Permasalahan Pendidikan di Madrasah - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Akmal Hanafi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 Desember 2022

Minggu, 11 Desember 2022 18:42 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Permasalahan Pendidikan di Madrasah


    Dibaca : 1.433 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Nama         : Akmal Hanafi

    Prodi          : Pendidikan Agama Islam

    Universitas : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI MADRASAH

    Madrasah dalam khazanah kehidupan manusia di Indonesia merupakan fenomena budaya selama lebih dari satu abad, bahkan tidak berlebihan, madrasah telah menjadi proses sosial yang relatif intens. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa bentuk kesatuan budaya ini diakui dan diterima keberadaannya dan perlahan tapi pasti memasuki trend utama pembangunan bangsa menjelang akhir abad ke-20.

    Dalam sensus sekolah dasar (BAPPENAS) yang dilakukan oleh pemerintah, tujuan pendapatan ini bersebelahan dengan sekolah dasar (SD) Madrasah ibtidaiyah (MI). Penggabungan model pendidikan berbasis sekolah berdampak negatif bagi umat Islam saat ini, menciptakan dikotomi antara ilmu agama (Islam) dan ilmu sekuler (ilmu umum dan ilmu sekuler Kristen). Dualisme model pendidikan yang berlawanan ini mengalami munculnya gerakan reformasi pendidikan pada awal abad ke-20.

    Tujuan dari gerakan reformasi adalah menyesuaikan sistem pendidikan sekolah dengan lingkungan latihan beban. Model pendidikan ini menyebar dengan cepat, kecuali di pelosok pulau Jawa tetapi juga di luar pulau Jawa, tempat cikal bakal madrasah itu lahir. Selain itu bisa dilihat mitologi ruang pendidikan didukung oleh ritual pendidikan. Artinya, anak bangsa ritus peralihan, memilih sekolah favorit, menyerahkan uang penawaran untuk seragam baru, pembelian buku teks "ramuan" dan ritual lainnya yang tak terhitung jumlahnya.

    Munculnya ambiguitas, yaitu kebijakan pemerintah memang sebagai pemimpin bangsa potensinya kekanak-kanakan, tapi pemerintah akan benar-benar melakukannya Penjaga mitos pendidikan. Dewan sangat yakin bahwa posisi tambahan akan dipilih adigum kemudian lahir untuk elite yaitu lelang pendidikan. Masalah yang dihadapi pendidikan di Indonesia pada umumnya adalah: kualitas, kepentingan, elitisme dan kontrol.

    Berbagai indikator kuantitatif disajikan analisis komparatif dari empat pertanyaan yang disebutkan di atas untuk membandingkan situasi pendidikan antar negara di Asia. Masalah keempat Ini adalah masalah besar, mendasar dan multidimensi, sehingga sulit ditemukan akhir dari solusi. Masalah ini terjadi di dunia pendidikan pada umumnya di Indonesia, termasuk pendidikan Islam, persoalannya lebih besar lagi.

    Menurut (Musrifah, 2018) terdapat permasalahan dalam pendidikan nasional antara lain, pertama, kesalahan filosofis dalam mendefinisikan kualitas berdasarkan indeks kinerja, kedua, kelemahannya pemberdayaan pendidik muslim; ketiga, administrasi pendidikan Islam Ismi Adelia1, Oki Mitra2 34 | Majalah Islami: Jurnal Ilmu Pengetahuan Islam, Vol. 21, No. 1 Juli 2021, 32-45 sentralis, strukturalis, birokratis, keempat, sistem pembelajaran bersifat paternalistik,karismatik, militer dan monolog. Pertanyaan penting untuk ditanyakan adalah kepentingan public Secara historis setidaknya ada dua faktor lembaga pendidikan Islam.

    Latar belakang penting munculnya madrasah (Muhaimin, 2012) adalah yang pertama adalah pandangan yang mengatakan sistem pendidikan Islam tradisional terasa Kedua, kurang terbiasa menanggapi kebutuhan pragmatis masyarakat yang mengkhawatirkan Pesatnya perkembangan sistem sekolah Belanda, yang akan menimbulkan pemikiran sekuler dalam masyarakat.

    Faktor lain yang biasanya dihadapi madrasah adalah masyarakat sebaliknya, kebebasan untuk memerintah dengan caranya sendiri hilang karena hampir semua urusan pelatihan diputuskan oleh pemilik otoritas pendidikan. Dengan kata lain, penyelenggaraan pendidikan nasional bersifat sistematis birokratis-sentralis, yang memposisikan madrasah sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi yang memakan waktu lama. Terkadang asuransi yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kondisi madrasah lokal. Akibatnya, madrasah kehilangan kemandirian, motivasi dan inisiatif mengembangkan dan memajukan kelembagaannya, termasuk meningkatkan mutu Pendidikan sebagai salah satu tujuan pendidikan nasional.

    Metodologi penelitian ini adalah studi kasus dalam pengertian penelitian ini berfokus pada kasus (fenomena), yang kemudian dipahami dan dianalisis dalam metode penelitian, ini digunakan untuk mendeskripsikan secara komprehensif dan gejala dan peristiwa yang komprehensif khususnya dalam masalah pendidikan Islam madrasah. Analisis bahan penelitian dilakukan dengan bantuan analisis kualitatif, analisis ini berlanjut melalui setiap fase penelitian, dimulai dengan desain, implementasi dan hasil untuk mempelajari Analisis kualitatif dilakukan dengan menggambarkan situasi pembelajaran dan pandangan subjek tentang pembelajaran sehingga peneliti dapat melakukannya pemahaman yang komprehensif tentang masalah dan interpretasi makna kontekstual obyek Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengungkapkan masalah tersebut yang ada di madrasah agar menjadi pedoman masa depan dapat menjadi lebih baik dan lebih mandiri.

    PENEMUAN Hasil penelitian tentang problematika bentuk pendidikan Islam di madrasah antara lainnya adalah: Lemahnya moral siswa di madrasah Kurangnya kontribusi santri terhadap penyebaran ajaran Islam di masyarakat. Minat siswa berkurang dibandingkan sebelumnya, dan banyak yang memutuskan Pindah ke sekolah umum. Alasan mengapa masalah terjadi? Alasan pertama a) Iman Dza'ful, yaitu. iman yang lemah Keyakinan yang teguh menganut segala bentuk Memerintahkan Allah SWT dan tidak berani menyimpang dari jalannya karena itu Barangsiapa memiliki iman yang teguh dan sempurna, dia pasti akan beriman memiliki akhlak yang baik. b) Bi'ah Al-Sayyiah, yaitu lingkungan yang buruk. Lingkungan memiliki efek yang besar pada orang-orang ketika lingkungan buruk Orang juga sangat mungkin menjadi orang jahat sebaliknya, salah satunya adalah televisi, teman sosial dan lingkaran keluarga segera c) Dha'fu Al-Mutaba'ah, yaitu. kontrol yang lemah.Rusaknya moral seseorang melibatkan lemahnya kontrol (pengawasan) terhadap keduanya bagi diri mereka sendiri, keluarga mereka, guru mereka dan masyarakat luas. perkembangan teknologi. Sementara efek globalisasi teknologi mungkin bermanfaat, bahwa ini juga dapat memiliki efek negatif tidak dapat disangkal keruntuhan moral, perkembangan internet dan ponsel berteknologi tinggi di kali Serangan itu sangat berbahaya jika tidak digunakan oleh orang yang tepat. Alasan kedua Penyebab masalah terbesar kedua adalah karena sistem yang lemah pendidikan Islam karena sistem pendidikan Islam memegang peranan yang sangat penting penting untuk pembentukan personel dan karakter, sehingga masyarakat yang akan diciptakan merupakan cerminan dari masyarakat Islam. Dengan Inilah bagaimana Islam benar-benar menjadi rahmatan lil'alam, rahmat bagi seluruh alam. Alasan ketiga a) Minimnya minat siswa dalam memahami pelajaran agama Islam. b) Rendahnya minat dan kemampuan siswa untuk membaca dan untuk memahami Al-Qur'an. c) Siswa belum memiliki landasan keimanan dan ketakwaan yang kuat, yaitu mudah ditangkap d) Semakin banyak siswa berperilaku bertentangan dengan moral agama, pelanggaran hokum meningkat. e) Siswa mengenal narkoba, kekerasan dan anarki.

    Faktor lain yang sering dihadapi madrasah adalah komunitas sebaliknya, kebebasan untuk memerintah dengan caranya sendiri hilang karena hampir semua urusan pelatihan diputuskan oleh pemilik otoritas pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan nasional dilaksanakan dengan cara birokrasi-sentris, menggunakan madrasah sebagai penyelenggara Pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi dengan jalur yang jelas sangat lama dan terkadang asuransi yang diterbitkan tidak diperbarui kondisi madrasah setempat. Beginilah cara madrasah kehilangan kemandiriannya, Dorongan dan inisiatif untuk pengembangan lebih lanjut dan promosi lembaga pendidikan, mis Meningkatkan mutu pendidikan sebagai salah satu tujuan pendidikan nasional.

    Ikuti tulisan menarik Akmal Hanafi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.