Aku Memilih Sendiri (Bagian 1) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi wajah wanita

Regina Nikijuluw

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 November 2021

Minggu, 12 Juni 2022 10:11 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Aku Memilih Sendiri (Bagian 1)

    Kami berdua berpandangan dengan mata terbelalak, rasa ketakutan mengalir ke sekujur tubuh, badan bergetar tidak berirama. Kami berpelukan dengan badan gemetar. Pertama kalinya, aku, Helaha, tujuh tahun, dan Hermana, lima tahun, mendengar suara bising di pagi hari buta.

    Dibaca : 749 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Aku Memilih Sendiri

    Kumpulan Puzzles

    Pagi itu, pertengahan 1970an, matahari belum juga keluar dari peraduannya. Kokok ayam baru saja mengalun lembut mengingatkan saatnya mengangkat badan dari peraduan. Aku dan adikku, Hermana, meloncat dari tempat tidur. Kami terkejut karena suara getaran pecah belah dan gelegar pada lantai ruang pecah belah, ruang dapur.

    Kami berdua berpandangan dengan mata terbelalak, rasa ketakutan mengalir ke sekujur tubuh, badan bergetar tidak berirama. Kami berpelukan dengan badan gemetar. Pertama kalinya, aku, Helaha, tujuh tahun, dan Hermana, lima tahun, mendengar suara bising di pagi hari buta.

    Terdengar teriakan geram penuh kemarahan, suara ayah, “Kamu jangan terlalu banyak tanya. Aku yang menafkahi kalian.”

    “Tapi ayah…,” suara ibu berusaha menjawab tetapi terputus dengan bunyi tamparan keras.

    Kami bisa mendengar badan ibu terlempar keras ke dinding. Getarnya serasa memenuhi seisi rumah. Tangisan dan rintihan ibu semakin mengguncang pagi. Kegaduhan yang menyeret aku dan Hermana ke sudut kamar. Kami meringkuk, berpelukan ketat dan berurai air mata.

    Pagi yang berakhir dengan ayah menyalakan vespanya. Tidak lama, gemuruh mesin vespa hilang ditelan awan yang mulai memerah. Ibu memasuki kamarnya. Di antara isa halus Hermana, terdengar isakan ibu yang melukai dadaku, menekan jantungku, menyesakkan nafasku.

    Semua menjadi awal dari hidup dalam rumah petak dua kamar berukuran sangat sederhana di pinggiran Selatan Bintang menjadi serasa di neraka. Bantingan, dentuman, tamparan dan suara deru vespa yang menghilang di telan angin pagi menjadi santapan harian kami. Meringkuk di sudut kamar, memeluk Hermana untuk menenangkan dia, air mata yang sudah mengering menjadi puzzle pertama kehidupan yang aku lalui.

    Mengapa harus ada dosa di dalam hidup ini?

    Mengapa kekejaman menderu setiap jam berputar?

    Mengapa kekelaman menjadi alasan teriakan?

    Mengapa tangan kasih menjadi membabi buta?

    Manusia ada ketidakpuasan dan gairah diri?

    Semua menghilangkan dan menghapus kasih

    Pertanyaan yang terus berputar di kepalaku setiap lingkaran itu terjadi. Aku masih tidak paham dengan kejadian ini. Semua terjadi sangat cepat. Tidak ada waktu untuk berpikir. Aku tidak menemukan jawabannya.

    Namun aku tidak mau menunjukkan kelemahanku. Aku anak pertama. Aku harus menjaga adikku dan menguatkan ibu.

    Suara ibu selalu aku terngiang di telingaku, “Namamu berarti wanita pejuang karena kamu akan menjadi wanita yang kuat dalam menjalani kehidupan.” Aku yakin itu harus menjadi kekuatanku. Kesedihan dan kekawatiran hanya menjadi ilusi, aku tidak pernah tunjukkan di muka ibu.

    Memang ada saat di mana ayah bertingkah laku sangat menyenangkan. Dia membawa makanan khusus bagi kami semua dan kami menikmati makan malam bersama dengan penuh tawa dan cerita-cerita indah. Sayangnya, itu tidak selalu terjadi. Perilaku ayah menentramkan hati kami tidak bertahan lama. Bagai sandiwara dan ayah sutradaranya, bukan dunia nyata.

    Ayah lebih menikmati kehidupannya di luar rumah. Kartu domino menjadi teman kesayangannya. Kadang kala, ayah mengajak teman-temannya bermain domino di rumah. Aku dan Hermana terpenjara di dalam kamar. Kami tidak diizinkan keluar kamar dan hanya mendengar suara tawa, lemparan uang ke dalam mangkuk, denting botol bir serta aroma rokok kretek yang menyengat. Di mata ayah, aku seakan melihat kartu domino yang menari-nari dan kumpulan uang di dalam mangkuk yang terus gemerincing.

    “Banting… banting kartunya, jangan disimpan”

    “Ayo jangan terlalu lama mikir, tidak ada bedanya”

    “Ah bodoh, harusnya kartu balak keluarkan dulu.”

    Suara-suara ramai yang terus mendengung serasa berjuta lebah menyengat tajam di telinga. Semua selalu ditutup dengan tawa terbahak-bahak.

    Tongkat biliar menjadi teman kesayangannya yang kedua. Tongkat yang sering kali patah karena memukul ibu tengah malam buta karena pertanyaan sederhana yang keluar dari mulut ibu.

    “Kenapa pulang malam terus, ayah?”

    Suasana yang membuat ibu sering hilang dari rumah dan aku harus mengurus Hermana seorang diri. Keadaan yang menggiring aku tinggal hanya berdua dengan Hermana dan membukakan pintu di pagi buta untuk ayah masuk dalam keadaan sempoyongan. Rutinitas menambah kembali puzzles gambaran masa kecilku.

    Di saat ibu ada di rumah, ada rasa untuk bisa membuka baju ibu. Aku yakin guratan merah merona pasti memenuhi tubuhnya. Wajahnya ibu yang sering meringis, bajunya yang menutupi hampir seluruh badannya, bagiku itu sudah jawaban.

    “Ibu sehat kah? Badan Ibu sakit? Mau Helaha gosok dengan minyak kayu putih?” hanya tanya, rasa dan keinginan yang bisa aku sampaikan.

    Selalu dengan tersenyum, mengelus kepalaku, “Tidak perlu koq! Untuk apa digosok? Ibu baik-baik saja!”

    Namun bagiku, mata merah bengkak, rintihan halus ibu, sudah menjadi jawaban, “Ibu tidak baik-baik saja!”

    Puzzles kehidupan kecilku terus bertambah. Bahwa itu menjadi berwarna cerah, hanya menjadi mimpi yang mengalun lembut di gelapnya malam. Tidak sampai satu tahun kemudian, aku, delapan tahun, Hermana, enam tahun, mendengar suara dentuman koper dari kamar ayah dan ibu yang ada di sebelah kamar kami berdua. Perlahan aku menggeser telingaku mendekati sekat gedek tipis pelapis kamar. Aku tidak mau membangunkan Hermana.

    Di antara isakan ibu, suara lirihnya terdengar, “Kamu tega meninggalkan kami semua, ayah? Apa kamu tidak kasihan anak-anak? Maafkan kesalahan aku. Tolong ayah pikir ulang lagi.”

    “Siapa bilang aku meninggalkan kalian. Aku hanya bilang, aku lebih nyaman tinggal dengan Elora. Aku mungkin sekali-sekali pulang untuk melihat kalian,” bentakan keras ayah menggetarkan gedek kamarku.

    Teriakan ayah dan jeritan halus tangis ibu membuat aku semakin terlempar dalam dunia kebingungan. Aku seakan masuk dalam gua gelap tanpa ujung, semua hanya hitam. Aku seakan berada dalam satu jalan penuh duri menusuk dalam ke daging. Aku tidak tahu ke mana harus melangkah.

    Jawaban ayah membuat aku mengernyitkan kening dan kebingungan, “Elora itu siapa? Kenapa ayah tinggal dengan dia? Apakah ini yang dibilang orang wanita pengganggu? Tapi mengapa bisa ada wanita pengganggu?

    Pertanyaan berputar di kepalaku, Aku pusing, aku lelah, aku tidak mengerti apa yang terjadi. Aku tidak tahu harus bilang apa ke Hermana. Satu hal yang aku tahu, ayah akan pergi meninggalkan kita.

    Kondisi kami akhirnya membuat ibu mengalami depresi. Dia lebih banyak diam dan merenung. Ibu tidak lagi mengurus dirinya. Kamar menjadi tempat kesukaannya. Kamar yang selalu ibu kunci. Sendiri, tanpa membayangkan ada asa untuk melangkah, atau ada harapan untuk memulai kembali.

    Ibu akhirnya memanggil nenek pindah untuk tinggal bersama dan menjaga kami berdua. Nenek meninggalkan kehidupannya di Ambuna dan bergabung bersama kami. Aku jarang sekali bertemu dengan nenek karena jarak tinggal kami yang sangat jauh. Tetapi setiap kali nenek ada, aku sangat senang karena nenek mengajarkan aku banyak hal. Aku jadi bisa memasak, membersihkan rumah, menyetrika karena nenek.

