x

Pinterest

Iklan

Dien Matina

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2022

Selasa, 17 Januari 2023 17:35 WIB

Percakapan Imajiner (36)


Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Menulis tanpa ide

 

Menulis memang tak mudah, apalagi blas tak ada ide, rasanya tidak mungkin. Apalagi untuk saya yang membuat satu paragraf saja harus berjuang memeras pikiran. Ah dasar saya amatiran.. Tapi ternyata siang ini menulis tanpa ide itu, bisa! ⁣⁣Saya bahagia, walau hasilnya yah biasa-biasa saja. Tapi setidaknya ini kemajuan besar buat saya. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Adalah dua mentor keren The Writers, Om Bud dan Kang Asep, yang mengajak menulis tanpa nunggu ide datang, hanya bermodalkan enam benda yang terlihat mata. ⁣⁣Maka mendadak nulis kali ini disponsori oleh enam benda yang tertangkap netra saya.. salib, kipas angin, jendela, boneka, bantal dan jam dinding. Seperti ini.. 

Setiap detak waktu menelan rahasianya masing-masing, pun terangnya rembulan tak selalu mampu membuka apa-apa yang disembunyikan malam.⁣⁣

Seperti salib yang terbuat dari kayu ini, entah kapan pastinya ia diciptakan, mungkin lebih tua dari usia saya. Ia menemani suka duka perjalanan keluarga saya. Terpajang di dinding kamar yang berbeda-beda sebab kami berpindah kota beberapa kali mengikuti tugas bapak sebagai tentara, pun setelah dua dari keluarga kami pergi. ⁣⁣

Kali ini salib kayu dipajang di dinding kamar saya yang bercat biru. Warna kesukaan ibu. Kamar yang tak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk saya tidur, membaca, menggambar, menulis dan melamun sambil memandang jendela yang selalu saya biarkan terbuka. ⁣⁣

Malam ini seperti biasa saya matikan lampu, bersandar di bantal merah kesayangan dan memeluk boneka lucu yang saya beli tiga bulan lalu. Tidak terlalu gelap, ada terang dari lampu ruang tengah yang juga menerangi jam dinding kamar. ⁣⁣Tiba-tiba saya merasa pernah mengalami seperti ini, salib di dinding biru, nyala kipas angin, jendela yang menangkap bulat purnama, boneka dan bantal kesayangan dan jam dinding dengan jarum menunjuk angka yang sama, sepuluh. ⁣⁣ 

Hey, ini semacam dejavu atau semesta sedang mengingatkan tentang sebuah ruang dan waktu yang penuh rindu? ⁣⁣

 

 

 

*** 

 

 

 

Kanak-kanak 

 

Kanak-kanak saya cukup menyenangkan meski tak kenal android atau gadget-gadget kekinian lainnya. Tak ada game online, yang sampai sekarang pun saya tak pernah menyukainya. Entah mengapa. 

Kanak-kanak adalah bahagia yang sebenar-benarnya. Tak perlu berpura-pura. Tak ada beban. Tak ada gengsi. Tak butuh privasi. Dalam ingatan saya, boneka panda, boneka kain buatan sendiri, ular tangga, petak umpet, perangko-perangkoan dari kertas yang dilubangi dengan peniti, uang mainan dari bungkus permen, bekel, buku-buku dongeng, Bobo, Donald Duck, Deni Manusia Ikan, Tintin, koran-koran, tabloid dan majalah-majalah adalah surga. 

Sementara jadi baper dan mata berkaca-kaca terjadi ketika bapak bercerita tentang masa kecilnya yang jauh dari bahagia. Juga kisah Ratu Gandari yang sedih dengan kematian putera-putranya dan merasa cemas dengan Duryodana, putera satu-satunya yang masih bertahan hidup dalam peperangan. Namun akhirnya di hari kedelapan belas perang Bharatayuddha, ia kalah karena pahanya dipukul dengan gada oleh Bima. 

Dan pada segala keriangan kanak-kanak itu, saya rindu. Tuhan, boleh kuulang sekali lagi masa itu?

 

 

 

*** 

 

 

 

Waktu

 

Waktu seringnya dipahami sebagai rutinitas. Tidur, bangun, kerja, makan, tidur lagi. Tetapi sesekali bolehlah berkhayal seperti ini seperti itu setelah asyik jalan-jalan di media sosial.  ⁣⁣

Iya, memang media sosial bisa menjadi tempat cuci mata sekalian membangun opini sendiri. ⁣⁣Tempat kita menertawakan gosip-gosip receh yang tidak penting-penting amat tapi digemari. ⁣⁣

Kadang-kadang waktu menjelma liminal space yang sunyinya tanpa batas. Pantulan cahaya dengan bayangan dan pikiran yang tak terduga. ⁣⁣Kadang-kadang waktu juga menjadi teman sekaligus musuh. Memberi hal-hal yang menyenangkan lalu mengambilnya kembali, secepat itu atau selambat itu. ⁣⁣Kadang-kadang waktu juga tidak menjadi apa-apa, hanya garis perjalanan yang panjang dan berulang-ulang. Disukakan, dilukakan, disembuhkan. 

 

 

*** 

 

 

 

Jarak

 

The real social distancing bagi pepohonan adalah fenomena Crown Shyness, di mana puncak-puncak pohon seperti saling memberi jarak, menciptakan garis pemisah dan batas di langit. Semacam kanopi untuk siapa pun yang berada di bawahnya, teduh. ⁣

Hal menarik yang jarang disadari, bahkan banyak yang tak peduli. ⁣Jangankan peduli pohon, peduli diri sendiri saja masih pada susah. Saat anjuran untuk social distancing atau physical distancing atau apalah itu istilahnya, dicuekin. Masih aja pada sibuk berkumpul, yang arisanlah, nikahan, sunatan,  nongkronglah, berebut belanja baju, ramai-ramai melepas tutupnya gerai makanan cepat saji dan lain sebagainya. Heran. ⁣Padahal ya hidup itu tetap akan bergerak kok meski berjarak. Sabarlah. Dan sekarang anda semua bebas pergi ke mana saja yang anda inginkan bukan?

By the way sadar tidak kalau Covid mengingatkan kita untuk lebih peduli kepada diri sendiri. Peduli ya bukan mementingkan diri sendiri, beda soalnya. Dan sudahi menjadi people pleaser yang melulu menyenangkan orang lain, melelahkan. ⁣Percayalah, yang dekat tak selalu rapat, yang jauh tak selalu tak tersentuh. ⁣

Baiklah mari istirahat, malam sudah sangat larut. Semoga tak lagi ada carut-marut. Sang Sumber sedang dan selalu mengalirkan berkat baik bagi semua, berbahagialah.  

 

 

*** 

 

 

Ikuti tulisan menarik Dien Matina lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler