x

Google

Iklan

Dien Matina

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2022

Rabu, 12 April 2023 19:38 WIB

Pesona Film-film Karya Sineas Timur Tengah

Perfilman Timur Tengah mulai bangkit terutama di Iran dan Libanon, setelah puluhan tahun vakum karena berbagai alasan. Muncul sineas-sineas baru dan film-film yang mengangkat isu sosial, politik, dan agama yang relate dengan kehidupan masyarakat Timur Tengah, dan berhasil memboyong berbagai penghargaan internasional. Dari berbagai judul yang dirilis, inilah rekomendasi 15 drama dengan insigt dan pesonanya tersendiri.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

1. About Elly 

Sejujurnya, saya nonton film ini kesal dan ikutan depresi karena konflik yang terjadi. Hilangnya Elly membuat suasana gaduh. Keributannya bikin saya lelah, ditambah endingnya yang misteri, tidak ada keterangan yang jelas kemana perginya Elly. Tapi saya suka mbak-mbak Iran ini, cantik-cantik banget,  aktingnya juga mengalir natural. About Elly mendapatkan rating 7,9/10 dari situs IMDb. 

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

2. Under The Shadow 

Meski lokasi cerita dan bahasanya Iran, Under the Shadow diproduksi di Inggris dan menjadi wakil Inggris untuk Academy Awards kategori Best Foreign Language di tahun 2016. Sekali-kalinya saya nonton film horor berbahasa Persia yang berlatar kota Teheran tahun 1988, di mana saat itu politik sedang memanas karena perang Iran-Irak yang berlangsung selama hampir satu dekade. 

 

 

3. A Separation 

Film persembahan Asghar Farhadi yang juga sutradara film About Elly. Sesungguhnya ya, kisahnya sederhana dan sering terjadi di sekitar kita, tetapi berakhir dalam pertentangan dan konflik yang pelik. Perpisahan yang tidak pernah diinginkan siapapun, korbannya ya anaknya. 

 

 

4. Circumstance 

Kita paham bagaimana pemerintahan Iran. Jangankan bikin film tentang hubungan sesama jenis nan erotis, pakai kerudung yang dianggap tidak pas seperti Mahsa Amini saja berakhir tragis, maka cara teraman bagi sang penulis sekaligus sutradara, Maryam Keshavarz, untuk mewujudkan film Circumstance adalah dengan memproduksinya di Libanon dan diperankan oleh aktris yang tinggal di Amerika Utara, Atefeh (Nikohl Boosheri) dan Shireen (Sarah Kazemy). 

Iran boleh saja memblokir penayangan film 'haram' ini, tapi ternyata di luaran Circumstance mendapatkan pujian para kritikus film atas penggambaran masyarakat Iran. Film yang membuka mata bahwa budaya patriarki sudah begitu mengakar hingga perempuan hanya menjadi warga kelas dua yang didikte keadaan. 

 

 

5. Turtles Can Fly 

Saya patah hati nonton film ini! 

Sutradara kelahiran Kurdistan Iran, Bahman Ghobadi, mengangkat cerita tentang kehidupan anak-anak korban perang di pengungsian kumuh suku Kurdi, di antara perbatasan Irak dan Turki. Tidak ada apapun bagi mereka kecuali kemiskinan yang miskin banget, kesedihan yang membawa trauma dari luka batin sampai cacat tubuh, dan ketidakpastian hidup. Turtles Can Fly ber-setting saat-saat mendekati invasi Amerika Serikat ke Irak, yang berakibat jatuhnya Saddam Hussein. 

Dan saya takjub dengan anak-anak ini, sungguh natural mereka, terutama gestur Agrin (Avaz Latif). Agrin yang diceritakan korban perkosaan tentara Irak dan memiliki anak balita yang buta, Riga (Abdol Rahman Karim), tinggal bersama kakaknya, Hengov (Hiresh Feysal Rahman), yang kehilangan kedua tangannya karena sebuah ledakan. Sepertinya, sesedih-sedihnya saya nggak ada apa-apanya dibanding mereka. 

 

 

6. Children from Heaven 

Drama Iran yang diproduksi tahun1997 ini judul aslinya Bacheha-Ye aseman dan disutradarai oleh Majid Majidi. Children of Heaven adalah tentang hidup dalam sepenuhnya harapan, kebahagiaan yang seakan hanya ilusi, tentang kasih sayang, tanggung jawab, semangat dan tentang ingatan, bahwa menjadi tulus itu sejatinya menghangatkan hati. 

 

 

7. The Color of Paradise 

Sutradara Children from Heaven, Majid Majidi, kembali menghadirkan pesan-pesan sederhana namun penuh makna dalam The Color of Paradise. Seperti yang disampaikan Mohammad, anak laki-laki tunanetra yang mampu 'melihat' bagaimana bentuk kasih sayang. 

Our teacher says that God loves the blind more because they can't see. But I told him if it was so, He would not make us blind so that we can't see Him. 

He answered, "God is not visible. He is everywhere. You can feel Him. You see Him through your fingertips." 

Now I reach out everywhere for God, till the day my hands touch Him, and tell Him everything, even all the secrets in my heart. 

 

 

8. The Salesman 

Setelah A Separation, Asghar Farhadi hadir dengan The Salesman. Film kedua yang berhasil meraih Oscar untuk kategori Best Foreign Language. Seperti film-filmnya yang lain, Farhadi berhasil menghadirkan konflik dari sebuah peristiwa yang dialami oleh sepasang suami istri kelas menengah di Teheran. 

 

 

9. The Past 

Film ini berasal dari Perancis yang aslinya berjudul Le Passe, tetapi digarap sutradara Iran, Asghar Farhadi. The Past masuk nominasi Palme D'Or dalam gelaran Festival Film Cannes 2013 dan mendapat rating 7.8/10 di IMDb. Film ini berkisah tentang seorang pria Iran yang harus terlibat dalam konflik keluarga mantan istrinya di Perancis, begitu rumit. 

 

 

10. Capernaum 

Capernaum seperti kembali mengingatkan saya untuk 'grounding' dalam menemukan bahagia dari hal-hal kecil. ⁣⁣ 

Mbak sutradara, Nadine Labaki, tidak menjual kesedihan negerinya, justru ia memperlihatkan pada dunia, ini loh hasil ribut-ribut perang yang tak berkesudahan. Anak-anak dilahirkan hanya untuk menikmati kesengsaraan. 

⁣⁣Adalah Zain Al-Hajj (Zain Al Rafeea) tokoh utama Capernaum, bocah laki-laki Libanon usia 12 tahun, yang jangankan sekolah, makan aja kadang cuma, kuah! ⁣⁣Puncak kesedihan Zain adalah kematian Sahar (Haita Izam), adik perempuannya yang hamil setelah 'dijual' ke pemilik toko kelontong. ⁣⁣ 

Jahanam sih emak bapaknya, jualan anak dalihnya untuk mengurangi beban ekonomi, tapi duitnya yang tak seberapa itu malah buat beli rokok dan kebutuhan sendiri. ⁣⁣Mungkin memang tujuan mereka nikah untuk beranak pinak lalu menjual hasilnya. Saya kok kesal ya ke mereka, ingin rasanya saya bawa pulang ke rumah anak-anak itu. 

Maka tak berlebihan kalau Zain menuntut orangtuanya ke pengadilan karena melahirkan dia. Jika tak bisa memberi kehidupan yang layak, mbokya jangan melulu punya anak. Zain sejatinya serupa kita yang menginginkan kebahagiaan. Bedanya dia simpel, hanya minta ibunya berhenti hamil dan mengasuh anak-anaknya dengan layak. ⁣⁣Sementara bahagia bagi orang dewasa seakan begitu berat dan rumit. Melihat diri utuh, sehat, bisa makan sehari tiga kali, ada pekerjaan, dan ada tempat tinggal pun masih sering sambat. Kurang ini kurang itu. Bayangkan jadi Zain yang tak pernah tahu gimana rasanya menjadi 'anak-anak' karena waktunya habis untuk⁣⁣ bekerja dan menjaga adik-adiknya. ⁣⁣Jadi pantaslah film ini mendapat standing ovation selama 15 menit di Cannes 2018. 

 

 

11. Incendies 

Dengan rating 92% dari situs RottenTomatoes, dan 8,2/10 dari IMDb, saya pastikan film ini bagus. Saya sudah nonton dua kali, ngomong-ngomong, dan tetap merasa—ada sebagian hati saya yang patah. 

Sisihkan 131 menit waktu anda untuk menonton hasil karya sutradara Denis Villeneuve. Drama berlatar perang sipil Timur Tengah di akhir 90-an yang sungguh kelam. Lapis demi lapis teka-teki perjalanan hidup sang ibu, Nawal Marwan, kakak laki-laki dan ayah si kembar Jeanne Marwan dan Simon Marwan akan diungkap dalam alur yang silih berganti. 

Dari adegan pembukaannya saja kita akan merasakan kesuraman. Diiringi You and Whose Army—Radiohead, serta tatapan gelisah anak-anak yang dipaksa keadaan untuk terlibat dalam konflik perang, yang seolah mengatakan, "Hidup tak selalu seperti yang kamu inginkan, tak peduli siapa dirimu, bersiaplah untuk kejutan demi kejutannya."

 

 

12. Where Do We Go Now? 

Masih dengan nuansa konflik di Libanon, Nadine Labaki kembali mempersembahkan film epic, Where Do We Go Now?  

Ber-setting sebuah desa terpencil di Lebanon yang seperti terisolasi karena jauhnya akses ke kota dan banyaknya ranjau di sepanjang jalan menuju desa. Ranjau-ranjau sisa konflik antar agama yang terjadi di luar desa. 

Tidak ingin keadaan di luar sana memecah-belah warga desa, the power of emak-emak selalu sigap mengatasi situasi. Emak-emak tangguh yang tak terpengaruh isu-isu politik dan agama, karena sudah terlalu muak dengan kekerasan, peperangan, dan kematian yang tak kunjung usai. Apa saja yang dilakukan mereka demi sebuah perdamaian dan ketenangan? Nonton dong.. 

 

 

13. Caramel 

Mbak Nadine Labaki ini layak jadi sutradara idola, selain cantik khas Libanon, film-filmnya daging semua. Seperti Caramel ini yang ceritanya berpusat di sebuah salon kecantikan. 

Adalah Layale, diperankan Nadine Labaki sendiri, yang pacaran dengan laki-laki beristri dan ditaksir pak polisi ganteng yang hampir tiap hari menilangnya. Nisrine, seorang stylist Muslim, bertunangan dengan seorang pria dan merahasiakan bahwa ia sudah tidak perawan lagi. Jamale, seorang aktris, yang ingin selalu terlihat muda. Rima yang cuek dan lesbian. Dan Rose, ibu-ibu penjahit yang jatuh cinta di usia 60-an. Perempuan-perempuan berbeda usia dari kota Beirut ini digambarkan sedang mengupayakan secuil kebahagiaan dari hidup yang terikat kuat oleh tradisi, tekanan sosial dan agama yang sering menjadi penyebab ketegangan, rasa bersalah, dan ketakutan. 

 

 

14. Under the Bombs 

Ini seperti film semi dokumenter, karena berlatar belakang perang Amerika Serikat-Israel melawan Libanon pada musim panas 2006. Diperlihatkan banyak bangunan, rumah, gedung, dan jalan rusak parah. Sebagian warga memilih mengungsi karena bom masih terus berjatuhan, sebagian tinggal di tempat-tempat yang dianggap aman. 

Di tengah konflik dan hujan bom, Zeina, perempuan Syiah yang berimigrasi ke Dubai, ke sana ke mari mencari anak dan adiknya yang berlibur ke Libanon, ditemani Toni, satu-satunya sopir taksi yang mau mengantarnya. Dan perang-perang itu membuat saya bertanya-tanya, apakah damai di bumi ini hanya mimpi?

 

 

15. Gett : The Trial of Viviane Amsalem 

Film asal Israel ini ditulis dan disutradarai oleh duo bersaudara Shlomi Elkabetz dan Ronit Elkabetz. Tema yang sama dengan film A Separation, di mana sepanjang film penonton akan diajak ke ruang sidang dan melihat sidang perceraian yang alot, ribet, rumit, dan melelahkan hayati. Perasaan saya saat nonton Gett ini, ya emosi jiwa. Bagaimana tidak, sidang perceraiannya menghabiskan waktu 5 tahun, karena pihak suami bersikukuh tidak ingin bercerai. Ditambah ribut-ributnya di ruang sidang itu membuat tekanan darah saya meninggi, 3 Rabbi yang menjadi hakim sidang juga kurang tegas. 

Salah satu hal yang membuat perceraian begitu sulit di Israel adalah, jika tak ada persetujuan dari pihak suami, perceraian juga tidak akan bisa terjadi. Adilkah ini? 

 

Selamat menonton! 

 

 

Ikuti tulisan menarik Dien Matina lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler