x

Iklan

Adiatman

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 November 2021

Sabtu, 2 Juli 2022 12:03 WIB

Kolaborasi Mewujudkan Generasi Emas

Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki keanekaragaman budaya yang luar biasa banyaknya. Banyak hal yang telah dilakukan pemerintah agar budaya tersebut tak hilang dan tergerus kodrat zaman yang tak bisa dihindari. Pesatnya arus globalisasi berbanding lurus dengan berkembangnya ilmu pengetahuan. Kini pendidikan di Indonesia berbenah. Lantas apakah yang harus dilakukan sebagai pendidik? apakah hanya sebatas mengeluh dan terus mengeluh? Apakah kita sudah siap menghadapi suksesi pendidikan yang luar biasa ini, yang sering diistilahkan sebagai proses transformasi? jika sudah siap, langkah dan strategi apa yang harus diaktualisasikan agar pendidikan terus berkembang dan maju? semua jawaban dari pertanyaan tersebut jawabannya adalah KOLABORASI (Kompak, layani, Berbagi, Olah Rasa, Inisiatif)

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pendidikan saat ini dan yang dulu tentunya sangat berbeda jauh, banyak hal yang telah berubah. Hal ini didasari karena kodrat alam dan kodrat zaman tak dapat dihindari. Arus digitalisasi yang merambah ke segala arah sehingga arus informasi dan pengetahuan tak bisa dibendung lagi. Sehingga tentunya pemerintah Indonesia dalam hal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi melakukan segala cara agar dapat menjawab tantangan zaman tersebut.

Salah satunya adalah kebijakan kurikulum merdeka. Namun tentunya, kurikulum tersebut adalah bersifat opsional dan bagi satuan pendidikan yang ingin menerapkan kurikulum tersebut tentunya harus memahami tiga jalur yakni, jalur mandiri belajar, mandiri berubah, dan mandiri berbagi.

Sebagian kalangan pendidik mengatakan bahwa, kurikulum tersebut adalah kurikulum pelengkap dari sebelumnya. Kurikulum tersebut pada dasanya memiliki tujuan yang sama dengan kurikulum sebelumnya, yakni bagaimana mewujudkan pendidikan yang baik di negeri ini. Namun tentunya memiliki pendekatan yang sedikit berbeda. Banyaknya istilah-istilah baru yang sering dijumpai pada kurikulum merdeka seperti CP, ATP, MODUL AJAR, KKTP, IKTP, STS, SAS, dan lainnya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Namun, ada yang sangat menarik dari kurikulum ini yakni salah satunya adalah Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran melalui modul ajar yang dibuat oleh guru.

Profil Pelajar Pancasila merupakan pondasi utama bagi keberlangsungan bangsa dan ekosistem pendidikan di Indonesia. Profil pelajar pancasila memiliki enam dimensi yang meliputi Beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkibinekaan global, gotong royong, mandiri, kreatif, dan bernalar kritis.

Setiap dimensi memiliki elemen-elemen kunci yang harus dipahami oleh warga sekolah maupun di luar warga sekolah. Selain itu, guru juga diberikan kebebasan dalam merancang dan menyusun modul ajar yang diterapkan, namun tentunya harus memperhatikan hal-hal yang penting seperti kondisi dan kebutuhan peserta didik serta lainnya yang harus dipertimbangkan dalam membuat modul ajar.

Kurikulum merdeka pada dasarnya akan menciptakan pembelajaran berpusat pada peserta didik dan guru bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar bagi peserta didik.

Selain itu, pada kurikulum merdeka juga diterapkan pembelajaran berdiferensiasi yang tentunya sangat efektif dan efisien dalam mengakomodasi proses pembelajaran bagi peserta didik, dan mewujudkan hasil belajar yang bermakna.

Maka, sebagai guru banyak hal yang harus dibenahi agar proses pembelajaran yang kita rancang dapat menuntun peserta didik menemukan pembelajarannya yang selamat dan bahagia. Apalagi Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki keanekaragaman budaya yang luar biasa banyaknya. Sehingga, banyak hal yang telah dilakukan pemerintah agar budaya tersebut tak hilang dan tergerus oleh kodrat zaman yang tak bisa dihindari.

Pesatnya arus globalisasi berbanding lurus dengan berkembangnya ilmu pengetahuan. Kini pendidikan di Indonesia berbenah. Lantas apakah yang harus dilakukan sebagai pendidik? apakah hanya sebatas mengeluh dan terus mengeluh? Apakah kita sudah siap menghadapi suksesi pendidikan yang luar biasa ini, yang sering diistilahkan sebagai proses transformasi pendidikan? jika sudah siap, langkah dan strategi apa yang harus diaktualisasikan agar pendidikan terus berkembang dan maju? semua jawaban dari pertanyaan tersebut jawabannya adalah KOLABORASI (Kompak, layani, Berbagi, Olah Rasa, Inisiatif).

KOMPAK maksudnya adalah sebagai pendidik tentunya harus bersatu padu dalam menanggapi atau meyikapi kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah secara positif. 

LAYANI maksudnya adalah sebagai guru, tentunya memiliki semangat yang luar biasa dalam mendidik, mengajari dan melayani hal-hal baik bagi peserta didik. Peserta didik bukan lagi sebagai objek yang duduk manis dan mendengarkan saja. Tapi peserta didik akan berperan sebagai subjek belajar yang aktif, artinya peserta didik harus berberan aktif dalam pembelajaran agar dapat mengkonstruksi pengalaman-pengalaman belajarnya dalam bentuk perubahan dan perkembangannya baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya.

Guru bukan lagi mendikte tapi akan lebih mengajak peserta didik untuk berdiskusi dan berkolaborasi. Guru akan lebih banyak menjadi fasilitator bagi peserta didik sehingga akan selalu memberikan pelayanan prima bagi peserta didik.  

BERBAGI, dinamika kurikulum yang terus melakukan transformasi agar dapat mengikuti kodrat zaman, menuntut guru untuk terus belajar dan berinovasi. Guru hebat adalah guru yang terus belajar dan bertumbuh. Mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki dan senang berbagi ilmu ke pada siapa saja, atas dasar sukarela dan memiliki motivasi bersama dalam memajukan pendidikan di Indonesia.

OLAH RASA, guru harus mampu dan bisa melatih perasaanya. Mampu memanusiakan dirinya dan orang lain. Melatih rasa tentunya akan meningkatkan kepekaan rasa dalam diri sendiri dan orang lain, sehingga mampu memahami karakter diri dan orang lain (peserta didik) .

INISIATIF, sebagai guru tentunya selalu memahami bahwa guru adalah pembelajar sepanjang hayat. dan tahu apa yang harus dilakukan ketika melihat atau mengamati transformasi pendidikan saat ini. Tentunya adalah tergerak, bergerak, dan menggerakkan. Seperti misalnya, pemerintah telah mewadahi fitur belajar mandiri dan fitur lainnya di Platform Merdeka Mengajar. Maka sebagai guru akan memutuskan dan melakukan sesuatu yang benar dalam hal mempelajari platform tersebut dengan baik. Sehingga wawasan dan keilmuan dapat bertambah dan bertumbuh.

Ikuti tulisan menarik Adiatman lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu