Lukisan - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Sampul digital kumpulan cerita pendek \x22Girl on the Fridge\x22 karya Etgar Keret.

Fransiska Eka

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 November 2021

Senin, 27 Juni 2022 23:41 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Lukisan

    Terjemahan cerita pendek karya Etgar Keret berjudul The Paintingyang termuat dalam kumpulan cerpen berjudul The Girl on The Fridge

    Dibaca : 739 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Katakanlah, seseorang setuju melukis untukmu. Lukisan apa saja, tak ada tema khusus. Kau mengijinkannya tinggal di apartemenmu selama sebulan, dan sebagai ganti biaya sewa, ia melukis untukmu. Kau tak menandatangani kontrak, atau perjanjian tertulis lainnya, tapi, tetap saja kesepakatan kalian terhitung sebagai transaksi. Bisa dibilang, kesepakatan kalian sama menguntungkan bagi kedua belah pihak. Kau diuntungkan oleh bakatnya melukis, ia diuntungkan oleh kemampuanmu menghilang selama berminggu-minggu, plesir ke berbagai negara, Thailand, Jepang, atau dalam perkara cerita ini, pergi ke negara terpuji seperti Prancis.


    Anggap saja sekarang kau berada di Paris.


    Kita masih harus menentukan apakah transaksi ini adil atau tidak. Transaksi ini legal, tentu saja, karena kalian berdua sama-sama menyetujuinya.

    Tapi, apakah  adil?

    Jujur saja, sulit untuk mengungkapkannya.

    Kau bersantai di Champs-Elysees, menenggak Espresso, sementara ia harus melukis lukisanmu seperti seorang budak saja. Meski begitu, jika ia harus menyewa apartemen seperti tempat tinggalmu selama sebulan, biaya yang harus dibayar lebih besar jumlahnya dari uang yang ia terima dari hasil penjualan lukisan, yang paling mahal sekalipun. Lagipula, lelaki itu buang air di toiletmu, tidur di ranjangmu, menghangatkan tubuhnya dengan selimutmu. Barangkali, ia juga mengajak orang lain tinggal di apartemen tanpa kau ketahui. Sementara kau menginap di sebuah hotel pengap di Prancis, berurusan dengan petugas hotel angkuh yang tak bisa berbahasa Inggris. Dan, tak ada yang menarik dari Champ-Elysee gara-gara terik matahari yang menyengat dan jutaan turis Jepang yang lalu lalang. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana kau akan bertahan selama sebulan lagi.

    Tuhan dalam hipotesis, tentu saja, sebab segalanya tidak benar-benar terjadi.


    Sekarang, anggaplah dalam dua pekan, kau harus kembali ke apartemen. Dompetmu dicuri. Atau, lebih tepatnya, kau kira dompetmu dicuri, padahal dompetmu hilang. Dompet itu terjatuh dari saku celanamu. Kau kehabisan uang, dan kembali ke apartemen.

     

    Perjanjian kalian berjangka waktu satu bulan. Masalahnya, apa kau berhak pulang ke apartemenmu lebih awal? Jika dihubungkan dengan masalah dompetmu, kau berhak pulang. Tapi, coba kau pikirkan lagi. Bayangkan situasinya berbalik. Anggaplah, pihak lain yang bertransaksi denganmu kehilangan semua peralatan melukisnya. Tidak, ini bukan contoh yang cocok. Anggap saja ia kehilangan bakat melukisnya.

    Apakah adil kalau kau memaksanya menyelesaikan lukisan?

    Sayangnya, analogi ini kacau. Bakat bukan komoditas, sedangkan apartemen adalah properti yang terdaftar, dan uang bisa kau peroleh dengan mudah dari orang tuamu.

    Dengan resiko apa pun, kau kembali ke apartemen, dan kalian tinggal bersama.

    Kau tidur di kamarmu, pihak lain tidur di kamar lainnya. Kadang, saat malam, kalian berpapasan di depan pintu kamar mandi.

    Pihak lainnya punya wajah menarik dan tubuh seksi. Kau menganggapnya menarik. Dan, sekarang kau gugup berkeringat. 

    Kau tahu mengapa? 

    Sekarang, situasi ini akan saya jelaskan dalam kalimat sederhana ; katakan saja, pihak lain yang terlibat transaksi denganmu adalah seorang perempuan, perempuan berwajah cantik dengan bentuk tubuh menarik yang membuatmu ingin bercinta dengannya.

    Nah, biar saya bukakan jendela untukmu.

    Merasa lebih baik?


    Pihak lain yang terlibat transaksi denganmu jauh lebih cantik dari lukisan-lukisannya karena ia selalu cantik sepanjang waktu sedangkan melukis hanya kegiatan selingan yang ia lakukan jika ia tidak tidur, makan atau bercinta dengan para lelaki, beralas seprai yang dihadiahkan orang tuamu ketika kau berulangtahun.

    Kau tahu? Ia sebenarnya memakai seprainya sendiri. Tapi, kau tahu siapa saja lelaki yang ia tiduri. Saya tak akan memberi tahu nama mereka. Tapi, kau mengenal dengan baik beberapa di antaranya.


    Jadi, dari mana kita tadi?


    Baiklah, Champ-Elysse. 

    Kau kehilangan dompetmu entah dimana, lantas kembali ke apartemen. Urusan kalian berdua lancar-lancar saja. Kalian menempati kamar masing-masing. Dan, ia menempati kamar tidurmu. Soal lukisan, barangkali ia menyukainya, barangkali juga tidak. Rasanya tak sopan untuk ditanyakan. Tapi, para lelaki yang datang dan pergi di tengah malam membuatnya menjerit. Dan, bagimu, hal itu sangat mengganggu. Kau sulit tidur karenanya.

    Baiklah, apa masalah sesungguhnya? 

    Lelaki-lelaki yang kau kenali -dan saya tidak akan menyebut nama mereka- bercinta dengannya di tengah malam sehingga keesokan harinya ia telah kehabisan tenaga untuk menyelesaikan lukisanmu. Berdasarkan kontrak, ia punya kewajiban secara hukum dan moral untuk menyelesaikan lukisanmu.


    Masalahnya sudah sangat jelas, tapi, apa yang akan kau katakan padanya? Tidurlah agar kau punya tenaga untuk melukis? Kau tak akan berani. Apalagi, kau kembali dua minggu lebih awal dari jadwal seharusnya. Selain itu, mungkin ia sedang melukis, melukis dengan menggunakan model ; modelnya adalah para lelaki yang kau kenal itu. Seperti, misalnya saja, kakak lelakimu, di tengah malam. Dan, ketika kakak lelakimu tak bisa mematung dalam pose sesuai arahannya, ia menjerit.

    Melukis adalah pekerjaan yang membikin frustrasi. Apa yang sedang ia lukis? Kau sungguh ingin tahu. Menurutmu, bisa saja lukisan yang ia kerjakan adalah cara mengungkapkan perasaannya padamu.

    Apakah ia sesungguhnya mencintaimu? Apakah perkara transaksi apartemen ini cuma trik untuk mendekatimu? Apapun itu, bisakah kau berhenti mencekik leher kakak lelakimu? Wajahnya membiru.


    Sampai di mana kisah kita tadi?


    Ah, sesuatu yang terkait dengan biru. Pada akhirnya, ternyata ia melukis samudera untukmu. Bukan samudera, tapi langit. Ah, maaf saya melantur, kau telah mencekik saudaramu. Baiklah, kita sebenarnya cuma bercakap-cakap tentang bagaimana kau bisa mempelajari karakter seseorang dari sebuah lukisan.

     

    Ikuti tulisan menarik Fransiska Eka lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.