Utuh Namun Tidak Sempurna - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Liburan bersama keluarga (Foto: Shutterstock)

Sekar kurnia Fitri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 April 2022

Sabtu, 26 November 2022 08:12 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Utuh Namun Tidak Sempurna

    menceritakan tentang seorang remaja perempuan yang tumbuh dewasa tanpa bercerita dengan orang tuanya.

    Dibaca : 408 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Hati memang merasa nyaman dalam memendam, namun otak merasa tak tahan untuk menahan segala beban. 19 tahun kini usiamu, tumbuh menjadi seorang yang mulai menua belum dewasa senantiasa masih meminta kepada orang tua.
     
    Terkadang aku berpikir, aku memang ahlinya dalam memendam segalanya. Sempurna, nyaris tanpa jejak hingga tak ada yang menduganya. Bertumbuh dewasa tanpa bercerita kepada kedua orang tua. Berusaha terlihat baik-baik saja di depan keramaian bahkan menjadi bahan candaan.
     
    "Tetapi saya sadar bagaimanapun perlakuan kedua orang tua terhadap anaknya, mereka hanya ingin melakukan yang terbaik untuk anaknya dengan caranya tersendiri."
     
    "Anak perempuan yang hidup namun berkali-kali dimatikan"
     
    Ia hanya ingin bercerita mencari tempat untuk bersandar, baru saja memulai sudah dipatahkan.
     
    "Ibu, anakmu rindu dengan beberapa kalimat penyemangatmu, rindu bahumu sebagai tempat bersandar paling hangat"
     
    "Bapak, aku rindu dengan waktu yangkau luangkan hanya untuk sekadar berbincang hangat seperti dahulu, keliling kota hanya untuk membeli sepasang sandal, rindu semua canda tawamu."
     
    Kecewa tapi tidak mengeluh, sesak tapi tidak menyerah, terjatuh tapi tidak berhenti. Diri ini rasanya sudah hancur berkeping, menahan semua beban dan menutupi dengan senyuman palsu. tembok sunyi menjadi saksi, menjadi tumpuan bersandar bahu lemah ini.
     
    "Aku merasa di dalam bilik yang utuh menempati posisi masing-masing tanpa adanya perbincangan satu sama lain, melainkan keheningan, kebingungan dengan apa yang terjadi."
     
    "Aku hanya anak perempuan yang tidak dekat dengan seorang bapak merasa kehilangan arah dan aku hanya anak perempuan yang kehilangan tempat bercerita dan bersenda gurau seperti ibu, keluarga cemara mereka bilang sepertinya jauh dari itu, diam, membisu, memendam, sesak, dan tidak ada yang bisa dipercaya."
     
    Mereka bilang, "Kebahagiaan akan datang kepada orang yang tidak mudah menyerah."
     
    Ah, sudahlah aku hanya anak perempuan yang banyak memeluk sempurna, menertawakan segala lemah yang ku punya, senantiasa hanya bisa berdoa kepada-Nya agar semua baik-baik saja.

    Ikuti tulisan menarik Sekar kurnia Fitri lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.