x

Pemikiran Imam Al Ghazali

Iklan

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Rabu, 28 Desember 2022 06:02 WIB

Orang Berkarakter Buruk Itu Menghukum Jiwanya Sendiri

Situasinya sudah jelas. Manusia boleh memilih. Pilihannya, mau taat atau tidak, terserah Anda.  Tapi Anda tidak bebas dari konsekwensinya.  Jadi kalau Anda berani tidak taat, ya, konsekwensinya Anda akan mendapat hukuman. Menurut Imam Ghazali orang berkarakter buruk itu menghukum jiwanya sendiri. Apa maksudnya?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh: Bambang Udoyono

Judul di atas sebuah kata mutiara dari seorang ulama besar di masa lalu yaitu Imam Al Ghazali.  Sepintas terasa agak aneh kalimatnya, bagaimana mungkin manusia menghukum dirinya sendiri? Mari kita bahas.

Sejatinya seluruh jagad raya ini di bawah kekuasaan Allah SWT.  Sang pencipta adalah sang penguasa tunggal dan mutlak.  Tentu saja ada aturan yang diciptakan dan diberlakukan oleh Allah swt.  Semua ciptaannya harus tunduk dan taat.  Meskipun demikian manusia diberi kebebasan untuk memilih untuk taat atau tidak selama masih hidup di dunia.  Tapi manusia tidak bebas dari konsekwensinya.  Nanti di akhirat barulah ada pengadilan yang akan memutuskan atau memvonnis.  Siapa yang taat, beriman dan beramal soleh akan mendapat  ganjarannya yang berlipat.  Sedangkan mereka yang tidak taat akan mendapat hukuman yang setara. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Bahkan dalam kehidupan duniapun orang seperti itu sudah rugi. Dia tidak mendapatkan petunjuk dan bimbingan dari Allah. Pimpinannya adalah setan.  Dengan kata lain ejerninya negatif. Maka orang berkarkater buruk akan selalu berbuat buruk. Akibatnya hidupnya ruwet meskipun bisa saja dia makmur.

Jadi orang yang berkarakter buruk lalu melakukan tindakan buruk seperti berjudi, membunuh, mencuri, menipu, berzina, menimbun kekayaan, melakukan tindak kejahatan dll tentu akan mendapat hukuman kalau tidak memohon ampunan Allah swt alias bertobat. Dia bakal terkena akibat dari perbuatannya. Jadi sejatinya dia  menganiaya dirinya sendiri.   Karena dia membenturkan dirinya kepada kekuasaan tertinggi. Ibarat timun membenturkan diri kepada durian.  Sudah jelas timun yang akan remuk. 

Situasinya sudah jelas. Manusia boleh memilih. Pilihannya, mau taat atau tidak, terserah Anda.  Tapi Anda tidak bebas dari konsekwensinya.  Jadi kalau Anda berani tidak taat, ya, konsekwensinya Anda akan mendapat hukuman.

Manusia yang rasional ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu mestinya memilih taat. Karena pilihan ini lebih menguntungkan dalam jangka panjangnya.  Tidak hanya keuntungan selama hidup di dunia tapi juga keuntungan pada kehidupan di akherat nanti.

Meskipun demikian jangan mengira bahwa manusia setelah taat lantas akan dimanjakan oleh Allah.  Alih alih dimanjakan manusia akan diuji dengan berbagai macam kesulitan.  Ada berbagai macam penyakit. Bahkan sekarang pandemi belum sepenuhnya berlalu. Ada kesulitan ekonomi.  Ada persaingan mencari kerja atau berbisnis. Dan berbagai macam masalah lain.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”  (Al Baqarah 155)

Selain memberitakan bahwa akan ada ujian, Allah juga berforman bahwa di balik kesulitan akan ada kemudahan.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan

sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan

(Alam Nasyrah ayat 5 dan 6)

Manusia yang berkarakter buruk cenderung berbuat buruk. Maka dia akan mendapat hukuman dari Allah.  Jadi bisa dikatakan dia menganiaya dirinya sendiri. Kecuali sebelum mati dia bertobat. Lalu mengubah karakternya dan perilakunya.  Dia bisa mendapat ampunan dari Allah swt.

Jadi mari segera ubah karakter menjadi baik. Caranya dengan menghambakan diri sepenuhnya hanya kepada Allah SWT saja.

 

 

Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler