x

Iklan

Berliana Ananda Putri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 April 2022

Kamis, 16 Juni 2022 12:13 WIB

Kesusastraan Indonesia Periode Sebelum Kemerdekaan

Salah satu bentuk peninggalan bangsa Indonesia yang begitu membanggakan adalah karya sastra. Hingga saat ini jutaan karya sastra yang telah terbit dibagi ke dalam beberapa periodisasi waktu, misalnya periode sebelum kemerdekaan. Dalam setiap periode, terdapat tokoh sastrawan yang namanya masih terus dikenal sampai saat ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Menurut Wikipedia sastra adalah kata asing dari bahasa Sanskerta Sastra, yang artinya kata yang mengandung intruksi atau perintah. Dalam bahasa Indonesia, kata sastra biasa digunakan untuk menyatakan ”kesusastraan” atau sebuah tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Sastra dibagi menjadi sastra tulis dan sastra lisan. Sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi berhubungan dengan bahasa yang dapat digunakan untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.

Kesusastraan merupakan peninggalan bangsa yang sangat membanggakan, sampai saat ini telah diterbitkan hingga jutaan karya sastra. Kesusastraan diartikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan tulisan yang indah. Kesusastraan sebelum masa kemerdekaan, yaitu kesusastraan Melayu, dimana karya sastra banyak yang berisi cerita, cerpen, drama, dan puisi bertema roman dengan alur cerita yang lurus, hingga mendekati era kemerdekaan.

Perkembangan sastra merupakan berkembangnya sastra dari satu periode ke periode-periode lainnya. Awal berdirinya sastra Indonesia adalah kesusastraan “etnik” yang ditulis menggunakan bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia yang zaman dahulu diangkat dari bahasa Melayu kuno. Berdasarkan urutan waktu, sastra Indonesia terdiri atas beberapa angkatan. Diantaranya, sebagai berikut:

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

1. Angkatan Pujangga Lama

Pada angkatan Pujangga Lama, karya sastra dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada angkatan ini, didominasi karya sastra yang diantaranya ada syair, pantun, hikayat, dan gurindam. Penulis karya sastra pada masa ini diantaranya adalah Hamzah Fansuri, Syamsudin Pasai, Abdurrauf Singkil, Nuruddin ar-Raniri, dll. Ada beberapa ciri-ciri karya sastra pada . Angkatan Pujangga Lama, yaitu:

a. Menyajikan tema pertentangan adat, pertentangan paham antara kaum muda dan kaum tua, kawin paksa, romansa, dan lain-lain

b. Kaya akan gaya bahasa klise dan bahasa sehari-hari

c. Kaya akan bahasa hikayat sastra lama

2. Angkatan Sastra Melayu Lama

Angkatan ini berdiri pada tahun 1870 hingga tahun 1942, dan berkembang di daerah Sumatera. Karya sastra yang terbit pertama kali tahun 1870 dan masih dalam bentuk syair, hikayat, dan terjemahan novel barat. Contoh karya sastra yang muncul pada masa ini adalah Hikayat Hang Tuah, Hikayat Seribu Satu Malam, Hikayat Mahabarata. Ada beberapa ciri-ciri karya sastra pada Angkatan Sastra Melayu Lama, yaitu:

a. Masih menggunakan bahasa Melayu

b. Alur cerita seputar istana sentris dan hal-hal tahayul

c. Masih sangat terikat dengan aturan-aturan dan adat-istiadat daerah setempat

d. Anonim. Sebagian besar karya sastra Melayu lama berkembang di tengah masyarakat yang tidak diketahui nama penciptanya

3. Angkatan Balai Pustaka

Angkatan ini lahir sejak abad ke 20-an. Disebut sebagai angkatan balai pustaka karena penerbit yang banyak menerbitkan adalah balai pustaka. Karya sastra yang ada pada angkatan ini adalah prosa dan puisi. Dalam perkembangannya, sastra ini diciptakan oleh orang Belanda yang salah satu tujuannya adalah untuk urusan politik. Ada beberapa ciri-ciri karya sastra pada Angkatan Balai Pustaka, yaitu:

a. Bersifat didaktis. Sifat ini berpengaruh sekali pada gaya penceritaan dan struktur penceritaannya.

b. Bercorak romantis (melarikan diri) dari masalah kehidupan seharihari yang menekan

c. Permasalahan adat, terutama masalah adat kawin paksa, permaduan, dan sebagainya

d. Pertentangan paham antara kaum tua dengan kaum muda

e. Latar cerita pada umumnya latar daerah, pedesaan, dan kehidupan daerah

4. Angkatan Pujangga Baru

Angkatan ini lahir sejak tahun 1933 hingga 1942. Disebut pujangga baru karena saat itu majalah sastra yang terkenal adalah majalah pujangga baru. Karya sastra pada angkatan ini bersifat dinamis, individualis, dan nasionalistik. Ada beberapa ciri-ciri karya sastra pada Angkatan Pujangga Baru, yaitu:

a. Bertema persatuan, nasionalisme, dan rasa kebangsaan

b. Beberapa sastrawan di angkatan ini mengangkat persoalan emansipasi wanita

c. Alirannya disebut romantis idealis

d. Sastrawan menyiratkan idealisme dalam karya-karyanya

e. Ada pengaruh dari karya sastra tahun 1980an dari Belanda

Dibalik terbitnya karya sastra yang hadir di Indonesia, ada beberapa tokoh sastra yang menciptakan karya-karya terbaiknya, seperti:

1. Hamzah Fansuri

Hamzah Fansuri adalah seorang ulama sufi dan sastrawan yang hidup pada abad ke-16. Hamzah Fansuri merupakan sastrawan periodisasi sebelum kemerdekaan yang juga merupakan tokoh sastra pada angkatan pujangga lama. Hamzah Fansuri lahir di Barus, Sumatera Utara. Adapun karya-karya yang dihasilkan Hamzah Fansuri, antara lain:

a. Puisi: Syair Burung Unggas, Syair Dagang, Syair Perahu, Syair Si Burung Pipit, S
yair Si Burung Pungguk, Syair Sidang Fakir.

b. Prosa: Asrar al-Arifin, Sharab al-Asyikin, Kitab Al-Muntahi / Zinat al-Muwahidi

2. Pramoedya Ananta Noer

Pramoedya Ananta Noer lahir di Blora, Jawa Tengah, tepatnya pada tanggal 6 Februari 1925. Beliau pernah bekerja sebagai redaktur di Balai Pustaka pada tahun 1950 hingga tahun 1951. Dan pada tahun 1952, Pramoedya mendirikan dan memimpin Literary dan Features Agency Duta sampai tahun 1954. Dan tentu selama hidupnya Pram telah menuliskan puluhan karya sastra terbaik berupa novel maupun kumpulan cerita pendek. Beberapa karyanya yang cukup populer, seperti “Di Tepi Kali Bekasi”, “Bumi Manusia”, “Anak Semua Bangsa”, dan “Gadis Pantai”.

3. Marah Rusli

Marah Rusli lahir di Padang tanggal 7 Agustus 1889. Karyanya yang berjudul Siti Nurbaya diterbitkan pada tahun 1920, dan hingga kini masih sangat banyak dibicarakan masyarakat. Selain Siti Nurbaya, Marah Rusli juga mengeluarkan karya lain, seperti “La Hami” pada tahun 1924, “Anak dan Kemenakan” pada tahun 1956, “Memang Jodoh”, dan “Tesna Zahera”.

4. N. H. Dini

Singkatan dari sebuah nama Nurhayati Srihardini. Nh. Dini dilahirkan pada tanggal 29 Februari 1936 di Semarang, Jawa Tengah. N.H Dini telah melahirkan banyak karya sastra, seperti puisi, novel, dan buku terjemahan. Penghargaan yang telah diperolehnya merupakan hadiah kedua untuk cerpennya yang berjudul “Di Pondok Salju” yang dimuat dalam majalah Sastra pada tahun 1963, hadiah lomba cerpen majalah Femina pada tahun 1980, dan hadiah kesatu dalam lomba mengarang cerita pendek dalam bahasa Prancis yang diselenggarakan oleh Le Monde dan Radio France Internasionale pada tahun 1987.

 

Tinjauan Pustaka:

Waluyo, H. J. 1994. Pengkajian Cerita Fiksi. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

Ikuti tulisan menarik Berliana Ananda Putri lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB