Kengerian Keluarga Durbiska - (Bagian 2) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Elnado Legowo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 16 Juni 2022 16:52 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kengerian Keluarga Durbiska - (Bagian 2)

    Putri membuka rahasia keluarganya yang telah disembunyikan dari publik, sekaligus penuh dengan kengerian dan kegilaan yang tidak terucap. Lantas apa isi dari rahasia tersebut? Apa yang akan terjadi kepada mereka selanjutnya?

    Dibaca : 616 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Butuh waktu tidak singkat untuk bisa mendinginkan Putri, sampai akhirnya dia menceritakan secara ringkas dan penuh sentimental tentang rahasia keluarganya. Dari kalimat-kalimatnya yang tidak teratur, aku bisa menangkap sedikit inti cerita yang disampaikan, bahwa ada banyak sekali kegilaan yang tidak terucap.

    Memang benar bahwa dulu keluarga mereka hanya pengusaha tekstil kecil di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Namun kehidupan mereka makin terpuruk, setelah ibu Putri yang berprofesi sebagai penjahit meninggal dunia akibat kanker lambung, saat Putri masih berusia 17 tahun. Semenjak itulah, Jiwatma - ayah Putri - menjadi sangat frustrasi dan mengalami kemerosotan moral. 

    Beberapa bulan kemudian, Jiwatma mendapat seorang pelanggan perempuan yang memperkenalkan diri sebagai Aliviyah. Dia memesan sejumlah kain dan meminta untuk dikirim ke rumahnya yang berada di Kampung Rawabelis, sebuah kampung misterius dan memiliki legenda gelap di wilayah perbatasan antara kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, dengan Jawa Barat.

    Karena kondisi keuangan yang buruk dan ketidak pahaman dalam menggunakan jasa antar, maka Jiwatma harus melakukan permintaannya seorang diri. Meski banyak orang yang menasehatinya untuk menolak permintaan tersebut - akibat kisah mengerikan seputar Kampung Rawabelis - namun Jiwatma tidak menggubrisnya. 

    Setelah Jiwatma pergi mengantar pesanan ke rumah Aliviyah; dia menghilang tanpa kabar selama lima hari; lalu pulang dengan kepribadian yang berbeda. Jiwatma jadi dingin terhadap keluarga dan kerabatnya; sekaligus suka melakukan aktivitas menyeramkan dan mengusik; seperti membuat sesajen, bersemedi, menyiksa dan membunuh hewan kecil, hingga sering mengigau dengan bahasa yang sukar dipahami. 

    Jiwatma juga sangat terobsesi dengan ilmu-ilmu pengetahuan absurd yang entah darimana dia dapatkan; sekaligus hanya memedulikan karir dan uang. Lebih-lebih dia juga menjadi fanatik terhadap sosok misterius yang sering dia panggil "Raja Hijau".

    Lalu dengan cara memberangsang, Jiwatma memutuskan untuk menikahi Aliviyah. Putri tidak begitu mengambil pusing atas keputusan ayahnya, karena dia pikir bahwa pernikahan itu dapat membahagiakannya. Tetapi keputusan itu menuai kontra dari pihak keluarga dan kerabat Jiwatma, karena latar belakang Aliviyah yang bias serta berasal dari Kampung Rawabelis. Namun Jiwatma tidak menggubris dan tetap menikahi Aliviyah, sehingga secara otomatis dia menjadi ibu tiri Putri. Secara absurd, dia juga memilih nama keluarga Aliviyah sebagai nama keluarga barunya, yaitu Durbiska. Kemudian mereka pindah ke Kota Jayaprasasti - karena tempat itu jauh dari lingkungan keluarga Jiwatma - serta menetap di sana hingga sekarang.

    Di sanalah mereka kembali membuka usaha tekstil, dan secara ajaib kemenangan ekonomi Keluarga Durbiska berhasil diraih dalam waktu yang singkat dan tidak masuk akal. Kain-kain yang mereka jual laris dan mendapat pelanggan dari berbagai kalangan, baik itu tokoh masyarakat maupun turis asing. Seiring berjalannya waktu, Jiwatma mulai aktif dalam berbagai kegiatan ekonomi dan sosial, hingga membangun relasi dengan pemerintah daerah.

    Di kondisi itulah, Jiwatma juga mulai mempekerjakan beberapa orang untuk menjadi karyawan di toko tekstilnya dan pelayan rumah. Semenjak itu jugalah, kejadian-kejadian ganjil di rumah mulai terjadi. Banyak pelayan rumah yang menghilang secara misterius satu per satu. 

    Tidak ada keributan; tidak ada tanda-tanda kekerasan atau perlawanan; tidak ada saksi mata; tidak ada kesalahan mencolok; seakan mereka lenyap begitu saja. Setiap ditanya, Jiwatma selalu memberi jawaban bahwa mereka - para pelayan rumah yang hilang - telah berhenti dan pulang kampung. Tetapi perihal yang membingungkan, barang-barang mereka masih tertinggal di kamarnya masing-masing.

    Seiring berjalannya waktu, jejak-jejak eksentrik di tiap sudut rumah mulai bermunculan. Jejak-jejak itu tampak bukan milik manusia, meski ada kemiripan yang dangkal dalam ukuran dan garis besar, maupun bukan milik binatang apapun yang kita kenal di bumi ini. Semua jejak-jejak itu menuju ke arah yang tidak menentu. Para pelayan rumah yang merasa ngeri mulai melaporkan perihal tersebut ke Jiwatma. Tetapi dengan dingin, dia hanya memerintahkan mereka untuk segera membersihkan jejak-jejak tersebut, tanpa memberi jawaban apapun yang menenangkan.

    Bagi mereka yang mensyakinya akan terus mencari tahu, meski pada akhirnya mereka juga hilang. Sedangkan beberapa di antaranya memilih untuk bungkam, seolah mereka melihat atau mengetahui sesuatu yang menakutkan dan mengancam. Seiring menghilangnya para pelayan rumah; mereka mulai diganti oleh pelayan-pelayan baru yang didatangkan dari Kampung Rawabelis. Sampai pada akhirnya, tidak ada satupun pelayan rumah lama yang tersisa saat ini. Alhasil para pelayan baru telah mengambil alih semua tugas para pelayan rumah sebelumnya. Walaupun begitu, Putri sangat tidak menyukai mereka, karena rupanya yang abnormal, berlendir, dan berbau busuk.

    Selain itu, sosok-sosok aneh juga mulai bermunculan di sekitar rumah; entah itu di pekarangan, lorong-lorong, dan tempat-tempat lainnya. Sosok-sosok itu memiliki besar yang melebihi ukuran tubuh orang dewasa; bukan dari jenis golongan manusia atau binatang; sekaligus memiliki rupa yang tidak wajar dan menyeramkan. Mereka semua berkeliaran dan beraktivitas di malam-malam tertentu. Walhasil eksistensi mereka telah membawa Putri ke dalam dunia fantasi gelap yang tidak terbayangkan oleh siapapun.

    ****

    Secara perlahan-lahan, Putri mulai menemukan kebenaran yang mengejutkan. Bahwa selama ini Aliviyah adalah orang yang memegang kendali secara penuh atas keluarganya, sedangkan Jiwatma hanyalah boneka perantara. Meski di depan publik Jiwatma tampil layaknya seorang pemimpin berwibawa, namun sebenarnya dia hanya mengikuti instruksi Aliviyah secara telak, termasuk dalam mengambil keputusan atau bertindak. Kebenaran itu membuat Putri menyesal karena tidak ikut menentang pernikahan ayahnya.

    Putri juga mempelajari rahasia gelap Aliviyah; dari observasi visual senyap; hingga dari buku-buku aneh miliknya. Dari situlah Putri menemukan kengerian yang tidak terbayangkan. Berdasarkan dari buku-buku pengetahuan eksentrik milik Aliviyah; Kampung Rawabelis adalah sebuah kampung koloni untuk orang yang memiliki darah campuran antara manusia dengan makhluk-makhluk yang disebut "Brahmarsi" sebutan untuk para dewa kuno, dan "Angkarapandita" sebutan untuk para Brahmarsi yang berperan sebagai pendeta dari Raja Hijau. Orang-orang yang memiliki darah campuran itu disebut sebagai "Untul Angkarabani". Walaupun mereka memiliki darah dari berbagai macam jenis Brahmarsi dan Angkarapandita, namun mereka memiliki satu kesamaan yaitu penyembah Raja Hijau. Oleh karena itu, Aliviyah terkesan menakutkan dan mengintimidasi, meski secara visual dia tampak seperti manusia normal, kecuali matanya yang berwarna ungu kecubung.

    Kengerian makin mencapai kulminasi, sewaktu Putri membaca buku harian milik Aliviyah; di hari Jiwatma datang ke Kampung Rawabelis untuk mengantar pesanannya. Di hari itu terjadi sebuah penangkapan sadis terhadap Jiwatma. Lalu dilanjutkan dengan pencucian otak yang masif selama lima hari penuh, sehingga mengubahnya menjadi pribadi yang sakit dan gelap. Walhasil Jiwatma resmi jadi pengikut Raja Hijau dari golongan Untul Angkarama - golongan manusia - dan mulai melakukan sebuah perjanjian mengerikan.

    Isi dari perjanjian itu; bahwa sebagai Untul Angkarama, Jiwatma wajib melakukan berbagai macam ritual aneh dan sulit dijelaskan oleh akal sehat. Namun ritual yang paling wajib dilaksanakan adalah ritual Bratastuti-Mangharcana, yaitu ritual penghormatan kepada Raja Hijau dengan menumbalkan salah seorang keturunannya yang berjenis kelamin perempuan dan masih suci. Itu adalah kegilaan yang mengguncangkan. 

    Tidak ditulis secara jelas di buku harian Aliviyah; apakah Jiwatma menyetujui perjanjian tersebut atau tidak; namun semuanya berjalan tanpa kejanggalan selama hampir dua tahun. Sampai akhirnya Putri mulai melupakan cerita gila tersebut, serta menganggap bahwa isi dari buku harian tersebut hanyalah karangan belaka. 

    Tetapi dia salah besar. Tanda-tanda dari pelaksanaan ritual mulai muncul saat Putri duduk di bangku kuliah, tepatnya setelah seminggu berpacaran denganku. Jiwatma melarang keras Putri untuk keluar rumah maupun berinteraksi dengan dunia luar. Bahkan Jiwatma sampai mengarang cerita fiktif ke kampus dan orang-orang terdekat, bahwa Putri sedang sakit keras dan harus menjalani perawatan yang sangat ketat. 

    Padahal kenyataannya, mereka sedang mempersiapkan Putri untuk dijadikan tumbal dari ritual Bratastuti-Mangharcana. Semenjak itulah Putri mulai sering dimandikan kembang tujuh rupa setiap malam; diberikan wewangian dari kemenyan dan cendana; sekaligus disuguhkan makanan-makanan aneh dan mentah. Sekitar rumah juga dijaga sangat ketat oleh para pelayan kerdil dan beberapa makhluk raksasa menakutkan, sehingga mustahil untuk bisa melarikan diri secara frontal. Jalur komunikasi juga diputus, sehingga Putri tidak bisa menghubungi siapapun untuk meminta tolong.

    Maka itulah, secara sembunyi-sembunyi Putri mengatur pelarian. Dengan penuh kehati-hatian dan teliti, dia mempelajari rute yang bisa dilalui dengan aman dari para penjaga. Sekaligus mencari waktu yang tepat untuk bisa kabur. Namun semuanya kandas, karena secara tidak terduga Jiwatma dan Aliviyah mengundangku ke rumahnya untuk makan malam bersama. Itu sesuatu hal yang belum pernah mereka lakukan, dan tentu dilatar belakangi oleh niat buruk. 

    Seketika ingatan Putri kembali ke sebuah buku milik Aliviyah - diduga adalah buku ritual - yang menjelaskan sebuah ritual Bratastuti-Bandha, yaitu ritual untuk mendapatkan berkah dalam bentuk harta kekayaan. Ritual itu juga membutuhkan tumbal manusia, berupa sepasang kekasih yang masih suci. Jika si perempuan merupakan anak dari Untul Angkarama, maka ritual tersebut dapat digabungkan dengan ritual Bratastuti-Mangharcana.

    Setelah mengingat ritual tersebut, sontak Putri menjadi sangat cemas. Dia yakin bahwa aku akan ikut dijadikan tumbal ritual, terlebih lagi Jiwatma sangat terobsesi dengan harta dan karier, seperti seekor babi buta dan rakus. Lantas secara impulsif, Putri mengorbankan pelariannya demi mengatur ulang strategi untuk menyelamatkanku. 

    Putri juga merancang sebuah alat untuk bisa merusak aliran listrik rumah - di waktu yang telah disesuaikan - demi bisa membawa dan memisahkanku dari mereka. Hal itu tentu dapat Putri lakukan dengan mudah, karena dia adalah perempuan yang berilmu. 

    ****

    Putri segera menutup ceritanya. Aku sangat terkejut dan hanya bisa terdiam sambil menatap wajah ketakutan Putri. Kemudian aku berkata;

    "Putri, kita akan keluar dari tempat ini! Kita akan keluar dengan selamat! Aku akan melindungimu dengan segenap darah dan jiwaku!"

    Lantas mata Putri mulai berkaca-kaca dan dia segera mencium bibirku dengan penuh emosional. Lalu kubalas ciumannya dengan pelukan hangat.

    Arkian, kami lekas beranjak pergi dari ruangan itu dengan penuh kewaspadaan. Dalam pelarian ini, Putri bertindak sebagai pemimpin jalan, karena dia sudah memahami jalur yang akan kami lalui. Jalur ini menghindari lorong dan ruang utama; menuju ruang bawah tanah; demi mencapai sebuah jalan keluar rahasia ke arah luar pekarangan belakang rumah.

    Kami melalui jalur tersebut dengan penuh kehati-hatian, dan sesekali kami hampir bertemu dengan beberapa makhluk kerdil yang sedari tadi berkeliaran di tiap sudut rumah. Rupa dari makhluk kerdil itu tidak dapat disebut sebagai manusia maupun binatang, atau jenis makhluk apapun yang pernah kita lihat di bumi ini. Mereka seperti sosok makhluk yang sukar dijelaskan, serta terlalu mengerikan untuk dideskripsikan secara rinci, selain sebagai entitas hibrid manusia-amfibi.

    "Si... Siapa mereka?" tanyaku ketakutan.

    "Mereka adalah para pelayan rumah kami. Tidak! Lebih tepatnya para pelayan Aliviyah." jawab Putri, "Itu adalah wujud asli mereka."

    Aku telah dirasuki oleh kengerian sehingga tidak dapat merespon. Aku hanya bisa mengikuti Putri yang kembali melangkah, dari arah belakangnya dengan penuh kehati-hatian. Namun sayangnya, itu bukan satu-satunya kengerian yang kami temukan selama pelarian. 

    Kami juga bertemu dengan sosok bayangan hitam yang berkeliaran di beberapa ruangan dan terkadang sedang menatap keluar jendela. Sosok itu memiliki tubuh yang besar, dipenuhi oleh rambut hitam lebat, dan diselimuti oleh asap misterius yang menyamarkan. Tingginya mencapai tiga meter. Bermata merah darah menyala. Sosok itu mengeluarkan suara dengkuran hewan yang tidak dikenali oleh telinga manusia. Setiap kali sosok itu melangkah, maka akan menimbulkan suara langkah kaki berat dan menggetarkan. 

    Awalnya aku mengira sosok itu adalah Genderuwo, namun Putri segera menyangkal dan menjelaskan bahwa itu adalah Jejengklek. Sosok tersebut tampak mirip secara kasar dengan Genderuwo, namun dia memiliki karakter yang berbeda. Jejengklek tidak bersahabat dengan manusia, agresif, haus akan darah, siap membunuh setiap orang yang ditemuinya, dan tidak akan membiarkan mereka lolos. Maka itulah, Aliviyah memelihara beberapa Jejengklek sebagai penjaga rumah. Aku bergidik ngeri setelah mendengar penjelasan itu, namun Putri memintaku untuk tetap tenang dan melanjutkan pelarian kami.

    Akan tetapi, kengerian makin mencapai klimaks, sewaktu kami tiba di sebuah lorong yang dipenuhi oleh jendela-jendela besar dan mengarah ke ruang bawah tanah. Saat kami sedang melaju di lorong tersebut, seketika terdengar sebuah suara binatang besar dan asing dari arah luar jendela. Suara itu seperti perpaduan antara jeritan burung malam dan suara tokek, sehingga terdengar menyeramkan. 

    Sontak - secara impulsif - Putri menarik tubuhku dan bersembunyi di balik dinding agar terhindar dari jendela. Tampaknya Putri sangat mengenali si pemilik suara, sehingga dia sangat sigap dan mengeluarkan ekspresi penuh kegelisahan. Aku hendak bertanya kepadanya, namun dia memerintahku untuk tetap diam.

    Selang beberapa waktu kemudian, di dalam situasi yang sunyi dan mencekam, aku mendengar suara kepakan sayap raksasa dan diiringi oleh bayangan-bayangan hitam dari balik jendela. Bayangan-bayangan itu berbentuk seperti binatang aneh.

    Karena posisiku sedikit lebih dekat dengan jendela, maka aku dapat mengintip sedikit dan bisa menyaksikan kengerian dari semesta yang liar. Aku mendapati satu atau mungkin lebih daripada binatang berwarna hijau olive; besarnya sekitar enam kaki; tampak seperti mantodea yang berbentuk elipsoid berliku-liku dan lengkap dengan sayap berselaput. Sedangkan kepalanya berbentuk jamur yang dipenuhi oleh antena seperti tentakel. Di mulutnya terdapat sebuah cambuk panjang dan menyerupai larva menjijikan berwarna merah muda.

    Mereka berterbangan, merangkak, dan sesekali mengintip masuk dari luar jendela. Itu adalah momen yang paling menakutkan bagiku - lebih menakutkan daripada menyaksikan makhluk-makhluk lain di rumah terkutuk ini - sampai aku hampir kehilangan seluruh tenaga untuk bisa berdiri secara utuh. Untungnya Putri menyadari keadaanku, sehingga dia segera menopang tubuhku agar tidak terjatuh dan menimbulkan provokasi yang mencolok. 

    Kami bersembunyi dan menyaksikan mereka selama 15 menit, sebelum akhirnya menghilang di balik kegelapan malam. Tetapi aku merasa waktu berjalan lebih lambat daripada waktu normal.

    "De... Demi Tuhan! Makhluk apa itu?" tanyaku bergetar.

    "Itu Mangkara-Dengen." jawab Putri.

    "Terus... Kenapa dia ada di sini?" tanyaku lagi.

    "Dia juga penjaga rumahku. Aliviyah yang membawanya kemari." balas Putri, "Dia mengumpulkan dua jenis makhluk bengis dan mengerikan demi menjaga rumah, dan berbagai macam kepentingan yang masih belum aku ketahui."

    Lantas Putri menjelaskan dengan sangat serius dan singkat - berdasarkan informasi dari buku-buku milik Aliviyah - bahwa Mangkara-Dengen adalah sosok makhluk baheula elusif yang sering dipelihara oleh para Untul Angkarapandita maupun Brahmarsi untuk menjaga tempat-tempat sakral. Mangkara-Dengen juga sering dijadikan penjaga pribadi oleh para Untul Angkarapandita, karena mereka dikenal sebagai makhluk yang bengis - lebih bengis daripada Jejengklek - dan memiliki julukan "Si Pemakan Otak". Karena dia suka memakan otak dari para korbannya.

