Kesalahan yang Kamu Lihat Pada Liyan Sejatinya Cerminan Sifatmu Sendiri - Analisis - www.indonesiana.id
x

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Senin, 24 Oktober 2022 10:24 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kesalahan yang Kamu Lihat Pada Liyan Sejatinya Cerminan Sifatmu Sendiri

    Banyak orang ynag sibuk menyalahkan orang lain. Mereka selalu menuding kanan kiri. Di mata mereka orang lain yang salah dan dirinya saja yang benar. Ternyata kesalahan yang mereka lihat pada orang lain adalah cerminan kesalahan mereka sendiri.

    Dibaca : 887 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

     

    Many of the faults you see in others are your own nature reflected in them.  (Rumi)  Banyak kesalahan yang kamu lihat pada orang lain adalah sifat kamu sendiri yang tercermin di dalam diri mereka.  Demikian kira kira terjemahan kalimat bijaksana dari Maulana Jalaludin Rumi yang akan kita bahas kali ini.

     

    Jangan lupa kata muitara Rumi ini bahwa kesalahan orang lain itu adalah cerminan sifat kamu sendiri.  Jadi jika kamu menyalahkan orang lain sejatinya kamu sedang menunjuk kesalahan sendiri.

     

    Rumi mengajak kita untuk memfokuskan perhatian pada diri sendiri.  Mengevaluasi diri kita sendiri sesunguhnya lebih penting daripada mengavaluasi orang lain.  Penilaian atas kesalahan orang lain tidak banyak manfaatnya kalau berdasar ketidaksukaan apalagi kebencian. Kecuali kamu mampu bersikap obyektif dan tanpa rasa benci, evaluasi atas orang lain ada manfaatnya.  Kamu bisa belajar sesuatu dari orang lain. Namun pada kebanyakan kasus menilai orang lain hanya berdasar emosi jadi tidak ada manfaatnya.  Maka lebih baik ditinggalkan.   Rumi mengingatkan kita bahwa sifat kita tercermin pada orang lain.

     

    Mulat sarira  dalam bahasa Jawa  alias melihat atau menilai diri sendiri tidak mudah. Kendalanya ego.  Susah untuk menilai dengan jujur.  Upaya ini perlu latihan rutin.  Tidak bisa sekali dua kali langsung berhasil.  Dengan latihan rutin maka akan ada peningkatan.

     

    Mungkin kamu sudah biasa melakukan analisis SWOT singkatan dari strength (kekuatan), weakness (kelemahan), opportunity (kesempatan) dan threat (ancaman).  Jika kamu mampu dengan jujur melakukan analisis SWOT maka akan banyak manfaatnya.  Kamu akan melihat di mana kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman kamu. 

     

    Dalam budaya Jawa ada tokoh Togog, seorang  punokawan (pembantu, pengasuh) tokoh jahat.  Sesungguhnya dia adalah seorang dewa bernama Sang Hyang Antogo yang merupakan saudara kandung Semar (Sang Hyang Ismoyo) dan Betoro Guru (Sang Hyang Guru) raja dewa di kahyangan Jonggring Saloko.  Nah boneka kulit Togog ini dibentuk dengan mata lebar melotot dan mulut yang lebar.  Ini adalah metafora.  Maksudnya mata melotot lebar adalah perhatian orang yang fokus pada kesalahan liyan tapi lupa pada kesalahan sendiri.  Mulut lebar menganga adalah sanépa (metafora) dari mulut yang gemar ghibah alias rajin mencela orang lain.  Togog ini selalu di pihak raja jahat.  Jadi maksudnya ini adalah anjuran agar kita jangan menjadi orang seperti Togog karena akan rugi sendiri.

     

    Demikian kalimat mutiara Rumi dan sedikit pesan dari nenek moyang.  Semoga kita bisa menjadi orang yang lebih baik dengan cara mengevaluasi kesalahan sendiri dan berhenti mengevaluasi kesalahan orang.  

    Evaluasi kesalahan sendiri akan bermanfaat untuk pengembangan diri. Kendalanya ego sehingga kita susah jujur.  Puasa, zikir bisa menekan ego agar tidak berkuasa. Ketika kita sudah menguasainya maka kita akan bisa jujur pada diri sendiri. Hasil evaluasi itulah yang menjadi daar pengembangan diri.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.