Novel Rayni N. Massardi: Perjuangan Hati Seorang Perempuan - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Rayni N Massardi. Istimewa/Facebook

atmojo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 23 September 2022 19:31 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Novel Rayni N. Massardi: Perjuangan Hati Seorang Perempuan

    Tentang seorang perempuan yang memilih hidup menyendiri di sebuah kota kecil. Dia ingin memulai dari nol dan berharap bertemu dengan hati yang baik. Dia rindu ketulusan.

    Dibaca : 1.389 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Novel Langit Terbuka ini ditulis Rayni N. Massardi di Bali dan Bintaro pada 2014 dan diterbitkan oleh Kakilangit Kecana pada tahun yang sama. Berkisah tentang perjuangan hati yang hening dari seorang perempuan bernama Sila. Terhempas oleh beragam masalah, sarat dengan acaknya cinta, hati, dan pikiran; dia ingin bangkit kembali dari titik nol pada sisa waktu dan umurnya.  Dalam kesendiriannya di tempat baru, Sila mengharapkan keajaiban dalam perjalanan hidupnya untuk dapat bertemu dengan seseorang yang berbeda. Dia ingin berjumpa lagi dengan hati yang baik, dan dia rindu akan ketulusan. Tapi ternyata itu tidak mudah.

    Kisahnya dimulai dengan seorang perempuan bernama Sila yang langsing, tidak terlalu tua, tidak muda, tidak remaja, berkuit gelap, duduk sendiri di tempi pantai. Sudah enam bulan dia tinggal sendirian dalam sepi di sebuah kota kecil. Dia memutuskan begitu karena baginya semua manusia tidak ada lagi yang bisa menerima keinginan, rasa, kehendak, dan filosofi hidupnya. Tidak ada satu pun orang yang mengerti. Atau sebaliknya. Dia merasa sudah tidak punya kemampuan untuk memahami, atau bertoleransi dengan orang lain. Makanya, dia memutuskan untuk mejauh dari permasalahan yang akan menyakiti dirinya, sekaligus membuat orang lain jadi benci, berburuk sangka melulu, dan mara pada dirinya  Melelahkan memang! Tapi ini harus dihadapi! Diputuskan! Dan, dia berani memilih tempat yang tidak umum.

    Di kota kecil itu Sila juga melihat beberapa pasangan lanjut usia yang membuka berbagai usaha. Kata Sila, mereka yakin bahwa kota kecil ini memang layak untuk mereka. Mereka sudah letih berada di lingkungan manusia yang sibuk berpolitik morat-marit, penuh kebohongan. Banyak orang yang sibuk ribut mencaci agama dan kepercayaan orang lain, seakan agama mereka yang paling betul. Berbangga dengan agamanya, seakan orang lain yang berbeda adalah ‘setan’.

    Sehingga, banyak orang secara perlahan bergeser menjauh, mencari suasana yang lebih hening. Lingkungan yang bersih, tidak jorok, peduli kepada alam, respek terhadap sekitar, dan satu dengan yang lain menghargai perbedaan.

                                                                            ***

    Sila adalah anak bungsu dari tiga bersaudara (Sukat, Sulis,  Sila). Ayahnya, Wijaya Munar, seorang pengusaha sukses yang selalu sibuk.  Sejak kecil mereka melihat sosok ayah bagai sebuah robot saja. Bak sebuah mesin yang bisa bicara. Ibunya, Siera Munar, juga jarangan bicara.  Ibunya selalu mengamini dan mendukung sikap suaminya. Mereka tinggal dan dibesarkan oleh hati yang dingin. Ketika dewasa, Sukat menjadi CEO di perusahaan IT dan tinggal di apartemen. Sulis bekerja di sebuah group yang menerbitkan beberapa majalah dan indekos di dekat kantornya.  Sila  bekerja di proyek pertambangan batu bara dan tinggal di paviliun rumah keluarga.

    Sila termasuk wanita yang agak sulit didekati oleh pria. Meskipun akhirnya dia bertemu dengan Bima dan berpacaran. Awalnya banyak keraguan pada diri Sila. Apakah dia harus membuang waktu dan energinya untuk orang lain? Apakah dia harus menyita waktu untuk berpacaran? Tapi mereka akhirnya saling menyintai dan berjanji untuk selalu bersama. Bahkan mereka berniat untuk menikah.

    Namun, suatu hari, terjadi kecelakaan. Mobil Bima ditrabrak sebuah truk di jalanan yang sepi. Nyawanya tak tertolong. Pendarahan di kepala meluas ke mana-mana. Dukacita  melanda kedua keluarga.

    Sebelum Bima meninggal, Sila merasakan sikap Bima mulai berubah. Bima selalu sibuk dan kerap menolak ajakan untuk makan bersama Sila dengan teman-temannya. Buat Bima itu buang-buang waktu, sementara pekerjaannya di kantor semakin banyak. Sila merasa  sudah tidak bisa lagi membuat Bima peduli kepadanya. Intinya, sebelum Bima meningggal, hubungan mereka tidak semulus seperti di awal ketika mereka berpacaran.

             “Aku letih!” kata Bima ketus, suatu kali.

             “Maksudnya?” tanya Sila

             “Iya capek. Hubungan kita serasa kuli bolak-balik angkut batu, saya ingin sendiri!”

    Sila tersinggung. Cangkir tehnya nyaris melayang ke wajah kekasihnya. Dialog kasar semacam itu sering menjadi selingan kala mereka sedang berdua. Seusai menonton, sesudah makan malam, sesudah liburan berdua, atau setelah makan es krim.

    Singkatnya, Sila akhirnya memutuskan untuk keluar dari lingkungan, kebiasaan, dan rutinitasnya. Sila meninggalkan kota besar. Semua itu adalah pemberontakan tanpa piala, hanya penyesuaian hati, waktu, dan tarikan napas. Nyaris semua diulang kembali dari zero, di suatu tempat yang baru dan sepi. Semua itu dilakukannya karena dia merasa telah dikhianati.

    Sila sebenarnya tidak putus asa. Hanya amarah dan rasa sedih tak terkira, yang menjadi sebuah titik jenuh, Disertai sedikit rasa ketidakberdayaaan yang menghampirnya. Itu juga yang membuatnya mengambil keputusan untuk kabur dari kerumunan manusia yang sudah tidak ingin dipahaminya lagi.

    ***

    Di tempat baru, setelah selesai dengan pekerjaaannya yang diurus dari jauh, dia lebih sering duduk di pantai. Di sana dia berdiam diri sambil mendengarkan musik dan memandang laut. Berdialog dengan angin, bercumbu dengan pasir, tersenyum-senyum pada matahari. Semua sangat menyenangkan untuknya. Dia tidak suka ada orang lain di sekitarnya. Manusia lain terlalu berisik, menyita waktu, membuatnya harus bicara mencari tema untuk ngobrol, harus basa-basi, mendengarkan kisah orang lain yang bukan urusannya, manggut-manggut, mendengarkan kesuksesan teman ngobrolnya, menyimak kisah sedih dan berita gembira dari teman. Semua itu membuatnya merasa tidak bebas. Hidupnya sekarang adalah hidupnya saja. Menyimak laut yang airnya bergelombang semaunya serta berbuih-buih, dan menyusuri tepian pantai, adalah hal yang indah. Pelbagai imajinasi, mulai dari kepedihan, sampai ketakutan dan kebahagiaan, semua ada di sana.

    Cerita selanjutnya, di tempat baru Sila bertemu dengan Ruben Purnama, seorang duda muda. Setelah bercerai dengan istrinya yang warga negara Australia, Ruben memilih tinggal di kota kecil itu dan membuka  usaha toko makanan sehat.

    Bertemu dan berteman dengan Ruben merupakan selingan sekaligus tantangan bagi Sila kali ini. Di mata Sila, Ruben berhati baik. Mereka saling bersimpati pada cerita kehidupan masing-masing.

    Selain Ruben, Sila juga kerap seperti melihat bayangan seorang pria di sekitar rumahnya. Sesekali bayangan itu seperti memanggilnya. Hingga suatu kali sosok itu tampak begitu jelas: seorang lelaki yang duduk di kursi rumahnya.

               “Kamu siapa? Manusia? Sepatumu bagus!” getar suara Sila, sedikit bercanda walau dalam bimbang.

               “Manusia, Non! Perkenalkan, aku Sigap Walam!” kata pria itu sambil berdiri dan kenudian mendekati Sila.

                 Sila loncat dari sofanya. Ia mundur dan  berdiri mepet ke arah rak bukunya.             “Stop! Stop! Berhenti!” terika Sila sekuat-kuatnya.

                 Sigap Walam terhenyak mendengar teriakan itu. Langsung kedua kakinya berhenti. Tapi tubuhnya masih lurus menghadap ke depan, hanya beberapa langkah dari Sila.

                 “Kamu mau apa?! Kamu siapa? Diam! Jangan bergerak sedikit pun! Aku akan teriak kebih keras! Ini ada tombol akan aku pencet. Dan, tidak sampai lima menit, petugas patroli akan datang! Jangan bergerak!” jerit Silas makin kencang.

                 “Please, Sila..! Saya bukan buronan. Saya bukan orang jahat. Saya teman kamu. Jangan panik, Non!” bujuk Sigap.

                 Sila kembali duduk di sofa. Mereka saling berpandangan. Sigap masih pada posisi berdiri melihat Sila yang diam.

                 “Please, Sila, boleh saya mulai bicara...? Boleh saya tutup jendela ini? Angin kan membuatmu terkena flu...” santai Sigap bergerak menutup jendela dan kembali berdiri di depan Sila.

                 Sila membiarkan Sigap Walam bergerak ke sana ke sini., Semua tampak asing, tetapi sekaligus hangat. Ketegangan mulai kendur, tanpa alasan yang jelas. Selanjutnya terjadi dialog di antara Sila dan Sigap Walan sampai akhirnya Sila mengusirnya keluar dari rumahnya.

                 Tapi, Sigap Walam ini selalu hadir dalam kehidupan Sila. Sila sendiri makin terbiasa dengan kehadiran Sigap dalam kehidupan kesehariannya. Bahkan makin lama Sigap makin penting dalam hidupnya. Aneka peristiwa terjadi atau dilalui antara Sila dan Sigap Walam. Suatu hubungan yang cukup misterius. Namun, pada suatu waktu, Sigap menghilang begitu saja. Sila dengan bantuan Ruben mencari Sigap, tapi tidak ketemu..

    ***

    Dalam menampilkan karakter tokoh utamanya, Rayni menggunakan metode langsung (telling). Metode ini mengandalkan pemaparan watak tokoh pada eksposisi dan komentar langsung  dari pengarang. Melalui metode ini keikutsertaan pengarang dalam menyajikan perwatakan tokoh sangat terasa, sehingga para pembaca memahami dan menghayati perwatakan tokoh berdasarkan paparan pengarang. Ini berbeda jika pengarang menggunakan metode tidak langsung (showing). Dalam metode showing, pengarang menempatkan diri di luar kisah dengan memberikan kesempatan kepada para tokoh untuk memampilkan perwatakan mereka sendiri melalui dialog dan tindakan (action). Meskipun, belakangan banyak juga pengarang yang menggunakan kedua metode itu sekaligus dalam karyanya.

    Sedangkan mengenai isinya, di beberapa bagian, saya cukup terkejut dengan penggambaran Rayni tentang tokoh Sila. Apa yang dirasakan, dikatakan, dan dilakukan Sila, memunculkan kelebatan pandangan beberapa filosof sekaligus di kepala saya.

    Sila yang digambarkan hidup sendiri dan memandang dunia dan masyarakat sebagai kumpulan “orang sakit” itu agak mirip dengan kehidupan Arthur Schopenhauer. Bagi Schopenhauer, bergaul dengan banyak orang adalah “memuakkan” dan “membuang waktu”. Ia mengejek masyarakat sebagai “para karikatur”, “rumah sakit penuh orang tolol”, dan “pertunjukan para penipu”. Dia memandang hidup ini adalah tragis, berbahaya,  dan mengerikan.

    Menurut Schopenhauer, realitas kita ini sakit, tidak beres, dan jahat.  Di dunia manusia ini terdapat egoisme, kemiskinan, kesengsaraan, penyakit, dendam, ketidakpercayaan, dan pembunuhan. Yang tidak baik dalam dunia ini jauh lebih besar jumlahnya daripada yang baik.

    Pandangan Schopenhauer ini bahkan menginspirasi Friedrich Wilhelm Nietzche pada periode awal. Namun, pada keduanya terdapat perbedaan yang penting.  Sementara Schopenhauer cenderung menolak kehidupan atau melarikan diri darinya, sikap Nietzche sebaliknya. Dia dengan tegas menerima kehidupan ini dengan mengatakan  “ya” (Ja-Sagen) terhadap kehidupan ini.

    Masih menurut Schopenhauer, hakekat dunia ini bukanlah sesuatu yang rasional (akal budi, logos, Ide, Roh absolut, atau Subjek transendental), melainkan sesuatu yang bersifat tidak rasional. Ia menamakan unsur tidak rasioal ini sebagai “Kehendak untuk hidup” (der Wille zum Laben). Dunia ini dikuasai oleh Kehendak.  Dunia ini dipandang oleh Schopenhauer sebagai Kehendak dan Gagasan. Rasio dan pengetahuan hanyalah pelayanan kepada Kehendak.

    Lalu, tindakan dan keputusan-keputusan manusia tidak pertama-tama berasal dari kesadarannya, tetapi muncul atas dorongan kehendak yang tidak rasional. Adapun kesadaran kita cuma sebagian kecil dari hakekat manusia. Ia hanyalah "permukaan" dari sebuah "lautan" yang dalam. Keputusan-keputusan kita muncul dari dalam lautan itu. Pendeknya, dunia batin serta akal budi kita dikuasai oleh kehendak yang buta ini. Hidup manusia, menurutnya, selalu berarti mengalami penderitaan, meskipun hal itu bisa diatasi melalui kesenian atau secara radikal memadamkan segala hawa nafsu dan melepaskan diri dari segala keinginan.

    Dorongan kehendak untuk hidup ini sangat kuat, sehingga ia akan menerjang apa saja untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Itu sebabnya kehendak dapat membawa pada kesengsaraan bagi diri sendiri karena keinginannya tidak bisa dipenuhi. Di alam bebas, kehendak itu menampakkan diri dalam berbagai wujud makhluk hidup yang hanya survive dengan menyantap makhluk lainnya. Dalam dunia binatang, setiap hewan menjadi mangsa bagi hewan yang lain. Dan dalam dunia manusia, setiap manusia adalah serigala bagi sesamanya. Maka menjadi manusia tak lain dari hidup sengsara. Dalam hidupnya manusia didorong oleh pengharapan sambil berusaha meraih kematiannya. Hidup manusia adalah komedi dan tragedi dalam satu kesatuan, suatu lembah penuh keluhan yang tidak bernilai. Arthur Schopenhauer ini memang dikenal sebagai filosof yang murung dan pesimistis.

    Pandangan bahwa “manusia serigala bagi yang lain” (homo homini lupus) ini juga ada pada Thomas Hobbes tentang manusia primitif. Menurut Hobbes, manusia sejak zaman purbakala dikuasai oleh nafsu-nafsu alamiah untuk memperjuangkan kepentingannya sendiri. Dalam keadaan asli yang belum terdapat norma-norma hidup bersama, orang-orang primitif itu mempunyai hak atas semuanya. Akibatnya adalah timbulnya perang semua melawan semua (bellum omnium contra omnes) guna merebut apa yang dianggap haknya. Situasi primitif itu ditandai kecurigaan dan keangkuhan hati individu-individu yang saling menyerang. Jadi, manusia  adalah serigala bagi manusia lain (homo homini lupus).

    Baru pada tahap berikutnya, orang-orang primitif itu mulai menyadari pentingnya menciptakan suatu aturan hidup bersama. Sebab dalam keadaan saling mengancam itu manusia  malahan tidak bisa mempertahankan kebesarannya, tidak bisa hidup dalam damai. Untuk itu, semua orang harus menyerahkan hak-hak asli mereka atas segala-galanya itu. Hal ini, katanya, sesuai dengan “petunjuk” hukum alam. Beberapa petunjuk itu, misalnya, “carilah damai”; “berlakulah terhadap orang lain sebagainana kau ingin orang lain berlaku terhadap dirimu”; dan seterusnya. Maka dibuatlah suatu kontrak atau persetujuan bersama untuk membentuk suatu tatanan hidup bersama yang teratur. Persetujuan sosial yang asli atau kontrak asli inilah cikal-bakal adanya negara. Dan negara itu harus kuat. Negara harus berdiri dengan kedaulatan penuh dengan segala wewenang dan hak mutlaknya. Negara yang kuat itu bisa diibaratkan sebagai “Sang Leviathan”, monster laut raksasa yang menakutkan, yang ada dalam mitologi bangsa Timur Tengah.

    Pandangan “muram” tentang dunia dan manusia itu berbeda dengan pandangan Gottfried Wilhelm von Leibniz. Menurut  Leibniz, dunia kita adalah yang terbaik di antara semua dunia yang mungkin. Leibniz memang pemikir yang relijius, beriman, dan percaya pada kebaikan Tuhan. Katanya, Tuhan telah menciptakan dunia yang paling baik bagi kita. Dunia yang kita tempati ini sudah merupakan hasil maksimal. Dan manusia adalah makhluk yang memiliki tingkat kesadaran sangat tinggi --dibanding tumbuhan dan hewan.  Lalu, mengapa ada kejahatan dan penderitaan di dunia ini? Jawab Lebiniz, karena ciptaan tidak sesempurna Penciptanya. Manusia diberi kehendak bebas, tetapi dalam kehendak bebas ini manusia memilih yang jahat, maka dia menkjadi korban dari yang jahat. Meski demikian, dunia ini tetap berada dalam kekuasaan dan kebaikan Tuhan.

    Lain lagi dengan pendapat Jean-Jacques Rousseau. Katanya, manusia dalam keadaan alamiahnya (etat naturel) adalah ciptaan yang otonom, polos, bahagia, tidak egois, tetapi juga tidak altruis. Dengan bahasa lain, manmusia alamiah tidak baik dan tidak buruk. Ia hidup dengan polos dan menyintai diri secara spontan. Ia bebas dari segala wewenang orang lain dan karena itu secara hakiki sama kedudukannya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan penghalusan kesenian yang dibanggakan di Prancis saat itu tidak memajukan, melainkan membusukkan akhlak manusia.

    Kepolosan manusia itu rusak ketika masuk ke dalam kesatuan masyarakat. Karena di dalam masyarakat mulai ada ketidaksamaan, dan kaetidaksamaan itu menimbulkan segala kemerosotan dan egoisme. Namun Rousseau menyadari bahwa manusis tak mungkin kembali ke keadaan alamiah. Perkembangan manusia tidak terelakkan. Untuk mengatasi keadaan ini, Rousseau melahirkan konsep filsafat negara dalam Contract Social. Di situ dijelaskan olehnya bagaimana negara seharusnya berlaku agar manusia di dalamnya tetap memiliki kebebasan.

                                                                             ***

    Menjelang akhir, dikisahkan suatu hari Sila kedatangan tiga pria yang sama sekali tidak dikenalnya.

              “Selamat pagi, Bu. Maaf mengganggu. Kami dari kota besar mewakili PT Suka Mulya Abadi, mau bicara tentang rumah beratap biru di ujung jalan sana...”

    Jantung Sila nyaris berhenti berdetak. Dipersilakannya orang-orang tersebut duduk di teras. Sila menyimak penjelasan yang diuraikan panjang lebar oleh ketiga orang itu.

     Beberapa hari kemudian, tampak keheboan di ujung jalan. Rumah Sigap dibongkar dengan menggunakan buldozer. Suara raungan kendaraan berat itu dan keramaian di sekitarnya, membuat Sila ketakutan. Ia terduduk di sudut kamar, menangis tidak berhenti. Rumah Sigap dibumihanguskan. Bukan karena tanpa izin, bukan karena ada yang ilegal. Tetapi itu memang kehendak pemiliknya, kata perwakilan PT Suka Mulya Abadi. Mereka hadir dengan membawa surat resmi. Sila tidak percaya semuanya seketika menjadi kosong tanpa arti. Ketika dia menanyakan di mana Mr. Sigap berada, mereka hanya menjawab tidak tahu, juga tidak pernah bertemu. Mereka hanya menerima surat perintah berdasarkan surat kuasa dari pemilik melalui pengacara dan notarisnya. Itu saja.

    ***

    Sila tidak mau ada kenangan buruk dalam hidupnya. Semua kepedihan dibiarkannya beriringan dengan keseharian, dan lautan pun menjadi satu kesatuan yang harus dilaluinya. Tidak ada lagi ketergantungan kepada Sigap atau siapa pun.

    Sila tidak mau sakit hati. Dia merasa tubuhnya tidak sehat sama sekali, namun dia tidak boleh sakit. Sila merasa dicampakkan, tapi hanya dia yang tahu batas toleransinya. Dia sudah berada di titik jengah untuk semua yang terjadi. Kesabaran membuatnya bertahan karena dia yakin suatu waktu semua akan berakhir, dan dia akan mati. Dan, kremasi adalah pilihannya. Harga mati!

    Semua memo, keinginannya untuk dikremasi, diselipkan Sila di mana saja. Ditempel pada cermin di kamar, di kamar mandi, di dapur, juga dalam kertas yang dibekukan bersama es batu di dalam kulkas. Isinya mengingatkan kepada setiap orang yang menemukan jasadnya, agar mengkremasi saja, membakar tubuhnya, dan melarungkan abunya ke tengah lautan.  Surat legal berisi wasiatnya mengenai kremasi, pemberian organ tubuh, juga sudah dibuat dan dititipkan di kantornya. Wasiat untuk segala aset dan kepemilikan harta bendanya, dipercayakan kepada yayasan yatim piatu dan beberapa rumah jompo, workshop anak jalanan, rumah sakit kecil, dan banyak lagi, yang semuanya harus dikelola di bawah payung perusahannya.

    Sila tahu, banyak orang lain yang lebih parah atau tragis menjalani hidupnya. Porsi kadar setiap orang berbeda. Pun latar belakang hati, fisik, isi kepala, juga semua berbeda. Makanya, seluruh msiteri yang dijajakinya sedari dulu, sebagai proses riwayat seorang perempuan, dilaluinya saja. Artinya, yang tahu dan yang bisa menyelematkan serta mengasihi diri ini, memamg adalah diri sendiri. Kalaupun ada kisah lain, cerita indah lain, mansia-manusia tanpa problem, itu adalah khayal dunia yang dipaksakan!

    Sila merasa dikhianati oleh semua yang telah dia percayai. Ketidakpercayaan kepada dirinya membuat semua menghilang. Angin gelombang lautan membawa itu semua tanpa alasan, dan tanpa sebab, serta tanpa membawa kenangan pada siapa pun. Mungkin itu semua yang dikehendakinya. Pembalasan yang dirasakannya adalah kehilangan semua rasa cinta dan respek dunia. Sila merasa telah tersakiti oleh permainan dunia ini! Mungkin, ini saja yang akan tersisa sebagai luka pada dirinya, hingga dia kelak mati sendiri.                                    

    ***

    (Sekian tahun dan sekian waktu berlalu. Terlipat sebuah surat wasiat dari Wijaya Munar, ayah Sila, yang wafat beberapa tahun lalu. Ia meninggalkan warisan dan membagikan seluruh asetnya, kepada ketiga anaknya: Sukat, Sulis, dan Sila. Di antaranya, Sila mendapatkan tambahan sebidang tanah di kota kecil, yang berada di ujung jalan, di dekat rumahnya. Menurut wasiat itu, Wijaya Kumar mewarisi lahan itu dari mendiang Ayahnya, yang bernama Sigap Walam).

    ***

    Rayni menyuguhkan kejutan di akhir ceritanya. Lalu, apakah sebagian dari isi novel ini merupakan solilokui Rayni sendiri? Tidak terlalu penting. Yang jelas, melalui novel ini, Rayni – yang pada kata pengantarnya terasa kurang percaya diri -- sudah menunjukkan kemampuannya menulis novel yang dapat memancing “percakapan filosofis” tentang hakekat dunia, hakekat hidup, dan hakekat manusia dengan segala persoalannya. Apalagi hubungan antara sastra dan filsafat sebetulnya sangat dekat.  Beberapa filosof besar  seperti Sartre dan Albert Camus juga menulis novel. Kini tinggal bagaimana hal-hal serius itu dapat dilukiskan dalam sebuah cerita fiksi yang enak dibaca. Kita tunggu novel Rayni berikutnya.

    • Atmojo adalah penulis yang yang meminati bidang filsafat, hukum, dan seni.

    ###

    Ikuti tulisan menarik atmojo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.