    ****

    Arkian kami segera beranjak keluar dari tempat persembunyian, dan melaju ke ujung lorong yang mengarah pintu ruang bawah tanah. Setibanya di sana, kami lekas memasuki pintu tersebut, dan menuruni tiap anak tangga yang gelap. Sampai akhirnya kami tiba di sebuah ruangan yang tampak tidak menyenangkan dan menakutkan daripada apa yang kubayangkan sebelumnya. 

    Tempat itu seperti aula basilika yang bobrok dan dipenuhi oleh lilin-lilin ritus kecil yang menyala di beberapa sudut tempat; diramaikan oleh peti-peti kayu berukuran besar; sekaligus dihiasi pilar-pilar batu bata yang menjadi penyangga utama rumah Keluarga Durbiska. Di lantainya terdapat banyak sekali benda-benda yang berserakan seperti buku-buku instrumen aneh, pecahan furnitur-furnitur tua, tekstil-tekstil bekas, patung-patung abstrak yang mengerikan, hingga botol-botol kaca berwarna pandan.

    Lantas kami segera melaju memasuki ruangan lebih dalam. Di tengah-tengah perjalanan itulah, secara mendadak muncul seekor tikus gemuk hitam yang melintas di antara kedua kakiku dan membuatku tersandung, serta berakhir dengan menjungkirbalikkan beberapa peti-peti kayu, dan menumpahkan isinya. Guncangan yang hebat membuat fokusku terpecah belah, sehingga butuh waktu tidak sebentar untuk bisa menangkap pandangan di sekelilingku. 

    Tiba-tiba Putri menjerit penuh kengerian ke arahku, sehingga membuatku segera mempercepat pengumpulan fokusku dan mendapati sebuah pemandangan horor. Peti-peti kayu itu berisi tubuh-tubuh beku manusia - diduga milik para mantan pelayan rumah - yang mengalami perubahan dan keanehan tertentu yang mengerikan. Hal itu menjelaskan bahwa mereka telah dibunuh secara menyeramkan.

    Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang melaju mendekati kami dari dalam kegelapan. Lantas Putri segera mendekatkan diri kepadaku dengan tubuh yang menggeligis.

    "Kalian pikir, kalian bisa lolos dariku?"

    Terdengar suara dengan nada yang merindingkan dan akrab. Itu adalah Aliviyah. Dia berjalan menembus keluar dari kegelapan dan mendekati kami.

    "A... Apa?" ujar Putri terbata-bata.

    Aliviyah hanya menyeringai durjana dan berujar;

    "Dasar bodoh! Kamu pikir aku tidak tahu tentang apa yang kamu rencanakan selama ini?"

    Seketika Putri terkesiap dan berubah menjadi perempuan gila yang berteriak-teriak rancu; 

    "Tidak! Menjauh! Menjauh dari kami! Tidak... Tidak akan! Tidak akan kubiarkan kamu menumbalkan kami!"

    "Menumbalkan kalian?" tanya Aliviyah.

    "Jangan pura-pura bodoh! Aku tahu rencanamu! Aku tahu bahwa kamu akan menumbalkan kami untuk ritual Bratastuti-Bandha!" 

    Lantas Aliviyah tertawa lepas dan membalas;

    "Dasar bodoh! Sudah kuduga kalau kamu akan berpikir seperti itu! Tidakkah kamu membaca buku-buku ritualku dengan benar? Tumbal yang dibutuhkan untuk ritual Bratastuti-Bandha adalah sepasang pengantin baru yang masih perawan. Tetapi, apakah kalian sepasang pengantin? Jelas tidak! Kalian hanya sepasang kekasih ingusan yang baru menjalani hubungan!"

    Putri terdiam sejenak dan bertanya gemetar;

    "A... Apa maksudmu?"

    Lantas Aliviyah segera membeberkan sebuah validitas informasi yang terlewati oleh Putri. 

    ****

    Ikuti tulisan menarik Elnado Legowo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    5 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 595 kali