Kisah Pohon Warna - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Pohon Jati atau Wiwitan Jati. Foto: Saung Bagus Daya

Em Fardhan

Penulis Indosiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Senin, 19 September 2022 18:44 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kisah Pohon Warna

    Sebuah cerita pendek.

    Dibaca : 268 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Siapa yang tidak terpesona akan birunya langit yang menghampar luas begitu menenangkan. Siapa yang tak akan berdecak tatkala menatap pemandangan hijau sawah yang menentramkan. Juga siapa yang tak kagum kala melihat pelangi yang berwarna-warni tatkala hujan tiba. Semua keindahan itu akan terasa kala kau bisa melihat dan memang indah apa yang dilihat. Bagaimana kalau warna-warna yang menakjubkan itu lenyap sehingga yang kau lihat hanyalah gelap?

    Akan sebuah kuceritakan kisah, yang aku jamin kau tak pernah mendengarnya. Baik secara mimpi atau nyat

    Alkisah, tumbuhlah sebuah pohon warna. Semua warna yang ada di muka bumi ini berasal dari pohon warna itu. Pada awalnya dunia hanyalah terdiri atas dua warna saja: hitam dan putih. Namun, berkat pohon itu dunia menjadi berwarna seperti saat ini. Hijaunya daun, birunya laut, jingganya senja, coklatnya tanah, merahnya darah, kuningnya emas, dan banyak warna yang terdapat di setiap benda mati atau hidup juga berasal dari pohon warna itu.

    Namun, pohon itu bukan pohon sembarangan. Pohon keramat yang telah ada yang mungkin lebih tua dari bumi itu sendiri. Konon, pohon itu juga dijaga oleh sebuah kekuatan jahat luar biasa yang berasal dari kegelapan, sehingga ketika Dewan Langit ingin mengambilnya untuk bibit mewarnai dunia, ia merasa kesulitan.

    Sosok penjaga pohon itu bernama Armuka, berwujud sebuah naga yang sakti mandraguna. Pernah beberapa kali Ketua Dewan Langit mengirimkan pasukan-pasukan terbaiknya untuk menaklukkan makhluk itu, tetapi berkali-kali pula menuai kegagala

    Segala kesaktian yang dimiliki orang-orang pilihan Ketua Dewan Langit itu tak berdaya menghadapi kedahsyatan sang penjaga pohon warna: Armuk

    Armuka masih belum terkalahkan dengan kesaktian macam apapun dan senjata ampuh bagaimanapu

    Ia terlalu sakti untuk dihadapi.

    Sampai kemudian ketika musyawarah besar menjelang tahun pertama origom (satu putaran galaxy yang setara 5.125 tahun 236 hari dalam hitungan manusia manusia sekarang) berakhir, ketua dewan langit masih belum juga berhasil mewarnai dunia, sedangkan masa jabatannya akan segera berakhir.

    Dalam sebuah musyawarah besar yang dihadiri para dewan dari segala semesta itu, sang ketua tampak gelisah. Gelisah bercampur malu karena ia merasa gagal belum bisa mewujudkan cita-citanya, yakni mewarnai dunia. Sebab, sebelum berhasil mewarnai dunia, bumi akan tetap kosong tak berpenghuni, sedangkan calon penghuni bumi pertama atau manusia pertama sudah disiapkan di dalam rahim semesta.

    Tugas para dewan langit memang untuk menyiapkan segala sesuatu untuk kehidupan di muka bumi ini. Semua tumbuhan, gunung, laut, hewan-hewan sudah tersedia. Hanya satu saja yang belum terlaksana yakni warna. Sedangkan calon pemimpin bumi yang akan mengelolanya sebentar lagi akan lahir,

    Dalam kegamangannya, sang ketua megerdarkan pandangannya ke semua dewan yang hadir dalam rapat kali itu.

    “Jabatanku sebentar lagi usai, tetapi kalian tahu sendiri bahwa kita belum berhasil menaklukkan Armuka. Sedangkan calon pengelola bumi sudah siap untuk terlahir. Apakah di antara sekian yang hadir ini punya ide atau saran untuk terakhir kalinya?’’ ujar Ketua Dewan Langit.

    Semua tampak diam. Keadaan mendadak sunyi sepi. Sang ketua pun sebenarnya sadar, bahwa mereka pun sama buntunya. Sebab, selama ini sudah berbagai upaya dan cara ia kerahkan tetapi belum juga ada hasilnya.

    Semua anggota dewan tahu, kalau saja mereka belum juga bisa menaklukkan Armuka sang penjaga pohon keramat itu, kehidupan akan kembali di reset, kembali ke awal dan ketua dewan langit serta anggotanya akan dilebur dan digantikan dengan dewan yang baru. Mereka tidak takut mati, mereka hanya tidak mau mengecewakan karena sudah diberi kepercayaan untuk menyiapkan kehidupan di bumi.

    Sampai kemudian, Tahtona, penasehat Dewan Langit bersuara,

    “Maaf, Ketua dan para hadirin. Ijinkan saya sedikit berkata."

    Ketua Dewan Langit, Ramatar, mengangguk kecil, pertanda mengijinkan. Toh ia sendiri pun sudah buntu, juga para hadirin pun tampaknya juga begit

    “Semalam saya bermimpi, bahwa Sang Esa berkata bahwa hanya satu orang yang bisa mengalahkan penjaga pohon warna itu.

    Semua tampak mendengarkan penasehat dengan seksam

    Penasehat melanjutkan penuturannya, “Namun, jika kukatakan siapa orangnya, mungkin kalian termasuk sang ketua sendiri pun tak akan percaya.

    Makin penasaran lah semuanya

    “Cepat kau katakan, wahai penasehat, jangan buat kami menunggu!” tukas Ramatara dengan suara penuh wibawa.

    Tahtona menarik napas sejenak, lalu berkata juga, “Orang itu adalah tak lain putri dari ketua dewan langit sendiri, yakni Putri Ra Yin

    Mendadak gaduh lah suasana. Jelas setiap dewan tidak percaya akan perkataan Tahton

    “ Tenang … tenang, semua,” ucap Ramatara, lalu ia mendekati sang penasehat. “Apakah kau yakin yang bisa mengalahkan Armuka adalah putriku, Penasehat?"

    “Memang begitulah petunjuk yang hamba semalam dapatkan ketua. Sejujurnya saya sendiri pun meragukannya, tetapi setelah hamba pikir apa salah kita coba

    “Ijin menyela, Ketua,” kata seseorang berbadan tegap juga kekar, ia adalah Gadarma, dewa perang. Salah satu pasukan yang diandalkan selama ini dalam menaklukkan Armuk

    “Silahkan, Gadarma. Sampaikan keresahanmu.” Setelah mengibaskan jubahnya, Ramatara duduk kembali

    “Begini baginda. Menurut saya, ucapan sang penasehat bahwa orang yang bisa menaklukkan Armuka adalah tuan putri, ini jelas sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin, Aku yang selama ini dikenal sebagai dewa perang nomor satu, tidak ada yang bisa mengalahkan aku dalam perkara kesaktian pun tak sanggup untuk menaklukkan Armuka, lalu bagaimana mungkin tuan putri yang tak pernah belajar sedikitpun tentang peperangan bisa mengalahkannya

    Semua hadirin tampak manggut-manggut. Setuju dengan Gadar

    “Saya pun sama sepertimu, Gadarma. Namun, apakah kau punya ide strategi lain untuk mengalahkan Armuka

    Gadarma hanya menggeleng perlahan.

    Ramatara kembali berujar, “Semua yang hadir di sini tak ada yang tahu lagi bagaimana caranya menaklukkan naga jahat itu. Jadi usul dari sang penasehat perlu di coba. Mungkin ini memang petunjuk dari Sang Esa

    Begitulah. Akhirnya diputuskan untuk mencoba usul sang penasehat. Sebab tidak ada cara lain. Maka dipanggillah Sang Putri Ra Yin, untuk hadir di musyawarah itu. Sekaligus untuk menanyakan apakah sang putri siap untuk menjalankan tugas berat itu.

    Semua para hadirin awalnya yakin bahwa putri Ra Yin akan menolak dan ketakutan, tetapi ternyata tidak. Meski Putri Ra Yin yang cantik jelita itu lemah gemulai tetapi tampaknya mewarisi sifat ayahnya yakni pemberani.

    Putri Ra Yin menyatakan kesanggupannya atas tugas itu. Tanpa keraguan sedikitpu

    “Apakah kau yakin, Putriku? Ketahuilah, tugas ini sangatlah berat dan serius, sebab, Armuka tidak pernah terkalahkan. Sekarang justru saya yang penasaran, dengan cara atau senjata apakah kau mengalahkan makhluk itu?” kata Ketua Dewan Langit kepada putrinya di hadapan para hadirin.

    Sang putri menjawab dengan penuh kelembutan, “Ayah. Saya memang tidak sakti, tak pernah belajar sedikitpun tentang ilmu peperangan. Selama ini kalian salah. Kita tidak akan pernah bisa mengalahkan Armuka dengan segala macam kekuatan dan kesaktian atau senjata apa pun, Armuka tidak akan pernah kalah dengan itu semua. Ia hanya kalah oleh satu hal

    “Cepat katakan, Putriku,” sambut Ramatara tidak sabaran

    Para hadirin pun terlihat tegang sekali, saking penasarannya.

    “Armuka hanya bisa dikalahkan dengan cinta dan kasih sayang,’ ujar Putri Ra Yin dengan lembut. Mata lentiknya berpijar-pijar indah sekal

    “Cinta? Kasih sayang? Apakah kau yakin itu, Putri?

    “Saya sangat yakin, Ayah."

    Sebab tak ada ide lain untuk mengalahkan Armuka, akhirnya semuanya menerima bahwa Putri Ra Yin lah yang akan menghadapi Armuka. Meski mereka ada kekhawatiran dan ketakutan akan kegagalan yang mungkin akan menewaskan putri, sejujurnya ada sisi lain yang mereka rasakan yakni penasaran, penasaran apakah benar Cinta dan kasih sayang bisa mengalahkan Armuka sang makhluk jahat luar biasa tanpa tandingan

    **

    Sampailah waktu di mana Sang Putri mendatangi tempat pohon warna yang tentu juga di jaga oleh Armuka. Sang putri hanya didampingi oleh Gadarma dan Gidarma, dua pasukan perang utama kerajaan langit.

    Pohon warna itu terletak di sebuah lembah yang sangat curam, masih di planet bumi juga

     

    Seperti sebelum-sebelumnya, begitu mereka mendekati tempat itu, sang naga sudah mampu menyadari kehadiran mereka. Naga itu keluar lalu melayang di udara sesaat, lalu mendekat kepada Gadarma dan Gidarma. Gemetarlah mereka, sebab kali ini tampaknya Armuka marah sekali. Beberapa waktu yang lalu, Armuka sudah mengingatkan agar tidak di usik lagi tetapi ternyata mereka kembali lag

     

    Gadarma dan Gidarma memang tidak bisa mati, tetapi Armuka sanggup melenyapkan makhluk abadi seperti para dewa. Dengan kesaktiannya, Armuka sanggup menggunakan energi hisap Black Hole semesta untuk melenyapkan siapa saja yang mengangguny

     

    Itulah kesaktian Armuka hingga ia menjadi begitu tak terkalahkanny

     

    “Kalian tak punya jera untuk mengangguku rupanya, wahai makhluk lemah!” sambut Armuka begitu ia berada di hadapan Gadarma dan Gidarm

     

    “Tunggu, Armuka. Kali ini kami ingin damai!’’ teriak Gadarma ketika melihat Armuka hendak mengeluarkan bola apiny

     

    “Benar. Kali ini kami datang dengan damai!” tambah Gidarm

     

    Armuka yang sudah siap mengeluarkan bola api seketika berhenti, penasaran juga rupany

     

    Lalu sang putri yang sejak tadi bersembunyi di balik bukit, kini menampakkan wujudny

     

    “Benar, wahai penunggu pohon warna. Kami datang dengan damai,” ujar sang putr

     

    Namun, sikap sang putri mendadak aneh juga. Ia merasa sangat mengenal Armuka, padahal ia baru pertama kali ini melihatny

     

    Begitu pun Armuka ketika melihat putri Ra Yin, menjadi berbeda sorot matanya. Tadi yang menyala-nyala penuh amarah kini perlahan surut dan akhirnya memudar, hilan

     

    Jelas sangat bisa diartikan kalau Armuka terpesona dengan keanggunan sang putri. Namun, apakah seekor naga bisa mempunyai rasa kagum atau jatuh cinta pada pandangan pertama misalnya? Entahlah, yang pasti kini Armuka menjadi tenang, tidak seagresif tad

     

    “Bagaimana, Armuka. Apakah kau mau berdamai dengan kami?” ujar Gadarm

     

    Armuka mengibaskan ekor perlahan, kemudian menyahut, “ Apa yang hendak kalian rencakanan?

     

    “Jika sebelumnya kami memaksa engkau untuk mengambil pohon warna, kali ini ijinkan kami melihatnya saja. Perkara kau mau memberikan atau tidak, itu tak jadi soal,” ujar Gidarm

     

    Sang putri yang sejak tadi merasa aneh begitu melihat Armuka, segera ikut bersuara, “benar, wahai penunggu pohon warna. Ijinkan kami melihatnya saja.

     

    Armuka terdiam sesaat. Baru kali ini ia diserang kebimbangan

     

    Kalau saja hanya dua orang yakni Gidarma dan Gadarma yang meminta, ia akan tegas langsung menolak dan mengusirnya. Namun, kali ini yang meminta adalah Putri Ra Yin, yang diam-diam ia kagumi sejak pertama tadi melihatny

     

    “Bagaimana, Armuka! Apakah kau bersedia?’’ teriak Gadarma menegaska

     

    Baiklah, tetapi ada syaratnya. Jika kau memberikan putri itu kepadaku, jangankan hanya melihat pohon warna itu, kau ambil pun tak ap

     

    Kali ini Gadarma dan Gidarma lah yang menjadi bingung. Sebab, bagaimanapun ia harus mengalahkan tanpa ada korban, apalagi tuan putri sendir

     

    “Tidak! Tidak bisa! Kami menolak!” pungkas Gadarma dan Gidarma hampir bersamaa

     

    “Baiklah. Aku Setuju,’’ susul sang putr

     

    “Putri!” ujar Gadarma kepada putri Ra Yin. “Jangan

     

    Sang putri memberi isyarat agar Gadarma dan Gidarma tenang. Sambil tersenyum ia mendekati Armuka, kemudian ia mengelus-elus tubuh naga hitam legam itu dengan penuh kelembuta

     

    “Ru Yang, apakah ini kau?’’ bisik Sang Putri dengan lembu

     

    Begitu disebut nama Ru Yang, Armuka seketika terkejut. Ru Yang adalah nama asliny

     

    “Kau tahu nama asliku, Putri?” ujar Armuka keherana

     

    “Bagaimana mungkin aku tak mengenali itu kau, kau selalu hadir dalam mimpiku, Ru Yang.” Sang putri tampak bahagia

     

    Lalu secara ajaib tubuh Armuka menyungsut perlahan dan berubah menjadi seorang pemuda tampan luar bias

     

    Gadarma dan Gidarma tampak terkejut, masih belum percaya dengan apa yang mereka liha

     

     

    “Sebenanya dia siapa, Putri?’’ tanya Gadar

     

    “Kenapa bisa berubah?” susul Gidarm

     

    Sang putri memandang kepada kedua pengawal itu, lantas tersenyu

     

    “Dia adalah jodoh yang telah ditakdirkan olehku. Selama ini aku selalu mencari-cari orang yang selalu datang dalam mimpiku, tak kusangka ia adalah Armuka

     

    Kini Armuka yang sudah berubah menjadi Ru Yang itu tak terlihat menyeramkan lagi. Meski ia tak bisa tersenyum, tetapi berkat ketampanannya yang luar biasa ia jadi membuat kagum kepada pengawal sang putr

     

    “Ya, aku adalah jodoh Sang Putri di rengkarnasi masa lalu. Yang selama ini menunggu kehadiran putri. Tahukah kau, bahwa pohon warna yang aku jaga mati-matian itu  karena akan kujadikan hadiah kepada putri yang aku tunggu-tunggu itu. Yang sekarang ada di hadapanku ini. Jadi kau tak perlu lagi melihat, sebab akan kuberikan langsung kepada putri.

     

    kedua pengawal itu tersenyum lega. Susah payah selama ini ia merebut dari tangan Armuka, kini justru di hadiahkan sendiri olehny

     

    “Sekarang aku ingin tahu, kenapa kalian begitu bernapsu memiliki pohon warna itu?’’ bertanya Armuka kepada Gadarma dan Gidarm

     

    Lalu kedua pasukan tempur pilihan itu menceritakan kepada Ru Yang secara bergantian, bahwa pohon warna itu akan ia jadikan biang untuk mewarnai dunia. Sebab tanpa warna, dunia tidak akan bisa berjalan seimban

    Sang Putri juga membenarkan penuturan kedua pengawalnya.

     

    Ru Yang tampak manggut-manggut, berusaha mencerna setiap perkataan merek

     

    “Begini. Tidak semudah itu mengambil bibit dari pohon warna lalu kalian pakai mewarnai bumi, itu akan menghabiskan waktu yang cukup lama, itu pun kalau benar cara kerjanya,” ujar Ru Yan

     

    Mereka, Gadarma dan Gidarma tampak terkejut, termasuk tuan putri. Mereka nampaknya melupakan it

     

    “jadi, bagaimana caranya?” kali ini Putri Ra Yin yang berkat

     

    “Kita harus menikah. Dan hasil cinta kita lah nanti yang bisa melakukannya

     

    “Maksudnya, anak kita

     

    “Ya. Anak kita

     

    Akhirnya Ru Yang dan Ra Yin menikah. Mereka punya anak, yang diberi nama Bi Yang La. Karena Ru Yang adalah jelmaan naga, Bi Yang La juga mewarisi gen naga. Ia terlahir sangat tampan mewarisi wajah ayahnya, sedangkan sikapnya lembut penuh kasih sayang menurun dari ibuny

     

    Dengan cara menelan bulat-bulat pohon warna itu, lalu menggunakan media hujan ia membantu ketua dewan langit untuk mewarnai dunia secara alami. Air yang telah mengenai kulitnya akan menjadi berwarna hingga rata lah semua,  sebab air bersifat meresa

     

    Bi Yang La hanya bisa melakukan tugasnya mewarnai dunia tatkala hujan tiba saja, sampai saat ini. Sekarang kita masih bisa melihatnya yaitu yang kita kenal sebagai pelang

     

    Lalu cerita yang kita dengar bahwa akan ada bidadari saat adanya pelangi, adalah sebenarnya bidadari-bidadari atau putri-putri dewa itu kepincut dengan ketampanan Bi Yang La. Mereka akan mandi begitu Bi Yang La muncul ke dunia untuk melakukan rutinitas mewarnai dunia. Berharap bahwa mereka bisa mengambil hati Bi Yang La dengan cara memamerkan tubuhnya. Namun, saat ini Bi Yang La tak pernah kepincut. Ia tetap setia melakukan tugasnya yakni mewarnai dunia ketika hujan tiba.

     

    .

    End.

     

    *Cerita ini murni fiktif semata. Tidak ada unsur menghina atau mengarahkan ke suatu kepercayaan dan keyakinan tertentu. Hanya untuk dinikmati, bukan untuk diimani.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     i.,

    .a.i.p.a..”?”.”a.u.g.a. g.a.a.’’i..”m.a.ma.t.a.. n.a.t.n.!”i.n.i.a.n.a.. ’’a.’’a.i.g.a.i.a.a.a.a.a.a.a.i.. t.**n?.”?”i.a.r..”n.n.i.u..”n.?”ma.?”.”a..”?”a..”a.. .”a.u.u..”a.i.. t.u.r.a.r.i.n.a.n.n.u.a.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     i.,

    .a.i.p.a..”?”.”a.u.g.a. g.a.a.’’i..”m.a.ma.t.a.. n.a.t.n.!”i.n.i.a.n.a.. ’’a.’’a.i.g.a.i.a.a.a.a.a.a.a.i.. t.**n?.”?”i.a.r..”n.n.i.u..”n.?”ma.?”.”a..”?”a..”a.. .”a.u.u..”a.i.. t.u.r.a.r.i.n.a.n.n.u.a.urni fiktif semata. Tidak ada unsur menghina atau mengarahkan ke suatu kepercayaan dan keyakinan tertentu. Hanya untuk dinikmati, bukan untuk diimani.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Em Fardhan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.