Drama Putu Wijaya: Aum Kaum Pinggiran - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Putu Wijaya. TEMPO/ Santirta M

atmojo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 30 September 2022 19:58 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Drama Putu Wijaya: Aum Kaum Pinggiran

    AUM adalah karya yang dihasilkan melalui proses imajinasi tingi. Cerita dibangun seakan tak ada hubungannya dengan peristiwa yang menjadi sumber ceritanya. Terasa ganjil. Tetapi di dunia faktanya banyak kejadian-kejadian ganjil. Putu Wijaya sebenarnya tidak cuma  menyoal hal-hal umum seperti ketidakadilan, kemiskinan, dan kekuasaan. AUM berisi aneka pertanyaan yang menuntut jawaban, yang sayangnya sulit ditemukan. Jangan-jangan hidup ini memang absurd.

    Dibaca : 2.886 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sejumlah orang tidur di depan rumah bupati. Mereka tak mau bergerak sejengkal pun, sebelum bupati menerima kehadiran mereka. Ratusan kilometer telah mereka tempuh untuk bisa menghadap pimpinannya, mengadukan berbagai persoalan yang dideritanya. Di dekat mereka ada kurungan besar yang dibungkus dengan kain lapuk. Mereka tidak puas mendengar bupati tidak ada di tempat, bupati sedang beristirahat, bupati sedang rapat, dan sebagainya. Bagi mereka sama saja. Mereka tetap ingin menghadap, mendesak, memberikan pengaduan, serta minta penjelasan tentang berbagai soal yang tak bisa mereka cernakan. Dan mereka bersedia menunggu, bila perlu untuk selama-lamanya. Daripada harus kembali pulang membawa pertanyaan dan malu.

    Setelah terjadi aneka kelucuan di antara sesama hansip penjaga rumah bupati; hansip dengan tamu-tamu; hansip dengan bupati yang sedang lari pagi; akhirnya tibalah kesempatan para warga menyampaikan pertanyaan. Di antaranya:

    UCOK:

    Kekuasaan yang menghimpit kita, sudah tidak mau lagi memberikan jawaban dari mana asalnya, kenapa dia datang, dan apa tujuannya. Kita terpaku terus di tembok yang rapuh, bergerak sedikit seluruh alam ikut bergetar dan batu-batu yang keras makin banyak berjatuhan melukai tubuh kita yang bukan milik kita lagi. Seluruh umat manusia menjadi mayat-mayat berjalan dan di alam kuburan yang besar ini kejujuran akan menjadi senjata-senjata yang membunuh diri kita sendiri. Tinggalkan, tinggalkan tak ada sedikit pun harapan, tinggal hanya kerak, Kerak... (menyanyikan sesuatu). Ibuuuuuu, Ibu Pertiwi tolonglah kami buka kembali rahimmu. Bapak Bupatiiiiiii,,,,,

    HANSIP:

    Yaaaaa. Bapak Bupati di sini.

    BUPATI:

    Hus ikut mereng kamu!

    HANSIP;

    Maaf latah, Pak.

    UCOK:

    Apa jawaban Bapak. Berikan kami jawaban.

    HANSIP;

    Jawab, Pak.

    BUPATI:

    Jawaban apa, apa yang harus dijawab?

    UCOK;

    Pertanyaan begitu banyak, mana jawabannya. Sekarang! Nanti terlambat

    BUPATI:

    Lho pertanyaan apa? He, apa mereka sudah bertanya tadi?

    HANSIP:

    Pak, tak usah didengar, Pak. Kalau sudah begini coret saja.

    BUPATI:

    Sungguh mati langsung akan saya jawab, kalau saja ada, kalau memang ada. Saya sudah cukup terbuka, malah begitu lebar. Apa masih kurang?

    HANSIP:

    Sampai robek-robek begini jangan dilebarin lagi, pak.

    UCOK:

    Kamu hanya membisu!

    BUPATI:

    Lho.Tai kucing!

    UCOK:

    Tai kucing bukan jawaban

    BUPATI:

    Atagarirullah!

    UCOK:

    Kami tidak ingin dihibur, kami ingin dijawab. Ternyata kamu sama saja dengan yang lain-lain. Tak pernah menjawab, hanya bertanya-tanya seperti kami, tak pernah mengerti ada orang bertanya, tak pernah mendengar,. Tak pernah kamu pakai kuping, kuping di atas kepala hansip-hansipmu, kuping di atas kaki-tanganmu, kuping-kuping di sekitarmu ternyata palsu!

    (Salah seorang membunyikan gong yang dari tadi kelihatannya sudah dipersiapkan Akibat bunyi gong itu mendadak semuanya berhenti. Keributan senyap. Yang menari juga berhenti. Semuanya kembali tertib).

    ***

    Setelah dibuka dengan aneka adegan dan dialog yang mengundang tawa, drama ini makin lama makin serius. Pertanyaan yang muncul dari “masyarakat” juga mulai beragam. Ada soal penguasa yang tak bisa mendengarkan jeritan warganya, penindasan, ketidakadilan, kemiskinan, dan aneka keganjilan lain dalam hidup -- meski tetap diselipi dengan lelucon di sana-sini. Tengoklah ini:

    KEPALA KELUARGA:

    Dulu. Dulu bertahun-tahun yang lalu ini memang salah atu dari pertanyaan kami yang nomor sekian. Dulu Pak. Sekarang bukan pertanyaan lagi, meskipun bagi Bapak memang pertanyaan. Ini hanya salah satu contoh saja, bagaimana luka dalam batin kami karena terbawa dan dikalahkan oleh luka-luka baru menjadi bagian dari perlengkapan kami yang sengaja kami lupa-lupakan. Pertanyaan ini sudah terlalu besar dan menutup mata kami semua, bagaimana mungkin kami memandangnya lagi. Mata Bapak masih terbuka. Mata Bapak=bapak hansip itu juga. Sebetulnya masih terbuka, tapi saya lihat dari tadi, tak seorang pun yang benar-benar melihat apa sebetulnya yang ada di sini. Yang ada pada lelaki-lelaki kami di sini. Perhatikan perut mereka semua (memerintah). Buka perut kamu semua.

    (Semua membuka perut ternyata semuanya bunting).

    KEPALA KELUARGA:

    Sudah sejak bertahun-tahun yang lalu perempuan-perempuan kami tidak lagi berbadan dua. Tugas itu sudah diambil alih oleh para pelaki dan sudah merupakan bagian dari perbuatan kepahlawanan mereka terhadap keluarga.

    BUPATI;

    Fantastis. Kau lihat banyak yang tidak kita tahu.

    KEPALA KELUARGA:

    Lihat baik-baik-baik. Saksikan kalau perlu, kami tak punya waktu lagi untuk mengusut. Ini terjadi, harus diterima dan begitu banyak pertanyaan-pertanyaan lain meletus setiap hari menimbuni kami.

                                                                       ***

    Karya sastra, seperti kata Sapardi Djoko Damono dalam Sosiologi Sastra, tidak jatuh dari langit, tetapi diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dihayati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan adalah anggota masyarakat; ia terikat oleh kelompok sosial tertentu yang pada gilirannya menyangkut pendidikan, agama, adat istiadat, dan segenap lembaga sosial yang ada di sekitarnya. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium; bahasa adalah ciptaan masyarakat. Sastra menampilkan gambaran kehidupan; dan kehidupan tak lain adalah suatu kenyataan sosial.

    Sekarang tinggal bagaimana sastrawan mengungkapkan “kehidupan” itu ke dalam karyanya. Yang saya ingat, ada karya yang “sekadar” menyuguhkan suatu peristiwa nyata dalam karyanya. Lalu ada karya yang berusaha “menghubungkan” ceritanya dengan suatu peristiwa nyata tertentu; Ada pula karya yang “memindahkan” suatu peristiwa nyata ke dalam peristiwa yang fiktif alias memfiktifkan suatu peristiwa nyata; Lalu ada karya yang “memberikan reaksi” terhadap suatu keadaan nyata sehingga penulisnya boleh menentukan sendiri arahnya; dan akhirnya ada karya yang dihasilkan melalui suatu “proses imajinasi yang tinggi” sehingga yang lahir adalah karya yang seakan-akan tak berhubungan dengan peristiwa yang menjadi sumber ceritanya.

    Nah, menurut saya, setidaknya AUM (1993), adalah karya yang dihasilkan melalui proses imajinasi yang tingi itu sehingga lahir cerita yang seakan tak ada hubungannya dengan peristiwa yang menjadi sumber ceritanya. Padahal, di dunia nyata, sebenarnya banyak kejadian-kejadian “ganjil” atau tak masuk akal yang benar-benar terjadi.

    Jadi, menurut saya, Putu Wijaya sebenarnya tidak cuma  menyoal hal-hal “umum” seperti ketidakadilan, kemiskinan, dan kekuasaan. Tapi, melalui drama ini, Putu Wijaya juga mengugah kita tentang betapa banyaknya peristiwa ganjil di sekitar kita dan – kalau mungkin— ikut menemukan jawabannya. Kenapa, misalnya, ada anak tega membunuh ibunya? Kenapa ada segerombolan orang tega membakar tempat ibadah milik mereka yang tidak sealiran dengannnya? Kenapa ada polisi moral yang tega mengeroyok seoarang wanita hingga akhirnya meninggal hanya karena dianggap tidak sempurna dalam mengenakan pakaian yang ditentukan agamanya? Kenapa banyak anak-anak atau orang yang tidak berdosa sering menjadi korban kekerasan? Anda bisa memperpanjang sendiri aneka “keganjilan” yang terjadi dalam dunia nyata ini.

    Lalu, jika benar banyak peristiwa “ganji” atau tak masuk akal terjadi, apakah hidup ini absurd seperti yang dikatakan Albert Camus? Menurut filosof kelahiran Aljazair ini, seperti dikatakan P.A. Van der Weij, seluruh kehidupan kita ini tidak bermakna. Keberadaan kita ini absurd, sebagaimana tampak jelas dari penderitaan orang-orang yang tak berdosa, khususnya anak-anak. Karena penderitaan yang absurd itu, Camus menolak untuk mengakui adanya Tuhan. Tetapi, meski hidup ini absurd, tidak ada jalan lain bagi kita untuk menerima saja absurditas itu. Camus menolak jalan bunuh diri. Sebab dengan bunuh diri berarti menyerah kepada absurditas dan dengan demikian menghapuskan segala kemungkinan serta cara berada manusia. Camus juga menolak pembunuhan sebab akan menambah absurditass  dan penderitasan orang tak berdosa. Bunuh diri dan membunuh orang lain bararti langsung menuju ke nihilisme dan justru memperburuk penyakit yang mau disembuhkan.

    Singkatnya, Camus merasa bahwa manusia tidak bisa mnejleskan dunia. Ia tidak percaya pada penjelasan final tentang dunia. Dunia, pada dirinya sendiri, adalah tanpa alasan. Rasa absurd muncul kafrena di satu sisi dunia dirasakan irasional, di sisi lain ada kerinduan yang liar atau kebutuhan akan kejelasan yang senantiasa bergema dalam hati setiap manusia.

    Menurut Camus, sejarah dan realitas berjalan secara kebetulan saja. Tidak ada keutuhan makna di balik peristiwa sejarah. Banyak peristiwa terjadi di dunia ini justru berawal dari hal-hal yang aneh dan remeh-temeh. Manusia terlempar begitu saja ke dalam dunia yang aneh ini. Dan manusia berhadapan dengan fakta yang tak terelakkan, yakni kematian. Hal itulah yang membuat manusia merasa bahwa hidup adalah kesia-siaan. Puncak absurditas manusia adalah kematian itu.

    Tetapi Camus tampaknya tak mau menerima begitu saja absurditas itu. Ia memberontak. Ia mencoba memerangi absurditas itu sekarang dan di sini. Ia melawan ketidakadilan, penderitaan, dan maut. Ia tidak mau pasrah dan sabar dengan memantikan pengadilan Gtuhan pada akhir zaman dan suatu firdaus dalam kehidupan kekal nanti. Ia menolak setiap utopi, karena di situ keadilan ditunda sampai masa depan yang masih jauh, sedangkan ketidakadilan dan kekerasan diterima begitu saja sebagai sarana untuk tujuan yang jauh itu. Bukan begitu, kata Camus, cara untuk menghadapi absurditas. Satu-satunya cara yang masuk akal adalah pemberontakan dan itulah pula menjadi kemungkinan ultimum manusia.

    ***

    Ada banyak adegan dan dialog para warga yang menarik untuk direnungkan. Misalnya saja, ketika nenek yang berada di paling depan menghunus keris. Sementara di belakangnya dalam satu garis lurus orang-orang udik itu memegang kain putih yang merentang bagai dinding panjangl. Mereka juga menghunus keris mereka.

    KEPALA KELUARGA:

    Tuhan Seri Sekalian Alam, kini kami menanti jawaban-Mu. Ujung keris ini telah lama kami simpan. Apabila Kau pun tidak menjawab atau memberikan jawaban yang tidak menyalakan sesuatu yang terang di hati kami, izinkan kami mengakhiri perjalanan yang Kamu karuniakan ini, secara serentak, hari ini juga. Waktu yang bisa kami berikan hanya sepuluh kali ketukan. Sesudah itu kami akan bunuh diri ramai-ramai.

    (Salah seorang anak berlalu hendakl mengurungkan niatnya. Tapi salah satu kemudian segera mengejar dan menangkapnya).

    ANAK:

    Tidak, aku tidak mau, aku tidak ikut, Bapaaaaakkk aku,...

    (Barisan itu kelihatan bergolak. Ada seseorang yang hendak melarikan diri. Terjadi pergumulan, dan akhirnya orang itu terpaksa dipukul. Pingsan. Tapi salah satu anak lagi lari. Beberapa orang hendak memburu, gtapi Kepala Keluarga mengangkat tangan)

    KEPALA KELUARGA:

    Kembali

    (Semua kembali dalam formasi siap bunuh diri)/

                                                                              ***

    Adengan terakhir drama ini: Hansip yang satu mengusap matanya. Tapi begitu ia melihat manusia dalam kerangkeng itu, ia juga langsung pingsan lagi.

    BUPATI:

    Mana?

    HANSIP;

    Itu, itu yang tangannya banyak itu apa.

    BUPATI:

    (melihat sekilas tapi tak memperhatikan). Ah, tai kucing, kau ini selalu mengganggu. (kembali kepada Kepala Keluarga). Jadi ibu, masalah ini sebenarnya sangat sederhana. (baru teringat sesuatu). Nanti dulu, nanti dulu. Apa yang kamu lihat itu (berbalik) Astagafirullah apa ini, apa ini?

    HANSIP:

    (memegang). Pak, jangan pingsan, Pak.

    HANSIP:

    Apa ini. Kenapa begitu banyak tangannya. Siapa sini?

    (Bupati mendekat)

    BUPATI:

    Kamu siapa, kamu siapa? Kamu siapa (jatuh pingsan)

    (Kedua hansip bengong. Bupati kemudian bergerak dan mencabut pistolnmya tapi salah ambil. Yang dicabut saputangannya. Ia menembak).

     

    • Atmojo adalah penulis yang meminati bidang filsafat, hukum, dan Seni.

                                 ###

    Ikuti tulisan menarik atmojo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.