Geliang - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Rabu, 21 September 2022 11:28 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Geliang

    Netai merasa asing yang hebat, ada pertalian putus, dirinya tidak tahu bagaimana untuk merajutnya. Tiada seorang pun yang memberikan jawaban yang memuaskan dahaganya atas jalan hidup. Tetapi, ibunya telah berpesan kepada Netai sebelum pergi meninggalkannya sejak dua bulan lalu sebelum dirinya memilih menghabiskan liburannya hanya di tempat ini. “Jagalah jalanmu, Tai.”

    Dibaca : 233 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Musim hujan untuk hari-hari yang berkabut dalam kesunyian pada dunia yang dipenuhi oleh nuansa antara. Seseorang memandang mimpi galaksi, begitu jauh, terhubung untuk rangkaian bilateral dan argumen paling konsisten tentang konflik atas evolusi sejarah. Tiada yang benar-benar pasti selain bayang-bayang kesendirian, menatap transformasi cukilan perang dingin.

    Dan, dialog dualitas untuk ketidakberadaan seringkali menunjukkan masalah heteron.

    Mungkin, ini yang sedang dialami oleh Netai kini. Pemuda kelahiran wilayah pesisir utara di selatan yang yang harus berganti pola hidup pada masa kecilnya untuk menjadi bagian dalam masyrakat agraris. Dirinya tidak dapat menolaknya, selain mengikuti jalan panjangnya sebagai anak-anak yang masih di bawah usia, dan masih dalam perlindungan orang tua.

    Ada sudah kau dapat? Hampir tiga jam duduk melihat gelapnya lautan. Kerangmu dingin!

    Perkotaan telah membentuk Netai menjadi pemuda yang cenderung pasang surut. Antara pertanyaan dan semua hal yang diingatnya begitu samar seakan masa lalu hanyalah desain masa depan. Masa kecilnya terpampang serupa pola linier animasi bernuansa naif. “Aku masih ingat beberapa hal di pantai ini, tapi semua itu seperti mimpi.

    Sudahlah... Masih banyak waktu untuk mengenang sambil mengingat kembali semua yang hilang, kau akan tinggal di sini sebulan?! Bersenang-senanglah. Ambil kerangmu dan nikamti malam ini.”

    Detak yang mengikat pergelangan tangan Netai bergetar, bola matanya spontan melirik dan digitnya menunjukkan pukul satu duapuluh enam dini hari. Tanpa terasa hari bergerak dengan cepat. Namun unggunnya api masih meliukkan baranya, mengikuti sapuan angin. Kawan-kawan di masa kecilnya terlihat bersenang-senang dengan berbagi cerita yang dirinya tidak lagi ada sebagai masa lalunya.

    Netai merasa asing yang hebat, ada pertalian putus, dirinya tidak tahu bagaimana untuk merajutnya. Tiada seorang pun yang memberikan jawaban yang memuaskan dahaganya atas jalan hidup. Tetapi, ibunya telah berpesan kepada Netai sebelum pergi meninggalkannya sejak dua bulan lalu sebelum dirinya memilih menghabiskan liburannya hanya di tempat ini. “Jagalah jalanmu, Tai.”

    Tempat yang hanya diingatnya, bahwa; seorang anak pernah terlahir di rumah teduh pesisir.

    Rumah dengan anyaman daun kelapa dengan sulurnya yang khas bertekstur gelombang, yang telah hilang wujud menjadi jalan utama para wisatawan lokal dan mancanegara. Rumah yang diingatnya menjadi landasan papan reklame. Natai merasakan pelepasan sepenuhnya. Adaptasi diri yang penuh rekreasi dan menyikapi bentangan yang tersisa, yang secara tanpa sadar telah menghantarnya untuk bernuansa statis tentang dunia yang bernuansa antara.

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.