Menutup Kedai - Fiksi - www.indonesiana.id
x

jihan ristiyanti

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 April 2022

Kamis, 9 Juni 2022 09:30 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Menutup Kedai

    Malam kian larut, tapi kantuk belum juga  memeluk. Dan kudapatimu di sampingku. Kita bukan kekasih, tapi hatiku telah penuh namamu, begitu juga doa-doaku.

    Dibaca : 646 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bagian 3,

    Dua muda mudi itu masih asik mengobrol. Perbincangan mereka telah mencair, tak sekaku yang lalu. Di tengah perjalanan, motor mereka berhenti di sebuah kedai kopi. Maria memesan es red velvet latte. Sementara, Arsyad memesan es cappucino. Mereka duduk di kursi sudut kedai. Maria merebahkan  punggungnya ke sandaran kursi. Sedari tadi, gadis itu mengeluhkan punggungnya yang sakit. Dan benar saja. Selepas perjalan mereka, Maria datang bulan. Sakit punggung yang ia rasakan waktu itu adalah nyeri sebelum haid.

    Saat ini, Gadis itu  tak tahu, apa yang pria di depannya fikirkan. Tak satupun dari mereka menyoalkan, kenapa keduanya memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama. Berdua.

    Dibanding berbincang tentang diri mereka, keduanya justru asik mengobrol soal politik, harga tes PCR (polymerase chain reaction) yang melangit, Covid, serta tingginya kasus pemuda dan pemudi yang terkena HIV (human immunodeficiency virus). Maklum saja, pekerjaan Maria sebagai wartawati, membuatnya akrab dengan isu-isu tersebut.

    Seperti kata pepatah, waktu akan cepat berlalu saat kau sangat menikmatinya. Pegawai kedai telah bersiap membereskan kursi dan meja. Pertanda, pengunjung harus segera angkat kaki. Termasuk Maria dan Arsyad. Lelaki itu bertanya, "Pukul berapa sekarang?".

    Maria kaget, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Lelaki
    itu hanya membalas, " Kirain masih pukul 10, berarti... " Ia tak meneruskan kalimatnya. Hanya tersenyum.

    Keduanya segera meninggalkan kedai. Tapi tak lantas menuju pantai. Maria mengajak Arsyad singgah di sebuah kedai kopi lesehan. Lokasinya, tak jauh dari tempat mereka. Hanya butuh waktu 10 menit. Kedai itu sangat sederhana, berdiri di atas trotoar. Dengan gerobak dan beberapa meja kecil untuk pengunjung.

    Tahun lalu, saat Maria masih berada di semester 7 perkuliahan. Ia ditugaskan  magang di Pengadilan. Yang berada tak jauh dari lokasi kedai. Di sana, tersedia aneka menu kopi yang diseduh dengan menggunakan filter.  Ada pula latte dan cappuchino art. Tempat yang pasti tidak bisa ditolak, oleh perempuan pecinta kopi manual brewing itu. Iya, siapa lagi kalau bukan Maria.

    Hampir setiap malam, Maria dan teman-temannya mampir ke sana. Tak hanya kopinya yang enak. Mereka juga menjual ketan dan nasi pecel Nganjuk yang jadi andalan kedai itu. Maka, selagi mereka berada di kota itu. Maria mengajak Arsyad untuk mampir. Mencicipi ketan kesukaannya. Yang biasa Maria santap dengan teman-teman.

    Sekarang, tiba saatnya bagi mereka  untuk melanjutkan perjalan ke pantai.  Dingin udara malam kian menusuk. Dan jarak keduanya pun mulai terkikis. Maria menyenderkan kepalanya di bahu lelaki yang tengah fokus mengemudi itu.   Sebetulnya, ia ragu, tapi tanpa disadari Arsyad. Lelaki itu telah berhasil menyentuh hati Maria.

    Semua gerak-geriknya mengikis rasa takut Maria. Membuatnya merasa aman dan dilindungi. Siapa perempuan tak bakal luluh? Pagi mulai beranjak. Mereka putuskan mampir di surau kecil. Beristirahat sembari menunggu azan subuh.

    Selepas menunaikan salat. Mereka melanjutkan perjalanan. Pantai Balaikambang  menjadi tujuan mereka. Sebenarnya, pemilihan pantai Balaikambang baru diambil di tengah perjalanan. Sebab sedari awal, Maria pun tak bermaksud pergi ke pantai.

    Pantai hanya alasan. Maksudku sebenarnya adalah punya cukup waktu bersamamu. Dan kudapati itu dalam sebuah perjalanan,  Maria.

    Tapi memang benar, suara ombak selalu  menjadi kesukaan Maria. Ia senang melihat hamparan air laut. Suara benturan air yang bertabrakan. Rasanya, semua masalah akan ikut hanyut,  hanya dengan kita melihatnya.

    Bersambung,

    Ikuti tulisan menarik jihan ristiyanti lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    5 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 596 kali