x

Iklan

Abu Bakar Sabirin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 16 April 2022

Jumat, 13 Mei 2022 06:26 WIB

Analisis Makna Puisi Aku Ingin Karya Sapardi Djoko Damono dengan Menggunakan Pendekatan Semiotika

Artikel membahas tentang makna puisi Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono dengan menggunakan pendekatan semiotika

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Analisis Makna Puisi "Aku Ingin" Karya Sapardi Djoko Damono dengan Menggunakan Pendekatan Semiotika

Pada tahun 1989 Sapardi Djoko Damono menulis sebuah puisi yang bertemakan tentang percintaan dan memiliki makna yang tak terduga yakni sebuah cinta yang benar-benar sederhana, puisi tersebut berjudul "Aku Ingin". Berikut ini adalah pembahasan tentang analisis makna puisi "Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono yang menggunakan pendekatan semiotika. Untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang makna dari puisi "Aku Ingin" mari kita simak.

1. Tingkatan Tanda

Aturan yang melandasi penggabungan akan memungkinkan menghasilkan makna-makna teks yang baru, berikut hasil dari analisis tanda:

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

a. Denotasi kata mencintaimu berawal dari kata cinta yang memiliki makna menyukai, mengasihi, dan jatuh cinta kepada seseorang. Kata "kayu" memiliki arti pohon yang batangnya sangat keras, kemudian kata "api" memiliki arti cahaya dan panas yang membakar segala sesuatu, dan berkobar seperti semangat yang sedang membara.

b. Konotasi, jika diurutkan kata perkata makna konotasi tak akan terlihat, tetapi makna kiasan atau majas akan terlihat jika berdasarkan penggalan kalimat larik. Majas yang digunakan pada puisi "Aku Ingin" adalah majas personafikasi, personafikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati seolah-seolah memiliki sifat kemanusiaan. Hal ini dibuktikan pada kalimat "dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu" yang berarti apabila kayu telah dibakar api maka yang tersisa hanya sisa-sisa abu atau kesempatan yang tak akan terulang.

2. Simbol

Bait pertama:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Bait kedua:

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Bait kelima:

Dengan syarat yang tak sempat tersampaikan

Bait pertama dan keempat memiliki kesamaan kalimat. Alasan bait-bait tersebut digabungkan karena memiliki makna yang unik dan berkaitan dalam bait tersebut, dalam bait pertama "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana" maksud dari kata "sederhana" adalah tidak sesederhana yang dibayangkan, melainkan sederhana yang sangat luar biasa. Kemudian pada bait kedua "dengan kata yang tak sempat diucapkan" kata "yang tak sempat diucapkan" memiliki makna doa yang selalu dipanjatkan meskipun tidak terungkapkan. Dan bait kelima "dengan isyarat yang tak sempat tersampaikan" dalam bait tersebut walaupun tidak ada isyarat yang tersampaikan, tetap akan ada pembuktian yang selalu ditunjukkan.

 3. Ikon

Puisi "Aku Ingin" memiliki bait-bait yang berulang dan kata-kata yang serupa tetapi beda makna. Pada bait pertama dan keempat "aku ingin mencintaimu dengan sederhana" memliliki kesamaan kalimat dan makna. Bait kedua "dengan kata yang tak sempat diucapkan" dan bait kelima "dengan isyarat yang tak sempat tersampaikan" hampir memliki kemiripan tetapi beda kalimat beda pula maknanya.

Simpulan

Puisi "Aku Ingin" erat kaitan maknanya dengan tema cinta yang menyampaikan hasrat sang penyair untuk mencintai kekasih dengan tulus dan penuh kasih sayang, bukan tentang menyampaikan kata-kata manis justru melalui tindakan yang nyata. Pada pembahasan puisi "Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono ini, menunjukkan kajian semiotik tingkatan tanda (tingkatan tanda denotasi dan konotasi), komponen tanda (lambang atau simbol dan makna), relasi tingkatan (denotasi dan konotasi).

Daftar Pustaka

Moh. Sobirin, Rian, Teti Sobari, dan Woro Wuryani. "Analisis Makna pada Puisi "Aku Ingin" Karya Sapardi Djoko Damono Mengunakan Pendekatan Semiotika". Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.2021. https:// www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://journal.ikip.siliwangi.ac.id/index.php/parole/article/viewFile/5747/pdf&ved=2ahUKEwjqhqLKq5b3AhVxR2wGHUQyDQUQFnoECDIQAQ&usg=AOvVaw2Pf9FYfwh3j64ltb1dquq7 (diunduh 15 April 2022, pukul 22.05).

Ikuti tulisan menarik Abu Bakar Sabirin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu