WfH = MdR dan BdR - - www.indonesiana.id
x

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Senin, 9 Mei 2022 18:49 WIB

  • Topik Utama
  • WfH = MdR dan BdR

    Pembelajaran hendaknya tetap berlangsung menyikapi pascapandemi. Hal ini penting mengingat kita harus mampu mewujudkan mimpi pendidikan berkualitas pada abad 21.

    Dibaca : 387 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Menurut pantauan Jasa Marga, 1,7 juta kendaraan yang keluar dari kawasan Jabodetabek. Ini terjadi dari H-10 hingga H-1 lebaran arus mudik pada Lebaran 2022. Jumlah tersebut lebih tinggi 9,5 persen daripada mudik Lebaran 2019.

    Situasi tersebut yang menyebabkan kemacetan pada arus mudik. Hal sebaliknya bisa terjadi ketika arus mudik. Itu akan  berpotensi terjadi kemacetan.

    Dalam kaitan ini, menarik mencermati pernyataan , Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang  meminta pemberlakukan Work from Home (WfH) selama sepekan lagi.

    "Kami mengimbau untuk mengurai arus balik, khususnya bagi instansi-instasi baik swasta atau pemerintah yang masih memungkin untuk satu minggu ini, bisa melaksanakan aktivitas dengan menggunakan media yang ada seperti online maupun work from home," kata Listyo.

     

    WfH = MdR dan BdR

    Sikap pemerintah yang “memanjakan” pemudik bermakna, bahwa para pekerja baik di instansi pemerintah maupun swasta untuk tetap melaksanakan WfH atau bekerja dari rumah merupakan langkah produktif. Bagaimana kalangan pendidik menyikapi hal ini?

    Meskipun Kemendikbud Ristek telah mengambil sikap setelah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, dan khusus sekolah di wilayah Jabodebek, libur diperpanjang sampai tanggal 12 Mei 2022, namun sebaiknya tetap mampu menjaga semangat mengajar dan belajar.

    Alih-alih pembelajaran daring ketika Pandemi 2020-2021, bisa dijadikan sebagai pilihan. Guru Mengajar dari Rumah (MdR) dan peserta didik  Belajar dari Rumah (BdR).  Kata “rumah” dalam hal ini hendaknya dimaknai sebagai sebuah tempat, bisa dimana pun, yang bisa digunakan sebagai MdR dan BdR secara daring.

    Lho, kan masih libur bahkan secara tegas pemerintah dengan bijak memberikan perpanjangan waktu (mirip permainan sepak bola karena “seri”) libur buat guru dan siswa? Tak keliru memang. Akan tetapi, mari kita ingat dua hal berikut.

    Pertama,  Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi atau Mendikbudristek Nadiem Makarim mengungkapkan pembelajaran jarak jauh atau belajar daring bakal menghasilkan anak-anak yang learning loss

    Learning loss adalah istilah yang digunakan untuk menyebut hilangnya pengetahuan dan keterampilan, baik itu secara umum atau spesifik, atau terjadinya kemunduran proses akademik karena faktor tertentu.   Faktor pnyebab I diantaranya adalah libur panjang, putus sekolah, dan ditutupnya pembelajaran tatap muka.

    Indra Charismiadji  (2021) juga mensinyalir learning loss lebih sering diakibatkan karena salah konsep pengajar.  Hal tersebut dapat dikaitkan dengan motivasi belajar anak yang menurun selama pembelajaran jarak jauh menjadi malas belajar. Di situasi ini, guru mendistribusikan informasi dan komunikasi hanya satu arah, yang kemudian menyebabkan siswa cepat merasa bosan dan tidak semangat belajar. 

    Kedua, harapan kita menuju pendidikan berkualitas masih jauh panggang dari api. Hasil Asesmen Nasional (AN) yang dituangkan dalam rapor Pendidikan 2022, mengungkapkan bahwa pencapaian siswa dalam kompetensi Literasi dan Numerasi (lira), karakter, danlingkungan belajar secara umum belumsesuai harapan, bahkan di bawah standar minimum.

    Profil lulusan peserta didik dari satuan pendidikan yangmengacu pada Sistem Pendidikan Nasional belum menggembirakan. Berdasarkan survei lingkungan belajar AN 2021 yang diikuti sekitar 3,1 juta guru, tenaga kependidikan serta 6, 5 juta siswa dari SD, SMP, SMA dan SMK pada 259.000 satuan pendidikan, terungkap masih rendahnya kualitas pembelajaran yang diberikan guru/sekolah kepada peserta didik (baca:e-paper Kompas, 7 Mei 2022).

     

    Selanjutnya, terkait dengan manajemen kelas, hanya 2 persen yang baik. Sedangkan pada aktivasi kognitif: pembelajaran interaktif dan sesuai kemampuan peserta didik hanya 1persen yang baik.  



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.