Bermegah Megahan Membawa Petaka - Analisis - www.indonesiana.id
x

Window of the World, Shenzen.

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Kamis, 25 Agustus 2022 07:31 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Bermegah Megahan Membawa Petaka

    Kebanyakan orang ingin kaya raya dan hidup mewah. Mereka mengira hidup mewah identik dengan hidup bahagia. Sedangkan kenyataannya belum tentu demikian. Bisa saja kemewahan membawa petaka. Mengapa bisa? Sila baca.

    Dibaca : 1.019 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Oleh Bambang Udoyono, Penulis buku

    Di dalam bahasa Jawa ada kata kesiku yang jarang digunakan dalam percakapan sehari hari.  Ia lazim dipakai dalam bahasa sastra, misalnya dalam pertunjukan dan tulisan wayang. 

    Ada sebuah lakon terkenal yaitu Anoman Duto yang merupakan salah satu episode dalam Serat Romo.   Arti kata duto adalah utusan.  Dalam cerita ini Anoman diutus oleh Romo untuk pergi ke Alengko Dirojo untuk menjalankan misi spionase.  Dia ditugasi mematai matai Alengko Dirojo dan menemui Dewi Sinto di istananya Rahwono.  Tidak mudah menjalankan tugas ini karena Rahwono sudah waspada dan memiliki unit kontra intelejen sehingga Anoman terkendala.   Ketika dia dan para punokawan (Semar, Gareng, Bagong dan Petruk) tersesat di hutan Dandoko mereka bertemu dengan seorang wanita cantik bernama Dewi Sayemprobo yang mempersilahkan mereka mampir ke tempat tinggalnya.

     

    Karena kelelahan mereka bersedia mampir.  Ternyata Dewi Sayemprobo tinggal di sebuah goa.  Dulunya goa itu adalah sebuah istana sangat megah dan mewah sampai menyamai kahyangan.  Para dewa tidak berkenan lalu istana itu dikutuk menjadi goa batu.

     

    Dalam cerita wayang ternyata bermegah megahan itu tidak disukai oleh dewa sehingga mereka yang melakukannya kesiku atau mendapat hukuman dari dewa.  Bagaimana dalam Islam?

     

    Di Al Qur’an ada ayat tentang larangan bermegah megahan. Surat At Takatsur (bermegah megah) menjelaskan soal ini. Inilah terjemahannya.

    Bermegah-megahan telah melalaikan kamu

    sampai kamu masuk ke dalam kubur

    Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu) 

    dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.

    Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim 

    dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin, (Ainul yaqin artinya melihat dengan mata kepala sendiri sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat)

    kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)

    [At-Takatsur/102:1-8]

    Pertanyannya bagaimana cara mengetahui kalau kita sudah bermegah megahan atau tidak?  Apakah ada angka pasti berapa harga mobil, harga rumah dsb agar tidak berlebihan?  Sangat susah menjawabnya.  Perhitungan matematis hanya menghabiskan waktu karena situasi berubah ubah dan banyak faktor yang harus diperhitungkan.  Misalnya seorang tour leader yang sering pergi ke luar negri, tidur di hotel berbintang, makan di restaurant.  Apakah dia bermegah megahan?  Jelas tidak karena dia sedang bekerja, bukan berlibur.  Tamunyalah yang berlibur, bukan dia.  Lagipula dia tidak memakai uang pribadinya.  Uang perusahaanlah yang dia pakai membayari semuanya.

     

    Karena itu saya cenderung memakai hati saja untuk menentukan apakah sudah berlebihan atau belum.  Oleh karena itu kita harus “menghidupkan” atau menyehatkan hati.  Bagaimana cara menyehatkan hati?  Sunan Bonang menulis tembang Tombo Ati (Obat hati) yang kemudian dipopulerkan oleh Opick.    

     

    Hati yang sehat, saya yakin, akan merasakan apakah sesuatu barang itu pas atau terlalu berlebihan untuk kita.  Dengarkan bisikan hati, tapi pastikan bahwa hati anda bersih dan sehat.    Ikuti saja nasehat Sunan Bonang dalam tembangnya Tombo Ati.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


    Oleh: Hadirat Syukurman Gea

    12 jam lalu

    Analisis Sistem Jual-Beli Ijon pada Komoditas Mangga Berdasar Ekonomo Makro

    Dibaca : 83 kali

    Mangga merupakan salah satu komoditas buah yang digemari hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Mangga turut menyumbang perekonomian Indonesia karena menjadi komoditas yang di ekspor. Pada tahun 2015, ekspor mangga sebesar 1.515 jutatonyangsebagianbesarmerupakanjenis Mangga Gedong Gincu dan Mangga Arumanis. Kabupaten Kediri merupakan salahsatudaerahyang menjadikan mangga khususnya Mangga Podang sebagai oleh - oleh khas daerah dikarenakan banyaknya pohon mangga yang tumbuh di sekitar lereng GunungWilis.ManggaPodangkhasKediri banyak ditemukan di daerah sekitar lereng Gunung Wilis yaitu Kecamatan Banyakan, Tarokan, Grogol, Mojo, dan Semen. Semakin berkembang perekonomian suatudaerahmakasemakinberagam pula cara produsen dan konsumen melakukan jual beli.Salah satu sistem jual beli yang dilarang dalam Islam adalah jual beli yang mengandung unsur gharar. Sistem jual beli ijon adalah salah satu sistem jual beli yang mengandung unsur gharar sehingga dilarang oleh Allah SWT. Ijon berkaitan dengan perilaku produsen dan konsumen. Hal ini dapat dikaitkan dengan ekonomi mikro berupa keputusan pengusaha dan konsumen, terbentuknya harga barang atau jasa dan faktor produksi tertentu di pasar, dan alokasi sumber daya ekonomi.Penelitian ini menggunaka nmetode penelitian studi literatur. Jenis data yang digunakan berupa data sekunder dengan metode pengumpulan data berupa pengumpulan sejumlah studi pustaka. Berdasarkan studi literatur terkait sistem jual beli ijon dan ekonomi mikro, diperoleh hasil analisis bahwa sistem jual beli ijon dan ekonomi mikro saling berhubungan. Hal ini dikarenakan ijon berkaitan langsung dengan perilaku produsen dan konsumen dan ekonomi mikro turut mengatur perilaku produsen dan konsumen. Keywords: Ijon, Komoditas Mangga,Ekonomi Mikro