Pamit Tuk Sementara - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Sheila

Miri pariyas

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 November 2021

Senin, 1 Agustus 2022 12:22 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Pamit Tuk Sementara

    “Perempuan yang mencari cinta itu, tak mungkin kembali, bagaimana bercinta dia saja sudah kehilangan cinta sedari kecil”

    Dibaca : 461 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Whatsapp berbunyi bertanda satu pesan masuk, “Bolehkah aku bertemu, ada sesuatu yang inginku ceritakan padamu,” begitulah pesan singkat dari kawan. “Oke, nanti sore bisalah kita mengobrol sambil menikmati kopi.”

    Apa yang terjadi? Mengapa dia ingin mengobrol denganku? Apa aku punya salah denganya kah? Atau sebaliknya? Kami baru berkenalan mungkin belum genap satu tahun. Berjumpaanku dengannya di awali dari sebuh forum diskusi. Dia tak banyak berbicara seperti orang pada umumnya, tapi tak tau lah apa sebabnya. Terpenting adalah aku punya teman baru.

    Mencoba menghubungi teman dekatnya, “Apakah Sinta punya masalah? Mengapa dia ingin mengobrol denganku.” Dia menjawab, “Sepertinya, tidak.” Singkat sekali jawabnya, memang begitulah lelaki yang tak ingin banyak cincong, singkat dan padat menjadi krakternya.

    Kami bertemu, aku kaget sebenarnya melihat wajahnya penuh luka dan kaki yang berdarah. Rasa khawatir timbul, namun dia amat tenang dan tersenyum. Seakan kekhawatiranku buyar dengan senyumnya. Perempuan yang memang dasarnya cantik tanpa ada polesan apapun, tak seperti perempuan pada umumnya yang dipaksa cantik ala-ala publik. Apalagi ditambah dengan kunciran rambut yang berantakan, namun punya khas tersendiri “iya” versi dia.

    “Hello, aku rindu padamu, kakak” katanya sambil memelukku. Dia memangilku kakak, sebab umurku satu tahun lebih tua dibandingkan dirinya. Sebenaranya, tak papa bila iya memanggilku nama saja. “Bagaimana kabarmu?” dia hanya menimpali degan senyumannya yang begitu indah.

    Aku kebinggungan mengawali percakapan dengannya. Sudah lama tak bersua, tatkala berjumpa menemui wajahnya yang penuh luka. “kakak, lihat wajahku,” katanya. Aku menatapnya dengan penuh iba, terlihat sekali dia butuh peluk. Tubuhnya memberi signal bahwa dia sedang tak baik-baik saja. Tak baik secara fisik maupun mental. Wajahnya pun terlihat seperti, ingin meneteskan air mata.

    Aku menjawab sambil memegang tangannya “Ada apa? Mengapa banyak sekali bercak luka dan kakimu pun berdarah?” dia pun tak menjawab pertanyaanku lalu hanya menunduk. “Aku obati,” dia menjawab dengan singkat yang membuat hatiku semakin iba “Kakak, kalau pun ini, diobati, tak akan mungkin pernah hilang bekasnya, bahkan hanya menjadi kenang yang buruk di hatiku, yang sakit bukan ini kakak, tapi hati ini,”

    Dia menceritakan kejadian itu, dengan suara lirih. Aku terdiam, jujur aku tak mengerti harus melakukan apa untuk dia. Pantas saja belakangan ini, jarang sekali aku bertemu dengannya padahal kita sering sekali membuat janji tuk bertemu. Dia membuat janji dia juga yang terkadang melupakan janji itu. Dan inilah sebab-akibat membuatnya terkadang mengikari janjinya, “iya” soal hidup yang hanya dia dan tuhan yang tau. Aku tau dia sedang menahan tangisnya.

    “Oh, Tuhan apa yang terjadi?” sedari kecil aku punya rasa empati yang besar, aku menahan untuk tak menangis agar dia tak merasa bahwa dia lemah. “Tahan,” ujarku dalam hati. Aku tak ingin menagis karena kisahnya begitu runyam, yang aku tau dia hanya seorang yang ditakdirkan mendapat jalan hidup seperti itu, karena dia adalah orang pilihan yang tak semua bisa sepertinya.

    Kehilangan cinta dari orang pertama yang seharusnya mengajari soal cinta itu, hingga berdampak pada pertumbuhannya. Alhasil, dia sedikit sekali punya teman bahkan dia tak punya sama sekali teman di bangku kuliah. Ketakutan yang sering menyelimuti hatinya, membuatnya kehilangan jati diri secara perlahan. Bahkan jika dia tertimpa masalah dia hanya memberikan stigma pada dirinya untuk lari dari masalah. Padahal menyelesaikan satu masalah pastilah akan menimbulkan masalah yang lain, sebab itu hukum gerak manusia.

    Aku mencoba mengenggam tangannya dan menatap wajah untuk saling berkomunikasi dengan kisah yang hampir sama, dampak yang hampir sama pula. Aku tau bagaimana remuknya hatinya. Beribu obat pun diberikan oleh ahli mental itu, jika dia tak berdamai dengan kenyataan itu tak akan mampu mengobati, karena yang mampu mengobati dirinya adalah dirinya sendiri.

    Namun, “sial” air mataku mengalir ternyata sudah di ambang batas, aku berbicara dengan dirinya seakan-akan sedang berdiskusi dengan diriku sendiri. Bagaimana kekalutanku saat itu, saat tak ada lagi yang ingin berteman denganku. Aku bilang padanya dengan air mata yang juga menetas, “Bahwa kamu harus terus hidup dan melawan semua trauma yang ada pada dirimu, memang sukar, namun itulah yang terjadi,” dia menjawab “Apa aku bisa?” katanya, jawaban itu buatku menangis, dia kehilangan harapan karena pengalamannya. “Oh Tuhan,” ujarku dalam hati aku hanya memeluknya sambil mengelus punggunya “Tentu saja bisa, sangat bisa,” air matanya jatuh sejadi-jadinya hingga buat buluk guduku merinding.

    Aku tau dia sedang bertengkar hebat dengan keluarganya. Dia yang tak tau apa-apa harus menaggung resiko. Dia pun tak berani pulang dengan kondisi yang begitu rapuh, bukan hanya rapuh hati, tapi fisik pun begitu. Tapi, ku bilang padanya “Kamu harus pulang, Ayahmu masih menunggu anak gadisnya yang begitu kuat nan cantik,” dia mengusap air matanya “Aku takut, kakak,” tapi aku tetap memaksanya untuk pulang, “Pulanglah lalu beristirahat”

    Tapi, aku tau itu tak mudah. Dia mengalami kekerasan secara fisik hingga menimbulkan luka yang membekasnya dapat diobati dengan obat, namun luka hatinya? Siapa yang ingin menanggungnya? Kekerasan itu terjadi karena warisan. Mengapa orang lebih gampang menghilangkan keakraban dan ditungkarkan material yang belum tentu mendatangkan kebahagian?

    Orang sudah dianggapnya ibu melakukan sesuatu yang tak beradab. Apakah itu tetap dikatakan ibu? Tapi, dia amat lembut yang kata bahwa kapapun dia tetap menjadi ibu karena dia telah merawatnya sewaktu kecil. Lalu, bagaimana dengan ibunya tak tau lah aku, namun sejak kecil dia juga kehilangan kasih ibunya.

    Perempuan itu, memang tak ingin kembali ke rumahnya. Sebab, dia dipertontokan dengan sebuah kebencian yang menyelimuti keluarganya. Dia takut bukan karena dirinya tapi pengalaman hidup yang membentuk dirinya memiliki sifat takut level angkut. Pantas saja dia susah untuk bergaul, dia saja tak penah tau cara mencintai orang lain. Hingga, dia memutuskan untuk pergi sementara waktu. Untuk apa? Tentu saja untuk menenangkan dirinya itu, diri yang penuh dengan kisah pahit yang menyandra dirinya.

    Kepergiannya dari rumah bukan karena benci. Oh, tentu tidak. Tapi, dia ingin belajar soal hidup yang memberikan kasih, cinta, atau pun pengalamannya. Makna cinta itu direnggut oleh keadaan. Membutanya sukar menciptakan cinta yang sesungguhnya. Lantas, orang hanya mampu menilai tanpa pertimbangan.

    Pinta ku semoga dia dapat mencari cinta yang sesungguhnya, agar mencintai dirinya. Bahkan, berdiri tegak menembus ketakutan itu. Dia adalah perempuan yang baik hati, yang bukan dia harus menanggung semua itu.

    Begitu keras hidupnya hingga dia mampu merobahkan sekat-sekat soal perempuan bekerja. Tak ada sistem patriarki dalam dirnya, yang dia pikirkan hanya satu membantu ayahnya dan mengantikan pekerjaan yang dilakukan oleh ayahnya. Bekerja di usia 13 tahun, membuatnya menjadi perempuan yang mandiri. Waluapun begitu dia tetap menjadi siswa sebagaimana teman-temannya. Namun, normalnya anak-anak yang seusianya seharusnya harusnya menikmati masa-masa bermain direngut atas nama keadaan.

    Dia seorang perempuan yang kehilangan cinta tak usalah engkau pergi hingga dan tak kembali. Engkau, boleh pergi, namun kembali lah jika sudah membuatmu tenang. Lalu, berikan cinta pada semua yang kamu cintai.

    Ikuti tulisan menarik Miri pariyas lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.