Tunggul - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi tunggul di lahan terbakar

Eki Saputra

Aktivis lingkungan dan penulis lepas. Seorang penikmat karya sastra dan film pendek.
Bergabung Sejak: 11 November 2021

Jumat, 23 September 2022 13:23 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Tunggul

    Kita tabah meninggalkan sisa-sisa kiamat diri sendiri sebagai puing-puing hening Yang mereka kenang sebagai petaka,

    Dibaca : 480 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tiap sore aku datangi satu per satu tunggul,
    bertanya adakah yang tersisa dari 
    kesusahpayahan kita berdiri, 
    sebelum mati ditebang kapak murka
    milik sang buta,

    Lalu kita pernah dibakar, digulung-gulung api dingin,
    Kebingungan, keheranan, mengapa menjadi kesalahan hadir di dunia yang tak sehari kita bayangkan?

    Di antara tubuh yang masih terpancang
    dengan luka bakar menganga, dan daging yang hangus terputus, 
    Kita tabah meninggalkan sisa-sisa kiamat diri sendiri sebagai puing-puing hening
    Yang mereka kenang sebagai petaka,
    meski potongan tubuh ini menjadi jendela bagi mereka melihat kesejatian.

    2022

    Ikuti tulisan menarik Eki Saputra lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: I. Jepris Mitang

    3 hari lalu

    Ruang Makan

    Dibaca : 216 kali


    Oleh: I. Jepris Mitang

    3 hari lalu

    Hotel Mewah

    Dibaca : 201 kali