Kekuasaan Orde Baru Dan Sastra Indonesia - - www.indonesiana.id
x

Fathia Indah Zahra El Islami

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 Maret 2022

Sabtu, 14 Mei 2022 12:32 WIB

  • Topik Utama
  • Kekuasaan Orde Baru Dan Sastra Indonesia


    Dibaca : 206 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sastra merupakan bentuk kegiatan yang kreatif dan produktif dalam menghasilkan sebuah karya yang memiliki nilai estetis dan mencerminkan realitas sosial kehidupan masyarakat. Dalam bahasa Indonesia, kata sastra berasal dari kata Sansekerta yaitu sas dan tra. Kata sas dalam kata kerja turunan berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau instruksi. Sedangkan tra biasanya menunjukkan alat untuk mengajar seperti buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran.

     

    Pada hakekatnya karya sastra merupakan wujud kehidupan dan pengamatan sastrawan dalam kehidupan di sekitarnya. Dalam menciptakan sebuah karya sastra, biasanya pengarang didasarkan pada pengalaman kehidupan yang terjadi pada peran tokoh di dunia nyata dan dituangkan ke dalam bidang sastra.

     

    Pada masa Orde Baru, pemerintah melarang masyarakat untuk memiliki, menyimpan, dan membeli beberapa buku sastra yang tentunya ditulis oleh pengarang Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) karena dianggap pemerintah pada masa itu berafilasi komunis.

     

    Alasan saya memilih judul ini adalah untuk mengetahui bagaimana keadaan dan perkembangan sastra Indonesia terhadap kekuasaan Orde Baru.

    Manfaat dari tulisan ini adalah untuk memberitahukan kepada pembaca mengenai kesusastraan Indonesia dan gangguan terhadap sastra pada masa itu.

     

    Pada periode Orde Baru atau tahun 1960-an memperlihatkan suatu dinamika politik yang khas dan momumental. Banyak yang mengatakan bahwa periode Orde Baru menjadi masa paling kelam dalam sejarah Indonesia maupun kesusastraan Indonesia. Karena, pada masa periode ini politik Indonesia sangatlah panas sehingga banyak peristiwa kelam yang mengakibatkan banyak orang terbunuh dengan tidak adil dan kekerasan secara tidak manusiawi yang termasuk ke dalam pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia).

     

    Kekerasan yang terjadi pada masa rezim Orde Baru tidak hanya melukai dalam bentuk kekerasan secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung. Semua tindakan pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) seperti diskriminasi, pembunuhan etnis, pembunuhan masal, dan semua bentuk kekerasan fisik atau psikologis seseorang sering terjadi. Tidak hanya yang tampak di mata, tetapi kekerasan secara tidak langsung pun terjadi dengan cara mengganggu kesehatan masyarakat yang menyebabkan manusia menderita dan sengsara.

     

    Beberapa tulisan dalam karya sastra dapat berupa peristiwa sejarah. Peristiwa sejarah dapat menjadi tolak bagi sebuah karya sastra dan menjadi bahan baku, namun tidak perlu dipertanggungjawabkan. Sebagai simbol verbal, karya sastra memiliki beberapa peran, diantaranya sebagai cara pemahaman, cara perhubungan, dan cara penciptaan.

     

    Bagi sebuah karya sastra yang menggunakan peristiwa sejarah sebagai bahan baku, memiliki ketentuan di samping kebebasannya. Karya tersebut harus memiliki ikatan historical truth (kebenaran sejarah), historical authenticity (keaslian sejarah), historical faithfulness (kesetiaan sejarah), dan authenticity of local colour (kemurnian) yaitu, deskripsi yang setia mengenai keadaan-keadaan fisik, tata cara, peralatan, dan sebagainya yang dapat membantu serta memudahkan dalam memahami sejarah.

     

    Seorang pengarang dapat menggunakan sebuah peristiwa sejarah untuk menolak ataupun mendukung suatu interpretasi atau gambaran sejarah yang sudah ada. Pengarang juga dapat menyampaikan kritikan sejarah melalui karya sastranya. Demikianlah lahirnya karya sastra sejarah sebagai jawaban intelektual dan literer terhadap problematik suatu jaman dengan menggunakan masa lampau sebagai refleksi.

     

    Pada masa Orde Baru, apabila ada sebuah karya sastra yang dianggap bersifat memprovokasi, mengancam, melecehkan, menyinggung dan merugikan orang lain maka akan langsung ditindaklanjuti oleh Soeharto. Contohnya seperti majalah Djaja yang terkenal yaitu berhenti terbit, majalah tersebut memuat masalah-masalah budaya bangsa dan kesenian Indonesia.

     

    Hal-hal tersebut menjadi dasar tentang tema pada angkatan 80-an, yaitu tentang roman percintaan dan kisah kehidupan pada masa itu yang sifatnya tidak dianggap memprovokasi, mengancam, melecehkan, menyinggung dan merugikan. Tema roman percintaan dan kisah kehidupan ini juga didasari oleh kemajuan ekonomi dan kehidupan yang indah untuk masyarakat karena pada masa itu perekonomian di Indonesia sangat makmur sebelum adanya krisis moneter pertengahan tahun 1997.

     

    Periode 80-an ini merupakan sastra yang dinamik, bergerak bersama masyarakat untuk menuju kehidupan yang baru dengan wawasan konstitusional. Kesusastraan adalah alat untuk mencurahkan makna agar dapat ditumpahkan pada manusia secara utuh dan makna itu disalurkan masuk ke dalam kehidupan serta mengembangkan hal-hal yang sebelumnya belum terpikirkan oleh manusia.

     

    Para sastrawan pun harus mengikuti perkembangan jaman untuk berkarya. Banyak karya sastra yang dijadikan dalam bentuk drama radio. Pada periode 80-an karya sastra film pun berkembang pesat. Perfilman Indonesia banyak ditonton dan disukai oleh masyarakat, para sutradara pun aktif menciptakan film-film baru. Seperti film yang bertema percintaan remaja yaitu Gita Cinta SMA, film ini mempunyai banyak penggemar baik dari kalangan muda maupun tua.

     

    Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbitan Pustaka Jaya banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini.

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.