Poligraf - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Selasa, 27 September 2022 13:08 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Poligraf

    Aulia tidak lagi mengenali sahabatnya yang bersikap acuh kepada kehidupan orang lain dengan cara beranda-andai untuk sebab yang tidak pernah terucapnya selama waktu di meja kopi sore. Ini bukanlah pertemuan yang diharapkannya, namun Inka memilih untuk diam atau, dia menjadi orang yang tidak jauh berbeda dengan Aulia. --Meskipun, di antara mereka tidak ada yang benar dan salah ketika ketidaktahuan menggerogoti kecerdasan dan itu dianggap cukup berharga.

    Dibaca : 579 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “Sepertinya, dirinya telah memilih untuk menjadi seorang petapa, dan sepertinya, tidak ada seorang pun yang dapat menghentikannya.”

    “Apa karena dia moksa?”

    “Ah, aku tidak terlalu percaya dengan istilah tersebut. Itu hanya cara termudah untuk menyingkat perjalanan hidup orang lain yang sedang jadi informasi pikiran kita,

    “Hahahaaa..... Yaaa...., semacam menghibur diri sendiri dengan berandai-andai.”

    “Tapi kamu sadar toh dengan andai-andaimu? Bagaimana dampaknya terhadap orang tersebut yang kamu impikan dengan kepala besarmu itu?”

    “Maksudmu? Sadarlah. Karena kesadaran itu, aku bisa berandai-andai!”

    “Bagaimana jika andai-andaimu keluar dari pori-pori kepalamu dan memberi dampak langsung?”

    “Ah, mustahil. Mana mungkin? Jika mungkin terjadi, itu bukan salahku, tapi salahnya sendiri.”

    “Oh.”

    *

    Ada pesanan lainnya?”

    “Mungkin satu kopi latte ukuran medium saja, dan moist chocolate cake yang tadi. Terima kasih...”

    Baik. Ada lagi?”

    “Saya pesan teh dengan buah lici dan dua batu es.”

    Mohon ditunggu pesanannya. Selamat sore.”

    *

    “Lalu, apa yang akan kamu lakukan kepadanya jika desain andai-andaimu berdampak langsung ke dalam kehidupannya?”

    “Entahlah, tapi itu tidak akan mungkin terjadi.”

    “Artinya, andai-andaimu bukan karena sadar, tapi karena kamu tidak cukup berani berandai-andai pada dirimu sendiri.”

    “Lho. Kenapa aku yang harus bertanggung jawab? Aneh! Sudahlah, kamu hanya membuatku tidak nyaman.”

    *

    Diskusi tanpa pemutusan seringkali menyerahkan kepergiannya menjadi angin yang semilir bersitegang merayapi telinga-telinga yang turut mendengarkannya, walau tidak saling mengenal. Namun, seseorang dihadapannya kini, adalah kawan baiknya sendiri, yang telah puluhan tahun tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.

    Aulia tidak lagi mengenali sahabatnya yang bersikap acuh kepada kehidupan orang lain dengan cara beranda-andai untuk sebab yang tidak pernah terucapnya selama waktu di meja kopi sore. Ini bukanlah pertemuan yang diharapkannya, namun Inka memilih untuk diam atau, dia menjadi orang yang tidak jauh berbeda dengan Aulia

    Meskipun, di antara mereka tidak ada yang benar dan salah ketika ketidaktahuan menggerogoti kecerdasan dan itu dianggap cukup berharga.

    *

    Ini pesanannya, selamat menikmati.” Senyum ramah merekah dari seorang pelayan yang berparas ayu dengan kulit sawo matang nan halus, juga bahasa tubuhnya yang santun. Tidak ada yang benar-benar tahu, bahwa sesungguhnya, pelayan itulah yang sedang dibicarakan oleh Aulia dan Inka. Bahkan mereka tidak pernah bertemu siapakah Lara sesungguhnya; seseorang yang sedang diandai-andaikan dalam desain untuk bahan percakapan uap di satu sudut kafe Starbucks dalam megahnya sosialita kota Jakarta paska tahun 2000 yang aneh.

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.