Boleh Malu Asal Tepat - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Malu. Foto: Daniel Kirsch dari Pixabay.com

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Minggu, 2 Oktober 2022 07:16 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Boleh Malu Asal Tepat

    Banyak orang merasa malu tapi tidak tepat dna tidak benar. Bagaimana malu yang tepat dna benar? Baca terus sampai tuntas.

    Dibaca : 876 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

     

    Semua orang pasti punya rasa malu.  Hanya derajatnya saja yang berbeda.  Selain itu hal yang dianggap memalukan juga beda dari satu orang ke orang lain.  Kadang saya melihat orang malu tentang sesuatu yang tidak pada tempatnya. Mari kita bahas.

     

    Ada orang yang malu memakai pakaian yang sederhana.  Ada orang yang malu memakai barang yang sederhana.  Ada orang yang malu memiliki budaya tradisional.  Suatu saat saya makan siang di sebuah rumah makan.  Saat itu ada banyak pelanggan termasuk beberapa orang bule.  Kemudian rumah makan tsb memainkan musik tradisional.   Seorang Indonesia nyeletuk bahwa musik tradisional itu memalukan. 

     

    Kasus kasus di atas itu adalah rasa malu yang tidak pada tempatnya.  Alasannya adalah hal hal yang di atas itu bukan hal yang tercela.  Tidak ada pelanggaran aturan agama dan hukum. Artinya ada yang salah dengan mindset orang yang malu tsb.  Malu memakai barang sederhana artinya dia menganggap sukses atau kemuliaan hanya bisa diukur dengan uang atau harta.  Dia sama sekali tidak melihat nilai selain harta.  Dia tidak melihat kemuliaan dari aspek lain.  Misalnya amal ibadah, sopan santun, tata krama dll.  Jadi pikirannya sangat dangkal. 

     

    Di sisi lain ada orang yang memakai pakaian minim sampai memamerkan auratnya tanpa malu.  Bahkan ada orang berciuman di publik tanpa malu. Tidak sedikit orang yang membanggakan hartanya yang merupakan hasil kejahatan.  Ada juga yang membanggakan status sosialnya, jabatannya dengan arogan sekali. 

     

    Kasus kasus di atas tersebut artinya orang tsb sudah tidak memiliki etika. Dia juga tidak paham bahwa pelangaran etika, hukum, dan norma sosial adalah satu hal yang memalukan.  Jadi mindsetnya juga sudah tidak beres.

     

    Dalam amatan pribadi saya kedua kasus tersebut banyak sekali.  Itulah salah satu penyakit sosial di Indonesia.  Media sosial di kalangan masyarakat Indonesia sudah menjadi media anti sosial. Karena banyak sekali ujran kebencian.   Jadi masyarakat kita sedsang ‘sakit’.

     

    Lantas bagaimana menyembuhkannya?  Mestinya para public figure, informal leaders, ulama, ustadz, penulis, vlogger, guru, dosen dan orang tua memberi masukan dengan caranya masing masing.  Mereka diharapkan memengaruhi masyarakat agar memiliki mindset yang baik, mindset yang tidak terbalik agar memiliki perilaku yang baik.

     

    Harapan saya yang utama adalah kepada para ulama, ustadz, dan penulis.  Mereka memiliki pengaruh kuat kepada masyarakat.  Monggo lebih ditingkatkan lagi tindakan memberi pencerahan kepada masyarakat agar masyarakat memiliki mindset yang benar.  Semoga mereka malu dengan hal yang melanggar aturan Allah dan tidak malu dengan hal yang tidak melanggar aturan Allah dan aturan hukum.  Malu korupsi adalah yang benar dan tepat.

     

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.