Diikuti Penunggu Toilet - Humaniora - www.indonesiana.id
x

ilustr:kumpulan info

Nisya Aprilia

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 Desember 2021

Rabu, 23 November 2022 15:38 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Diikuti Penunggu Toilet

    “Perempuan yang ngikutin kamu itu makhluk halus, dia galak”! serunya.

    Dibaca : 440 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Berbicara soal hantu rasanya tidak akan ada ujungnya karena pasti selalu ada dua kubu, kubu pertama adalah sekelompok orang yang tidak percaya bahwa hantu itu ada dan segala sesuatunya harus masuk di akal. Mereka akan berpendapat kalau orang yang sudah meninggal tidak akan bangkit dan bergentayangan mengganggu para manusia apalagi sampai mencelakai, kalau ada orang yang celaka karena melihat hantu, percayalah itu hanya keteledoran manusia itu saja.

    Lalu kubu yang satunya lagi adalah sekelompok orang yang mempercayai bahwa hantu itu ada bahkan ada beberapa dari mereka yang mengaku bisa melihat dan berkomunikasi dengan hantu atau bahasa kerennya anak indihome, eh indigo maksudnya. Mereka percaya bahwa hantu itu ada dan kenapa ada beberapa manusia yang sudah meninggal tapi masih saja gentayangan dan menampakkan diri ke orang-orang yang dikenalnya. Katanya sih mereka masih punya urusan yang belum selesai di dunia, seperti ingin menyampaikan subuah pesan (entah itu pesan apa) kepada seseorang tapi dianya keburu meninggal atau bisa jadi hantu itu gentayangan karena meninggal dengan cara tidak wajar seperti dibunuh dan sampai saat ini pelakunya belum juga tertangkap.

    Aku tidak begitu percaya soal hantu, paling juga itu perbuatan setan yang sengaja mengganggu manusia yang imannya sedang lemah. Bagiku, yang penting selalu berdoa meminta perlidungan kepada Tuhan.

    Tapi, aku baru saja mengalami kejadian yang tidak masuk akal dan berapa kali aku mencoba untuk berpikir logis, tetap saja ini tidak masuk akal. Memangnya kejadian apa sih?

    Begini ceritanya. Dua tahun lalu sebelum Covid-19 melanda negeri tercinta, aku yang saat itu memasuki semester akhir akan menjalani Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dan kebetulan aku sudah mendapat tempat yakni di sebuah bank cabang Kota X dan akan menjadi peserta KKL di bank tersebut bersama dua orang teman sekelasku. Tidak ada yang aneh pada tempat tersebut. Hari pertama diawali doa pagi, briefing, dilanjut dengan perkenalan dimulai dari aku dan kedua temanku kemudian staff bank tersebut memperkenalkan diri mereka beserta jabatannya masing-masing. Kemudian pembimbing menempatkan kami pada posisi yang sudah ditentukan. Aku ditempatkan di bagian Customer Service, dan dua temanku ditempatkan di bagian Account Officer. Kami hanya peserta KKL, jadi tugas kami hanya membantu kalau mereka sedang kewalahan.

    Aku dan dua temanku menjalani KKL selama 25 hari kerja. Hari demi hari dilalui dengan berbagai suasana hati. Kadang senang dan tidak jarang juga bosan karena tidak ada sesuatu yang harus kami kerjakan. Jadinya hanya menyicil membuat laporan KKL dan proposal skripsi. Namun pada hari ke 24 terjadilah sesuatu yang tidak masuk akal tersebut.

    Sore hari setelah layanan bank tutup, aku, kedua temanku, dan para staff masih berkutat mengerjakan pekerjaan. Tiba-tiba aku kebelet pipis dan toilet di lantai 1 masih ada yang memakai. Tanpa pikir panjang aku langsung lari ke lantai 2 karena kebetulan ada toilet di dekat mushola. Aku belum pernah memakai toilet di lantai 2 dan setahuku para staff pun selalu menggunakan toilet di lantai 1. Aku tidak tahu kenapa dan memang tidak perlu tahu juga karena yang terpenting aku harus segera ke toilet.

    Jam menunjukkan pukul 18.00 dan kami pun absen untuk pulang. Aku pulang naik angkot, setelah setengah jalan ada anak kecil beserta ibunya yang baru naik dan mereka duduk tepat berhadapan denganku. Anak kecil itu menatapku dan aku tersenyum kepadanya. Bukannya membalas senyum, anak kecil itu malah seperti ketakutan melihatku dan membenamkan wajahnya dipelukan ibunya.

    “Kenapa sih itu anak kecil?” pikirku.

    Sesampainya di rumah aku langsung mandi, makan, cek hp sebentar lalu pergi tidur karena entah kenapa hari ini terasa capek sekali padahal tidak begitu banyak yang dikerjakan. Lalu tiba-tiba tenggorokan sakit dan tidak enak badan.

    “Mau pilek mungkin ya.” gumamku.

    Besok pagi, aku tidak bisa berangkat KKL karena semalam aku demam dan dengan terpaksa aku izin karena badan ini benar-benar lemas. Untung pembimbing KKL mengizinkan.

    “Padahal hari ini hari terakhir aku KKL, tapi malah sakit. Terpaksa jadi nambah hari.” kesalku.

    Sore harinya aku merasa badanku agak enakan, aku pergi ke ruang tamu untuk melihat ada siapa karena dari tadi terdengar suara orang ngobrol. Ternyata itu teman mamaku yang datang, entah untuk urusan apa aku pun tidak ingin tahu. Aku hanya menghampiri dan menyalami saja. Tapi saat aku mau pergi tiba-tiba teman mamaku berkata sesuatu.

    “Kamu ada yang ngikutin!” ujarnya.

    “Maksudnya?” tanyaku heran.

    “Iya, ada yang ngikutin kamu, perempuan. Kamu dari mana sampai diikutin begini?” tanyanya.

    “Aku nggak dari mana-mana kok, ngikutin gimana sih maksudnya? Aku nggak ngerti." jawabku.

    “Perempuan yang ngikutin kamu itu makhluk halus, dia galak”! serunya.

    Ya ampun, aku lupa kalau teman mama yang satu ini katanya bisa melihat sesuatu yang gaib.

    “Sini kemari, biar tante bantu usir. Bahaya kalau dibiarin.”

    Aku manut saja apa yang dibilang sama teman mamaku. Kemudia dia melakukan hal yang tidak aku mengerti, mungkin dia sedang mengusir hantu perempuan yang katanya mengikutiku.

    “Selesai. Dia sudah pergi.” ujarnya.

    Aku masih tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi.

    “Kamu dari suatu tempat apa gimana kok bisa diikutin makhluk halus gini sih?” tanyanya.

    “Nggak dari mana-mana kok, lagian kan Mala hampir sebulan ini lagi KKL di bank cabang Kota X.” jawab ibu.

    “Oh, begitu. Terus ada yang aneh nggak disana?” tanyanya.

    “Nggak ada sih tan, cuma agak heran aja kenapa para staff gak pernah pakai toilet di lantai dua. Padahal kemarin aku pakai itu tiolet tidak apa-apa kok, malah lebih bersih dari yang lantai 1.” jawabku.

    “Nah itu yang anehnya. Berarti ada masalah sama toilet lantai 2, pantes aja kamu diikutin, mungkin dia nggak suka toiletnya dipakai. Pokoknya nanti kamu jangan pakai lagi toilet lantai 2. Bahaya!” perintahnya.

    Aku masih belum bisa mencerna tentang apa yang sebenarnya terjadi. Diikuti hantu? Masa sih? Tapi aku merasa aku baik-baik saja dan tidak ada yang aneh, apa jangan-jangan aku tidak sadar? Tapi kan aku tidak kesurupan.

    Untungnya, besok aku sudah bisa masuk KKL lagi dan kedua temanku masih masuk ternyata. Pada jam istirahat aku menanyakan kepada salah satu staff dan OB perihal toilet di lantai 2.

    Awalnya mereka enggan untuk bercerita, tapi setelah aku terus memaksa karena penasaran akhirnya mereka bercerita juga.

    “Jadi toilet di lantai 2 emang rada angker, neng.” ujar OB.

    “Tapi kenapa ya tiba-tiba nanyain toilet lantai 2?” tanya salah satu staff. “

    Kemarin teman mama bilang aku ada yang ngikutin, dan gara-garanya karena aku pakai toilet lantai 2.” jawabku.

    “Jangan-jangan sakit juga gara-gara diikutin!” seru salah satu staff.

    “Entahlah pak, tapi apa nggak coba dipindahin aja penunggunya? Kalau ganggu pas kerja kan repot.” usulku.

    “Sudah pernah coba dipindahin, neng,bahkan sama pimpinan cabang yang dulu juga. Cuma ya itu penghuninya bandel, habis dipindahin balik lagi, katanya sih kantor ini dulunya itu rumahnya.” jelas OB.

    “Sudah nggak usah dipikirin, yang penting jangan ke toilet di lantai 2 aja. Dari awal kita yang salah, lupa ngasih tahu soal toilet itu. Lagian sudah nggak diikutin lagi kan, terus KKLnya juga sudah mau selesai, jadi jangan khawatir.” jelas salah satu staff.

    “Oh, iya satu lagi. Ruangan tempat neng sama dua temannya juga ada yang nunggu, anak kecil. Tapi baik sih, Cuma suka agak iseng aja. Intinya jangan ngelamun.” tambah pak satpam.

    Aku dan dua temanku mengangguk saja dan kami baru sadar kalau kami memilih tempat KKL yang horror. Untungnya tidak diganggu sampai parah. Tapi tetap saja sampai sekarang kejadian ini tidak masuk diakal. Yang penting sih dimana pun kita berada jangan lupa untuk selalu berdoa, minta perlindungan sama Tuhan soalnya yang lebih horror itu kehidupan setelah wisuda karena saat itulah kehidupan yang sesungguhnya dimulai.

    Ikuti tulisan menarik Nisya Aprilia lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.