x

cover buku Dari Kamp ke Kamp

Iklan

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 3 November 2022 13:56 WIB

Dari Kamp ke Kamp - Memoar Seorang Perempuan Korban Orde Baru

Mia Bustam adalah korban Orde Baru. Ia ditangkap karena disangkakan sebagai anggota PKI. Ia ditahan dari kamp ke kamp dan kemudian dibebaskan tanpa proses pengadilan. Namun Mia Bustam tidak kehilangan pandangannya tentang sifat luhur manusia. Di tengah derita dan siksaan, ia tetap bisa melihat kebaikan-kebaikan yang dilakukan orang lain dalam hidupnya. Bahkan oleh orang-orang yang seharusnya dianggap sebagai musuhnya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Judul: Dari Kamp ke Kamp

Editor: Mia Bustam

Tahun Terbit: 2022 (cetakan kedua)

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Penerbit: Ultimus

Tebal: xvi + 360

ISBN: 978-623-97148-7-1

 

Saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh Stanley Adi Prasetyo di Pengantar buku ini (hal. Ix). Membaca buku karya Mia Bustam ini saya menemukan  gambaran sosok perempuan, sosok ibu yang ideal, kuat, tegar, optimis, tabah mengayomi dan rela berkorban. Saya malah ingin menambahkan bahwa meski dalam kesengsaraan, Mia Bustam tidak kehilangan perhatiannya kepada kemanusiaan.

Buku “Dari Kamp ke Kamp karya Mia Bustam ini adalah kelanjutan dari buku Mia Bustam sebelumnya. Memoar pertama yang ditulis oleh Mia Bustam berjudul “Sudjojono dan Aku.” Seperti judulnya, memoar tersebut berkisah tentang hubungan Mia Bustam dengan pelukis Sudjojono sampai dengan perceraiannya.

Buku pertama tersebut tidak hanya mengisahkan hal-hal manis saja tentang hubungannya dengan sang pelukis terkenal tersebut. Tetapi juga tentang perjuangannya bersama Sudjojono saat Sudjojono harus mengikuti idelismenya yang sering membuatnya kehilangan pekerjaan. Mia Bustam juga bercerita tentang bagaimana ia memilih bercerai dari Mia karena Mia tak mau dimadu.

Pada buku kedua ini, Mia mengisahkan dirinya sebagai anggota LEKRA yang membawanya ke tragedi G30S yang mengirimnya dari penjara ke penjara. Mia tak pernah bersedia jika disebut sebagai anggota PKI (hal. 85). Sebab Mia memang tidak suka berpartai.

Seperti pada buku pertamanya, Mia Ia bercerita tentang peristiwa yang dialaminya. Dalam mengisahkan perjalanan hidupnya itu Mia menggambarkan betapa ia adalah seorang perempuan yang mandiri dan setia kepada kemanusiaan. Dalam kedua buku tersebut terlihat sekali bahwa Mia sangat menghargai sifat-sifat luhur manusia.

Delapan tahun setelah menjadi orangtua tunggal dengan 8 anak, tiba-tiba Mia Bustam harus menghadapi badai hidup yang penuh derita. Ia ditangkap karena dianggap sebagai bagian PKI yang melakukan kudeta dan membunuh para Jenderal. Ia ditangkap pada tanggal 23 November 1965, tepat pada hari ulang tahun salah satu anaknya (hal. 75) di rumahnya. Mia ditahan berpindah-pindah dari Sleman (hal. 79), Wirogunan, Benteng Vredeburg Jogja (hal. 86), Wirogunan (hal. 134), Penjara Perempuan Bulu Semarang dan kemudian ke Penjara Rehabilitasi Plantungan (hal. 220), kembali ke Penjara Bulu Semarang (hal. 330) sebelum akhirnya dibebaskan pada tanggal 28 Juli 1978 tanpa ada proses pengadilan.

