x

Pinterest

Iklan

Dien Matina

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2022

Kamis, 15 Desember 2022 15:00 WIB

Percakapan Imajiner (17)


Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Percakapan di kepalanya

 

"Ngapain hujan-hujan? Nggak ada kerjaan?"⁣

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"Iseng. Nggak mau ikutan?" ⁣

"Nggaklah.. " ⁣

"Kemonlah.. main hujan sebentar nggak bikin kulitmu luntur." ⁣

"Nggak. Nggak sekarang. Mungkin besok atau dua hari lagi." ⁣

"Okee..." ⁣

"Okee..." ⁣

*

Kutemukan percakapan ini di ruang kepalanya yang tumpang tindih dengan percakapan-percakapan lain. Sedikit absurd, banyak muramnya. ⁣ 

Langit-langitnya seperti mengingatkan pada bangku kedai kopi yang menawarkan ramai dan sepi sekaligus. Dan ia selalu memesan keduanya untuk merapikan kenangan dan menutup malam. ⁣ 

Di atas meja, menumpuk pesan-pesan yang tak tersampaikan, satu dua pertanyaan, kisah-kisah yang terjebak dalam ruang dan waktu, kekesalan demi kekesalan dan beberapa makian. Damn!⁣ 

⁣Lalu kuselamatkan mataku. Membuka pagi di jendela tanpa aroma kopi, tanpa koran pagi, apalagi ucapan selamat pagi.⁣

 

 

 

***

 

 

 

Berbahagialah, Senja Itu Milikmu 

 

Jadi datanglah ke kotaku, akan kupotong senja untukmu. ⁣

Senja yang tak selalu sama. Entahlah. ⁣

Kau tahu semesta selalu penuh kejutan. ⁣

Kadang tenang menyenangkan, kadang merona jingga, kadang semerah saga. ⁣Kadang abu-abu, sebab hujan dan petrikor yang syahdu. ⁣

Atau jika kau tak ada waktu, akan kukirimkan beberapa lembar surat sewarna senja, sepaket dengan rindu dalam puisi-puisi sederhana tulisan tanganku. ⁣Berbahagialah, senja itu milikmu. 

 

 

 

***

 

 

 

Gerimis, Suatu Malam 

 

Seorang perempuan berjalan-jalan ke dalam pikirannya sendiri.

Dilihatnya segala harap sedang menyusun diri di dalam lemari. Dilihatnya rindu merimbun subur di luas halaman rumahnya, dan seorang perempuan sedang berteduh di bawahnya. Sambil menghela napas perempuan itu berkata..

"Seharusnya aku tak mengingatmu seperti ini. Aku tak mengerti, bagaimana bisa cinta sebecanda ini. Bagaimana bisa hal-hal ganjil menjelma udara sore yang hangat, seperti aroma tengkukmu itu misalnya. Semakin kucium semakin ingatan merajalela, kamu ada di mana-mana. Kamu tahu, sayang, gerimis ini turun, bukan jatuh, satu demi satu. Yang jatuh itu rinduku, kamu demi kamu." 

 

 

***

 

 

Ikuti tulisan menarik Dien Matina lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu