Dilarang Gondrong di Masa Orde Baru; Resensi Buku Dilarang Gondrong - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

dilarang gondrong

Andi Achmad Aulia

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 14 November 2020

Sabtu, 30 Juli 2022 06:18 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Dilarang Gondrong di Masa Orde Baru; Resensi Buku Dilarang Gondrong

    Buku dilarang gondrong! yang ditulis oleh Aria Wiratma Yudistira menuliskan mengenai Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970an. Pada awalnya buku ini merupakan proyek studi yang dikerjakan oleh Arya untuk Skripsi di Departemen Sejarah Universitas Indonesia. Arya menganggap jika persoalan rambut gondrong sangat erat kejadiaannya dengan sejarah yang terjadi pada pemerintahan yang baru saja dibangun tersebut dengan melihat tumpukan koran terbitan 1970an tentang aksi-aksi anti rambut gondrong.

    Dibaca : 540 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Di masa Orde Baru atau Orba, mungkin jika tindakan kriminal dilakukan oleh orang-orang gundul terlihat aneh. Orba yang terkenal dengan cengkramannya yang kuat ternyata tidak hanya takut dengan komunis tetapi juga kepada gondrong. Dengan jargon “pembangunan” yang diusung pada masa Orba, tak pelak urusan-urasan kecil menjadi perhatian penguasa saat itu untuk menciptakan generasi yang siap melanjutkan pembangunan.

    Buku Dilarang Gondrong! yang ditulis oleh Aria Wiratma Yudistira menuliskan mengenai praktik kekuasaan Orde Baru terhadap anak muda awal 1970an. Pada awalnya buku ini merupakan proyek studi yang dikerjakan Arya untuk skripsi di Departemen Sejarah Universitas Indonesia. Arya menganggap persoalan rambut gondrong sangat erat kejadiaannya dengan sejarah yang terjadi pada pemerintahan yang baru saja dibangun tersebut dengan melihat tumpukan koran terbitan 1970an tentang aksi-aksi anti rambut gondrong.

    Pada masa Orba, jalinan kekuasaan yang dikemukaan oleh Shiraishi, bahwa Indonesia dibangun layaknya keluarga besar. Disana ada bapak, ibu, dan Anak. Soeharto menempatkan dirinya sebagai “Bapak Tertinggi” (Superme Father). Jika menggunakan perspektif yang dikemukakan oleh Shiraishi maka terdapat kekuasaan yang dilakukan oleh kelompok tua kepada kelompok muda dengan pandangan jika kelompok tua adalah orang yang lebih pernah mengalami pahit manis atau lebih kepada kedewasaan pandangan karena pengalaman yang pernah mereka alami.

    Penguasa dan anak muda

    Arya dalam studinya membagi antara siapa penguasa dan siapa anak muda. Penguasa ialah adalah para orang tua yang pernah mengalami masa kolonialisme, imprealisme dan berjuang dalam merebut kemedekaan. Karena pengalaman hidup yang mereka telah alami, maka orang tua lebih menghegemoni bagaimana kemauannya kepada anak-anaknya terlebih pada masa Orba jargon “pembangunan” yang menggantikan jargon“revolusi” lebih mengarah kepada menyiapkan generasi penerus bangsa hingga bagi mereka, anak-anak muda perlu dibina dan dididik agar mampu mengembang tugas dimasa depan.

    Anak muda sendiri dalam studinya dibagi menjadi dua jenis. Yaitu, mereka yang bersikap apatis terhadap persoalan politik di dalam negeri-atau mereka yang bersikap apolitis. Yang lainnnya, ialah mereka yang memiliki kesadaran lebih tinggi akan persoalan bangsannya-seperti persoalan korupsi, sistem politik. Selain itu mereka juga memiliki idealisme yang sering sekali bertentangan dengan kenyataan yang tengah terjadi didalam masyarakatnya, yang disebut kelompok mahasiswa. ( Dilarang Gondrong, Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970an, Hal.11)

    Relasi militer dan Pemuda

    Kata pemuda di Indonesia sejak awal abad 20 sering berkonotasi kepada mereka yang bergejolak dalam revolusi atau ikut campurnya pemuda dalam kehidupan politik. Sejarah Indonesia tak lepas dari peranan pemuda, bahkan peranan sentral pemuda terlihat ketika sebelum proklamasi dimana gologan muda menculik Soekarno dan Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

    Dimasa demokrasi terpimpin pemuda juga memiliki peranan sentral takkala menyoal konsepsi Presiden untuk kembali pada UUD 1945 yang disebut angkatan ’57. Takkala masa demokrasi terpimpin akan berakhir dan awal kekuasaan Orde Baru, pemuda juga memiliki andil dalam penentuan sikap dengan biasa disebut sebagai angkatan ’66.

    Relasi militer dengan pemuda yang tergabung dengan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia), dan KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) ketika penggulingan demokrasi terpimpin biasa disebut dengan Partnership dibuktikan dengan andilnya Angkatan Darat.

    Namun yang tak bisa diabaikan bahwa keberhasilan aktivitas politik orang-orang muda, khususnya mahasiswa, untuk menumbangkan kekuasaan Sukarno tidak lepas dari dukungan tentara terutama Angkatan Darat. (Dilarang Gondrong, praktik kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970an, Hal.17)

    Tetapi pada masa orde baru, partnership yang terbangun antara pemuda terkhususnya mahasiswa dengan militer terjadi kesenjangan. Selain itu, arti kata pemuda didefenisikan kembali dari kata pemuda yang berkonotasi politik dan bersifat revolusioner menjadi remaja atau ABG (Anak Baru Gede).

    Orde Baru memandang, anak muda adalah gologan yang belum matang sehingga dibutuhkan pengawasan kepada mereka dan kegiatan politik yang dilakukan oleh golongan muda tidak lagi seperti masa demokrasi terpimpin. Kegiatan politik yang melibatkan pemuda hanya berada pada kalangan pelajar di universtas atau disebut mahasiswa.

    Bagaimana Gondrong Dicitrakan

    Berawal dari pernyataan Jendral Soemitro yang menjabat sebagai Pangkopkamtib di sebuah acara bincang-bincang di TVRI padaa Senin malam 1 Oktober 1973 yang mengatakan bahwa rambut gondrong membuat pemuda menjadi onverschillig alias acuh tak acuh.

    Peryataan yang kontroversial seorang Pangkopkamtib pada permasalahan rambut yang seharusnya merupakan selera masing-masing mendapat protes dari kalangan anak-anak muda. Pada 10 Oktober 1973, sekitar 11 orang delegasi Dewan Mahasiswa Institute Teknologi Bandung (DM-ITB) yang dipimpin keetuanya, Muslim Tampubolon, mendatangi DRP-RI di Jakarta untuk memprotes pangkopkamtib.

    Peristiwa peryataan pangkopkamtib terhadap rambut gondrong dan protes mahasiswa terhadap peryataan tersebut makin merenggangkan hubungan mahasiswa dengan militer yang sebelum-sebelumnya diwarnai dengan protes-protes ketidakpuasan mahasiswa dengan merajalelanya korupsi, kenaikan BBM, proyk pembangunan Miniatur Indonesia (Taman Mini Indonesia Indah), dan juga persoalan politik, misalnya saja, persoalan pemilu 1971, partai-partai politik, maupun intervensi pemerintah dalam pemilihan pimpinan MPR/DPR.

    Orde Baru yang baru saja memulai pembagunannya dengan kebijakan pemerintahan terhadap investor asing masuk dengan bebas tak pelak juga membawa pengaruh barat masuk dengan bebas kedalam Indonesia dengan cepat. Yaitu Hippies sebagai sebuah gagasan baru pada kehidupan saat itu. Dimana-anak muda yang jenuh dengan peperangan Amerika dan Uni Soviet membawa semangat perdamaian dikalangan anak muda Amerika. Hippies ini sangat muda dikenali dengan penampilannya yang eksentrik. Seperti rambut panjang, jenggot di biarkan panjang, pakaian longgar yang beraneka macam warna, dan perempuannya tidak memakai bra.

    Budaya Hippies atau Flower generation di Indonesia dianggap sebagai kiri baru sehingga  pemerintah pada saat itu sangat antipati dengan hal-hal yang berhubungan dengan gaya Hippies terutama dengan rambut gondrong.

    Pencitraan gondrong pada masa Orde baru tak juga tak lepas dari peran media massa seperti : “7 Pemuda Gondrong Merampok Biskota”, “Waktu Mabuk Di Pabrik Peti Mati: 6 Pemuda Gondrong Perkosa 2 Wanita”, “5 Pemuda Gondrong Memeras Pakai Surat Ancaman”, “Disambar Si Gondrong”. ((Dilarang Gondrong, praktik kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970an, Hal.104)

    Rambut gondrong diidentikan dengan segala bentuk kriminalitas untuk membangun mindset ditengah masyarakat jika godrong itu adalah kriminal, atau rambut gondrong tidak sesuai dengan identitas nasional.  Dengan mindset tentang gondrong, maka aksi anti-rambut gondrong semakin menderu dengan dalih menyelamatkan generasi muda. razia di jalan-jalan raya untuk merapikan potongan rambut serta pakaian agar sesuai dengan kepribadian bangsa  adalah pandangan umum pada masa aksi anti-rambut gondrong. Larangan berambut gondrong juga diberlakukan di kantor pemerintahan, sekolah, kampus, stasiun televisi, dsb. Bahkan Gubernur Sumatra Utara membentuk badan khusus yang bertugas memberantas rambut gondrong yang diberi nama BAKORPRAGON atau Badan Kordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong.

    Penutup

    Arya juga menuliskan tentang bagaimana gondong pada masa orde baru adalah cikal bakal kerusahan pertandingan sepak bola yang awalnya sebagai upaya perdamaian antara ITB dan Taruna AKABRI tetapi berujung dengan tewasnya Rene Louis Coenraad, mahasiswa jurusan teknik elektro ITB akibat pengeroyokan yang dilakukan Taruna AKABRI. Peristiwa itu disebut peristiwa 6 Oktober 1970. Tewasnya seorang mahasiswa ditangan angkatan bersenjata semakin mengebuhkan semangat mahasiswa hingga peristiwa Malapetaka 15 Januari atau MALARI pecah dan menjadi simbol berakhirnya partnership yang dibangun anak-anak muda dengan angkatan bersenjata ketika meruntuhkan Orde Lama.

    Setelah peristiwa itu terjadi, aktivitas anak muda semakin dijauhkan dengan aktivitas politik. Mahasiswa dibungkam lewat kebijakan-kebijakan Normalisasi kampus. Sementara cengkraman pemerintah semakin menguat. Hingga, pada tahun 1998, mahasiswa menumbangkan rezim Soeharto yang dikenal dengan angkatan ’98.

    Ikuti tulisan menarik Andi Achmad Aulia lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.