Meninjau Ulang Penerapan Sanksi Disiplin di Sekolah - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Hukuman di sekolah.

Hermanto Purba

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Desember 2021

Jumat, 11 Februari 2022 09:06 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Meninjau Ulang Penerapan Sanksi Disiplin di Sekolah

    Segala sesuatu yang dipaksakan, hasilnya tidak akan maksimal. Termasuk memaksakan kehendak kepada murid. Sangat berbahaya jika murid selalu dicekoki berbagai pemaksaan-pemaksaan atas nama penegakan disiplin. Itu akan menjadi penghambat terbesar bagi siswa untuk berpikir dan bernalar kritis. Murid mestinya diberi kemerdekaan belajar dan itu akan membuat kreativitas mereka semakin berkembang.

    Dibaca : 1.060 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “..Bila kita ingin membuat kemajuan perlahan, sedikit-sedikit, ubahlah sikap atau perilaku Anda. Namun bila kita ingin memperbaiki cara-cara utama kita, maka kita perlu mengubah kerangka acuan kita. Ubahlah bagaimana Anda melihat dunia, bagaimana Anda berpikir tentang manusia, ubahlah paradigma Anda, skema pemahaman dan penjelasan aspek-aspek tertentu tentang realitas,” tulis Stephen R. Covey dalam Principle-Centered Leadership (1991).

    Salah satu poin penting dari kutipan di atas adalah: mengubah paradigma. Seseorang akan dengan mudah menerima perubahan, beradaptasi dengannya, bahkan menjadi salah satu pemain dalam perubahan itu ketika seseorang mampu mengubah kerangka berpikirnya atau mengubah cara pandangnya terhadap sekelilingnya (keluar dari zona nyaman).

    Hal ini berlaku dalam segala bidang. Termasuk dalam dunia pendidikan (baca: di sekolah). Kenapa negara-negara seperti Finlandia, Jepang, Korea Selatan, atau Singapura, misalnya, sektor pendidikannya berkembang begitu pesat? Jawabannya tak terlepas dari adanya perubahan paradigma. Baik pemerintahnya pun guru-gurunya.

    Lalu apa yang terjadi di Indonesia? Sebagian besar guru-gurunya enggan keluar dari zona nyamannya. Guru seperti tertutup pada perubahan dan segan beradaptasi dengan kebaruan. Pembelajaran jarak jauh pada masa pandemi Covid-19 menjadi salah satu buktinya. Para guru kurang siap untuk melakukan pembelajaran secara daring. Guru hanya memberikan soal via WhatsApp untuk selanjutnya dijawab oleh para murid.

    Begitu pun dengan penerapan disiplin di sekolah. Sebagian besar sekolah masih cukup nyaman dengan disiplin ala Orde Baru. Bahkan sekolah-sekolah yang berlabel sekolah unggul pun tidak sedikit yang masih setia dengan pola disiplin lama itu. Jika seorang siswa salah atau melanggar aturan sekolah maka konsekuensinya adalah diberi sanksi atau hukuman.

    Selain memberi sanksi atau hukuman, sekolah-sekolah juga sering memaksakan kehendak dengan alasan penegakan disiplin. William Glasser dalam Teori Kontrol-nya mengatakan ada semacam ilusi bahwa orang dewasa (dalam hal ini guru) berhak untuk memaksa. Guru-guru percaya bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk membuat murid-murid berbuat hal-hal tertentu sesuai dengan apa yang mereka yakini benar yang mesti dilakukan dan diterima.

    Saya percaya, bahwa segala sesuatu yang dipaksakan, hasilnya tidak akan maksimal. Jika itu hanya untuk kepentingan sesaat, ya, memaksakan kehendak kepada murid mungkin dapat dilakukan, sekalipun sebenarnya itu tidak baik. Tetapi jika itu untuk kepentingan murid sepanjang hayatnya, maka sangat berbahaya jika murid selalu dicekoki dengan berbagai pemaksaan-pemaksaan atas nama penegakan disiplin, atau semacamnya.

