Kemunduran dan Krisis Peradaban Dunia Muslim - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Buku Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan

Hermanto Purba

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Desember 2021

Rabu, 29 Juni 2022 19:18 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Kemunduran dan Krisis Peradaban Dunia Muslim

    Masalah-masalah negara mayoritas Muslim masa kini sesungguhnya berbanding terbalik dengan pencapaian keilmuan dan sosioekonomi negara-negara Muslim antara abad ke-8 dan ke-12. Pada rentang waktu tersebut, dunia Muslim menghasilkan ahli-ahli berbagai bidang yang kreatif dan berperan penting dalam perdagangan antarbenua. Sementera Eropa Barat merupakan pinggiran marginal yang tertinggal jauh dari dunia Muslim.  Namun pada abad ke-11 dan ke-12, proses pembalikan bertahap dalam hal perbandingan tingkat perkembangan keilmuan dan sosioekonomi dimulai di antara dunia Muslim dan Eropa Barat. Terutama antara abad ke-16 dan ke-18, Eropa Barat mengalami banyak kemajuan, sementara dunia Muslim menjadi tertinggal.

    Dibaca : 649 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul buku: Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan: Perbandingan Lintas Zaman dan Kawasan di Dunia Muslim; Penulis: Ahmet T. Kuru; Penerjemah: Febri Ady Prasetyo; Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Desember 2020; Tebal: 508 halaman


    Masalah-masalah negara mayoritas Muslim masa kini sesungguhnya berbanding terbalik dengan pencapaian keilmuan dan sosioekonomi negara-negara Muslim antara abad ke-8 dan ke-12. Pada rentang waktu tersebut, dunia Muslim menghasilkan ahli-ahli berbagai bidang yang kreatif dan berperan penting dalam perdagangan antarbenua. Sementera Eropa Barat merupakan pinggiran marginal yang tertinggal jauh dari dunia Muslim. 

    Pengalaman ini menunjukkan bahwa Islam sangat sesuai dengan perkembangan keilmuan dan kemajuan sosioekonomi. Namun pada abad ke-11 dan ke-12, proses pembalikan bertahap dalam hal perbandingan tingkat perkembangan keilmuan dan sosioekonomi dimulai di antara dunia Muslim dan Eropa Barat. Terutama antara abad ke-16 dan ke-18, Eropa Barat mengalami banyak kemajuan, sementara dunia Muslim menjadi tertinggal.

    ***
    Setelah kejatuhan Imperium Romawi Barat pada tahun 476, Eropa Barat mengalami kekacauan politik dan permasalahan ekonomi selama berabad-abad. Kekacauan itu menjadi kesempatan untuk menyebarkan ajaran Islam di Jazirah Arab. Dua imperium di sekelilingnya: Byzantium dan Sasaniyah berhasil ditaklukkan. Akhirnya, Muslim berhasil mengambil alih kendali jalur utama perdagangan antara Tiongkok, India, dan Eropa.

    Pada masa itu, pada tingkat tertentu, Islam sebagai agama terpisah dari negara. Para ulama merdeka dari otoritas negara meskipun kerap dihadapkan pada ancaman hukuman bahkan kematian. Mayoritas ulama menolak mengabdi kepada penguasa. Selain itu pula, para ulama awal lebih mementingkan kemandirian finansial ketimbang otoritas politik. Hal itu mereka lakukan untuk menjaga diri agar bebas dari tekanan pemerintah. 

    Ulama awal sangat berbeda dengan agamawan Kristen di Eropa Barat yang lebih memilih mengabdi kepada pemerintah sebagai pejabat negara. Sebagian besar ulama memilih bekerja di bidang perniagaan dan industri. Hanya sebagian kecil saja (sekitar 8,5 persen) yang bekerja sebagai pejabat. Kala itu, ada banyak ahli agama termasuk dalam kelas borjuis, yaitu menjadi pedagang atau putra pedagang. 

    Hal lain yang juga menjadi perhatian Turu dalam bukunya adalah bahwa pada masa itu Muslim hidup bersama dengan penganut agama lain, terutama Kristen dan Yahudi. Bahkan sejarah mencatat, ada banyak birokrat Kristen dan Yahudi pada Dinasti Ummayah dan Abbasiyah yang pada saat itu berkuasa. Bahkan di Baghdad adalah hal yang lumrah terjadi umat Muslim ikut berpartisipasi dalam perayaan-perayaan Kristen. 

    Pada abad ke-8, dunia Muslim menjadi pusat ilmu. Katakanlah di Baghdad, terdapat ratusan toko buku di sana. Di berbagai kota di negara-negara Muslim terdapat perpustakaan-perpustakaan besar dengan koleksi buku yang cukup banyak. Perpustakaan di Kairo misalnya, diperkirakan ada 200.000 hingga di atas satu juta koleksi buku. Sementara pada saat yang sama, hanya terdapat 500 buku di biara dan perpustakaan katedral di Eropa Barat.

    Muslim awal sangat menghargai buku dan memiliki akses yang lebih baik terhadap pengetahuan daripada orang Kristen Barat yang sezaman. Filsuf dan ilmuwan Muslim bermunculan. Khawarizmi misalnya, seorang ahli matematika, geografi, dan astronomi yang berperan penting dalam pengenalan angka Arab di Eropa. Ada pula Ibnu Sina yang karya-karya filsafat dan kedokterannya begitu berpengaruh di Eropa dari abad ke-12 hingga ke-16.

    Selain di bidang ilmu dan pengetahuan, daerah Iberia, Afrika Utara, Timur Tengah, India Utara, dan Asia Tengah yang berada di bawah kekuasaan dunia Muslim, membuat para pedagang Muslim mengendalikan rute perdagangan antara Eropa, India, dan Tiongkok, Dan juga, adanya aturan yang mengistimewakan pedagang Muslim dengan memberikan tarif pajak istimewa, semakin membuat para pedagang non-Muslim tidak mampu bersaing.

    ***
    Kondisi negatif mulai berkembang di dunia Islam pada abad ke-10 dan ke-11 secara multidimensional. Rezim ekonomi baru muncul yang menyerahkan wewenang pemungutan pajak ke personel militer (sistem iqta). Dalam sistem ekonomi yang semakin militeristik tersebut, para pedagang mulai kehilangan peran besar yang sebelumnya dimiliki, yang secara tidak langsung berdampak pada berkurangnya pendanaan swasta bagi para ulama.

    Marginalisasi ekonomi, politik, dan bahkan agama itu lambat laun memunculkan persekutuan ulama dan negara. Transformasi yang mulai terjadi pada abad ke-11 itu berdampak negatif terhadap kehidupan intelektual Muslim pada abad-abad selanjutnya. Meskipun Muslim terus menghasilkan karya-karya ilmiah dan filsafat, namun kuantitas dan kualitasnya menurun, dan akhirnya mengalami kemandekan. 

    Sesungguhnya, dunia Muslim memiliki pengalaman yang sangat berharga, setidaknya antara abad ke-9 dan ke-11. Namun, kemudian, mereka secara bertahap kehilangan momentum kemajuan dan belum mendapatkannya kembali hingga kini, selama hampir satu milenium berlalu. Dunia Muslim terus-menerus mengalami berbagai krisis yang cukup kompleks. 

    Beberapa intelektual menyebut bahwa invasi Tentara Salib dan Mongol pada pada abad ke-12 sampai abad ke-14, yang konon menghancurkan infrastruktur perkotaan dan ketertiban umum wilayah yang luas, merupakan penyebab kemunduran dunia Muslim. Namun Turu berpendapat bahwa hal itu tidak sepenuhnya benar. Sebab pada akhir abad ke-13 Muslim telah berhasil merebut seluruh kota yang sebelumnya dikuasai oleh Tentara Salib dan Mongol.

    Muslim secara berangsung-angsur telah mengalami pemulihan ketertiban politik, keamanan militer, dan kekayaan untuk membangun kembali kota-kota. Dan sampai berabad-abad setelahnya, Muslim tidak mengalami invasi asing. Oleh karena itu, secara gamblang Ahmet T. Turu menjabarkan bahwa invasi asing tidak dapat semata-mata dijadikan sebagai alasan atas terjadinya kemandekan intelektual dalam jangka panjang di dunia Muslim. 

    Dalam bukunya setebal 508 halaman itu, Turu menulis bahwa munculnya ulama, elite negara militer, dan persekutuan di antara mereka – dengan mengorbankan para filsuf dan pedagang - adalah faktor utama penyebab kemandekan intelektual. Bukan karena invasi asing. Sebab faktanya, selama era pasca-Mongol, Islam terus menyebar ke wilayah-wilayah baru hingga ke padang Asia, ke Balkan di barat, dan ke Benggala di timur. 

    Namun, ada dampak buruk yang sungguh-sungguh bertahan lama dari invasi-invasi itu: eratnya persekutuan ulama-negara dan memperkuat elite-elite militer dan perseketuannya dengan ulama, telah melemahkan para filsuf dan pedagang di seluruh penjuru dunia Muslim. Marjinalisasi para filsuf itu mengakibatkan kurangnya sarjana besar Muslim. Sesungguhnya ada muncul beberapa pemikir penting Muslim, namun mereka diabaikan dan dipersekusi.

    Sebutlah Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, atau Ibnu Taimiyah yang mendapat perlakuan tidak baik dari penguasa saat itu. Penguasa mengharuskan rakyat patuh dan setia kepada kekuasaan, negara, dan agama. Penguasa menyebut bahwa otoritas politik tidak boleh dipisahkan dari agama, atau agama tidak boleh dipisahkan dari otoritas politik, sebab jika hal itu terjadi, maka tatanan masyarakat akan hancur. 

    Dan hingga kini, persekutuan ulama-negara masih menjadi sumber berbagai krisis di dunia Muslim. Maka untuk menyelesaikan kemunduran dan krisis peradaban dunia Muslim, seperti masalah-masalah kekerasan, otoritarianisme, serta mengejar tingkat perkembangan Barat, menurut Ahmet T. Turu , Muslim harus membangun sistem yang kompetitif dan meritokratis yang dimulai dengan reformasi sosioekonomi dan politik mendasar dengan dimensi ideologi dan kelembagaan. Muslim memerlukan kaum intelektual yang kreatif dan borjuis independen yang dapat mengimbangi kekuasaan otoritas ulama dan negara. 

     

    Ikuti tulisan menarik Hermanto Purba lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.