x

Iklan

Adiatman

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 November 2021

Kamis, 14 Desember 2023 05:16 WIB

Pembuatan Terarium untuk Memahami Konsep Metagenesis pada Tumbuhan Lumut dan Tumbuhan Paku

Media ini dapat diamati di rumah masing-masing peserta didik sehingga sangat efektif dan efisien sebagai media pembelajaran inovatif.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Tumbuhan lumut dan paku merupakan 2 kelompok utama pada Kingdom Plantae. Meskipun demikian tumbuhan tersebut tentunya sangat berbeda. Pada anatomi tumbuhan lumut strukturnya jauh lebih primitif daripada tumbuhan paku. Hal ini disebabkan karena tumbuhan lumut belum dilengkapi dengan jaringan pembuluh atau jaringan pengangkut dan belum memiliki akar sejati dibandingkan dengan tumbuhan paku.

Selain itu, kedua kelompok tumbuhan tersebut memiliki persamaan yakni sama-sama mengalami proses metagenesis. Metagenesis merupakan siklus atau pergiliran hidup yang terus berlanjut selama fase kehidupan tumbuhan tersebut.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Menurut teori bahwa metagenesis pada tumbuhan lumut dan tumbuhan paku terdiri dari dua fase atau siklus yakni fase gametofit dan fase sporofit. Pada tumbuhan lumut fase gametofit lebih dominan bertahan hidup dibandingkan dengan fase sporofit. Sedangkan pada tumbuhan paku fase sporofit jauh lebih dominan dibandingkan dengan fase gametofitnya. Pada siklus hidup tumbuhan lumut, sporofit menghasilkan spora yang akan berkecambah menjadi protonema.

Selanjutnya dari protonema akan muncul gametofit. Generasi gametofit akan menghasilkan sel telur yang disebut dengan arkegonium (betina) dan anteredium (jantan) yang menghasilkan sperma. Gametangium biasanya dilindungi oleh daun-daun khusus yang disebut bract (daun pelindung). Gametangium jantan berbentuk bulat atau seperti gada, sedangkan betina berbentuk botol.

Fertilisasi  sel telur tentunya akan menghasilkan zigot. Selanjutnya akan berkembang menjadi sporofit dewasa yang terdiri dari kaki sebagai pelekat pada gametofit, seta atau tangkai dan kapsul (sporangium) di bagian ujungnya. Untuk tumbuhan paku, siklusnya di awali sesaat sporanya jatuh di tempat yang lembab dan selanjutnya akan berkecambah menjadi protalium, fase ini disebut dengan fase gametofit karena mampu menghasilkan dua gamet/alat kelamin yakni kelamin betina( arkegonium) dan kelamin jantan (anteredium). 

Pada pembelajaran ini, terlihat sangat mudah untuk disampaikan kepada peserta didik. Namun, setelah di wawancarai dan hasil asesmen ternyata sebagian murid masih banyak yang kurang memahami proses metagenesis dari kedua kelompok tumbuhan tersebut. Akhirnya melalui inovasi pembelajaran dengan membuat media pembelajaran berupa terrarium dari tumbuhan lumut dan tumbuhan paku, dapat memaksimalkan pengetahuan dari segi konsep/teori yang telah mereka peroleh di dalam kelas.

Terrarium merupakan replikasi mini suatu ekosistem yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik dan diletakkan dalam wadah kaca transparan. Pada media pembelajaran ini para peserta didik dapat mengamati secara langsung siklus metagenesis yang di alami oleh tumbuhan lumut dan tumbuhan paku. Peserta didik dapat membedakan fase gametofit dan fase sporofit secara langsung. Selain itu, peserta didik mampu mengamati dan menganalisis secara morfologi terkait dengan bagian-bagian tumbuhan lumut dan tumbuhan paku.

Media ini, dapat diamati di rumah masing-masing peserta didik sehingga sangat efektif dan efisien untuk dilakukan sebagai media pembelajaran inovatif. Pada sisi lain, peserta didik ditantang untuk meningkatkan daya kreatifitas mereka melalui pembuatan terrarium seindah mungkin yang disesuaikan dengan kreatifitas dan kebutuhan peserta didik. Pada dasarnya semua bahan yang diperlukan dalam pembuatan terrarium sangat mudah untuk di dapatkan. Jadi, sebagai guru tidak ada alasan untuk terus berinovasi demi kemajuan pendidikan di Indonesia.

 

terarium

 

Ikuti tulisan menarik Adiatman lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan