x

Ilustrasi tunggul di lahan terbakar

Iklan

Eki Saputra

Aktivis lingkungan dan penulis lepas. Seorang penikmat karya sastra dan film pendek.
Bergabung Sejak: 11 November 2021

Jumat, 23 September 2022 13:23 WIB

Tunggul

Kita tabah meninggalkan sisa-sisa kiamat diri sendiri sebagai puing-puing hening Yang mereka kenang sebagai petaka,

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tiap sore aku datangi satu per satu tunggul,
bertanya adakah yang tersisa dari 
kesusahpayahan kita berdiri, 
sebelum mati ditebang kapak murka
milik sang buta,

Lalu kita pernah dibakar, digulung-gulung api dingin,
Kebingungan, keheranan, mengapa menjadi kesalahan hadir di dunia yang tak sehari kita bayangkan?

Di antara tubuh yang masih terpancang
dengan luka bakar menganga, dan daging yang hangus terputus, 
Kita tabah meninggalkan sisa-sisa kiamat diri sendiri sebagai puing-puing hening
Yang mereka kenang sebagai petaka,
meski potongan tubuh ini menjadi jendela bagi mereka melihat kesejatian.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

2022

Ikuti tulisan menarik Eki Saputra lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan