira merupakan gadis dari rakyat jelata. Awal mencintai dan hanya percaya kepada Mira walaupun Mira berasal dari kalangan rakyat jelata, tapi Awal tidak perduli akan hal itu. Baginya Mira merupakan manusia paling sempurna.

Sedangkan unsur ekstrensik pada naskah drama “Awal dan Mira” merupakan:

  1. Latar Belakang Pengarang

Dalam naskah ini Utuy menjadikan pengalaman pribadinya sebagai bahan naskah. Mira yang dalam cerita aslinya adalah Onih, perempuan yang dicintainya. Kerabat dari janda tua, tukang jahit yang pernah menjadi pembantu ayahnya sewaktu masih berjualan batik, juga tempat menitipkan Utuy saat di Bandung. Perempuan dengan wajah dan perawakan Indo-Eropa, panggilannya Onih sebutan untuk anak-anak Indo. Bapak Onih orang Belanda, seorang penguasa perkebunan, sedangkan ibunya gundik. Setelah beberapa kali bertemu, Onih dan Utuy saling menyukai satu sama lain. Naskah yang berlatar tahun 1951, dua tahun setelah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia, Utuy menggambarkan situasi kacau yang terjadi di masyarakat Indonesia saat itu dimana orang-orang tidak ada yang bisa saling percaya satu sama lain.

Drama Awal dan Mira berdasarkan Instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 1381/1965, tanggal 30 November 1965, yang ditandatangani oleh Pembantu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bidang Teknis Pendidikan, Kolonel Dr. M. Setiadi Kartodikusumo, dinyatakan sebagai salah satu buku terlarang dengan alasan untuk mengadakan tindak lanjut di dalam usaha menumpas pengaruh dari 'Gerakan 30 September', khususnya di bidang mental ideologi. Utuy Tatang Sontani dipandang sebagai tonggak penting dalam maraknya drama realis di Indonesia. Realisme konvensional dan naturalisme pada saat itu menjadi pilihan berbagai generasi karena sudah terbiasa dengan teater barat. Naskah ini tidak hanya terkenal di Indonesia, melainkan sampai ke Malaysia. Naskah ini juga termasuk naskah terpenting dalam periode 50an. Sampai saat ini naskah Awal dan Mira masih sering digunakan untuk pementasan para pelajar maupun para anggota kesenian.

  1. Fungsi Sosial

Selain sebagai media penghibur bagi masyarakat, tetapi juga sebagai pembaharu dan perombak dari tradisi yang dijalani oleh masyarakat saat ini. Naskah drama “Awal dan Mira” karya Utuy Tatang Sontani cukup menghibur masyarakat dengan kisah percintaan seorang pemuda bernama Awal yang memperjuangkan cintanya kepada perempuan cantik bernama Mira yang berakhir tragis karena ternyata Mira hanyalah seorang perempuan cacat akibat peperangan yang terjadi setahun yang lalu. Awal merasa ditipu dan tidak mau menerima Mira. Begitu pun dengan Mira, ia sedih dan merasa kecewa karena reaksi Awal ternyata sesuai dengan dugaannya selama ini.

Naskah “Awal dan Mira” pertama kali diterbitkan pada tahun 1949 di sebuah majalah. Pandangan masyarakat pada saat itu tidak jauh berbeda dengan masyarakat pada saat ini yang hanya menilai seseorang dari fisik dan membedakan kedudukan kondisi status sosial dalam bergaul. Jadi fungsi sosial sastra dalam naskah ini tidak dapat mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap orang-orang yang memiliki kekurangan fisik dan kedudukan kondisi status sosial yang lebih rendah.

Ikuti tulisan menarik Aisyah Kimberly Maroe lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB