Makna Puisi Pada Suatu Hari Nanti Karya Sapardi Djoko Damono - - www.indonesiana.id
x

Fathia Indah Zahra El Islami

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 Maret 2022

Senin, 9 Mei 2022 18:47 WIB

  • Topik Utama
  • Makna Puisi Pada Suatu Hari Nanti Karya Sapardi Djoko Damono

    Puisi pada suatu hari nanti merupakan salah satu karya sapardi djoko darmono yang ditulis tahun 1991. Dalam memaknai sebuah puisi, diperlukan pemahaman dan penjiwaan pada suatu karya sastra.

    Dibaca : 553 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Puisi selalu berkembang dari dahulu hingga sekarang. Sehingga, pengertian puisi dari waktu ke waktu selalu berubah meskipun hakikatnya tetap sama. Perubahan pengertian itu disebabkan puisi selalu berkembang karena perubahan konsep keindahan dan evolusi serta selera. (Riffatere, 1978: 1).

    Puisi mengungkapkan perihal fikiran dan perasaan seroran penyair melalui cara yang imajinatif. Fikiran dan perasaan itu kemudian disusun dengan fokus pada kekuatan berbahasa dengan struktur fisik dan batinnya. Dalam puisi pula, terdapat nilai estetika dan makna didalamnya. Memaknai puisi sama dengan memaknai kehidupan, yang artinya sulit untuk dimaknai atau ditebak. Oleh karena itu, ketika ingin memaknai sebuah puisi maka libatkanlah perasaan kita pada setiap kata yang dibaca, serta ikut merasakan apa yang penulisnya rasakan ketika menulis puisi tersebut.

    Pada kali ini, kita akan memaknai salah satu puisi karya Sapardi  Djoko Damono yang berjudul “Pada Suatu Hari Nanti”. Puisi ini mengacu pada kematian yang merupakan teman terdekat kita. Berikut isi puisi Pada Suatu Hari Nanti:

    Pada Suatu Hari Nanti

    Pada suatu hari nanti,

    Jasadku tak aka nada lagi,

    Tapi dalam bait-bait sajak ini,

    Kau tak akan kurelakan sendiri.

     

    Pada suatu hari nanti.

    Suaraku tak terdengar lagi,

    Tapi diantara larik-larik sajak ini

    Kau akan tetap kusiasati

     

    Pada suatu hari nanti,

    Impianku pun tak dikenal lagi,

    Namun di sela-sela huruf sajak ini,

    Kau tak akan letih-letihnya kucari.

     

    Puisi ini mengingatkan kita akan adanya kematian. Kematian merupakan teman dekat setiap manusia. Dalam sajak puisi ini, Sapardi berusaha mengingatkan dan menyelipkan  gagasan dan arti dari kesetiaan.

    Makna Puisi “Pada Suatu Hari Nanti”

    Puisi ini terdiri dari 3 bait dan 12 baris yang disajikan secara singkat, padat, dan jelas. Dalam puisi ini, Sapardi mencoba membuat pembaca hanyut dalam suasana yang menggetarkan hati denga tema kematian dan keabadian hidup.

    Pada suatu hari nanti,

    Jasadku tak aka nada lagi,

    Tapi dalam bait-bait sajak ini,

    Kau tak akan kurelakan sendiri.

    Pada bait pertama baris kedua, kata “jasadku” mengacu pada kata kiasan pada kehidupan. Dilanjutkan kalimat “tak aka nada lagi” yang berarti tidak dapat diputar balik atau terulang kembali, kalimat ini jelas merujuk pada kematian.

    Pada baris ke-3 Dan ke-4, Sapardi menjelaskan bahwa ia tidak akan merelakan kehidupannya begitu saja hanya karena kematian, tetapi, jauh dari hal tersebut ia ingin selalu ada yang membuatnya abadi.

    Pada suatu hari nanti.

    Suaraku tak terdengar lagi,

    Tapi diantara larik-larik sajak ini

    Kau akan tetap kusiasati

    Pada baris pertama bait kedua, menegaskan Kembali kepada pembaca mengenai sesuatu yang akan datang, makna terdalam kehidupan bahwa kehidupan tidak akan berhenti begitu saja hanya karena kematian.

    Pada baris kedua kata “suara” mengacu pada kehidupan. Kehidupan di sini mengacu pada kehidupan yang berupa ekspresi emosi atau bersifat kebatinan. “Tak terdengar lagi” berarti suara (kehidupan) sudah tidak dapat dirasakan lagi (kematian).

    Baris ke-3 dan ke-4 “larik-larik sajak” menegaskan pertentangan terhadap kematian.

    Di baris ke-4 “kau akan tetap ku siasati” merujuk pada apapun yang kita coba agar kehidupan menjadi abadi.

    Pada suatu hari nanti,

    Impianku pun tak dikenal lagi,

    Namun di sela-sela huruf sajak ini,

    Kau tak akan letih-letihnya kucari.

    Pada bait terakhir, Sapardi mengungkapkan di mana semua cita-cita, ide, dan gagasan dan tetap hidup sampai kematian menjemput.

    Pada baris ke-2 kata “impian” mengacu pada keinginan atau Hasrat berupa cita-cita, ide dan gagasan. Pada bait “tak dikenal lagi” mengacu pada kehidupan jika manusia tak lagi memiliki mimpi yang sama saja dengan kematian.

    Di baris ke-3 dan ke-4 Sapardi menyelipkan hal yang ia inginkan, walaupun suatu hari nanti impiannya akan sirna dan tak dikenal lagi, ia akan terus berusaha mencarinya agar jiwa dan semangatnya tetap abadi dan kekal.

    Ikuti tulisan menarik Fathia Indah Zahra El Islami lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.