Langkah Kaki dan Burung Hantu Putih - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh lucami8 dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Senin, 27 Juni 2022 05:32 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Langkah Kaki dan Burung Hantu Putih

    Sekumpulan teman yang mencoba hal baru di sekolah mereka saat malam hari, dikejutkan dengan hal yang berada di luar pemahaman nalar manusia.

    Dibaca : 807 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                Masa-masa SMA selalu identik dengan cerita-cerita romansa di dalamnya yang membuat orang-orang lupa akan kengerian yang juga berada di dalamnya. Aku tidak pernah mengalami cerita-cerita romansa di masa SMA, namun penuh dengan cerita horor. Sekolahku berada di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Sekolahku berada di tempat yang mana daerah hutannya masih lebat dan asri. Keindahan ini tentu saja menyimpan bercak-bercak hitam di dalamnya. Banyak teman-temanku yang sudah mengalami bercak hitam ini, termasuk diriku. Baik siang dan malam hari, mereka selalu melihat kesempatan untuk menunjukkan bentuk mereka sendiri.

                Malam itu, aku menerima tawaran teman-temanku untuk bermain internet di Wi-Fi sekolah. Kecepatan internet memang sangat memuaskan jika kita bermain di malam hari tanpa ada kerumunan orang yang memakainya. Aku dan teman-temanku memang berada di klub ekstrakulikuler, Wi-Fi klub, di masa SMA kami. Aku dan kelima temanku akhirnya pergi di malam itu. Kami sempat bertemu beberapa siswa yang tinggal di asrama. Mereka sama sekali tidak takut berjalan di area sekolah yang sepi ini. Mungkin sudah terbiasa. Kami berlima memasuki lapangan sekolah yang minim penerangan. Salah satu temanku juga memiliki kemampuan khusus untuk dapat melihat mereka. Salah satu temanku mengajak dia agar kengerian di malam ini semakin sedap. Dia langsung merasa gelisah dan terlihat sedikit terganggu. Dia menceritakan kepada kami apa saja yang dilihatnya, mulai dari seorang perempuan yang berjalan di lantai dua sekolah, seseorang yang berlari dengan sangat cepat, dan burung hantu putih nan besar. Kami bingung mendengar ucapannya, dikarenakan kami juga melihat burung hantu putih itu tepat berada di tengah lapangan sekolah. Kami sedikit terguncang melihat peristiwa itu ditambah dengan suara teriakan kecil yang kami dengar dengan jelas. Beberapa temanku menganggap itu hanya suara siswa-siswa yang tinggal di asrama, namun hal yang membuat kami semakin takut adalah fakta bahwa ini sudah memasuki jam malam yang mana semua siswa asrama sudah diwajibkan untuk tidur. Aku dan temanku yang berniat untuk bermain internet dan bukan untuk uji nyali, memutuskan untuk tidak ikut dan berhenti tepat di bawah kotak Wi-Fi. Kami bermain meninggalkan ketiga temanku yang melanjutkan wisata horor mereka, namun nasib berkata lain. Kami berdualah yang justru didatangi oleh mereka.

                Aku yang sudah mulai berselancar di internet dikejutkan oleh tepukan temanku. Dia menyuruhku untuk diam dan mulai mendengarkan sekitar. Kami berdua perlahan-lahan mendengar suara langkah kaki. Kami menganggap itu hanya pak satpam yang sedang jaga malam. Aku menghiraukannya dan kembali melanjutkan kegiatanku. Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki itu semakin keras dan mendekat. Temanku sudah bersiap-siap menyusun laptopnya dan pergi berlari. Suara langkah kaki itu semakin dekat dan akhirnya terdengar dari balik pilar bangunan sekolah. “Maaf pak, kami hanya bermain internet sebentar pak. Setelah ini kami bakalan pulang pak.”, ujarku. Temanku terpaku di belakangku. Aku terus diam, namun tak kunjung mendapat respon apa pun. Aku mendekati pilar tersebut dan tidak menemukan siapa pun berdiri di situ. Kami berdua akhirnya memutuskan untuk langsung pulang tanpa menunggu ketiga teman kami.

                Perjalanan pulang kami juga diwarnai dengan suara hentakan kaki yang sangat kuat, seperti sedang ada acara baris-berbaris di lapangan upacara sekolah kami. Kami berdua tidak berani melihat ke asal suara tersebut dan terus berlari memakai kacamata kuda. Beberapa menit berlalu, kami akhirnya sampai di gerbang belakang sekolah. Aku sempat berbalik badan, berharap ketiga temanku juga sudah berada dalam perjalanan pulang, namun aku tidak menyangka apa yang aku lihat di malam hari itu. Burung hantu putih itu sedang hinggap di salah satu pohon jati kecil, menatapku dengan tajam. Malam itu seketika hening, walaupun kami sudah berada di daerah anak-anak kos. Temanku yang satunya memutuskan untuk pergi saja pulang, namun aku tetap menatap burung hantu putih itu. Beberapa menit kemudian, ketiga temanku terlihat sedang berlari. Mereka juga terlihat ketakutan. Aku menghampiri mereka dan mencoba menenangkan keadaan. Mereka bertiga tidak tahan lagi dengan burung hantu putih yang selalu mengikuti mereka. Aku seketika melihat kembali ke pohon jati tersebut dan tidak menemukan burung hantu itu di manapun. Kami berempat melanjutkan lari kami untuk sampai ke kamar kos masing-masing.

                Keesokan harinya, kami sempat ragu dan menganggap burung hantu putih itu memang benar sebuah hewan, bukan makhluk astral. Hipotesis kami langsung dipatahkan oleh salah satu teman kami. Temanku yang ikut pulang bersamaku mengatakan bahwa dia tidak ada melihat burung hantu putih di sekitar kami. Dia hanya melihat seorang wanita dengan gaun putih yang mengikuti kami terus menerus. Dia juga mengatakan bahwa dia sempat melihat lagi wanita itu berdiri di salah satu pohon jati dekat gerbang belakang, tepat di mana aku melihat burung hantu putih itu. Kami hanya tertawa gugup dan berjanji untuk tidak pernah lagi bermain internet ke gedung sekolah di malam hari. Biarlah kami berselancar di internet dengan kecepatan yang lambat daripada harus bertemu dengan mereka lagi.

    Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.