Ingin Kuliah di Mesir? Simak Pengalaman Alief - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Kuliah di Mesir

Pipiet Palestin Amurwani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Rabu, 23 November 2022 07:58 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Ingin Kuliah di Mesir? Simak Pengalaman Alief

    Alief Bahrur Rozi Akbar berbagi pengalaman selama mengenyam pendidikan di universitas Al Azhar, Mesir.

    Dibaca : 603 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Alief Bahrur Rozi Akbar (24 tahun) berbagi pengalamannya ketika kuliah di Mesir tepatnya di Universitas Al Azhar yang beralamat di Jalan Mokhaym Al Daem, Nasr City, Kairo, Mesir. Bahagia, tentu saja dirasakan Alief (nama sapaan) ketika mengetahui bahwa dirinya lolos seleksi beasiswa kuliah ke luar negeri yaitu Mesir. Perjuangannya selama belajar di pondok pesantren dapat dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di luar negeri. Kesempatan yang tentu saja diinginkan oleh banyak orang.

    Dalam suatu kesempatan, alumni jurusan Syariah Islamiyah ini menceritakan pengalamannya menghadapi kendala-kendala yang dialami selama berada di Mesir. Kendala awal yang dihadapi adalah dari segi bahasa. Sebagian besar masyarakat Mesir menggunakan bahasa Arab Ammiyah (bahasa daerah) dengan lahjah (baca: logat) yang berbeda dengan bahasa Arab baku (Fushhah). Alief mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan masyarakat Mesir dikarenakan ketika belajar bahasa Arab di pondok pesantren menggunakan bahasa baku. Bahasa yang dia gunakan terkesan sangat baku. Sementara dalam perkuliahan dia tidak mengalami kesulitan dalam belajar karena pengajar menggunakan bahasa Arab Fushhah atau bahasa Arab baku seperti yang dia pelajari di pesantrennya.

    Adapun perbedaan pengucapan huruf yang dimaksud seperti [tsa] diucapkan [ta],[qa] diucapkan [a] dan [ja] diucapkan [gha]. Kebiasaan orang Mesir yang berbicara dengan sangat cepat juga menjadi kendala dalam proses komunikasi. Hal ini menyebabkan terjadinya tekanan secara psikologis.

     

    Kondisi tersebut menunjukkan bahwa adaptasi pertama adalah mempersiapkan kondisi psikis agar nyaman dengan perubahan-perubahan dan kondisi yang ada. Psychological adaptation refers to feelings of well-being or satisfaction during cross-cultural transition (Ward, Leong, & Low: 2014).  Kondisi psikis yang sehat akan memudahkan seseorang untuk beradapatasi dengan lingkungan dan budaya yang baru. Sebagaimana pendapat Kim and Kim,

     

    …that (a) communication competence in the host environment, (b) interpersonal relationship in the host environment, and (c) the degree of similarity between the student’s ethnicity and that host environment were positively associated with psychological health….”(Kim and Kim: 2016)

     

     

    Proses adaptasi terhadap lingkungan yang baru dan akulturasi memang tidak mudah untuk dilakukan. Ada beberapa faktor yang mendukung jalannya proses tersebut diantaranya yaitu adanya kemiripan budaya, waktu, usia, latar belakang pendidikan dan karakter individu itu sendiri.

     

    Selain dari segi bahasa seperti yang diungkapkan sebelumnya, terdapat juga kendala dari lingkungan. Mesir memiliki perbedaan musim dengan Indonesia. Ketika musim dingin, udara terasa ekstrim dinginnya sedangkan pada musim panas terasa ekstrim panasnya. Ketika musim dingin, siang terlalu pendek sehingga waktu shalat subuh jam 6 pagi dan maghrib jam 5 sore. Kondisi tersebut menyebabkan perubahan kebiasaan rutinitas sehari-hari yang harus dilakukan, seperti jadwal tidur malam yang jelas sangat berbeda dengan di Indonesia.

     

    Untuk hal makanan, Mesir memiliki cita rasa yang tidak terlalu berbeda dengan Indonesia. Namun, paling banyak jenis makanan pokok berupa roti yang tidak biasa dikonsumsi sebagai makanan pokok di Indonesia.

     

    Untuk mengatasi kendala dalam hal bahasa, Alief meningkatkan intensitasnya berkomunikasi dengan orang Mesir di pasar dan di tempat-tempat umum lainnya. Mau tidak mau harus belajar bahasa Arab Ammiyah (bahasa daerah) yang biasa digunakan oleh orang Mesir kebanyakan. Karakter terbuka dan mudah bergaul sangat menunjang proses adaptasi dalam lingkungan baru.

     

    The social skills and behavior successfully acquired in daily cultural learning can represent a desired level of socio-cultural adaptation, which further involves two element: the development of “positive interpersonal relations with members of the host culture” and “some level of effectiveness in carrying out the necessary task at hand”(Wang, Li, Nolterneyer, Wang, Zhang, Shaw: 2018).

     

    Selaras dengan pendapat Peterson (2014) dalam Wang et al, Cultural Intelligence is the ability to exhibit certain behaviors, including skills and qualities, which are culturally tuned to the attitudes and values of others. Penyesuaian diri di lingkungan dan masyarakat baru harus terus dilakukan agar kenyamanan berada di tempat baru dapat dicapai. Socio-cultural adaptation is the ability to fit in to the new culture (Ward et al, 2014).

     

    Cuaca yang ekstrim sangat mempengaruhi fisik. Suhu terendah yang pernah dialami adalah 30 C dan disertai angin sehingga mengakibatkan kulit sangat kering bahkan pecah-pecah dan berdarah. Cara mengatasinya yaitu dengan menggunakan krim kulit atau miyak zaitun. Selain itu, ruang-ruang di Mesir sudah dilengkapi penghangat ruangan. Ketika cuaca panas, suhu bisa mencapai 500 C terkadang disertai badai debu. Akibatnya, kegiatan di luar rumah sangat terbatas pada cuaca panas dan badai.

     

    Nah bagi kalian yang memiliki cita-cita kuliah di Mesir, belajar dari pengalaman Alief. Persiapkan kemampuan bahasa Arab kalian baik formal ataupun non formal, pelajari budaya orang Mesir, siapkan fisik kalian untuk menghadapi perubahan cuaca yang ekstrim. Dan yang tak kalah pentingnya persiapkan mental kalian untuk menghadapi segala rintangan yang mungkin akan kalian hadapi di negeri orang. Semangat belajar.

    Ikuti tulisan menarik Pipiet Palestin Amurwani lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.