Peran Sastra dalam Membangun Karakter Bangsa Menurut Pandangan Islam - Analisis - www.indonesiana.id
x

Salma Fairuz Hasanah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 April 2022

Jumat, 20 Mei 2022 13:48 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Peran Sastra dalam Membangun Karakter Bangsa Menurut Pandangan Islam

    Memahami peran sastra dan hubungan nya dengan konsep Pendidikan Islam dalam Membangun Karakter Bangsa

    Dibaca : 388 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pengertian Sastra

         Menurut Teeuw, sastra berasal dari bahasa sansekerta, yaitu sas yang berarti mengarahkan, memberi petunjuk atau instruksi, sedangkan tra berarti sarana. Jadi, sastra adalah sarana atau alat untuk mengarahkan, memberi petunjuk atau instruksi.

         Sedangkan menurut Sutardi, sebagai sejarah mentalitas, karya sastra dapat berupa perenungan, pandangan kritis, dan pikiran alternatif atas realitas. Sastrawan menerjemahkan realitas dengan bahasa imajiner baik dalam bentuk puisi, cerpen, maupun novel. Dengan demikian, karya sastra yang ditulis sastrawan merupakan wujud, bentuk, dan cara ia membicarakan latau membahasakan realitas ke dalam sebuah karya. Meskipun karya sastra sering mengungkapkan tentang kehidupan manusia, namun proses penciptaannya membutuhkan daya imajinasi dan kreativitas tinggi dari pengarang.

         Sebelum membuat karya sastra, pengarang terlebih dahulu menghayati persoalan kehidupan manusia dengan penuh kesungguhan. Kemudian, pengarang mengungkapkannya melalui sarana fiksi dalam bentuk puisi, novel, cerita pendek, drama, dan lain sebagainya. Dalam proses penciptaan karya sastra tersebut, kreativitas pengarang dapat dikatakan "tak terbatas". Pengarang dapat mengkreasi, memanipulasi, dan menyiasati berbagai masalah kehidupan yang dialami dan diamatinya menjadi berbagai kemungkinan kebenaran hakiki dan universal dalam bentuk fiksi. Pengarang dapat mengemukakan sesuatu yang hanya mungkin terjadi, dan dapat terjadi, walaupun secara faktual tidak pernah terjadi. Maka dengan cara tersebut karya sastra yang bersifat fiksi dapat mengubah hal-hal yang terasa pahit dan sakit jika dijalani dan dirasakan pada dunia nyata, namun menjadi menyenangkan untuk direnungkan dalam karya sastra.

         Oleh sebab itu, para pembaca akan mendapatkan kesempatan untuk belajar memahami dan menelaah berbagai persoalan kehidupan yang telah diungkapkan oleh pengarang. Dengan begitu, karya sastra mampu mengajak pembaca untuk berfikir lebih kritis dalam menjalani hidup dan permasalahannya.

     

    Memahami Konsep Pendidikan Islam

         Menurut Ibnu Khaldun, tujuan Pendidikan Islam adalah memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekerja, sehingga dapat membuka pikiran dan kematangan individu, dimana kematangan itu akan bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, tujuan pendidikan Islam adalah memperoleh berbagai ilmu pengetahuan sebagai alat untuk membantunya hidup dengan baik di dalam masyarakat yang maju dan berbudaya. Lebih lanjut Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam juga untuk memperoleh lapangan pekerjaan yang digunakan untuk memperoleh rejeki.

         Lalu, Zakiyah Darajat memaparkan bahwa, pendidikan Islam lebih diorientasikan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik untuk kepentingan diri sendiri maupun orang lain. Pendidikan Islam tidak hanya bersifat teoritis semata tetapi juga praktis. Ajaran Islam tidak memisahkan antara iman dan amal saleh. Oleh karena itu, pendidikan Islam merupakan pendidikan yang menggabungkan iman dan amal sekaligus.

         Dengan begitu bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan Islam menurut Muhaimin bukanlah semata-mata pendidikan ilmu-ilmu agama Islam semata yang pada gilirannya hanya mengarah pada lembaga-lembaga pendidikan Islam, namun lebih dari itu, pendidikan Islam adalah pendidikan yang menanamkan nilainilai fundamental Islam kepada setiap Muslim terlepas dari disiplin ilmu apapun yang dikaji.

     

    Hubungan antara Sastra dan Pendidikan Islam dalam membangun karakter bangsa

         Menurut Muhaimin dalam bukunya yang berujudul: Paradigma Pendidikan Islam, Sastra dan agama ibarat dua sisi dari sekeping mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Agama memerlukan bahasa yang bercorak estetis (baca: sastra) untuk pencatatan segala kandungannya. Sebaliknya, sastra juga memerlukan agama (yakni sesuatu yang baik dan agung). Artinya jika agama dipercaya sebagai sesuatu yang baik, maka penyampaiannya pun seharusnya menggunakan bahasa yang baik pula. Alat penyampaian yang baik tidak lain adalah bahasa yang mengandung unsur kesastraan. Namun, penyampaian ajaran agama tidak saja memanfaatkan bahasa- bahasa puitis saja, melainkan lebih dari itu juga memanfaatkan genre sastra tertentu sebagai wadahnya, baik prosa maupun puisi.

         Selain itu Menurut Sayuti dalam bukunya yang berjudul Berkenalan dengan Puisi menjelaskan bahwa karya sastra juga memiliki korelasi positif dengan bidang studi Iain jika pembelajaran sastra dilaksanakan dengan kreatif. Pilihan materi yang dapat merangsang daya kritis siswa dapat menjadi sarana untuk mengantarkan siswa menuju kedewasaan.

         Kinayati Djojosuroto menuturkan bahwa karya sastra sejatinya tidakmemuat gagasan, tema dan pesan tertentu. Namun, tak dapat disangkal bahwa karya sastra selalu mengungkapkan hal-hal yang dipikirkan pengarang sebagai refleksi pengarang atas realita kehidupan yang dilihat, dibaca, didengar, dirasakan, dan dialami. Maka jelaslah bahwa karya sastra memiliki peran signifikan dalam kehidupan manusia, terutama kehidupan rohani. Segala sesuatu yang menyangkut kehidupan manusia sampai dengan yang paling kompleks sekalipun dapat diungkapkan dalam karya sastra tersebut.

         Karya sastra yang banyak mengandung pesan moral misalnya adalah suluk Lir Ilir karya Sunan Kalijaga. Kata lir ilir sendiri artinya adalah bangun, yang bermakna bahwa kita diajak untuk segera bangun (sadar) dari lelapnya tidur. Dalam hal ini tidur yang dimaksud adalah sibuk denga nurusan duniawi dan melupakan urusan akhirat. Setelah bangun dan sadar manusia hendaknya segera mencari dan menemukan petunjuk Tuhan karena hidup di dunia tidak hanya mencari uang, mengejar jabatan, berfoya-foya, dan lain sebagainya, tetapi memiliki kewajiban untuk beribadah sesuai tuntunan agama.

         Contoh lainnya adalah antologi puisi karya WS Rendra yang berjudul Blues untuk Bonnie, menurut Luisya Kamagi, dalam bukunya yang berjudul Nilai-Nilai Humaniora dalam Antologi PuisiBlues Untuk Bonnie Karya Ws Rendra mengungkapkan bahwa dalam antologi puisi karya seniman ulung ini mengandung pesan moral tentang simpati, empati, kasih sayang, kepedulian, kerjasama, dan toleransi. Misalkan dalam puisi yang berjudul Nyanyian Suto untuk Fatima, mengandung pesan moral agar masyarakat berani dan tidak perlu merasa takut dengan tindakan para pemimpin bangsa yang serakah karena telah melakukan tindakan korupsi. Selain itu, dalam puisi ini juga mengajak masyarakat agar tidak mudah menyerah dan putus asa karena pasti ada jalan keluar untuk setiap masalah yang ada.

         Oleh sebab itu, dunia pendidikan perlu mengoptimalkan peran sastra, karena sastra mengandung nilai berupa nilai etika dan nilai moral yang berhubungan dengan keberlangsungan hidup manusia. Dengan demikian juga dengan Pendidikan Islam yang memiliki tujuan untuk menanamkan nilai moralitas.

    Ikuti tulisan menarik Salma Fairuz Hasanah lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.