Catatan Mbah Kardiman - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Sejarah yang Hilang di Desa Seloredjo

Dimas Bagus Aditya

Jadikan Jiwa Mudamu Mengukir Sejarah!
Bergabung Sejak: 14 Oktober 2021

Rabu, 26 Oktober 2022 07:19 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Catatan Mbah Kardiman

    Tampaknya ada sejarah yang hilang didesaku. Sejarah tentang pendirian pabrik gula yang namanya persis seperti nama desaku. Aku baru mengetahuinya lewat catatan kecil yang ditulis oleh Mbah Kardiman dimasa lalu.

    Dibaca : 568 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dua tahun lamanya, Mbah Kardiman tergolek lemas diranjang. Ia sudah tidak bisa apa-apa. Tidak hanya tubuhnya saja yang lumpuh, tetapi mulutnya pun sudah tak mampu lagi berucap. Meskipun demikian, ia masih bisa melihat. Aku sempat mencoba mengantarkannya ke Rumah Sakit Karang Menjangan tetapi keluarganya menolak. Bukan karena jarak terlalu jauh, tetapi ongkos di rumah sakit yang terlampau jauh.

    Mbah Kardiman adalah tetanggaku yang rumahnya berdampingan dengan rumahku. Ia sudah aku anggap sebagai bapakku sendiri. Maklum bapakku dan ibuku sudah tiada, lima tahun silam. Dahulunya, Mbah Kardiman merupakan pegawai rendahan di kabupaten. Ia memiliki ijazah sekolah rakyat keluaran tahun 1934. Makanya, ia bisa masuk dilingkungan pemkab. Ia pensiun tiga tahun lalu sebelum penyakitnya kambuh. Sebenarnya, aku ingin membantu Mbah Kardiman. Tapi gajiku pun pas-pasan sebagai guru sekolah dasar di Mojowarno.

    Beberapa waktu lalu, aku sempat menemukan catatan Mbah Kardiman dilaci lemarinya. Catatan itu dikerubuti oleh debu tebal kira-kira sekitar 2 cm. Waktu itu, aku pernah memberikan tulisan ini kepada anaknya. Tapi katanya ia menyerahkan tulisan ini sepenuhnya padaku. Kata Mbak Wati – anaknya Mbah Kardiman – catatan itu telah ada sejak dua tahun lalu. Awalnya aku menolak. Namun, setelah diyakinkan oleh Mbah Kardiman melalui anggukan kepalanya. Akhirnya, aku berani untuk merawat catatan dengan tulisan tangan Mbah Kardiman itu. Entah apa isi tulisan itu. Aku belum sempat membacanya.

    Hari ini adalah hari minggu. Aku memiliki waktu luang yang lumayan panjang dihari ini. Untuk itu, aku berupaya membaca catatan bertulisan tangan Mbah Kardiman. Sepertinya tulisan ini ditulisnya secara berjenjang antara 1930-an dan 1960-an. Hal ini terlihat dari dua tulisan dengan warna tinta yang berbeda dan kertasnya pun sudah usang serta berbeda jenis pula. Tulisan Mbah Kardiman begitu cantik. Meskipun aku cukup sulit membacanya. Tapi tak apalah, anggaplah ini bukti ceritera tentang Selorejo. Seperti permulaan judulnya ‘Seloredjo’.

    ***

    POV Mbah Kardiman:

    “Gejes… Gejes… Gejes…”

    Suara ular besi berwarna hitam yang dibuat kompeni mengaung-ngaung merasuki pikiranku. Aku menyebutnya dengan kereta. Tetapi kata adikku, itu trem. Lain lagi temanku, itu lokomotif, katanya. Ah, entahlah apa nama kendaraan itu. Orang-orang berkulit putih menyebutnya dengan Oost Java Stoomtram. Ah, entahlah apa namanya. Aku tidak terlalu fasih berbahasa Belanda. Jenjang sekolahku hanya mentok dibangku sekolah rakyat. Itupun aku harus merantau ke kota untuk menempuh belajarnya. Oleh karena itu, aku menumpang dirumah Pakde di Jombatan agar tidak bolak-balik ke kampung.

    Sebenarnya, aku sangat ingin meneruskan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Namun ongkosku tak memadai. Belum lagi aturan dari kompeni yang memberlakukan pribumi dengan tidak adil. Bukan hanya aku saja yang mengalami diskriminasi dari orang-orang Belanda keparat itu. Tetapi seluruh bangsa pribumi di negeri ini. Beruntung bagiku bisa mencicipi bangku sekolah rakyat. Bandingkan dengan teman-temanku lain yang tidak mengenal abjad, bahkan buta huruf. Mereka hanya mengenal sawah, ladang penghidupan kami di desa.

    Didesaku berdiri sebuah pabrik gula. Persis namanya seperti nama desaku, Seloredjo. Aku pernah mengunjunginya bersama bapak, tempo hari. Bangunannya begitu megah, aku takjub. Orang-orang Belanda itu begitu lihai merancang dan membangun gedung yang megah, mewah, dan fantastis. Bangunannya seperti gereja di Mojowarno yang membuat aku kepincut dengan agama Kristen. Ah, untungnya aku masih menganut agama Islam, meskipun sholatku bolong-bolong.

    Kunjunganku bersama bapak tempo hari membuatku terpukau akan keindahan Pabrik Gula Seloredjo. Pilar-pilarnya begitu besar aku merasa seperti semut ketika menginjak tempat itu. Bangunan megah itu menghadap timur berpapasan langsung dengan rel sambungan yang mengantar ke arah Ngoro dan Mojoagung. Kalau tidak salah pabrik gula itu memiliki cerobong ketel uap jumlahnya memang hanya satu tetapi sangat besar. Tampaknya ada yang luput dari pandanganku kala itu, gedung megah itu sepertinya dibangun tahun 1882. Mungkin benar dibangun tahun tersebut, karena tertulis diatap terasnya seperti itu.

    Orang-orang Belanda didesaku tidak hanya membangun pabrik gula. Ada poliekliknik, ada rumah dinas, adapula rumah toekang, serba komplit disini. Kabarnya, beberapa bulan lagi sekolah akan dibangun di kampungku. Syukurlah kalau begitu biar pribumi-pribumi tidak mudah dibodohi oleh rentenir-rentenir penagih duit dengan bunga yang gedhe. Sejak berdirinya pabrik gula, desaku ramai. Pembangunan dipercepat oleh kompeni. Sayangnya pencurian, perampokan, dan wanita-wanita penghibur itu mulai singgah di kampung ku. Ini adalah permulaan ceritera jelek dikampungku. Ah, aku muak dengan orang-orang Belanda itu!

    ***

    POV Mbah Kardiman:

    Dua puluh tahun sudah negeriku terbebas dari cengkraman penjajah. Pemuda-pemudi bersorak-sorai kala ‘Proklamasi’ dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta. Sebelum mereka harus berhadapan dengan Belanda yang berusaha merebut kemerdekaan Indonesia dengan cara semena-mena. Pertempuran Surabaya merupakan salah satu contohnya. Dengan takbir Allahu Akbar! arek-arek Suroboyo tak gentar menghadapi Inggeris dan Belanda. Hasilnya, AWS Mallaby tewas ditempat. Lima belas tahun pula negeri ku mulai tenang. Semenjak Konferensi Meja Bundar 1949, Belanda telah mengakui kedaulatan negeriku. “Alhamdulillah, akhirnya pertumpahan darah berakhir sudah dinegeriku!” ucapku kala itu.

    Kini, usiaku sudah tak muda lagi. Desaku jua sudah berubah. Semua serba beda. Tapi dari semua itu penglihatanku hanya satu yang tak berubah. Ya, desaku masih dipenuhi sawah-sawah menghijau royo-royo. Sayangnya bangunan pabrik gula yang menjadi sejarah desa ku telah musnah. Entah apa sebabnya bangunan megah pabrik gula itu musnah. Aku sempat membaca buku. Katanya, ia dimusnahkan kala perang berkecamuk di Jombang antara 1947-1949.

    Padahal ketika perang berkecamuk di Surabaya, Pabrik Gula Seloredjo itu merupakan tempat pemindahan amunisi dan senjata berat dari Kedung Cowek. Aku sempat membaca koran berbahasa Belanda sekitar tahun 1950-an, bekas pabrik gula itu dijual. Perlu diketahui, kala itu aku sempat merantau ke Surabaya untuk mengenyam pendidikan lanjutanku yang sempat terhenti. Nyatanya, pendidikan ini tidaklah aku selesaikan sampai achir karena terkendala ongkos. Berbicara soal pabrik gula, tampaknya itu sudah menjadi sejarah yang hilang di desa ku. Pabrik Gula Seloredjo dengan segala kisahnya yang melegenda dimasa lalu.

    ***

    Aku terkejut saat selesai membaca catatan Mbah Kardiman. Kala itu, Mojowarno tidak hanya memiliki bangunan megah bernama GKJW Mojowarno saja. Namun adapula Pabrik Gula Seloredjo yang katanya bangunannya mirip dengan GKJW Mojowarno. Selain itu, ada juga rel yang memanjang dari Ngoro ke Mojoagung. Seumur hidup aku tidak pernah mengira bahwa Selorejo, desa kelahiranku, memiliki bangunan megah pabrik gula yang disekelilingnya terdapat rel kereta dimasa lalu.

    Yang aku tahu di Jombang hanya berdiri dua pabrik gula, yaitu PG Tjoekir dan PG Djombang. Dimana, dua pabrik gula ini juga terdapat rel yang tersambung ke arah Stasiun Besar Djombang jurusan Surabaya-Madiun. Sejak saat itu, aku bertekad untuk merawat catatan Mbah Kardiman. Ini adalah bukti dari ceritera tentang desaku dimasa kompeni dan pertengahan 60-an yang dicatat oleh Mbah Kardiman. Yang menjadi pertanyaanku sekarang, “Dimana letak bekas lahan Pabrik Gula Seloredjo, saat ini? Dimana pula bekas rel kereta yang memanjang dari Ngoro ke Mojoagung itu?”

    Jombang, 19 Oktober 2022, 15.36 WIB.

    Ikuti tulisan menarik Dimas Bagus Aditya lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Itha Abimanyu

    4 hari lalu

    Rindu dan Cinta

    Dibaca : 139 kali