Kunjungan Belajar Pengembangan Sorgum di Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Flores Timur - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Pengembangan sorgum di lahan kritis

Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Oktober 2022

Minggu, 27 November 2022 06:42 WIB

  • Peristiwa
  • Topik Utama
  • Kunjungan Belajar Pengembangan Sorgum di Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Flores Timur

    Sorgum merupakan salah satu komoditas potensial yang dapat dikembangkan untuk mendukung program diversifikasi pangan dan pakan ternak di Kabupaten Manggarai Timur. Sebagai sumber pangan, sorgum mempunyai beragam zat antioksidan, mineral, protein, karbohidrat dan serat penting yang dibutuh tubuh manusia.

    Dibaca : 1.289 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sorgum merupakan salah satu komoditas potensial yang dapat dikembangkan untuk mendukung program diversifikasi pangan dan pakan ternak di Kabupaten Manggarai Timur. Sebagai sumber pangan, sorgum mempunyai beragam zat antioksidan, mineral, protein, karbohidrat dan serat penting yang dibutuh tubuh manusia.

    Pengembangan sorgum di Kabupaten Manggarai Timur sangat relevan dan penting untuk mengatasi persoalan-persoalan, seperti kemiskinan, kekurangan pangan, stunting, degradasi lingkungan hidup, perubahan iklim dan berkurangnya lahan sawah akibat kekurangan air irigasi.

    Tanam sorgum dikenal tahan terhadap kondisi kekeringan sehingga sangat cocok untuk dikembangkan di lahan kering yang cukup banyak jumlahnya di Kabupaten Manggarai Timur, kurang lebih 40-an ribu hektar.(data dalam buku investasi di kabupaten Manggarai Timur)

    Pemerintah daerah tampak sangat serius untuk menjadikan Kabupaten Manggarai Timur sebagai Kabupaten Sorgum, indikasinya adalah telah dikeluarkannya Peraturan Bupati Manggarai Timur Nomor: 34 tahun 2021 tentang Pengembangan Sorgum sebagai Pangan Alternatif.

    Ayo Indonesia, Dinas Pertanian Manggarai Timur, Pemerintah Desa Melo, Pemerintah Desa Golo Ndari dan Kelompok Tani, berkomitmen untuk menindaklanjuti Peraturan Bupati terkait pengembangan sorgum dengan melaksanakan beberapa kegiatan berikut;

    1. Menentukkan kelompok tani untuk menjadi kelompok penyedia benih dan beras/tepung sorgum
    2. Memperkenalkan benih sebar untuk pangan dan perbenihan yang ditanam di 2 lokasi milik Kelompok Tani.
    3. Mendorong keterlibatan Pemerintah Desa untuk pengembangan sorgum
    4. Meningkatkan Kapasitas petani tentang cara budidaya sorgum untuk dijadikan sumber benih dan pangan.

     

    Namun pembelajaran yang didapat dari kegiatan-kegiatan ini, adalah motivasi petani untuk mengembangkan sorgum sebagai sumber pangan, pendapatan dan perbenihan masih rendah sehingga perlu dibangun kesadaran tentang manfaat sorgum saat ini dan di masa depan serta bagaimana membangun jaringan atau kemitraan agar sorgum menjadi komoditi. Selain itu, Pemerintah Desa sebagai ujung tombak pembangunan dan Gereja sebagai pemangku kepentingan strategis belum berperan maksimal dalam memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat/umat diperdesaan/paroki.

       
    Menyikapi persoalan-persoalan selama melakukan pendampingan lapangan pengembangan sorgum maka Yayasan Ayo Indonesia berinisiatif untuk memfasilitasi suatu kegiatan belajar yang mengikutsertakan Pemerintah Desa, Gereja dan Wakil Kelompok Tani, tujuannya adalah untuk meningkatkan motivasi dan pengetahuan terkait pengembangan sorgum dengan pelaku usaha dan petani-petani sorgum yang telah berhasil di Kabupaten Flores Timur.

    Pembelajaran dari Dusun Sorgum Likotuden

    Yayasan KEHATI Jakarta dan Yayasan Ayo Indonesia memfasilitasi suatu kegiatan kunjungan belajar tentang sorgum sebagai sumber pangan bergizi, bernilai ekonomi dan tanaman yang mampu beradaptasi terhadap kondisi alam dan iklim eksrim di Dusun Sorgum Likotuen, Flores Timur, dari tanggal 16 mei sampai dengan 19 mei 2022. Peserta studi berjumlah 8 orang, dari unsur Gereja, Staf Yayasan Ayo Indonesia, Pemerintah Desa dan Petani, mereka berada di Dusun sorgum Likotuden selama 3 hari.


    Sorgum jenis Kwali

    Yosep Sudarso, penanggungjawab kegiatan mengatakan tujuan kunjungan belajar ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peserta tentang pengembangan sorgum dari hulu ke hilir dengan menerapkan pola kemitraan atau jaringan.

     
    Menurut dia, dusun sorgum Likotuden, Desa Kawalelo adalah tempat yang tepat untuk belajar seputar pengembangan sorgum dari hulu ke hilir, di sana ada keterlibatan lembaga Yaspensel Keuskupan Larantuka dalam mengubah lahan kritis menjadi ladang pendapatan bagi masyarakat yang bertahun-tahun hidup di atas lahan kritis, tanam sorgum telah menjadi budaya bertani setelah 5 tahun melalui pendekatan jalan bersama Yayasan Yaspensel dan ada pola kemitraan yang dibangun dalam bisnis sorgum.

     
    Ambrosius Roni, usahawan muda asal Beamuring, salah satu peserta dalam kunjungan belajar tersebut menyampaikan pengalamannya selama berkunjung belajar di Dusun sorgum Likotuden kepada Media umpungjaya. Menurut dia, di sana sorgum telah menjadi tanaman primadona untuk mengatasi masalah pangan, ekonomi, gizi dan banyak lahan kritis.

     
    Tanaman sorgum tumbuh dengan baik, tajuk bermalai biji sorgum yang unik tampak tumbuh tegak dan tegar pada lahan yang secara fisik sebenarnya tidak punya harapan apapun untuk bisa ditumbuhi tanaman jenis sereal. Berkat keyakinan, ketekunan, kesungguhan dan kerja keras dari masyarakat suku lamaholot, di atas hamparan lahan dengan permukaan tanah berbatu, tipis unsur hara dan berhawa sangat panas milik komunitas sorgum jenis kwali dengan malai berwarna putih tumbuh baik dan tentu kehadirannya dapat menyelesaikan soal kekurangan pangan, ekonomi, gizi dan ekologi.


    Belajar Panen Sorgum

    Lahan kritis yang nyaris ditinggalkan itu, kemudian berubah menjadi lahan produktif untuk sumber penghidupan masyarakat, sorgum hadir membawa harapan dan fakta inilah yang membuat keluarga-keluarga rutin menanam sorgum pada bulan Maret setiap tahun. Bulan maret adalah waktu yang tepat untuk menanam sorgum sebab disaat itu hujan mulai berkurang intesintasnya atau musim hujan beralih ke musim kemarau. Ada satu pengalaman yang berharga, sulit untuk dilupakan oleh masyarakat suku lamaholot pada tahun 2015 dimana saat itu musim kering sangat panjang, suhu udara pun sangat panas, air menjadi faktor pembatas, sehingga hampir semua tanaman semusim kala itu tidak bertahan hidup, mati kekeringan namun sorgum masih mampu bertahan hidup, tumbuh subur hingga berproduksi untuk menyediakan pangan bagi keluarga-keluarga. Pengalaman inilah yang mendorong bahkan memicu petani-petani menanam sorgum setiap tahun, sorgum menjadi tanamam utama yang harus ditanam untuk tujuan pangan, gizi dan ekonomi.

     
    Perubahan ini, ungkap ambros berdasarkan penjelasan dari Ibu Loretha, Manager Yaspensel, tidak terlepas dari pendekatan Yanspensel dalam mengubah pola pikir masyarakat setempat sejak 4 Tahun lalu, dimana mereka datang ke masyarakat untuk berdiskusi, dimulai dengan mengidentifikasi persoalan, tantangan dan potensi yang ada lalu menyepakati aksi bersama.

     
    Yayasan ini membuat perubahan dengan berpegang pada prinsip pendampingan memulai dari, oleh dan untuk masyarakat, mereka diposisikan sebagai subyek, sehingga mereka diberi kesempatan untuk mengemukakan tujuan dari hidup mereka ke depan dan apa saja persoalan yang harus diselesaikan secara bersama.

     
    Persoalan yang mengemuka saat itu, jelas Loretha, adalah hasil padi dan jagung terus menurun, lahan semakin kritis sementara di sisi pengeluaran atau biaya hidup dalam keluarga terus meningkat. Berangkat dari situasi nyata ini, Yaspensel kemudian mengajak mereka menanam sorgum untuk tujuan ketahanan pangan, ekonomi dan optimalisasi pemanfaatan lahan kritis. Pelatihan-pelatihan tehnis budidaya, paska panen dan strategi pemasaran diselenggarakan oleh Yayasan ini untuk meningkatkan kapasitas para petani.Pendekatan yang dilakukan kemudian oleh Yanspensel, yaitu membuka lahan untuk kebun sorgum, tujuannya sebagai tempat belajar dan motivasi bagi keluarga-keluarga. Di kebun-kebun milik petani, petugas lapangan dari Yaspensel bersama petani bekerja secara kelompok menanam sorgum dan alhasil, buah dari kerja keras mereka, di atas lahan berukuran luas rata-rata 1 ha per keluarga meski dengan kondisi lahan miskin unsur hara atau lapisan unsur hara yang sangat tipis sorgum tetap berproduksi dengan hasil mencapai 1.7 ton – 2 ton.

     
    Harga jual sorgum Rp 8.000 per kilo gram, sehingga potensi pendapatan petani untuk 1 musim tanam yang durasinya 4 bulan mencapai 13.6 Juta Rupiah – 16 Juta Rupiah.

     
    Agar mereka fokus membuka lahan sorgum, tidak bekerja ditempat lain, jelas loretha, maka strategi yang diambil oleh pihak Yaspensel pada awalnya,disaat membuka jalan menuju bonum commune, adalah memberi insentif kepada keluarga-keluarga dalam bentuk uang tunai senilai Rp 250.000 jika berhasil menanam sorgum pada lahan seluar ½ - 1 hektar dan pihak lembaga Yaspensel menyatakan komitmen untuk membeli sorgum namun dengan syarat semua petani penanam sorgum harus menjadi anggota dari Koperasi Produksi Sorgum Likotuden.

     
    Jadi pengembangan sorgum di dusun Likotuden menerapkan pendekatan kolaborasi antara Yaspensel Keuskupan Larantuka, sebagai lembaga pendamping sekaligus pembeli untuk menghubungkan komoditi ke pasar (off taker), Koperasi Produksi Sorgum sebagai wadah ekonomi anggota dan petani-petani produsen. Pendekatan ini dinilai dapat menjamin kemandirian petani, konsistensi produksi, memperluas jaringan pemasaran dan keberlanjutan usaha. Soliditas dari pihak-pihak dalam pendekatan ini menjadi kunci atau kekuatan, dan harus terus dijaga sehingga setiap bulan dilaksanakan pertemuan bersama kelompok tani.

     
    Ketika diminta tanggapan Ibu Loretha yang dikenal dengan julukan mama Sorgum dari Timur melalui Whatsapp, Minggu (22/5/2022) terkait kunjungan belajar beberapa orang dari Kabupaten Manggarai Timur, dia menyarankan agar motivasi yang paling penting untuk mendorong masyarakat menanam sorgum, yaitu dengan mengatakan kepada mereka bahwa menanam sorgum adalah untuk kebaikan bersama ( bonum commune) sebab sorgum merupakan pangan yang sehat dan bergizi tinggi, mereka harus makan sorgum dulu setiap hari, jika produksinya banyak baru perpikir tentang pemasaran, permintaan pasar cukup baik apalagi jika promosi via media sosial tentang manfaat sorgum dibuat secara masif. Tidak sedikit orang yang menderita penyakit gula mengalami kesembuhan setelah rutin mengkonsumsi beras atau tepung sorgum. Sorgum secara ekonomi tentu menguntungkan, sehingga menjelaskan kepada publik akan khasiatnya untuk menyembuhkan diabetes sebagai satu strategi pemasarannya.
     
     

    Terinspirasi dari perjalanan belajar tentang sorgum selama 3 hari (16-19 Mei) di Dusun Sorgum Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, Ambros berencana untuk berbisnis sorgum untuk pangan dan perbenihan memanfaatkan lahan tidur yang cukup luas di Desa Melo, Kecamatan Lamba Leda Selatan. Model usaha yang akan diterapkan adalah melibatkan petani sebagai mitra dan membangun kerjasama dengan pemerintah desa untuk penyediaan sarana produksi organik, sebab pengalaman di larantuka, sorgum tidak diberi pupuk kimia.
     
    Pengolahan Paska panen sorgum tidaklah sulit, kata ambros sebab mesin pengolah sorgum menjadi beras dan tepung tersedia saat ini, tinggal pekerjaan rumahnya adalah menjamin ketersedian bahan baku sorgum yang berkualitas dan petani rutin menanam.

     
    Harapan saya ke depan, sorgum menjadi bahan pangan yang bisa menggantikan posisi beras/nasi dan Kabupaten Manggarai Timur menjadi penghasil pangan sorgum untuk memenuhi kebutuhan di Flores atau di NTT pada umumnya.

    Penulis ; Rikhardus Roden Urut
    Segalas Kopi Arabika Manggarai-FLores MPIG

    Ikuti tulisan menarik Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.