    Pemaksaan-pemaksaan itu, juga menjadi penghambat terbesar bagi siswa untuk mampu berpikir dan bernalar kritis. Sebab sesungguhnya, semakin murid diberi kemerdekaan belajar, kreativitas mereka akan semakin berkembang. Demikian pula sebaliknya. Mungkin itu pula alasannya kenapa pendidikan Indonesia sulit sekali mengalami kemajuan sekalipun ditaburi dengan anggaran yang teramat fantastis.

    Sekolah seharusnya membangun budaya positif. Sekolah harus menyediakan lingkungan belajar yang positif, aman, dan nyaman agar murid-murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab. Maka salah satu strategi yang perlu dilakukan adalah meninjau ulang bentuk disiplin yang selama ini dijalankan di sekolah.

    Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline (2001) menyatakan, ada tiga alasan atau motivasi seseorang menjadi disiplin. Yang pertama adalah untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman. Biasanya orang yang motivasi perilakunya untuk menghindari hukuman atau ketidaknyamanan sebenarnya mereka sedang menghindari permasalahan yang mungkin muncul dan berpengaruh pada mereka. Baik secara fisik, psikologis, maupun tidak terpenuhinya kebutuhan mereka, bila tidak melakukan tindakan itu.

    Yang kedua, untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Satu tingkat di atas motivasi yang pertama. Orang dengan motivasi ini akan bertanya, apa yang akan saya dapatkan apabila saya melakukannya? Mereka melakukan sebuah tindakan untuk mendapatkan pujian dari orang lain yang menurut mereka penting dan mereka letakkan dalam dunia berkualitas mereka. Mereka juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan hadiah, pengakuan, atau imbalan.

    Dan yang ketiga adalah, untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Orang dengan motivasi ini akan bertanya, akan menjadi orang yang seperti apa bila saya melakukannya? Mereka melakukan sesuatu karena nilai-nilai yang mereka yakini dan hargai, dan mereka melakukannya karena mereka ingin menjadi orang yang melakukan nilai-nilai yang mereka yakini tersebut.

    Motivasi yang ketiga adalah motivasi yang akan membuat seseorang memiliki disiplin positif karena motivasi berperilakunya bersifat internal, bukan eksternal. Disiplin positif bertujuan untuk menjadikan seseorang menjadi apa yang mereka inginkan dan untuk menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya.

    Ketika para murid memiliki motivasi tersebut, mereka telah memiliki motivasi intrinsik yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Mereka akan tetap berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka hargai.

    Harus diakui memang, di banyak sekolah, motivasi yang paling banyak didapati dalam diri murid adalah motivasi untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman. Kenapa demikian? Karena budaya di sekolah memang masih begitu. Oleh karena itu, kita tidak semata-mata menyalahkan murid. Kesalahan justru lebih banyak pada pihak sekolah (baca: guru dan kepala sekolah).

    Kenapa? Karena guru telah menjadikannya sebagai "budaya". Setiap yang salah dihukum. Yang tidak mengerjakan tugas dihukum. Bahkan guru Bimbingan dan Konseling (BK) juga masih bertindak begitu. Sehingga pola pikir murid juga jadi terbentuk begitu. Agar tidak dihukum, kerjakan tugas, jangan langgar aturan dan sebagainya. Bukan karena kesadaran dari diri sendiri dan bukan pula karena didasari rasa tanggung jawab yang seharusnya setiap murid lakukan.

    Lalu apa yang harus kita lakukan untuk membangun budaya (disiplin) positif di sekolah? Seperti yang telah saya sebut di awal: mengubah paradigma.

    Hermanto Purba, Guru di SMP N 2 Pakkat, Humbang Hasundutan

    Ikuti tulisan menarik Hermanto Purba lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.