Mia Bustam menceritakan bagaimana rezim Orde Baru memperlakukan para tahanan dengan kekejaman yang luar biasa. Penahanan orang-orang yang dianggap ikut bertanggungjawab terhadap kudeta, dilakukan tanpa ada persiapan sama sekali. Itulah sebabnya tempat-tempat penahanan sampai kewalahan dan tidak mampu untuk membiayai makanan para tahanan (hal. 94). Maka para tahanan ini mendapatkan makanan yang sangat buruk. Mereka mendapat makanan jagung dan sayur sampah. Itu pun jumlahnya sangat terbatas. Wajar jika akhirnya banyak yang sakit dan meninggal (hal. 98).

Bukan hanya makanan yang tidak cukup, tempat tahanan pun tidak mencukupi sehingga para tahanan harus tinggal di kamar-kamar berjejalan. Teror-teror juga sering dialami oleh para tahanan (hal. 84, 100, 119, 197). Operasi-operasi yang dilakukan oleh militer selalu dilakukan dengan kekejaman.

Meski mengalami siksaan lahir batin, Mia tidak lupa mencatat peristiwa-peristiwa yang menurutnya menggambarkan rasa kemanusiaan. Kisah pemeriksaan pertamanya oleh seorang perwira (dalam buku ini disebut Pak Komandan) digambarkan dengan suasana yang penuh hormat. Sang Komandan membungkuk sedikit saat pemeriksaan berakhir dan dibalas dengan membungkukkan badan oleh Mia sebagai rasa hormat (hal. 85). Pencatatan peristiwa ini sungguh menunjukkan bahwa Mia tidak kehilangan rasa kemanusiaan meski telah mendapat perlakuan yang sangat kasar sebelumnya. Bagaimana mungkin hal yang sepertinya sepele seperti ini bisa diingat dan dicatat oleh Mia Bustam, jika hatinya penuh kebencian?

Mia mencatat para pedagang di Pasar Beringharjo yang menambahi daun pisang yang dibeli oleh para tahanan untuk alas makan (hal. 95). Di tempat lain, Mia juga mencatat para tahanan yang mendapatkan minuman dari para pedagang yang merasa kasihan kepada mereka.

Kisah bagaimana para tahanan saling mengasuh para bayi yang lahir dalam tahanan adalah contoh lain. Mia menceritakan bagaimana anak-anak balita itu tetap bisa tumbuh dengan ceria karena semua tahanan ikut mengasuh para anak malang tersebut (hal. 141). Tak segan-segan para ibu yang lebih senior membantu tahanan muda yang punya bayi atau anak kecil.

Rasa kemanusiaan yang ditunjukkan oleh para pemuka agama (Katholik) juga dicatat oleh Mia. Para Romo dan Suster ini, karena rasa kemanusian sering menjadi kurir surat-surat para tahanan kepada keluarganya atau sebaliknya. Peran Romo de Blot untuk membantu makanan dicatat secara khusus oleh Mia (hal. 158). Karena kegigihan Romo de Blot, ia dijuluki sebagai “PKI Agung” dan pernah dilempari batu.

Kisah-kisah penuh sentuhan kemanusiaan masih banyak lagi tercatat di buku ini. Sungguh Mia Bustam adalah seorang yang tegar dan menghayati kemanusiaan yang agung.

Dalam buku ini, Mia tidak pernah menyebutkan nama-nama tokoh kejam kecuali satu nama, yaitu Lukman yang kemudian menjadi dosen UGM. Sebab Mia merasa bahwa mereka-mereka ini adalah bagian dari korban Orde baru. Ia menceritakan seorang prajurit yang hanya berdiri tegak di depan kamar-kamar para tahanan saat para prajurit lain sedang menggeledah. Mia mengomentari bahwa para prajurit ini hanyalah menjalankan tugas. Ia juga menceritakan

Bahkan untuk seorang Kepala Pusat Rehabilitasi Plantungan yang memanfaatkan para tahanan perempuan yang cantik dan melakukan korupsi, Mia tidak menyebut namanya. Kepala Penjara Plantungan yang korup tersebut sering menjadi pembicara dalam kegiatan penataran P4 dan pernah mengintidasi Mia sebagai seorang yang tak lagi bisa dibina. Bukankah ini juga bentuk penghargaan Mia kepada mereka-mereka yang sesungguhnya juga menjadi korban? Meski posisi mereka berada di tempat yang berseberangan. 712

 

Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu