Cemas vs Waras - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Pinterest

Dien Matina

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2022

Rabu, 21 September 2022 11:33 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Cemas vs Waras


    Dibaca : 497 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pak Paul Tillich pernah berkata, "Seseorang tidak dapat menghilangkan kecemasan dengan membantahnya." 

    Benar adanya. Tak perlu dibantah, terima saja. Kecemasan seperti rindu yang suka datang karena alasan tertentu, lama tak bertemu misalnya. Dan setiap orang punya kecemasannya sendiri-sendiri yang tak bisa dihindari. Masalahnya adalah jika cemasnya terlalu sering, berlebihan, dan tanpa alasan yang kuat, itu berbahaya. Menurut para pakar itu namanya gangguan kecemasan alias anxiety disorder. Saya tidak akan membahas apa dan bagaimana anxiety disorder, kalau mau tahu silakan "gugling" saja atau bertanya langsung kepada ahlinya. Hanya saja belakangan di era pandemi semakin banyak orang yang mengalami cemas berlebihan yang ujungnya bukan hanya stres tapi bunuh diri. Ngeri!

    Bayangkan saja beberapa bulan terakhir di lingkungan tempat tinggal ibu saya ada tiga orang yang memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Kebetulan ketiganya berjenis kelamin laki- laki dengan masalah utama hutang, PHK dan cinta. Jadi, apakah kebetulan ini membuktikan kalau perempuan lebih strong menghadapi tekanan hidup? Bisa jadi itu benar. Yang suka ngeremehin perempuan itu mahluk lemah, anda salah. Kalau menangis jadi patokan kelemahan, anda juga salah. Ada laki-laki yang tidak menangis karena gengsi tapi memilih mabuk-mabukan lalu ngromyang cecurhatan. Maka masalahnya bukan di nangisnya kan, tapi bagaimana cara meluapkan emosinya. 

    Sementara bicara cinta memang tidak ada habisnya, merembetnya kemana-mana. Setuju tidak kalau saya bilang cinta itu sumber masalah sekaligus sumber bahagianya manusia? Hal sederhana yang jadi rumit di kepala manusia. Pada kasus tetangga ibu saya, dia memilih menyelesaikan hidup karena sungguh menyakitkan tak bisa bersama orang yang paling disayang. Hidup terasa hampa tak berguna. Tiap hari bertemu tapi cinta tak bisa menyatu. Kesal, sedih, kecewa yang dirasakan setiap hari sungguh menyiksanya. Barangkali lebih menyakitkan dari siksa api neraka. Hebatnya sebelum 'pergi' dia berpamitan dengan perempuan pujaan hatinya itu lewat video call WhatsApp. Semacam pembuktian diri tentang cinta sampai mati. Padahal mbak pacarnya itu berstatus istri orang. Piye, miris kan. Sebuah beban berat perselingkuhan. 

    Eh,..., saya jadi ingat lagunya Om Muchsin Alatas, Pasrah. "Lebih baik aku mati di tanganmu, daripada aku mati bunuh diri. Lebih baik kau bunuh aku dengan pedangmu, asal jangan kau bunuh aku dengan cintamu. Ku tak menyesali kalau diri ini engkau jadikan diriku cinta kedua darimu, biarlah aku terima."

    Sayangnya masnya tidak sanggup seperti itu, keukeuh bunuh diri dan tidak rela menjadi nomer dua. Malah kabar terbaru dia jadi hantu yang suka mengganggu tetangga kiri kanan. Ketuk-ketuk jendela atau pintu atau duduk di antara pepohonan di dekat pos ronda. Duh, mas, kenapa sih nambahin cemasnya tetangga. 

    Sedangkan soal hutang, tidak dipungkiri menghadapi ini tidak mudah, pandemi pun semakin memperparah. Kebutuhan semakin tinggi sementara pendapatan segitu-gitu aja malah cenderung berkurang atau malah nol karena PHK. Nah di kasus tetangga ibu saya, yang satu putus asa tidak tahu harus bagaimana setelah di PHK padahal dia tulang punggung keluarga. Satunya lagi hutang menumpuk karena menuruti semua permintaan kekasihnya. Kan, lagi-lagi karena cinta. Permintaan demi permintaan sang pacar menggrogoti kantongnya. Hutang terooss, lama-lama menggunung lalu bingung dan super cemas tidak bisa membayar lunas. Kalau sudah seperti ini siapa yang disalahkan? Hati yang mengutamakan cinta, logika yang tak digunakan sebagaimana mestinya, atau Korona yang (katanya) hasil konspirasi para petinggi dunia?

    Kita memang sedang tak baik-baik saja, kecemasan dimana-mana. Chaos. Covid-19 yang belum juga tuntas, dolar yang sangat tidak stabil, perekonomian dunia yang amburadul, perang, perpolitikkan yang semakin nganu sampai katanya pak SBY akan turun gunung, isu-isu sosial, kemanusiaan, sampai kabar tentang beberapa wujud manusia yang ber-attitude 'istimewa' dengan prank-prank ajaibnya, pembunuhan yang melibatkan para petinggi, Bjorka dan himbauan pak Menteri untuk menjaga data pribadi dan NIK sendiri, belum lagi serbuan kata-kata netizen yang maha benar. Yang lucu ya menghibur, yang baik jadi penyemangat. Yang hanya menghujat, nge-bully dan nyinyir itu yang sangat disayangkan. Rasanya jadi susah untuk pura-pura tak khawatir. Cemas jadi makanan sehari-hari selain nasi. Tidak kepo kok ya penasaran kabar terkini, baca berita kok ya malah gemes. Serba salah. Aku kudu piye jal. 

    Makanya anjuran social distancing itu ya perlu, bukan hanya untuk Covid tetapi juga untuk menjauhi segala apa yang ber-poison. Mau bicara-bicara, sharing, ngomel, ghibah, atau menghibur diri dengan cerita-cerita lucu, aneh dan nggak penting-penting amat bisa dilakukan tanpa harus bertemu dan nongkrong bareng, di WhatsApp Grup misalnya. Tetapi realitanya situasi yang mulai membaik jadi alasan untuk kembali mengadakan pesta, konser, reuni, nongki cantik, dan piknik ngabisin duit yang dianggap sebagai healing biar tidak sakit. 

    Iya, kita ini sedang tak baik-baik saja. Tapi semoga segala hal buruk tak berlarut-larut, hidup tak semakin carut-marut. Mari bersama saling menguatkan di tengah kondisi yang semakin ambyar ini.

    Silakan jaga hati dan diri. Dipakai maskernya agar supaya terlindungi dari debu-debu kehidupan. Jangan lupa cuci tangan, kaki, rambut, baju, dan semua yang perlu dicuci. Jangan sibuk memikirkan dia yang tak memikirkanmu. Jangan ribet mencintai dia yang blas tidak mencintaimu balik. Pokoknya jangan. Singkirkan rindu-rindu yang berpotensi menyakiti hati, seperti rindu mantan yang sudah happy-happy dengan yang lainnya, misalnya. Cukup, di-cut saja ya. 

    Akhir kata.

    Sate kambing warung pak Iwan. Tambah nasi dan lumpia. Stay safe everyone. Tetaplah waras dan bahagia. 

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Dien Matina lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.