x

Iklan

Paradilah Awaludin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Mei 2022

Sabtu, 16 Juli 2022 05:57 WIB

Kritik Sosial dalam Film Negri di Bawah Kabut

Menjadi petani memang bukan impian semua orang. namun, petani menjadi salah satu pekerjaan yang paling terpenting bagi kehidupan umat manusia. Mungkin jika tidak ada petani, tidak ada manusia yang sejahtera.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Menjadi petani memang bukan impian semua orang. Akan tetapi, petani menjadi bagian terpenting dalam kehidupan umat manusia. Di dalam film Negri di bawah Kabut karya Shalahhudin Siregar ini mengisahkan tentang bagaimana kehidupan petani yang tinggal dikaki gunung merbabu. 

Dalam film ini ada beberapa isu yang hangat untuk diangkat diantaranya mengani isu, perubahan cuaca/iklim, ekonomi, sosial, ujian nasional sekolah dasar, serta biaya pendidikan yang sulit terjangkau untuk penduduk sekitar kaki gunung Merbabu. 

Masyarakat setempat sering kali dihadapkan pada situasi yang membuat mereka terpaksa mengambil sebuah keputusan untuk memanen hasil pertanian sebelum massa waktu panen tiba. Para petani dihadapkan oleh kenyataan bahwa kentang yang mereka budidayakan berwarna hitam bahkan sampai berdaun busuk. Hal tersebut sudah jelas tanda bahwa hasil pertanian mereka akan menurun (gagal panen) dan tidak seperti biasanya. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Film ini mengisahkan tentang perjuangan seorang anak petani bernama Arifin yang ingin lajut bersekolah di sekolah impiannya. Namun, dia harus menutup dalam-dalam  cita-citanya bersekolah disekolah impiannya karna biaya yang harus dipersiapkan orang tuanya tidak sedikit. Dengan kondisi orang tuanya hanya sebagai pekerja/buruh tani diladang milik orang lain.

"Kamu sudah dapat nilai tertinggi tapi sayang kamu tidak bisa lanjut bersekola." Begitulah percakapan ayah Arifin dengan penuh keterpaksaan harus mengatakan hal ini kepada sang anak karna Arifin tidak bisa kanjut bersekolah d isekolah impiannya (sekolah negeri). Namun disisi lain, orang tua arifin menginginkan Arifin membantunya bekerja sebagai petani. Dan pada akhirnya orang tua Arifin mencoba mempertimbangkan pilihan lain. Orang tua arifin mencoba mencari alternatif memilih sekolah yang jauh lebih murah dibandingkan sekolah pilihan Arifin, yaitu pesantren. Setiap bulannya hanya perlu membayar Rp8.000. Kebutuhan seragam pun bisa dibeli dengan harga yang terjangkau dan sangat jauh berbeda dengan sekolah pilihan Arifin. 

Lemahnya daya jual atau tawar menawar para petani Desa Genikan ini berdampak menurunnya ekonomi desa tersebut. Karena  kuatnya investasi dari pengepul dan tengkuak menyebabkan mereka harus terpaksa menjadi korban pemiskinan akibat transaksi yang tidak adil. 

Maka dari itu, perlu dilakukan langkah progresif secara kolektif dan berkelanjutan demi memutuskan lingkaran kemiskinan yang berkelanjutan. Keputusan Arifin untuk lanjut bersekolah menempuh pendidikan pesantren adalah salah satu contohnya, langakah Arifin ini harus diikuti oleh teman-teman sebayanya dan juga adik-adik kelasnya agar mereka mendapatkan pendidikan yang jauh lebih baik dan layak. 

Ikuti tulisan menarik Paradilah Awaludin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

20 jam lalu

Terkini

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

20 jam lalu