Kartosoewirjo Pahlawan Atau Teroris? - - www.indonesiana.id
x

cover buku Kartosoewirjo Pahlawan Atau Teroris

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 6 Mei 2022 17:29 WIB

  • Topik Utama
  • Kartosoewirjo Pahlawan Atau Teroris?

    Selama ini banyak yang tidak tahu siapa sesungguhnya Kartosoewirjo selain sebagai pemberontak karena berupaya mendirikan Darul Islam dan membangun Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Novelisasi kehidupan Kartosoewirjo yang ditulis oleh Damien Dematra ini memberikan informasi lebih mendalam tentang sosok Sekarmadji Kartosoewirjo. Kita menjadi tahu bahwa sesungguhnya Kartosoewirjo juga sangat cinta kepada Indonesia. Ia ikut berjuang di masa prakemerdekaan.

    Dibaca : 727 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Kantoseowirjo Pahlawan atau Teroris?

    Penulis: Damien Dematra

    Tahun Terbit: 2011

    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

    Tebal: 447

    ISBN: 978-602-03-5572-6

     

    Selama ini banyak yang tidak tahu siapa sesungguhnya Kartosoewirjo selain sebagai pemberontak karena berupaya mendirikan Darul Islam dan membangun Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Novelisasi kehidupan Kartosoewirjo yang ditulis oleh Damien Dematra ini memberikan informasi lebih mendalam tentang sosok Sekarmadji Kartosoewirjo. Kita menjadi tahu bahwa sesungguhnya Kartosoewirjo juga sangat cinta kepada Indonesia. Ia ikut berjuang di masa prakemerdekaan.

    Damien Dematra mengungkapkan keluarga Kartosoewirjo dan masa kecilnya. Ia juga memaparkan perjumpaan Kartosoewirjo dengan para perintis kemerdekaan, yaitu Tjokroaminoto, Mas Marco dan Soekarno dan perjalanan berpartainya. Tentu saja Damien juga menuliskan keputusan Kartosoewirjo untuk membentuk negara Islam (Darul Islam) beserta dengan tentaranya, serta perjuangannya mempertahankan negara yang sudah dideklarasikan tersebut.

    Soekarmadji  Maridjan Kartosoewrijo (Kartosoewrijo) adalah anak dari seorang pegawai Pemerintah Belanda. Ayahnya bernama Kartosoewirjo (Kartosoewrijo Tua) adalah seorang pegawai candu yang mempunyai hubungan dekat dengan Pemerintah Belanda (hal. 14). Keluarga Kartosoewirjo hidup berkecukupan dan bisa bersekolah dan berteman dengan seorang anak Belanda bernama Annelis. Damien Dematra menggambarkan kehidupan sehari-hari keluarga Kartosoewrijo selayaknya kehidupan keluarga Jawa yang menjadi pegawai Pemerintah Belanda.

    Kesadaran Kartosoewrijo bahwa ia adalah bagian dari bangsa yang terjajah dimulai saat ia bermain ke rumah Annelis. Ia menyaksikan perlakuan yang semena-mena kepada pegawai-pegawai di rumah Annelis yang berkulit sawo matang. Ia menyaksikan salah satu pemuda bernama Karlan yang dicambuk karena ketahuan melaksanakan shalat (hal 25). Kesadaran bahwa rakyat membenci Belanda didapatinya saat ia bermain bola dengan anak-anak kuli. Ia ditolak oleh anak-anak kuli tersebut karena dianggap sebagai bagian dari penjajah.

    Kesadaran politiknya semakin terasah saat ia bersekolah di Sekolah Dokter Surabaya – Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS). Saat kuliah di Surabaya inilah ia bertemu dengan Mas Marco Kartodikromo (hal. 90). Ternyata Kartosoewirjo adalah kemopanakan dari Mas Marco Kartodikromo. Ia juga bertemu dengan Tjokroaminoto. Bahkan sempat indekost di rumah Tjokroaminoto. Perkenalannya dengan Tjokroaminoto membuatnya bergabung dengan Sjarikat Islam. Karirnya di Partai Sjarikat Islam menanjak sampai posisi Sekretaris Pusat.

    Kartosoewirjo bertemu pertama kali dengan Soekarno di Cimahi (hal 115). Kartosoewrijo sangat mengagumi Soekarno.

    Karena kelakuannya yang suka protes, Kartosoewirjo akhirnya dikeluarkan dari Sekolah Dokter. Setelah keluar dari NIAS, ia menjadi guru dan menekuni karir politiknya di Sjarikat Islam. Karir politiknya dengan cepat menanjak. Mula-mula ia menjadi Skretaris Pribadi Tjokroaminoto. Kemudian ia dipercaya bekerja di Oetosan Hindia, sebuah koran yang dipakai oleh Sjarikat Islam dalam perjuangan kemerdekaan. Kartosoewrijo bekerja mulai dari posisi korektor sampai menjadi penanggungjawab rubrik di Oetosan Hindia. Kemudian ia ikut mengelola koran Fajar Asia yang didirikan oleh Haji Agoes Salim.

    Saat menjalankan tugas Partai ke Malangbong, Kartosoewirjo bertemu dengan Dewi Siti Kalsoem (Wiwiek) yang di kemudian hari menjadi istrinya (hal. 115). Wiwiek adalah anak Ajengan Adiwisastra, seorang pengurus Partai Sjarikat Islam di Malangbong. Sejak menikah dengan Wiwiek, Kartosoewirjo lebih banyak menetap di Malangbong dan sekitarnya. Di Malangbonglah keyakinannya untuk mendirikan Negara Islam semakin mengental.

    Pada awal-awal perjuangan kemerdekaan Kartosoewirjo sangat gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia bersama-sama dengan tokoh-tokoh perintis, seperti Soekarno, Hatta dan Sjahrir. Ia sempat bergabung dengan Partai Masjumi di Jaman Jepang (hal. 193). Namun kekecewaan atas lunaknya para pemimpin dalam bernegosiasi dengan Belanda membuat ia memutuskan untuk berjuang sendiri (hal. 203). Keyakinannya semakin mendalam saat wilayah Jawa Barat ditinggalkan oleh TNI (Siliwangi) yang ikut hijrah ke Jogjakarta. Tentara Siliwangi meninggalkan Jawa Barat karena wilayah ini menjadi wilayah Belanda dalam Perjanjian Roem-Royen dan Konferensi Meja Bundar.

    Keputusannya untuk membantu rakyat melawan Belanda karena wilayah tersebut ditinggalkan oleh tentara, mendapatkan dukungan yang besar dari masyarakat. Namun keputusannya untuk mendirikan negara Islam tidak mendapatkan dukungan, bahkan oleh sahabat dekatnya, yaitu Kyai Taudjiri dan Kyai Ahmad Sanusi (hal 210). Melalui Lembaga Suffah yang didirikannya, Kartosoewirjo mulai melatih para pemuda untuk menjadi tentara.

    Pada tanggal 2 Maret 1948, di Desa Cipeundeuy Kartosoewrijo diangkat sebagai Imam untuk wilayah Jawa Barat. Pada tanggal 7 Agustus 1949, secara resmi Kartosoewirjo memproklamirkan Negara Islam di Jawa Barat.

    Jika awalnya gerakan Kartosoewirjo mendapatkan dukungan rakyat, namun di kemudian hari ia mulai ditinggalkan oleh rakyat. Hal ini terjadi karena kelompok Kartosoewirjo menghalalkan segala cara untuk mempertahankan DI/TII. Tak segan-segan mereka membunuh rakyat. Tentaranya sering menyiksa rakyat hanya untuk mendapatkan makanan atau pajak. Perjuangan Kartosoewirjo berakhir saat ia ditangkap pada tanggal 4 Juni 1962. Kartosoewirjo dihukum mati di Kepulauan Seribu pada tanggal 5 September tahun yang sama.

    Damien Dematra sangat berhasil dalam menggambarkan bagaimana Kartosoewirjo sebagai pejuang yang sangat ingin mengusir penjajah. Ia juga sangat berhasil dalam menggambarkan kekecewaan-kekecewaan Kartosoewirjo terhadap lunaknya para pemimpin bangsa dalam bernegosiasi dengan Belanda. Kekecewaan tersebutlah yang membuat ia akhirnya memilih jalannya sendiri dengan mendirikan Negara Islam.

    Sayangnya Damien Dematra kurang mengelaborasi perkembangan ideologi Kartosoewirjo. Dalam novel ini tidak cukup jelas mengapa akhirnya Kartosoewirjo memilih ideologi Negara Islam. Kalau dilihat dari latar belakang keluarganya, Kartosoewirjo tidaklah dibesarkan dalam tradisi Islam yang ketat. Ayahnya adalah seorang kapitalis kecil (Mantri Candu). Bahkan dari garis sang Ibu, Kartosoewirjo mempunyai hubungan darah dengan Mas Marco Kartodikromo yang beraliran kiri.

    Dari jalur istrinya pun, tidak terlihat keislaman yang berhaluan garis keras. Wiwiek adalah anak Ajengan Adiwisastra yang sehari-harinya bergaya bebas dalam berpakaian dan bertingkah laku. Wiwiek memanggil Kartosoewirjo dengan “Broer” yang jelas sangat Barat. Dari guru agamanya -Notodiharjo, saat di Bojonegoro pun tidak (hal 61).

    Damien Dimatra hanya menyinggung buku-buku yang pernah didapat oleh Kartosoewirjo dari seorang gurunya saat SMP. Sang guru yang beretnis Belanda tersebut pernah meminjamkan buku-buku agama Islam. Tapi Damien Dimatra tidak menjelaskan sejauh mana buku-buku tersebut berpengaruh kepada ideologi yang dianut Kartosoewirjo. Di halaman 116, Damien Dimatra hanya menyatakan bahwa Kartosoewirjo belajar dari buku-buku yang dibacanya.

    Jadi, mengapa Kartosoewirjo memilih ideologi Islam dalam berjuang, masih sangat gelap bagi saya. Semoga suatu saat ada buku yang membahas perkembangan ideologi Kartosoewirjo, dari anak seorang kapitalis kecil menjadi berjuang di jalam Khilafah. 674

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.