    Nenek bukan dari keluarga yang berada. Di Ambuna, nenek biasa berjualan nasi kuning untuk membiayai hidupnya. Terkadang nenek membuat jajanan pasar apabila ada acara khusus di sekitarnya. Satu hal memicu keanehan bagiku, nenek tidak pernah hadir bersama kakek. Dia selalu datang seorang diri.

    “Dulu, kantor kakek memindahtugaskan kakek ke Sulawatu Utara. Di sana, kakek bertemu dengan wanita lain dan tidak pernah pulang,” nenek mengisahkan cerita hidupnya padaku suatu sore ketika aku membantunya menyiapkan makan malam.

    Cerita yang membawa pemikiran dalam logika dan menekan jiwaku, “berarti ini memang sudah menjadi kodrat keluarga ini – ditinggal suami.” Aku kembali memasukkan itu ke dalam puzzles-ku.

    Ibu, Jennia, adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Saudara-saudaranya tersebar di beberapa daerah karena nenek tidak bisa mengampu mereka semua. Ibu menetap bersama kakaknya nenek di Bintang, tempat ibu bertemu dengan ayah, Gelfara. Pernikahan ibu dengan ayah sewaktu ibu belum mencapai 20 tahun. Ibu tidak mau menyusahkan keluarga sehingga memutuskan menikah dengan ayah yang baru ditemuinya satu bulan.

    Aku dan Hermana menuntut ilmu di salah satu sekolah negeri. Menurut ayah sekolah itu biayanya tidak terlalu mahal tetapi memiliki mutu pendidikan yang cukup baik. Bagiku yang terutama bukan tempat sekolah karena yang penting aku bisa belajar. Aku bisa berjalan ke masa depan dengan bekal yang cukup.

    Aku mempunyai kesukaan membaca dan sering menghabiskan waktu istirahatku di perpustakaan sekolah menikmati majalah anak serta buku pengetahuan tentang teknologi. Setiap minggu aku pasti meminjam buku-buku ilmu pengetahuan sesuai jatah dari perpustakaan, satu minggu lima buku.

    “Sudah selesai kamu baca semua, Helaha,” Pak Endang, petugas di perpustakaan sekolah, tersenyum pada saat aku mengembalikan buku robotika. Aku selalu menjawab dengan anggukan dan berjalan mengambil buku bacaan lalu duduk di salah satu bangku. Saat keluar, aku mencari buku selanjutnya untuk kubawa pulang.

    Di setiap kelas, aku selalu juara pertama dan menjadi kesayangan para guru. Pelajaran yang aku paling suka adalah matematika. Di rumah aku biasa melahap semua teori dalam buku panduan dan selalu mendahului ajaran dari guru. Aku selalu menangis bila nilai matematikaku bukan sepuluh. Aku juga menyukai sains, terutama yang berhubungan dengan teknologi.

    Kepandaian itu membawa aku membantu anak lainnya bila mereka mengalami kesulitan memahami pelajaran matematika dan sains. Kelebihan yang membuat aku dipanggil orang tua teman kelasku untuk mengajari anak mereka. Kemampuan yang menjadi penambah masukan keluarga karena mereka membayar bantuan aku. Aku sudah menjadi penopang keluarga di umurku 9 tahun. Gambaran hidupku mulai berwarna dengan puzzle manis.

    Kehadiran nenek di rumah meringankan hati dan pikiran ibu. Kepiawaian nenek dalam membuat nasi kuning menelurkan kesibukan baru bagi ibu. Pagi-pagi buta, ibu dan nenek sudah menyiapkan nasi kuning beserta semua lauk pauknya.

    Mereka membuka warung kecil di depan rumah. Mereka membungkus beberapa nasi dan memberikannya kepadaku untuk dititipkan di warung sekolah. Aku sering meminta lebih supaya aku bisa menjualnya langsung kepada teman-teman kelasku. Aku menganggap ini adalah puzzle terakhir yang membentuk gambaran masa kecilku.

    Kehidupan ibu dan nenek tidak aku masukkan dalam kotak puzzle. Semua hanya bayangan lalu yang aku hapus dan tinggalkan. Ayah sudah pupus dalam kepalaku. Dia selaiknya debu yang dihembus angin dan menjauh dari rumah petak kami. Aku membangun tekad penuh bahwa hidupku untuk ibu dan nenek. Bagiku hanya satu laki-laki yang mengisi lembaranku, Hermana, adikku.

    Kehidupan merupakan kesatuan puzzles jadi satu cerita,

    Kehidupan membangun logika untuk mengarungi hidup ke muka,

    Ketakutan dan kekhawatiran melayang jauh, kekuatan membentuk pola,

    Yang lalu sirna ditelan, semangat, gairah dan gelora maju yang terbawa.

     

    (Bagian 2: Ketika Dia Hadir)

    *****

    Ikuti tulisan menarik Regina Nikijuluw lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.