Perempuan yang Dihinakan - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Mukhotib MD

Pekerja sosial, jurnalis, fasilitator pendidikan kritis
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 18 November 2022 13:45 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Perempuan yang Dihinakan


    Dibaca : 826 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perempuan yang Dihinakan

    : puisi esai

     

    Keriuhan dalam petang membeku, kala itu ...

    roda-roda besi berderit menggigit ngilu

    toko-toko bersiap menutup jendela dan pintu

    hari telah begitu menjadi tua

    cahaya semburat menembus remang kelabu

    kaki bergetar masuklah ia

    lambung gerbong senyap menyambutnya

    disusul peluit menyayat wajah langit

    bergandeng-gandeng gerbong merangkak perlahan

    lalu menyepat

    ia penumpang terakhir di senja itu.

    Ia tentu tahu ada bahaya mengintai

    tetapi menjalani hidup memberikan pilihan

    penis-penis tertawa

    tangan-tangan seakan berpesta

    nafas merengek seperti kuda di savana

    ia dihinakan, ia dihancurkan

    ia berteriak, tentu saja

    ia tak terima[1]

     

    Mata berpasang-pasang

    saksi atas kekejian

    tak juga mampu menggerakkan

    orang sendiri, puluhan orang hanya diam

    kenapa mereka hanya diam

    katanya lirih dalam himpitan sakit

    hati pecah, harga diri tercincang

    bertahun-tahun tak akan hilang

    mendekam dalam bulatan luka[2]

     

    Siapa yang mendengar

    teriakan tentang lindungi perempuan

    cegah kekejian, lawan kekerasan seksual

    : sudah lama, ya, sudah lama,

    jawab seseorang dengan tas punggung menggantung

    : sudah 12 tahun lamanya,

    kata yang lain menyusul

    : kekerasan seksual bukanlah soal sederhana

    terkait-kait dengan konstruksi budaya,

    ucap yang lain lagi

    : lawan, lawan, lawan, hancurkan sekarang juga

    pekik lainnya[3]

     

    Bergembiralah, bergegaslah

     hukum bagi para pelaku kekerasan seksual telah tersedia

     terbuka menganga di meja polisi dan jaksa

     hakim-hakim yang memegang

     sudah pahamkah dengan maunya buku

     gembira itu harus ditunda

     mungkin sampai ketika kendi-kendi telah kering

     ketika ombak lelah berdebur[4]

     

    Kepada siapa lagi suara dititipkan

    ketika telinga-telinga tersumpal

    ketika nurani telah berkarat

    ketika hati tak lagi memiliki rasa

    kepada siapa lagi meski bicara

    ketika tenggorokan telah kerontang

    sumur-sumur mengering

    dan tangan menggigil biru

    di sudut ada jam dinding tua

     jarumnya hilang dua

     : ia mengeluh, hati menggemuruh

     hanya hampa yang menyambutnya

     rintihnya ditelannya kembali.

    ----

    Catatan Kaki

    [1] Seperti diberitakan situs tempo.co beberapa pekan lalu. https://metro.tempo.co/read/1649947/wanita-mengaku-dua-kali-dapat-pelecehan-di-krl-pt-kai-siap-beri-pendampingan-hukum,  diakses 13 November 2022 pukul 14.06 WIB.

    [1] Seorang yang mengalami kekerasan seksual bisa mengalami 8 ragam trauma dalam hidupnya. Lihat: https://www.halodoc.com/artikel/7-trauma-yang-timbul-akibat-kekerasan-seksual, diakses 13 November 2022, pukul 14.20 WIB.

    [1] Komisi Nasional (Komnas) Perempuan Republik Indonesia mengategorisasikan 15 bentuk kekerasan seksual, di antaranya, pelecehan seksual. Kasus kekerasan ini terus meningkat, dalam hitungan Komnas Perempuan setiap hari terjadi kekerasan seksual terhadap 35 perempuan.

    [1] Menurut Ninuk M Pambudy, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual yang lebih umum dikenal sebagai UU TPKS belum bisa operasional sebab masih membutuhkan Peraturan Pemerntah dan Peraturan Presiden sebagai aturan operaisonalnya. Lihat selengkapnya: https://www.kompas.id/baca/opini/2022/11/11/agar-kekerasan-seksual-tidak-berulang, diakses pada 13 November 2022, pukul 14.36

    -----

    Gambar oleh Alexas_Fotos dari Pixabay 

    Ikuti tulisan menarik Mukhotib MD lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.