Sudah 23 Tahun Perjalanan SSB di Indonesia, Ini Sejarahnya - - www.indonesiana.id
x

Agum Gumelar

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 29 Juni 2022 13:04 WIB

  • Topik Utama
  • Sudah 23 Tahun Perjalanan SSB di Indonesia, Ini Sejarahnya

    Saya dapat memastikan bahwa nama SSB secara resmi digaungkan di Indonesia oleh PSSI di tahun 1999. Ronny Pattinasarani-lah yang saat itu memastikan bahwa nama SSB harus dimunculkan secara resmi oleh PSSI. Hal ini terungkap dalam diskusi intens saya dengan beliau di ruang kerjanya, Ruang Direktur Pembina Usia Muda PSSI, Senayan, Jakarta. Jadi, saya punya arsip sejarahnya secara lengkap dan sudah terpublikasi di artikel-artikel saya sebelumnya.

    Dibaca : 513 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Jangan bilang Anda pengurus PSSI, pendidik-pegiat-pembina sepak bola akar rumput Indonesia, bila tak memahami sejarah SSB di Indonesia. (Supartono JW.28062022)

    Catatan sejarah tentang Sekolah Sepak Bola (SSB) di Indonesia, kira-kira siapa yang masih menyimpannya? Mungkin ada pihak atau media massa yang punya catatan tentang sejarah SSB di Indonesia?

    Tetapi, saya dapat memastikan bahwa nama SSB secara resmi digaungkan di Indonesia oleh PSSI di tahun 1999. Ronny Pattinasarani-lah yang saat itu memastikan bahwa nama SSB harus dimunculkan secara resmi oleh PSSI. Hal ini terungkap dalam diskusi intens saya dengan beliau di ruang kerjanya, Ruang Direktur Pembina Usia Muda PSSI, Senayan, Jakarta. Jadi, saya punya arsip sejarahnya secara lengkap dan sudah terpublikasi di artikel-artikel saya sebelumnya.

    23 tahun usia SSB sejak digaungkan

    1 Juli 2022, genap 23 tahun sejarah awal digaungkannya nama Sekolah Sepak Bola (SSB) di Indonesia secara resmi oleh PSSI. Sebab, tanggal 1 Juli 1999, adalah pertama kalinya nama SSB resmi diperkenalkan oleh PSSI melalui perhelatan turnamen sepak bola antar SSB dalam event bernama "Matahari Kid's Soccer Tournament" (MKST).

    MKST dibagi dua sesi. Pertama, Workshop tentang SSB pada 1-2 Juli 1999. Kedua, Turnamen SSB diselenggarakan pada 3-11 Juli 1999.

    Workshop tentang SSB dipimpin langsung oleh Direktur Pembina Usia Muda PSSI, Ronny Pattinasarani, menghadirkan praktisi sepak bola nasional seperti Risdianto dengan peserta 16 manajer dan pelatih SSB peserta MKST yang dipilih dan diundang oleh PSSI.

    MKST adalah hasil kolaborasi kerjasama antara PSSI, PT Matahari Department Store, Tbk, Tabloid Go, dan Gelangang Mahasiswa Soemantri Brojonegoro (GMSB) Kuningan, Jakarta.

    MKST pertama-terakhir dan SSB pelopor

    Andai Agum Gumelar tidak menjabat Ketua Umum PSSI ke-12 Periode (1999-2003) dan Direktur Pembina Usia Mudanya bukan Ronny Pattinasarani, saya yakin, MKST tidak pernah ada. Tidak akan akan ada catatan sejarah digaungkannya wadah SSB di Indonesia. SSB tidak diakomodir, tidak dianggap ada, dan tidak diakui keberadaannya oleh PSSI.

    Beruntung, Indonesia memiliki sosok Agum Gumelar dan Ronny Pattinasarani, sehingga Indonesia yang dikenal oleh dunia sebagai negara yang rakyatnya dikenal sebagai salah satu pecinta sepak bola terbesar di dunia, mampu menacapkan kisah manis tentang sepak bola akar rumput dengan PSSI mengakui keberadaan SSB sebagai kawah candradimukanya pondasi sepak bola nasional demi terbentuknya Timnas Indonesia yang handal.

    Langkah PSSI di bawah Agum, mengakui keberadaan SSB sebagai bagian dari piramida pembinaan sepak bola nasional, didukung seratus persen oleh PT Matahari Department Store, Tbk sebagai sponsor utama yang mendanai MKST, sementara Tabloid Go menjadi partner media olahraga resmi, dan GMSB Kuningan, Jakarta mendukung sarana tempat acara dan Stadionnya.

    MKST yang digagas oleh PSSI dengan dukungan stakeholder terkait, termasuk oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, penyelenggaraan pun dipersiapkan matang. Pemilihan 16 SSB peserta digodok oleh Ronny Pattinasarani.

    MKST yang dijadikan pilot project untuk turnamen, karena diselenggarakan perdana di Jakarta, maka pesertanya dipilih 16 SSB di Jabodetabek. Para peserta SSB yang dipilih, juga memiliki waktu untuk menyiapkan diri menghadapi MKST, karena MKST diselenggerakan secara terstruktur, terprogram, dan matang.

    Menariknya, ternyata 16 SSB terpilih yang mewakil Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok, belum seragam menggunakan nama SSB, masih ada yang tetap berlabel FC.

    Demi penyeragaman, karena peserta turnamen belum semua bernama SSB, dan masih berbentuk klub, ditambah nama SSB belum familiar, maka Ronny menyeragamkan 15 tim menjadi berlabel SSB, kecuali ASIOP Apacinti.

    Berikut adalah SSB yang terpilih dalam turnamen perdana yang berlangsung di Stadion GMSB Kuningan, Jakarta, 3-11 Juli 1999 dan mencatatkan sejarah sebagai SSB yang mengikuti turnamen SSB perdana secara resmi yang digelar oleh PSSI, yaitu:

    ASIOP, Bina Taruna, Mutiara Cempaka, Sukmajaya, Gala Puri, Bekasi Putra, Pelita Jaya, Jayakarta, BIFA, Pamulang, Harapan Utama, Bintaro Jaya, Bareti, Camp 82, Depok Jaya dan Kemang Pratama.

    Dari 16 SSB peserta turnamen SSB resmi tersebut, dapat dilihat, hingga kini setelah 23 tahun, mana SSB yang masih hidup dan bertahan. Namun, yang pasti, itulah 16 SSB cikal bakal yang melahirkan SSB menjamur di Indonesia. Itulah 16 SSB Pelopor di Indonesia.

    Akronim Jabodetabek

    Ada kisah menarik terkait MKST ini. Saat itu Kota Depok belum menjadi anggota akronim Jabotabek karena baru terpisah dari Kabupaten Bogor, hingga akhirnya saya mengusulkan lahirnya akronim Jabodetabek melalui artikel di Harian Warta Kota, Kamis, 11 Mei 2000.

    Dalam artikel saya tulis, karena Depok menjadi Kota sendiri, ada 4 model akronim, yaitu: Dejabotabek, Jadebotabek, Jabodetabek, dan Jabotabekde.

    Sebab Kota Depok pecahan dari Bogor, maka yang tepat akronimnya adalah Jabodetabek. Selepas itu, Akronim Jabodetabek pun menghiasi media massa.

    Tak disentuh lagi

    Mengingat catatan manis MKST, sebagai saksi sejarah, saya sedih dan prihatin. Karena MKST sebagai turnamen SSB resmi pertama yang dihelat oleh PSSI dalam rangka menggaungkan nama SSB, tak pernah disentuh lagi. MKST pun menjadi turnamen resmi SSB terakhir yang diselenggarakan oleh PSSI, karena hingga 23 tahun berlalu, PSSI tidak pernah menyelenggarakan turnamen apalagi kompetisi SSB. Mengakui keberadaannya dengan melahirkan regulasi tentang SSB pun belum pernah dilakukan.

    MKST, berkah sepak bola akar rumput

    Meski pun saya sebagai praktisi sepak bola, memiliki SSB dan Klub, sejatinya saya tidak ingin menceburkan diri dalam kancah sepak bola akar rumput, sebab dunia nyata saya adalah dunia pendidikan dan dunia sastra, tempat saya menggantungkan hidup untuk makan. Plus menjadi kolumnis pendidikan dan sastra di berbagai media cetak.

    Namun, gara-gara terlibat dalam MKST, atas ajakan dari pihak Tabloid GO, saya pun tercebur menjadi Kolumnis Sepak Bola. Tabloid Go lah yang menyematkan predikat saya sebagai pengamat sepak bola nasional. Hingga akhirnya, ribuan artikel menyoal sepak bola nasional telah saya tulis di berbagai media cetak dan online. Bahkan, saya sangat sedih saat Tabloid GO harus tutup. Begitu pun ketika saya melanjutkan sebagai kolumnis sepak bola di Harian Olahraga Terbesar Indonesia, Harian TopSkor, Harian TopSkor juga ikut tutup.

    Saya menyebut MKST adalah berkah bagi sepak bola akar rumput Indonesia. Berkat MKST, wadah sepak bola akar rumput bernama SSB menjamur, diiringi wadah lain yang masih hanya sekadar untuk gaya-gaya-an.

    Tak pernah lahir regulasi untuk SSB

    Sayang, di bawah kepengurusan Agum Gumelar, di tahun 2000-2003 hingga akhir masa jabatan Agum, MKST tak berlanjut.

    Wadah SSB pun akhirnya berjalan sendiri-sendiri. MKST hanya berfungsi menggaungkan nama SSB menjadi resmi untuk wadah sepak bola akar rumput di Indonesia, meski tak pernah lahir regulasi untuk SSB dari PSSI. Wadah sepak bola akar rumput terus menjamur. Terus salah kaprah.

    Sejak Kepengurusan PSSI di jabat oleh Ketua Umum pertama, Soeratin Sosrosoegondo (1930 - 1940), kedua: Artono Martosoewignyo (1941 - 1949), ketiga: Maladi (1950 - 1959), keempat: Abdul Wahab Djojohadikoesoemo (1960 - 1964) kelima: Maulwi Saelan (1964 - 1967), keenam: Kosasih Poerwanegara (1967 - 1974), ketujuh: Bardosono (1975 - 1977), kedelapan: Ali Sadikin (1977 - 1981), kesembilan: Sjarnoebi Said (1982 - 1983), kesepuluh: Kardono (1983 - 1991), kesebelas: Azwar Anas (1991 - 1999), dan keduabelas: Agum Gumelar (1999 - 2003), baru di bawah kepemimpinan Agum Gumelar, nama Sekolah Sepak Bola (SSB) muncul di Indonesia.

    Kini, setelah 23 tahun nama SSB digaungkan oleh PSSI dan resmi dianggap sebagai wadah sepak bola akar rumput, ternyata estafet Ketua Umum berikutnya mulai dari Nurdin Halid 2003 - 2011; Djohar Arifin Husin 2011 - 2015; La Nyalla Mattalitti 2015 - 2016; Edy Rahmayadi 2016 - Januari 2019; Joko Driyono Januari - Maret 2019; Iwan Budianto Maret - November 2019; dan Mochamad Iriawan November 2019 - Sekarang, SSB kedudukannya masih tidak terakomodir di PSSI. Keberadaannya terus dibiarkan salah kaprah. Tetapi pemain hasil binaan SSB tetap.dipetik oleh Klub dan PSSI, boleh disebut dengan cara akal-akalan dan gratisan.

    Pihak swasta pun dibiarkan berlomba dan saling sikut menggarap wadah sepak bola akar rumput. Ujungnya, lahir SSB jadi-jadian, event SSB asal-asalan. Lalu ada yang buat Asosiasi SSB-lah, Forum SSB-lah, dll, sampai membuat kompetisi SSB, namun banyak yang memprosesnya tidak dengan cara keorganisasian yang benar.

    Seiring waktu, akhirnya kini telah terseleksi secara alam, mana SSB yang benar, mampu bertahan. Mana penyelenggara event SSB yang benar dan cerdas mengikuti prosedur keorganisasian. Mana yang abal-abal dll.

    Apa pun perjalanan kisahnya, sepak bola akar rumput Indonesia dengan wadah bernama SSB memang telah membuka mata dunia, bahwa Indonesia tak pernah kekeringan dari talenta sepak bola handal. Namun, karena SSB masih salah kaprah, maka hasilnya signifikan.

    Shin Tae-yong (STy), pelatih Timnas Indonesia sekarang, menjadi saksi bahwa sejatinya pembinaan sepak bola akar rumput Indonesia selama ini masih gagal. Para pemain Timnas rata-rata belum lulus teknik, intelegensi, personality, dan speed (TIPS) masih jauh di bawah standar rapor pemain Timnas yang semustinya.

    Pertanyaannya, bila sekarang wadah SSB telah menjamur dan faktanya masih gagal melahirkan pemain yang lulus TIPSnya, apakah para pegiat sepak bola akar rumput yang memiliki wadah bernama SSB, ada embel-embel kata Sekolah. paham tentang Sekolah? Paham fungsi sekolah, paham unsur beserta jenjang sekolah dan lainnya?

    Mendorong PSSI sejak 1999

    Sebagai pengamat dan praktisi pendidikan, sastra, sosial, dan sepak bola, atas kondisi yang ada, saya mulai mendorong PSSI agar melakukan pengawalan terhadap aset persepakbolaan akar rumput Indonesia dengan menulis artikel Memantapkan Kedudukan SSB (Selasa, 10 Agustus 1999) di Tabloid GO.

    Tak henti saya mengangkat persoalan SSB dan yang melingkarinya melalui artikel-artikel di Tabloid GO hingga Harian TopSkor dan media cetak da online lainnya. Namun, pembinaan di wadah yang bernama SSB nyatanya tetap harus berjalan di luar cengkaraman program PSSI.

    Padahal, saat PSSI tetap tak bergeming, saya menulis Surat Terbuka dalam majalah Garda melalui artikel dengan judul Delima Sekolah Sepakbola yang tayang pada 21 Februari 2001.

    Salah kaprah, tak paham

    Sepakbola sebagai olahraga yang paling digemari lalu jumlah penduduk Indonesia yang besar, menjadikan wadah SSB sangat mudah dibentuk oleh organisasi hingga ke perorangan. Namun, karena tidak ada standarisasi. Tidak ada yang mengawasi. Bahkan tumpang tindih ada SSB ada Akademi, ada Diklat. Tetapi dalam sebuah festival/turnamen/kompetisi yang bernama SSB, yang gaya-gaya-an pakai nama Akademi dan Diklat bergabung menjadi satu. Lucu. Semua ini terjadi karena sebagian besar hanya ikut-ikutan. Tidak paham dan tidak mengerti tentang wadah SSB itu seharusnya bagaimana. Apalagi Akademi atau Diklat.

    Meski PSSI telah melegitimasi pembinaan SSB ada di bawah naungan Asprov, Askab, dan Askot, namun karena keberadaan SSB tetap harus merupakan afiliasi dari Klub anggota, maka kompetisi Piala Soeratin pun pesertanya atas nama Klub, walau pun pemain di bina oleh SSB.

    Kegiatan berbau SSB akhirnya tetap dikendalikan oleh individu penggila sepakbola dan pihak swasta yang memiliki kepedulian terhadap sepakbola akar rumput ini.

    Sejak 2001 saya inisiasi

    Belajar dari MKST 1999, saya menginisiasi lahirnya Asosiasi SSB Kota Depok (ASSBD) Juli 2001.

    Belajar dari MKST 1999 juga, maka untuk meresmikan berdirinya ASSBD, saya lahirkan Kompetisi Piala Sukmajaya 2001. Dan dari cikal bakal, saya pun menginisiasi lahirnya festival, turnamen, dan kompetisi SSB, mulai dari tingkat Kota, Jabodetabek, Antar Provinsi, dan Tingkat Nasional.

    Tingkat kota, Kompetisi Piala Sukmajaya. Tingkat Jabodetabek, Festival 3Wulan SSB Sukmajaya dan Piala Sukmajaya. Tingkat provinsi, Festival Antar Provinsi (FAP), dan tingkat Nasional, Turnamen Sepak Bola Nasional (TSN).

    Dede Supriyadi, Yusuf Kurniawan, Reza Lubis

    Sebagai pengamat sepak bola nasional, saya mencatat beberapa pegiat dan praktisi sepak bola nasional yang hingga kini konsisten dan peduli terhadap sepak bola akar rumput hingga menjadi Pihak Swasta yang konsisten menggelar kompetisi dan hasilnya sudah dipetik oleh PSSI menjadi bagian dari skuad Timnas Indonesia.

    Seharusnya mereka bukan hanya mendapat penghargaan dari PSSI, dari Kemenpora, Pemerintah, dan dari Stakeholder terkait. Tetapi sumbangsihnya untuk sepak bola akar rumput Indonesia sewajibnya lebih dari sekadar penghargaan.

    Mereka di antaranya adalah Dede Supriyadi yang dikenal publik sepak bola nasional bersama Kompas dengan Liga Kompas Gramedia (LKG). Dede juga melahirkan Kompetisi Indonesia Junior Soccer League (IJSL).

    Berikutnya Yusuf Kurniawan dengan Kompetisi Liga TopSkor (LTS). LTS kini telah menjamah hampir ke seluruh Provinsi Indonesia.

    Dan, almarhum Reza Lubis dengan Indonesia Junior League (IJL) yang juga saya gadang akan duduk di kepengurusan PSSI mendatang. Sayang, Reza lebih disayang Allah, melalui perantara Covid-19.

    Ketiga talenta penggerak kompetisi sepak bola akar rumput dari pihak swasta tersebut, juga sama-sama sudah mengharumkan nama Indonesia dalam event internasional bersama para pemain jebolan kompetisinya.

    Dede, Yusuf, dan Reza, adalah pengisi kekosongan saat wadah sepak bola akar rumput dibiarkan salah kaprah. Ketiganya, juga penyelamat SSB sejak SSB digaungkan 1 Juli 1999.

    Sadarkah, Dede, Yusuf, dan Reza juga pembuka lapangan kerja? Berapa jumlah pelatih SSB yang terlibat dalam kompetisi mereka dan menjadi pelatih SSB yang masih salah kaprah juga profesi yang menghasilkan untuk perut. Juga termasuk para pekerja yang terlibat di dalamnya.

    Itulah, sedikit catatan 23 tahun SSB resmi ada di Indonesia. Kita tunggu di tahun ke-24 dan seterusmya, kira-kira SSB akan ke mana.

    Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.